Empat

1171 Kata
Hunjae meletakan mug berisi coklat panas. Di hadapannya Minjoo menatapnya intens, ia memperhatikan pria itu tanpa henti sejak tiga menit lalu. "Aku tahu aku tampan," celetuknya. Minjoo mendecih, dengan cepat ia menyeruput minuman yang sudah Hunjae sediakan. "Kau bertemu dengannya?" tanya Hunjae tiba-tiba. "Siapa?" alis Minjoo menukik. Bertemu siapa? Ia hanya bertemu Jihoon dan bekerja di cafe seperti biasa. Ah! Minjoo ingat, ia juga bertemu dengan. "Chankyung."  Benar seperti dugaan Minjoo, Hunjae pasti akan mengucapkan nama itu. Tapi, omong-omong darimana ia bisa tahu jika Minjoo bertemu dengan Chankyung? "Jihoon yang memberitahu ku," sudah diduga.  Jihoon akan selalu mengatakan apapun yang bersangkutan dengan Minjoo pada Hunjae. Anak itu sudah seperti informan pribadi untuk Hunjae, tentu hal itu ia lakukan dengan inisiatifnya sendiri. "Ya," sahut Minjoo singkat. Sejujurnya ia enggan membahas soal Chankyung, apalagi bersama Hunjae. Bukannya apa, Minjoo tidak bodoh untuk tahu perasaan pria itu padanya. Ia tidak buta untuk bisa tahu segala perhatian dan perilaku yang ditunjukan pria bermarga Oh itu untuknya. Minjoo juga paham jika apa yang selama ini Hunjae lakukan bukan semata-mata karena pria itu menyukai dirinya. Ia melakukan itu juga karena status sahabat dekat mereka. Hunjae begitu tulus menjadi seorang sahabat, dan Minjoo tidak ingin kehilangan itu. Baginya, lebih penting mempunyai sahabat seperti Hunjae daripada kekasih. Ia hanya tidak ingin jika hubungan mereka menjadi lebih dari sekadar sahabat, itu akan membuat mereka sendiri merasa canggung.  Itu juga tidak akan jadi lebih baik apabila mereka putus hubungan nantinya. Tentu tidak ada yang menjamin jika mereka menjadi sepasang kekasih, hubungan mereka akan baik-baik saja untuk waktu yang lama bukan? Apa saja bisa terjadi, Minjoo hanya berjaga-jaga untuk hal paling buruk sekalipun. Ia tidak ingin kehilangan sosok sahabat seperti Hunjae.  "Bagaimana?" tanya pria itu lagi. Minjoo mendengkus, ia meneguk habis coklat hangat miliknya. "Bagaimana apanya? Bertanya yang jelas,"  Minjoo menjawab ketus. Entah kenapa moodnya tiba-tiba menjadi buruk, ingatannya kembali berputar pada ucapan Chankyung beberapa saat lalu di caffe. Memulai kembali? Apa yang harus dimulai kembali, kisah mereka bukanlah sesuatu yang sempat dimulai atau bahkan diakhiri. Cerita itu hanya sebatas ia yang mengejar setengah mati dan Chankyung yang benar-benar membencinya. Tidak lebih. "Jangan berpura-pura bodoh. Aku tahu kau masih menyukainya," ucap Hunjae tepat sasaran. Minjoo jadi gagap untuk sekedar mengelak. Hunjae itu terlalu tahu soal dirinya, Pria tampan itu bahkan hafal hal-hal yang kadang Minjoo sendiri lupa. "Ya. Aku memang masih menyukainya, tapi 'kan aku kekasihmu. Aku tidak mau kembali pada orang yang bahkan sudah menyia-nyiakan hidupku. Sudah cukup denganmu dan Jihoon, aku tak perlu pria lain," jawab Minjoo sembari bergelayut manja pada lengan Hunjae. Hunjae terkekeh. Untuk sesaat ia amat menikmati moment bersama sang sahabat sekaligus gadis yang sudah berhasil menempati posisi paling penting setelah Ibunya. Ia mengelus surai kecoklatan Minjoo dengan sayang. Ia tahu gadis ini tahu soal perasaanya, tapi ia lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu.  Hunjae adalah orang yang paling mengerti Minjoo. Ia bisa tahu apa yang gadis itu pikirkan tanpa perlu repot-repot mengatakan banyak hal, keduanya sudah bersama sejak dulu. Dan wajar jika di antara mereka ada yang memendam rasa. Kau tahu, tidak ada persahabatan yang murni di antara laki-laki dan perempuan. Entah itu salah satu, atau bahkan keduanya. Ada di antara mereka yang memiliki oerasaan lebih untuk satu sama lain. "Katakan itu di depan Chankyung Gadis Jelek," ujar Hunjae mencubit hidung Minjoo. Membuat si gadis memekik juga melotot tajam ke arahnya. "Apa yang kau lakukan sih? Dan siapa itu Gadis Jelek, huh? Aku ini Gadis Cantik dan baik hati tahu," tukas Minjoo mencebikan bibir. Salah satu sisi yang bisa dibilang rahasia dari sosok Do Minjoo. Hanya pada orang-orang tertentu ia bisa menampilkan sisi dari dirinya yang lain. Sisi dalam diri Minjoo yang bersikap manja dan kekanakan. Hanya pada orang-orang terdekat juga yang telah ia percayai saja Minjoo bisa bersikap lain daripada biasanya. Tentu Hunjae juga Chankyung termasuk di dalamnya. Oh! untuk Chankyung pengecualian. Kurasa itu hanya berlaku dulu saja. "Hei, mau berjanji sesuatu tidak?"  Hunjae berucap dengan tangannya yang menggengam jemari Minjoo erat, mengisi sela-sela jemari wanita itu dengan jari-jarinya sendiri yang terasa pas. "Hng?" Minjoo menyahut dengan pandangan bingung. Ia menatap Hunjae yang tersenyum ke arahnya dengan lekat, ada yang berbeda dari senyum Pria itu. Batinnya. "Berjanji untuk bahagia. Entah dengan ku, Jihoon atau siapapun. Jangan pernah lagi bohongi hati juga perasaanmu. Jika suka katakan suka, jika tidak katakan tidak. Katakan apa yang hatimu inginkan." "Jangan biarkan emosi juga rasa sakit hati menguasai hatimu. Aku tahu kau merasakan sakit hati, tapi itu juga bukan alasan yang tepat untuk menyiksa dirimu sendiri dengan berbohong, katakan semuanya dan akui. Kau pasti akan merasa lega dengan itu," ujar Hunjae panjang lebar. Minjoo tertegun. Netranya masih menatap Hunjae yang tersenyum tulus ke arahnya. Pria itu juga mengusap lembut surainya, mengantarkan rasa nyaman juga hangat di saat  yang bersamaan. Mata Minjoo terpejam, wanita itu menikmati moment bersama Hunjae. Ia mengakui jika dirinya merasa nyaman juga aman saat bersama Hunjae. Ia merasa terlindungi dan dicintai dengan setulus hati, tapi entah kenapa hati juga perasaanya belum bisa menerima Hunjae sebagai pengisi hati. Hunjae belum bisa menggeser posisi satu nama yang masih menempati posisi teratas sebagai kandidat perebut hati Minjoo. Eksistensinya masih bertahan meski bertahun-tahun sudah Minjoo mencoba mengubur perasaanya sendiri. Bukannya Minjoo tidak ingin mencoba berpaling pada Hunjae, tentu ia pernah. Buka hanya sekali, dua kali ia mencobanya. Hal itu sering ia lakukan, meski pada akhirnya hanya berakhir percuma. Pernah sekali Minjoo mencoba menerima perasaan Hunjae selama satu minggu, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri jika ia memang telah benar-benar melupakan Chankyung. Meski Hunjae menolak, Minjoo tetap memaksa. Ia ingin setidaknya mencoba, siapa tahu ia memang sudah benar-benar melupakan Chankyung seutuhnya. Tapi sama saja. Meski ia merasa nyaman dan aman saat bersama Hunjae, tetapi hati kecilnya tetap memilih nama lain untuk menerima tiap cinta yang ia punya. Mungkin memang terkesan berlebihan, juga bodoh. Tapi mau bagaimana lagi, kau tidak bisa memilih cinta, tapi cinta yang memilihmu untuk bersama siapa. "Bisakah Tuhan membuatku jatuh cinta padamu saja? Aku ingin membuang rasa ini jauh-jauh, aku benar-benar ingin bahagia. Bersama orang sepertimu," kata Minjoo lirih.  Ia tidak berbohong soal itu. Jika saja ia bisa membuang nama Chankyung dari hatinya, melupakan tiap kenangan bersama Pria itu maka dengan senang hati Minjoo akan menggantinya dengan nama Hunjae di sana.  Tapi itu semua tidak semudah apa yang ia kira. Nyatanya perasaan untuk Chankyung masih sebesar dulu, Pria itu masih memiliki posisi sama penting seperti waktu itu. Minjoo sendiri sebenarnya benci mengakui hal itu, ia benci saat harus mengakui jika dirinya memang masih terjebak dengan kenangan masa lalu.  Masih berputar-putar tanpa tahu jalan untuk keluar. "Meski kau bersama denganku, tapi hatimu menginginkan orang lain. Rumahmu. Dan itu bukan aku," sahut Hunjae lirih. Meski wajahnya tersenyum namun dalam hati ia merasa sebaliknya.  Ia tidak bisa membohongi perasaanya sendiri meski ia bisa membohongi semua orang dengan berkata bahwa ia baik-baik saja. Nyatanya hatinya tidak. Itu menyakitkan saat tahu orang yang kau cintai masih menyimpan nama lain di hatinya untuk waktu yang lama, bahkan meski ia telah bersama orang itu di saat-saat terburuk dalam hidupnya sekalipun, ia belum bisa menggeser nama itu sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN