Larisa terdiam. Dia bingung harus bagaimana menanggapinya. “Ak-aku belum meminta maaf kepadamu dengan benar,” Dewa berkata, menampilkan wajah sendunya. Larisa menghela nafasnya panjang. Rasanya canggung ada di situasi seperti ini. “Meminta maaf untuk apa?” tanya Larisa gugup. “Semua, kesalahanku pada dirimu dulu,” jawab Dewa, kemudian mengingat kembali memori yang penuh luka, lima tahun yang lalu. “Selalu membentakmu, padahal tidak ada kesalahan apapun,” Dewa mengingat satu kesalahannya yang berulang kali dilakukan pada gadis itu. Larisa tertawa miris saat mengingatnya. “Itu karena saya nggak tahu malu mengejar Bapak, padahal sudah ada Kak Resty,” sergah gadis mungil tersebut. Dewa menatapnya semakin sendu. “Aku membiarkan kamu dibully oleh Resty dan kawan-kawannya,” Dewa menye

