November 2014
"Pergilah! Jangan ikuti aku!" kembali, satu sentakan Minjoo terima. Namun bukannya mundur, gadis dengan sweater maroon itu tersenyum sumringah.
"Sampai jumpa nanti Chankyung-ah," serunya riang sambil melambaikan tangan. Gadis itu berjalan mundur, masih dengan senyum merekah di bibirnya.
"Dasar gadis aneh," gumam Chankyung acuh. Ia kembali terfokus pada buku ensiklopedia di hadapannya.
Sudah hampir dua tahun Chankyung selalu diganggu. Ah, lebih tepatnya diikuti seorang gadis bermata bulat bak burung hantu.
Namanya Kim Minjoo. Sudah bukan hal baru jika Minjoo selalu ada di belakang atau di sekitar Chankyung. Gadis itu amat menyukai Chankyung dan selalu mengejar-ngejar pemuda itu.
Bahkan pernah sekali, ia ketahuan mengikuti Chankyung hingga toilet pria. Membuatnya mendapat hukuman juga sorakan dari banyak siswa.
Namun hal itu tak lantas membuat Minjoo jera. Ia masih saja meneruskan aksinya mengikuti Chankyung.
Ia tak canggung untuk berteriak nyaring sekadar memanggil Chankyung yang tengah berdiam diri di perpustakaan lantai dua. Ataupun memberikan beberapa bungkus makanan setiap jam istirahat. Meski pada akhrinya makan itu Chankyung berikan pada teman-temannya.
Seperti apa yang baru saja terjadi. Beberapa saat lalu, Minjoo baru saja memberi Chankyung bekal makan siang miliknya. Chankyung tak pernah meminta itu omong-omong, Minjoo memberinya dengan suka rela.
"Yo, kau dapat makanan lagi?" Jongsoo datang menghampiri. Anak laki-laki dengan kulit tan itu berujar dengan nada menggoda.
Jongsoo sudah paham soal perangai Minjoo yang selalu mencari perhatian Chankyung. Ia juga pernah menasehati Minjoo agar berhenti mengejar Chankyung tapi sia-sia. Gadis itu terlalu batu, sulit untuk membujuknya.
"Makanlah. Aku tak butuh," ucap Chankyung datar. Wajah Jongsoo berbinar, ia selalu menyukai makanan yang Minjoo buat.
"Ya, jangan seperti itu. Sesekali cobalah hargai kerja kerasnya, sekedar tersenyum saat menerima pemberiannya kurasa tidak buruk. Kau tahu, kau itu terlalu dingin."
Chankyung melepas kacamata yang sejak tadi bertengger di hidungnya. Ia menatap Jongsoo datar, kemudian beranjak meninggalkan sang teman. Namun tepat di langkah ke sepuluh, ia berbalik.
"Jika aku menerima tiap pemberiannya sambil tersenyum, itu akan membuatnya besar kepala dan mengira aku memberinya harapan. Hal itu jauh lebih menyakitkan mengingat aku benar-benar tidak menyukainya," ujar Chankyung sebelum kembali melangkah.
"Menerima pemberiannya dengan senyum? Yang benar saja," gumamnya seorang diri.
Chankyung kembali ke dalam kelas. Dari ambang pintu bisa ia lihat Minjoo yang tengah bercanda dengan beberapa teman sekelasnya.
Meski gadis itu berada di kelas berbeda, entah kenapa ia selalu menghabiskan waktu istirahat di kelas Chankyung.
"Annyeong Chankyung-ah, bekalnya sudah dimakan?" ia bertanya riang. Tak diperdulikannya sorakan juga seruan menggoda penghuni kelas. Chankyung jadi kesal sendiri.
Tanpa peduli, Chankyung segera mendudukan diri pada kursi miliknya. Ia menyumbat telinga dengan headset yang selalu ia bawa kemana-mana. Berjaga-jaga jika Minjoo tiba-tiba berada di dekatnya dan berceloteh tanpa henti.
Puk!
Sekotak s**u pisang tergeletak di meja. Anak laki-laki itu mendongak. Bisa ia lihat Minjoo yang tersenyum tulus sembari melambai ke arahnya.
Anak perempuan itu berlari begitu bel pelajaran berdering nyaring. Meski begitu, Chankyung sempat melihat Minjoo mengumamkan kata "hwaiting" tanpa suara ke arahnya.
"Ya, gadis itu masih saja mengerjarmu?" bisik bangku sebelah Chankyung.
Tak ada jawaban. Chankyung hanya diam dan kembali larut dalam dunianya. Memahami buku ensiklopedia.
"Hei. Kalau boleh ku beri saran, kurang-kurangi sikap cuekmu itu. Kasihan Minjoo, dan lagi kau akan menyesal jika gadis itu pergi meninggalkanmu nanti," ujar teman Chankyung tiba-tiba.
Chankyung termangu. Sedikit dalam hatinya mempertanyakan maksud ucapan sang teman. Namun dalam sekejap ia mengabaikan hal itu, berkata dalam hati jika Minjoo pergi merupakan satu hal yang baik.
Sementara di sisi lain, Minjoo tengah berteriak heboh. Ia melompat-lompat sembari tersenyum lebar.
"Ya, Oh Hunjae. Kau tahu, Chankyung tadi menatapkku. Kyaa!" serunya riang. Gadis itu bahkan bersemu mengingat sang pujaan hati yang menatapnya, meski dengan pandangan datar.
Hunjae hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia sudah hapal luar dalam soal gadis yang merupakan sahabat sekaligus tetangganya ini. Minjoo itu tipikal gadis yang bisa dibilang cukup bar-bar.
Ia takkan malu menunjukan perasannya pada siapapun. Termasuk pada Chankyung yang dijuluki manusia batu oleh warga sekolah. Meski ia selalu diacuhkan, disentak juga tak dipedulikan. Minjoo tidak menyerah.
Gadis itu memiliki prinsip, "perjuangkan apa yang menurutmu benar." termasuk soal perasaan. Bukan sekali dua kali Hunjae menasehati. Tapi memang dasarnya Minjoo itu bebal, ia takkan mau mundur jika sudah menginginkan sesuatu.
"Kau masih belum lelah?" komentar Hunjae pada akhirnya. Jika boleh jujur, ia sudah jengah dengan sikap Minjoo.
Gadis itu mulai mengejar Chankyung semenjak tahun pertama. Tepatnya setelah anak laki-laki itu menolongnya yang hampir jatuh di tangga karena terpeleset kulit pisang miliknya sendiri.
Seperti yang sudah Hunjae kira, Minjoo menggelengkan kepalanya kuat sebagai jawaban. Bibir tebalnya ia poutkan ke arah depan, merajuk.
Selalu begitu, tiap kali Hunjae bertanya soal ia yang tak pernah lelah mengejar Chankyung, Minjoo akan selalu bersikap seperti itu sebelum berujar.
"Chanyeol itu malaikat. Dia yang menolongku waktu itu. Coba saja dia tak ada, mungkin aku sudah patah tulang karena terjatuh waktu itu," jawaban yang selalu sama.
"Terserah kau saja," malas menanggapi, Hunjae meng-iyakan pada akhirnya. Jika ia kembali menjawab Minjoo maka keduanya akan berakhir dengan perdebatan juga Minjoo yang akan mendiamkannya selama seminggu penuh.
•°•°•°•°•°•
Pukul sebelas malam. Chankyung baru saja keluar kelas setelah menyelesaikan les tambahan. Ia mengeratkan mantel yang dikenakannya, musim gugur kali ini jauh lebih dingin.
"Chankyung-ah!" ia mendesah kesal. Entah darimana datangnya, Minjoo sudah berdiri tak jauh darinya. Gadis itu berlari riang hingga sampai tepat di hadapannya.
"Kau harus pakai sarung tangan. Cuaca semakin mendingin, kau bisa sakit nanti," dengan telaten Minjoo memasangkan sarung tangan dengan gambar Jerapah kuning di bagian punggung tangan.
Kata Minjoo, Chankyung itu seperti Jerapah. Tinggi juga lucu. Memang, Chankyung itu termasuk manusia kelebihan kalsium. Tapi bukan berarti ia senang disamakan dengan hewan pemakan tumbuhan bernama ilmiah Giraffa camelopardalis itu.
Selesai. Aarung tangan sudah terpasang sempurna di tangan Chankyung. Kini, telapak tangannya sudah jauh lebih hangat dari sebelumnya.
Senyum cerah menghiasi wajah Minjoo yang memerah. Ia menatap senang pada tangan Chanyeol yang sudah berhias sarung tangan buatannya.
"Bisa tidak kau pergi? Jangan mengikuti ku terus! Kau itu perempuan, jangan jatuhkan harga dirimu demi laki-laki," ujar Chankyung sarkastik.
Raut terkejut amat kentara di wajah Minjoo. Jelas saja ia terkejut. Namun hanya dalam beberapa detik ia kembali mengubah ekspresi wajahnya seperti semula. Tersenyum manis seolah tak terjadi apa-apa.
"Selama itu Chankyung, aku tak masalah," jawabnya sambil tersenyum.
Chankyung mendengkus. Apapun yang ia katakan soal menjauh darinya pasti akan berujung penolakan. Entah cara atau kata apalagi yang harus ia keluarkan agar gadis itu mau menjauhinya.
"Kau tahu 'kan, aku tidak menyukaimu. Benar-benar tidak menyukaimu. Jadi pergilah sebelum kau terluka lebih jauh. Aku tidak bisa menyukaimu, sungguh."
Lagi-lagi Kyungsoo tersenyum. Jujur saja, Chankyung akui senyuman gadis itu manis. Tapi tetap saja tingkahnya itu menganggu.
"Tahu. Aku juga tahu kau menyukai gadis lain," mata Chankyung membulat. Ia menatap Minjoo tak percaya.
"Kau ....."
"Aku sudah memperhatikan juga mengikutimu hampir dua tahun, jika kau lupa. Aku bahkan mengenal dirimu lebih dari diriku sendiri."
"Terlalu mudah bagiku untuk tahu. Wajahmu akan berbinar saat Minji ada di sana. Pipimu akan bersemu layaknya buah persik saat Minji menyapamu. Ku rasa kau begitu menyukainya ya," ucap Minjoo mencoba tersenyum paksa.
"Tapi tak apa. Meski Chankyung menyukai Minji aku masih boleh 'kan menyukaimu? Tolong jangan larang aku lagi, ini cinta pertama ku. Aku ingin membuat cinta pertamaku berakhir baik meski itu hanya kebohongan," tutup Minjoo pada akhirnya. Chankyung sadar, meski gadis itu berkata sambil tersenyum sebenarnya ia sakit hati.
Tatapan sarat luka tergambar jelas di sana. Dan untuk pertama kalinya Chankyung tertegun, sesuatu dalam dirinya seakan tergugah.
"Kalau begitu Sampai jumpa besok," pamit Minjoo. Ia berbalik, melangkah pergi dengan kepala tertunduk dalam.
"Apa aku sudah keterlaluan?" Gumam Chankyung seorang diri.
Dalam diam ia menatap punggung Minjoo yang semakin menjauh. Dan untuk pertama kalinya ia merasa kasihan pada gadis itu.
"Haruskah aku meminta maaf? Ku rasa perkataanku keterlaluan," lagi-lagi Chankyung bergumam