Sebelas

1452 Kata
Keduanya terdiam, Minjoo menunduk sedang Chankyung menghela napas.  "Maaf," Chankyung menoleh, dilihatnya Minjoo yang masih menunduk dalam juga jarinya yang saling tertaut satu sama lain.  Ia tahu hal itu biasa Minjoo lakukan saat gadis itu sedang gelisah. "Maaf membuatmu mencariku, membuatmu kehilangan arah juga yang lainnya," Minjoo mulai berbicara, Chankyung diam masih dengan menatap Minjoo lekat mencoba menjadi pendengar yang baik. Untuk pertama kalinya setelah hari itu, Chankyung kembali tersenyum lebar. Hatinya terasa lega bukan main, beban yang selama ini menumpuk seakan terbang entah kemana. Rasanya ia bahagia meski hanya mendengar suara Minjoo yang tengah berbicara padanya, setidaknya itu hal baik. Pikirnya. "Aku juga. Harusnya aku bisa bersikap lebih baik padamu. Harusnya aku bisa jujur pada diriku dan mengatakan aku menyukaimu. Tapi entahlah, mengatakannya secara langsung ternyata tidak semudah yang dibayangkan," Jihoon menghela napas, satu bebannya seakan terangkat membuat ruang di hatinya terasa tidak terlalu sesak seperti sebelumnya. Meski tidak pada waktu yang tepat, setidaknya perasaanya selama ini sudah bisa tersampaikan pada Minjoo. "Yang kulakukan justru kebalikan dari apa yang ku inginkan. Aku minta maaf, Minjoo," lanjut Chankyung lirih. Ia benar-benar menyesal untuk itu. Memupuk keberanian tinggi Chankyung menggeser tubuhnya agar menghadap Minjoo, pelan tapi pasti tangan besarnya mulai bergerak menuju ke arah tangan si gadis berniat untuk menggengamnya. Sebuah kejaiban saat Minjoo tidak menolak genggaman tangan Chankyung, gadis itu justru terdiam menatap pria yang kini juga tersenyum lebar padanya. Gurat sendu juga air mata yang menggenang di pelupuk si gadis memberikan kesan tersendiri bagi Chankyung. Dirinya merasa seperti kembali pada masa dulu, masa-masa di mana ia dan Minjoo memiliki cerita tersendiri meski tidak memiliki hubungan serius. "Jadi, masih ada kesempatan untukku?" Pertanyaan yang sejak tadi Chankyung pendam pada akhirnya berani ia lontarkan. Minjoo mengalihkan pandangan ke arah lain, gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Berusaha mengerti kode yang diberikan Minjoo, Chankyung tersenyum tipis. Ia mengusap tangan gadis itu pelan dan membuat si gadis kembali memusatkan perhatian padanya. "Tidak perlu dipaksa, biarkan semuanya berjalan perlahan." Sementara di tempat lain, Hunjae tengah terdiam. Di tangannya ada satu cup kopi yang belum sempat ia sesap, Pria itu hanya diam memandang ke arah depan dengan tatapan kosong. Satu tepukan mendarat halus di bahunya. Hunjae menoleh kaget dan mendapati pria dengan kulit tan tengah tersenyum dan kini duduk di sebelahnya. "Padahal sudah lama, tapi kau masih belum berubah," ujarnya lirih. Hunjae mengernyit, namun terkekeh setelahnya. Ia paham apa yang Pria itu maksud. "Ya, mau bagaimana lagi. Menurutku kebahagiaan Minjoo jauh lebih penting."  "Sekalipun harus mengorbankan perasaanmu sendiri? Ternyata kau dan Chankyung sama saja," potongnya.  Si Pria tan melambaikan tangan, memanggil seorang pelayan dan memesan Latte kemudian. Hunjae tersenyum kecil, ia menyesap kopinya sebelum berujar. "Ada sedikit perbedaan antara kami. Aku tidak pernah menyakiti Minjoo seperti apa yang sahabatmu itu lakukan, kami adalah kebalikan yang mirip," sanggahnya menepuk bahu Jongsoo pelan. Jongsoo tertawa renyah sambil mengangguk, seolah mengiyakan apa yang baru saja Hunjae katakan. "Ya ya ya, terserahmu saja, Tuan Oh." Jika kau bertanya bagaimana Hunjae dan Jongsoo bertemu, biar ku jelaskan. Pertemuan keduanya bisa dibilang hal yang tidak terlalu disengaja. Maksud ku saat Hunjae bertemu dengan relasi Ayahnya ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Jongsoo. Keduanya sempat berbasa-basi sebentar sebagai kawan lama sebelum Hunjae tahu jika  Jongsoo tengah mengikuti Chankyung dalam acara mengejar kembali cintanya. Pria tan itu menjelaskan jika Chankyung benar-benar menjadi bukan dirinya lagi setelah kepergian Minjoo. Pria itu juga menceritakan bagaimana bahagianya Chankyung saat tanpa sengaja kembali bertemu dengan gadis itu. Jongsoo menjelaskan saat Minjoo meninggalkan Chankyung dulu hidup Pria itu seakan berubah total. Ia menjadi pemurung dan pendiam, ia juga tidak melanjutkan pendidikannya dengan baik. Tapi berbeda saat ia kembali bertemu dengan Minjoo. Chankyung kembali berubah seperti dirinya yang dulu, ia seolah kembali mendapat semangat yang sebelumnya pernah surut. Dan itu adalah perubahan yang drastis menurut Jongsoo. Mendengar hal itu membuat sesuatu dalam hati Hunjae seakan teriris, perih. Ia tahu, seberapa pun kerasnya ia berusaha, nama itu takkan pernah terganti. Bahkan meski keduanya terpisah jarak, keadaan keduanya tetap sama. Saling merindu meski tak mau mengaku. Ia ingat di awal Minjoo memutuskan pergi, bagaimana frustasi dan tertekannya gadis itu, Hunjae ingat semuanya. Bagaimana ia yang menyesal dan menangis hampir seharian setelah memutuskan untuk mengungsi ke luar kota demi menenangkan hati dan pikiran. Juga salah satu usahanya untuk berusaha move on, meski Hunjae yakin Minjoo takkan sanggup untuk melakukan hal demikian. Minjoo sudah persis layaknya mayat hidup. Ia ingat betul bagaimana suramnya wajah Minjoo, kebiasaan gadis itu yang berubah drastis. Juga hobinya memandang kosong ke arah jendela apartemen. Perlu waktu cukup lama bagi Minjoo untuk bisa kembali menata hidup, meski bayang-bayang masa lalu masih belum mau lepas, setidaknya Hunjae bersyukur gadis itu sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Semuanya berjalan baik seperti sebelumnya. Bahkan Hunjae sendiri hampir tertipu dan mengira jika Minjoo telah bisa move on sepenuhnya. Sampai kemudian hari itu datang. Chankyung kembali, ia datang lagi dan memporak porandakan usaha Minjoo untuk melupakan pria itu seutuhnya. Gadis itu gagal membangun tembok tinggi untuk perasaanya seperti apa yang ia katakan bahkan pada pertemuan pertama mereka. "Menurutmu, mereka akan kembali?" suara Jongsoo menginterupsi lamunan Hunjae. Pria itu hanya tersenyum kecil kemudian menyesap lagi minuman miliknya sebelum menjawab lirih. "Mungkin," jawabnya ragu. Jongsoo menatap Hunjae iba, meski mereka tidak terlalu dekat pria tan itu tahu seberapa besar perasaan Hunjae pada Minjoo. Bahkan dulu saat rumor kencan keduanya berhembus, Jongsoo sempat mempercayai itu mengingat betapa dekatnya mereka juga tatapan tulus seorang Hunjae pada Minjoo. Tapi satu sisi ia juga memikirkan perasaan sahabatnya, Chankyung. Pria itu juga sama dan ia juga tahu bagaimana terpuruknya Chankyung saat berpisah dengan Minjoo, ia tidak ingin hal itu kembali menimpa sang sahabat. "Hei Bung. Aku mengatakan ini tanpa maksud apapun. Tapi perjuangkan apa yang menurutmu benar, bersainglah secara sehat untuk apapun itu. Jangan jadi orang bodoh dengan menyerah tanpa berusaha. Oke, kau mungkin sudah berusahan maksud ku lebih." "Apa itu mungkin?" Hunjae tersenyum tipis. Entah kenapa ia merasa bersama dengan Minjoo saat masih ada nama Chankyung di antara mereka terasa mustahil. "Tentu, apapun bisa terjadi. Aku tahu seberapa hancurnya Chankyung saat itu. Ku rasa itu sama seperti perasaanmu saat tahu gadis yang kau suka masih menyimpan nama lain di hatinya. Saranku, perjuangkan itu. Meski kau kalah nantinya, setidaknya kau sudah jadi pejuang,"  "Kau mendoakan ku kalah?" Jongsoo terkekeh. Pria itu menggeleng pelan. "Tidak tidak, hanya perkiraan." Keduanya tergelak kemudian. "Tapi serius, perjuangkan juga perasaanmu." Sementara itu mobil Chankyung berhenti tepat di depan gedung apartemen yang Minjoo tempati,  keduanya terdiam beberapa saat hingga pergerakan Chankyung membuat Minjoo menoleh. Ia mengamati dengan lekat Chankyung yang tengah membuka sabuk pengaman miliknya. Mata Minjoo membulat sempurna saat Chankyung mendekat sampai jarak keduanya hampir terkikis. Seringai kecil bisa Minjoo lihat dengan jelas menghiasi wajah Chankyung membuatnya terdiam mematung di tempat. Menatap dengan teliti tiap perubahan pada pria yang masih menduduki posisi penting dalam hatinya. Ia tumbuh dengan baik dan jadi semakin tampan dari sebelumnya. Chankyung yang baru saja selesai melepas sabuk pengaman Minjoo menoleh ke arah gadis itu yang masih terdiam menatapnya lekat. "Masih ingin menatapku?" ucapan Chankyung membuat Minjoo sadar. Dengan cepat ia memalingkan wajah, malu. "Tak apa, aku justru senang ditatap olehmu," ujarnya dengan senyum jahil. Dua tanganya terulur merapikan anak rambut yang ada di sekitar wajah si gadis. Tanpa ia tahu, perlakuan itu mampu membuat kinerja jantung Minjoo meningkat pesat. Juga semburat merah yang menghiasi pipi bulatnya. "Kau manis saat bersemu," lagi, Chankyung mengatakan hal yang mampu membuat jantung Minjoo melonjak.  Si gadis berdehem keras, berusaha mengusir rasa gugup juga hawa panas yang melingkupi area wajah. Ia hendak membuka pintu mobil dengan cepat, namun pintu itu tidak kunjung terbuka. "Aku menguncinya."  "Jangan marah dulu. Dengarkan aku sebentar saja. Aku senang hubungan kita semakin membaik, maksudku sedikit. Dengan ini aku berharap akan ada kesempatan kedua buat ku, sekalipun tidak bisa menjadi cintamu lagi tapi bisa menjadi temanmu juga tak apa." Demi alien tampan EXO Planet, lagi-lagi Chankyung membuat Minjoo terpaku. Kali ini pria itu membuka kunci pintu mobil, tapi bukan hanya itu ia juga merapatkan tubuhnya ke arah Minjoo dengan dalih membuka pintu mobil dari arah dalam. "Kenapa? Mau ku antar sampai dalam?" dengan gesit Minjoo menggeleng. Ia keluar dan melangkah terburu ke arah lobi apartemen. Satu tangannya memegang erat area d**a sebelah  kiri, di mana jantungnya serasa akan lepas dari tempatnya. "Astaga, apa yang dia lakukan? Dan ada apa dengan diriku, kenapa aku jadi seperti ini. Apa aku benar-benar gagal move on sekarang?" monolognya seorang diri. Ia tak sadar jika tidak jauh dari tempatnya berdiri, Chankyung tengah mengamati. Pria itu tersenyum sumringah mendapati raut bersemu Minjoo yang kian memerah, juga mulut gadis itu yang maju, menggerutu. "Rasanya menyenangkan sekaligus lega. Semoga saja ini pertanda baik. Tunggu aku Minjoo, biarkan aku yang mengejarmu kali ini. Kau hanya perlu menunggu dan biarkan aku membuka hatimu, lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN