Pagi datang dengan cepat. Chankyung memulai harinya seperti biasa hingga ia tiba di sekolah, dirinya tak lagi mendapati Minjoo yang setia tersenyum menyambutnya di depan gerbang.
Ia juga tak lagi mendapati sekotak s**u pisang dalam loker juga sticky note kuning berisi pesan penyemangat seperti biasanya.
Chankyung sendiri sadar jika sikap Minjoo agak berubah hari ini. Gadis itu lebih memilih menunduk dan berjalan melewatinya begitu saja saat berpapasan.
Tidak seperti hari biasanya, di mana ia akan berteriak nyaring memanggil namanya di manapun dan kapanpun keduanya bertemu meski hanya sekilas.
Jika biasanya Minjoo memberikan kotak bekal untuk Chankyung secara langsung, maka kali ini berbeda. Ia lebih memilih menitipkan kotak bekal tersebut pada Jongsoo. Chankyung tahu hal itu sebab Jongsoo sendiri yang memberitahunya.
Chankyung duduk diam dalam kelas. Ia berusaha keras memfokuskan diri pada buku ensiklopedia yang ada di hadapannya.
"Aishh," kesal Chankyung mengusak rambutnya hingga berantakan.
Chankyung menyandarkan badannya pada kursi. Tak lama kemudian ia merogoh laci mejanya, mengeluarkan sekotak s**u pisang juga sticky note kuning yang masih tertempel di sana.
'Hari semakin dingin, jangan lupa kenakan mantel dan juga minum s**u rasa pisang ini. Itu akan membuat suasana hatimu baik. Semangat Chankyung-ah!! ^^'
Tanpa sadar, dua sudut bibir Chankyung tertarik ke arah atas membentuk satu lengkungan senyum kecil. Tapi tak bertahan lama, dalam hitungan detik senyum itu luntur digantikan dengan dengkusan sebal.
"Fokus Chankyung. Kau harusnya bersyukur karena Gadis Aneh itu tak lagi mengganggu mu," monolog Chankyung pada dirinya sendiri.
Ia kembali mencoba memfokuskan perhatiannya pada buku, namun baru beberapa detik ia kembali mendesah kesal.
Bayang-bayang raut wajah Minjoo malam tadi terlintas di kepalanya, raut yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang biasa Chankyung lihat sebelumnya.
Dengan tergesa Chankyung keluar dari kelas. Ia berjalan setengah berlari ke tempat di mana Minjoo biasa menghabiskan waktu luang. Taman belakang sekolah.
Darimana Chankyung tahu? Gadis itu sendiri yang memberitahu Chankyung saat keduanya tak sengaja berada di sana. Ia mengatakan taman belakang adalah tempat terbaik di area sekolah mereka.
Chankyung tiba. Mata bulatnya mengedar. Menelisik tiap tempat yang memungkinkan Minjoo berada di sana. Tapi nihil. Gadis itu sama sekali tak ada di manapun.
Dengan langkah gontai, Chankyung duduk di salah satu batu di bawah pohon besar yang membuat rindang meski dengan daun yang mulai berguguran. Semilir angin musim gugur memang terasa lebih dingin. Tapi entah kenapa Chankyung merasa damai. Ia jadi paham kenapa Minjoo mengatakan taman belakang adalah tempat terbaik.
Tak banyak warga sekolah yang suka berdiam diri di sini. Hal itu membuat suasana begitu nyaman untuk melepas lelah atau sekadar mengasingkan diri sejenak dari penatnya kegiatan sekolah.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Mata Chankyung yang awalnya terpejam langsung terbuka lebar. Ia menoleh ke arah suara, di belakangnya Minjoo berdiri dengan alis yang menekuk. Gadis itu memegang kotak bekal berwarna biru di tangannya.
Secara alami, senyum Chankyung mengembang tanpa sadar. Ia merasa senang saat mendengar suara Minjoo lagi. Sadar dengan tatapan Minjoo juga kernyitan di dahi gadis itu membuat Chankyung seketika mengubah ekspresinya seperti biasa. Kaku.
"Bukan apa-apa. Ini area sekolah, siapapun bebas ada di sini," sanggahnya. Setengah mati Chankyung menjaga agar intonasi suaranya terdengar senormal mungkin.
Minjoo menggedikan bahu. Tanpa canggung gadis itu mengambil tempat di sebelah Chankyung. Menyantap makan siangnya dengan lahap tanpa mempedulikan anak laki-laki di sampingnya.
"Kalau mau ambil saja, aku tidak pelit ko," ujar Minjoo tanpa mengalihkan pandangan dari arah depan. Ia menyodorkan kotak bekalnya secara asal ke arah Chankyung.
Chankyung tergagap seperti maling yang tertangkap basah. Anak laki-laki berusia delapan belas tahun itu berdehem beberapa kali, berusaha menghilangkan rasa gugup. Sebenarnya malu.
"Tidak mau? Padahal bekal makan siang dariku sudah dimakan Jongsoo," kata Minjoo. Chankyung menoleh, matanya membulat.
"Jongsoo?" Minjoo mengangguk.
Jongsoo memang mengatakan pada Chankyung jika Minjoo menitipkan bekal padanya, tapi anak laki-laki bermarga Kim itu tidak memberitahu Chankyung jika ia telah memakan bekal tersebut. Padahal rencanya Chankyung ingin mengambil bekal tersebut setelah bertemu dengan Minjoo.
"Eung. Aku menitipkan bekalmu padanya. Tapi dia bilang, selama ini kau tak pernah memakannya dan selalu memberikan bekal dariku untuknya. Jadi, sekalian saja kuberikan padanya. Toh kau juga takkan memakan itu 'kan?" Minjoo berkata lirih. Ia tersenyum dan menatap Chankyung lembut.
"Ah, satu lagi. Maaf jika selama ini aku selalu menganggumu. Membuatmu kesal dengan semua tingkah laku ku. Aku melakukan semua itu hanya agar bisa menarik perhatianmu, tapi kurasa kau benar-benar terganggu. Maaf ya."
Untuk sesaat Chankyung terdiam. Ia menatap lamat-lamat ke arah Minjoo yang tengah tersenyum tipis.
Hari ini gadis itu tampak berbeda. Baik dari penampilan, sikap maupun tutur kata. Minjoo terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Dan itu cukup menganggu bagi Chankyung.
Entah kenapa ia merindukan sikap dan penampilan Minjoo yang sebelumnya.
"Kau kenapa?"
"Aku? Aku baik-baik saja. Hanya sedikit merubah kebiasaan. Aku tak ingin lagi menjadi seperti dulu, cukup untuk bersikap kekanakan dan menyebalkan. Lagipula sikap seperti itu bisa menganggu beberapa pihak."
"Hunjae juga pernah berkata, bukan lagi saatnya bermain saat memasuki kelas akhir. Apalagi memperjuangkan sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya," jawab gadis itu panjang lebar.
Omong-omong soal Hunjae. Chankyung jadi teringat rumor yang berhembus pagi tadi. Sejujurnya ia ingin bertanya, tapi ragu.
Pagi tadi santer terdengar jika Minjoo juga Hunjae menjalin hubungan lebih dari sekadar sahabat. Banyak yang berspekulasi demikian setelah satu foto tersebar di forum sekolah, di mana Hunjae juga Minjoo kedapatan saling berpegang tangan saat pulang bersama.
"Kau ingin bertanya soal rumor antara aku dan Hunjae 'kan?"
Dengan ragu Chankyung mengangguk, tak ada gunannya mengelak. Lagipun ia memang penasaran.
"Menurutmu bagaimana?"
"Apanya?"
"Jika aku benar-benar berkencan dengan Hunjae. Ah, apasih yang ku katakan. Sekalipun itu benar, kau juga takkan peduli. Omong-omong, ujian akhir sebentar lagi dimulai. Mari sama-sama berjuang, dan ayo bertemu lagi di masa depan," Chanykyung tak menyangka jika senyum juga pertemuannya dengan Minjoo hari itu adalah yang terakhir bagi keduanya.
Tepat setelah ujian berakhir, gadis itu memutuskan untuk pindah ke tempat yang tak diketahui.
Chankyung pernah mencoba bertanya pada Hunjae yang notabene salah satu orang tedekat Minjoo. Anak laki-laki bermarga Oh itu mengaku tak tahu soal keberadaan si gadis Do.
Ia berkata jika Minjoo memang menemuinya. Tapi ia tidak mengatakan kemana akan pindah, keduanya pun sudah jarang berkomunikasi.
Chankyung mengerang. Ia baru menyadari sesuatu. Hari-harinya tak lagi sama semenjak Minjoo pergi. Semua yang ia lakukan terasa serba salah, rasanya kosong saat gadis itu tak lagi menganggu harinya.
Desember 2019
Waktu berlalu dengan cepat. Banyak yang telah berubah, termasuk pemuda dengan kacamata yang menggantung tepat di hidung mancungnya.
Tangannya masih aktif membalik beberapa dokumen penting yang harus ia periksa satu persatu. Sampai terdengar suara ketukan pintu.
Seseorang berjalan masuk seusai mendapat ijin. Ia tersenyum ramah, membuat wajah yang sebelumnya tampak dingin berganti jadi penuh ekspresi.
"Kau bekerja terlalu keras sajjang-nim," ujar seorang karyawan sambil tersenyum. Sedang sang lawan bicara terkekeh kecil. Ia melepaskan kacamatanya lalu bersandar sambil menghela napas berat.
"Ini cara satu-satunya agar aku bisa melupakannya," sahutnya lirih.
Mata bulatnya menatap ke atas, ke arah langit-langit. Tanpa perintah, rasa itu kembali hadir melingkupi ruang dalam hatinya yang terasa kosong.
"Berhasil?"
Gelengan lemah jadi jawaban. Ia menatap asisten sekaligus sahabatnya lamat-lamat.
"Aku tak bisa melupakannya. Aku terlalu jahat untuk gadis sebaik dirinya," Chankyung menelungkupkan wajahnya diantara lipatan tangan. Sang asisten yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala. Turut prihatin.
"Sebenarnya bukannya kau tak bisa. Hanya saja kau tidak mau. Bukannya aku ingin memprovokasi, hanya saja kau memang terlihat tak berniat melupakannya," ucap sang asisten menatap ragu.
"Entahlah. Sepertinya kau benar, aku memang tak berniat melupakannya."
"Sudah ku duga. Lebih baik kau datang ke caffe baru tak jauh dari sini. Segarkan otakmu dulu, aku tidak mau kembali merevisi berkas-berkas yang sebenarnya tak bermasalah hanya karena kau yang tidak bisa fokus," gerutu sang asisten yang berhasil mengundang kekehan kecil dari Chankyung.
"Ya, ya. Kau ini asistenku, kenapa kau yang memerintahku sih," seru Chankyung tak terima.
"Biar saja. Kau terlihat menyedihkan jika terus berdiam di sini dan berkencan dengan pekerjaanmu Park Chankyung."
Setelah perdebatan antara ia dan sang asisten, maka di sinilah Chankyung pada akhirnya. Caffe dengan nuansa hangat yang kentara, bangunan satu lantai itu terlihat sederhana namun dapat menarik mata.
Ornamen-ornamen dengan kesan hangat yang ditata sedemikian rupa sanggup membuat siapa saja yang melihatnya tertarik untuk masuk ke dalam. Sekadar duduk mengobrol atau meminum secangkir kopi.
Chankyung mengakui, jika selera si pemilik cafe cukup bagus.
Tanpa ragu Chankyung melangkah. Ia bergumam takjub begitu memasuki area dalam caffe. Interior klasik, sederhana namun terkesan cantik.
Pria tinggi itu duduk di salah satu bangku yang menghadap kaca besar, di depannya tersaji pemandangan jalan raya dengan kesibukan di dalamnya.
"Permisi Tuan. Silahkan menunya."
Deg!
Netra keduanya bertemu, seolah terpaku di satu waktu. Chankyung tak bisa mengalihkan pandangan meski sedetik. Seolah-olah tak ada yang lebih indah dari mata bulat yang juga tengah menatapnya.
"Do Minjoo."
Ucapan itu terdengar lirih. Minjoo hanya diam. Gadis itu juga sama terkejutnya seperti Chankyung.
"Kita bertemu lagi."