MWCB.10 Mansion

1079 Kata
Hari ini adalah hari Minggu. Pagi-pagi Arsen sudah sampai di kediaman Eryk Ferdinand untuk menjemput Elena. Tatapan tajam selalu mengarah pada Elena. Tak luput dari pengelihatan Arsen. "Papa, Elena pergi dulu ya. Nanti kalau pekerjaan Elena sudah selesai, Elena pasti pulang kok," ucap Elena pada Eryk. Arsen menautkan kedua alisnya. "Kamu tidak akan pulang, karena kamu akan latihan menjadi calon istri saya, hahaha," batin Arsen sambil tertawa. Elena pun bersalaman pada sang mama. Salaman di tangan Elena sangat kuat. Elena menahan rasa sakit itu agar tak dilihat oleh sang papa dan Arsen. "Elena pamit ya ma, nanti kalau pekerjaan Elena sudah selesai Elena pasti pulang kok," ucap Elena sambil tersenyum simpul. Ariana pura-pura sedih dan mencium pipi kiri Elena. Ralat, bukan mencium. Tetapi, membisikkan sesuatu. "Ingat! Setelah kamu pulang, hidupmu akan terancam," ucap Ariana penuh penekanan. Tubuh Elena merasa bergidik ngeri, setelah itu Elena pamit kepada Alisha. Tetapi, Alisha hanya memberikan pelukan dengan ancaman. Elena pun bergegas menuju ke dalam mobil Arsen. Tak lupa melambaikan tangan pada sang papa. "Saya tau mama dan adikmu mengancamu tadi," ucap Arsen sambil memakai seltbeetnya. Elena tampak terkejut akan ucapan Arsen. Tetapi, Elena berusaha untung tenang dan menutupi kepanikannya. Arsen mendekat ke arah Elena. Sedikit lagi kening mereka menyatu. Elena memejamkan matanya, terdengar suara tertawa Arsen membuat Elena segera membuka matanya. "Kamu kira saya mau cium kamu gitu?" tanya Arsen sambil meredakan tawanya. Elena menunduk karena malu. Bahkan pipinya memanas. "Eng-enggak pak," ucap Elena bergetar. Arsen pun mengangkat dagu Elena dan mencium bibir Elena secepat kilat. Setelah itu memakaikan seltbeet Elena. Wajah Elena tampak terkejut akan tindakan bosnya tadi. Sedangkan Arsen malah senyum-senyum sendiri. Bugh Bugh "p********n," ucap Elena sambil menggebuki Arsen dengan slim bagnya. "Dasar bos aneh," kesal Elena. Arsen berusaha mengelak dari tas Elena dan menangkap tangan Elena. Napas mereka berdua tersenggal-senggal. Tatapan mereka saling bertemu. Tak sengaja, senyum di bibir Arsen terangkat. "Bibir kamu manis, saya mau lagi kalau dibolehin," ucap Arsen dengan tatapan genitnya. Nampak Elena akan melayangkan tasnya kembali. Tetapi, tangannya sudah di tahan oleh Arsen. "Jangan digebukin mulu, di elusin kan lebih enak," goda Arsen. Pipi Elena semakin panas, sudah dijamin jika pipinya merah seperti tomat. "Lain kali kalau pakai perona pipi jangan tebel-tebel. Nanti kaya b*****g," ucap Arsen sambil terkekeh. Elena segera melepaskan tangan Arsen yang berada di lengannya dengan pandangan sengit. "Maaf pak sebelumnya, harap bapak jaga sikap. Karena saya sudah punya pacar," alibi Elena. "Mulut mu bisa berbohong. Tapi, matamu tidak bisa berbohong. Toh, pacarmu juga nanti kalah tampan sama saya," ucap Arsen sambil menyalakan mesin mobilnya. "Dasar bos angkuh,'' umpat Elena. "Saya tidak suka mempunyai sekertaris yang suka mengumpati bosnya." Ucap Arsen dengan santainya. Elena memelototkan matanya. Bagaimana bisa bosnya bisa mengetahui jika dirinya tengah mengumpat. Padahal, suaranya saja lirih. Elena berpikir jika bos disampingnya adalah cenayang. *** Elena san Arsen sudah sampai di mansion milik Arsen. Sangat besar dan mewah. Bahkan saat Arsen masuk, para maid sudah berjejer rapi untuk menyambut tuannya. Bak di istana raja. "Kamar saya dimana pak?" tanya Elena. "Sama saya mau?" goda Arsen. Elena pun menatap tajam ke arah bosnya. Seperti orang yang akan mengibarkan bendera perang. Arsen terkekeh saat melihat wajah Elena. Dengan gemas Arsen mencubit kedua pipi Elena. "Gemesnya, mari saya antar ke kamar kamu,'' ucap Arsen berjalan terlebih dahulu menuju lift di mansionnya. Elena tampak kagum akan mansion mewah milik Arsen. Sudah besar, bersih, rapi, ada liftnya lagi. Mansion Arsen pun memilik empat lantai. "Ini kamarmu dan jika kamu membutuhkan bantuan saya silahkan ketok kamar sebelah. Itu kamar saya," ucap Arsen. "Ini gak kebesaran ya pak?" tanya Elena saar melihat kamarnya tanpa berkedip. Arsen terkekeh melihat wajah polos Elena. Tidak seperti wanita diluaran sana yang mengemis cinta pada dirinya dan memberikan tubuhnya secara cuma-cuma. Sedangkan Elena, perempuan lugu yang Arsen temui di bandara. Membuat Arsen langsung jatuh hati. "Bukannya kamu tinggal di LA? Pasti lebih besar dari ini," ucap Arsen. "Tidak pak, saya tidak meminta kamar yang besar. Karena susah bersihinnya, saya juga takut kalau kebesaran kamar bikin tambah banyak hantunya," ucap Elena bergidik ngeri sambil melihat kamarnya yang luas. Arsen dibuat tertawa sampai perutnya sakit, karena tingkah polos perempuan di sampingnya ini. "Pak, ada gak kamar yang lebih kecilan dikit. Elena takut," ucap Elena sambil mengusap-usap lengannya. Karena bulu kuduknya sudah berdiri. "Gak ada Elena," ucap Arsen. "Ah, gini aja. Saya sekamar sama bapak, tapi beda ranjang. Beneran pak, saya takut," ucap Elena. Arsen memelototkan matanya. Apakah perempuan disampingnya ini tidak tau, jika pria normal satu kamar dengan perempuan. "Tidak," tukas Arsen. "Plise pak, emang bapak mau saya kena serangan jantung?" tanya Elena dengan puppy eyesnya. Arsen tak tahan dengan tatapan Elena yang sangat imut baginya. Mungkin dirinya akan mendapat ujian beberapa hari setelah Elena mulai berani tidur dikamarnya. "Oke lah kalau begitu. By the way, saya baru tau, selain sifat kamu cuek, tukang ngejek. Kamu juga penakut sama hantu," ucap Arsen sambil terkekeh. Elena bersedekap d**a dan memicingkan matanya ke arah Arsen. "Bukannya waktu di kantor bapak juga ketakutan ya, hm," ucap Elena sambil menaik turunkan alisnya. "Saya takut karena kamu ketakutan. Jadinya nular ke saya," ucap Arsen. "Sudah bicaranya. Taruh barang kamu dikamarmu, biar maid nanti yang menatanya. Sekarang kita sarapan dulu, saya tau kamu belum sarapan," sambung Arsen. Elena melihat jamnya sekilas, ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. "Bukan makan siang ya pak?" tanya Elena dengan wajah bingung. "Terserah kamu mau ngomong apa. Sekarang mending makan, saya laper." Ucap Arsen dan segera menarik tangan Elena menuju ke dalam lift. Mall Dua orang berbeda jenis, saat ini berada disebuah toko skincare. Siapa lagi jika bukan Arsen dan Elena. Bosnya ini memaksa Elena untuk membeli skincare, saat tau jika Elena tidak pernah perawatan. Tapi, anehnya Elena tetap cantik. "Gak pernah perawatan, tapi kok kamu cantik ya? Mata kamu saja berbeda dengan mama dan papamu," ucap Arsen saat melihat manik mata biru milik Elena. "Gak tau juga ya pak, bahkan oma dan opa saya juga bingung. Kalau cantik sih itu udah garis keturunan dan perempuan kodratnya cantik bukan ganteng," ucap Elena. Arsen lupa, jika dirinya sedang berbicara dengan mulut kereta expres. Gak ada remnya kalau ngomong. "Terserah kamu Len, saya capek ngomong sama kamu,'' ucap Arsen. "Duduk pak, kan ada kursi," ucap Elena. "Gak denger Len, gak denger," ucap Arsen. "Tuli dong." Ucap Elena. Benar-benar, kesabaran Arsen diuji jika dekat dengan Elena. Setelah kenal lebih dekat, ternyata Elena itu perempuan yang sangat cerewet. Apalagi di rumah tadi, membuat kepala Arsen serasa mau pecah. Lama gak di Indonesia, Elena sampai gak tahu makanan tempe tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN