Prolog
Seperti hujan hari itu, aku melapasmu pergi...
Meninggalkan aku dengan kenangan kita dahulu...
Seperti hujan, kau pergi tanpa pernah kembali...
Meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh hingga kini...
.
.
.
.
Rambutnya terurai indah seiring hembusan angin. Matanya terpejam, menikmati semilir yang menenangkan hati.
Kelopaknya terbuka, menatap hamparan luas laut lepas di depannya.
Senyum kecil tercipta. Manis meski terkesan miris.
Hembusan napas kembali terdengar, ini yang ketiga kali sejak lima menit lalu. Kepalanya mendongak, menatap langit jingga yang membentang luas.
"Bagaimana kabarmu di sana?" gumamnya pelan. Perlahan, bulir-bulir bening mulai turun membasahi pipi. Membuat genangan kecil di susul isak tangis kemudian.
"Sudah lama. Apa kau tak merindukan ku? Kau bilang kau mencintai ku, tapi kenapa?"
"Kenapa kau pergi tanpa pernah mau kembali?"
Minjoo jatuh terduduk. Di atas pasir putih air matanya kembali tumpah seperti dua tahun lalu, isak memilukan itu masih terdengar sama lirih seperti waktu itu.
Jika bisa meminta, ia pun tak ingin begini. Ia ingin bisa tersenyum lebar seperti saat itu. Bisa merasa bahagia meski hanya sementara.
"Oh Hunjae. saranghae," tutupnya lirih. Disekanya air mata yang masih menetes. Perlahan tapi pasti, langkahnya mulai menuju bibir pantai.
Semakin jauh ia berjalan, semakin tinggi air laut yang menerjang. Ia tak peduli. Meski tak dapat berenang sekalipun Minjoo tetap tak peduli. Langkahnya kian terasa berat, pakaian yang dikenakan sudah basah setengah. Tapi Minjoo tetap tak peduli, kakinya teguh terus melangkah ke depan.
"Agashi!! Apa yang kau lakukan di sana?! Itu berbahaya!" seolah tuli. Minjoo tak mendengar teriakan dari bibir pantai. Langkahnya masih tetap sama. Maju ke depan.
Tanpa banyak menunggu, pria dengan kaos panjang itu menceburkan diri ke laut. Dengan cekatan ia berenang ke arah gadis yang sempat ia teriaki.
Sempat terjadi perlawanan. Minjoo berontak minta dilepaskan. Tapi sia-sia saja, tenaga yang dimilikinya tidak sebanding dengan pria yang telah menyelamatkan hidupnya.
Keduanya tiba di bibir pantai dengan pakaian basah juga napas tersengal akibat ombak yang beberapa kali menerjang. Tak sampai lima belas detik, isak tangis terdengar meski pelan.
"Agashi, apa yang kau," kalimat itu tertahan begitu suara Minjoo terdengar.
"Kenapa kau menyelamatkan ku? KENAPA!!"
Chankyung terdiam. Di hadapannya kini Minjoo tengah menangis hebat. Minjoo sempat memukuli d**a Chankyung beberapa kali sebagai pelampiasan rasa sesak, meski pukulan itu melemah pada akhirnya.
"Kenapa kau menyelamatkan ku? Kau tahu, jika saja kau tak datang maka aku sudah bisa berkumpul dengan Hunjae!" sentaknya. Wanita itu bahkan menangis kian keras.
Ia sempat ingin kembali menceburkan diri ke dalam laut, namun tertahan begitu Chankyung mengamit lengannya kemudian memeluknya dalam diam.
"Hunjae telah tiada Minjoo, lupakan dia. Kau tak harusnya menyiksa dirimu seperti ini," lirihnya parau. Bulir-bulir liquid bening itu turun tanpa komando.
Minjoo yang sempat memberontak kini terdiam. Wanita yang masih sesegukan itu mengulum senyum miris, dengan sekali sentak ia menghempaskan pelukan Chankyung.
"Apa menurutmu kau pantas mengatakan hal itu? Siapa kau? Apa hakmu?" sahutnya sinis. Sinar mata yang sebelumnya redup sarat akan luka, kini berganti jadi tatapan sinis penuh kebencian.
"Minjoo ...."
"Tak perlu berlagak mengenalku. Tahu soal diriku apalagi peduli padaku. Cukup bersikaplah seperti dulu."
"Manusia sepertimu takkan pernah tahu bagaimana rasanya mencintai. Kau tidak pernah tahu rasa sakit karena terkhianati. Kau tidak tahu apapun," Minjoo menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, menoleh sebentar ke arah Chankyung yang masih terdiam di tempatnya.
"Jadi jangan berlagak kau tahu segalannya."
Kaki Minjoo melangkah menjauh. Pergi meninggalkan Chankyung yang hanya bisa terdiam menatap punggung wanita itu.
"Maafkan aku."