“Mama untuk apa bekal ini?” “Tentu saja untuk makan siangmu. Sudah bawa saja, jangan lupa habiskan.” Sean memandang lurus pada ibu dan anak itu. Terlihat wanita itu sangat menyayangi anaknya. Betapa beruntungnya bocah itu mendapat kasih sayang dari ibu yang melahirkannya. Tidak seperti Sean yang tidak mengetahui keberadaan orang tuanya. “Sean cepat masuk.” Gadis yang rambutnya dikepang dua itu melambai pada Sean. Ia mendekat menyambut tangan Yifei yang hangat. Kekesalan Sean menguap melihat gadis yang ia cintai tersenyum. Sejak menginjak kaki di sekolah menengah pertama hanya Yifei dan David yang menjadi temannya. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Sean sadar dia hanya seorang anak yatim piatu yang beruntung mendapat kesempatan belajar di sekolah elit. Berkat kepintarannya di se

