Larisa menatap Dewa, menuntut penjelasan dari asisten dadakannya itu. Dewa mengangkat bahunya santai. “Tuan Choi yang kasih intruksi,” jawabnya. Larisa tetap memandang Dewa dengan kecurigaan yang besar. Ragu-ragu untuk mempercayai keterangan darinya. Dewa menghela nafasnya, kemudian menoleh ke arah gadis mungil itu. “Setelah makan, kita ke ruang kerja Tuan Choi. Silahkan kamu tanya sendiri tentang keberadaanku sebagai asistenmu,” ajak Dewa demi meyakinkan Larisa. Dia sendiri awalnya kaget langsung ditunjuk oleh bosnya, jadi asisten dari gadis yang sudah sangat dirindukannya. Tentu saja kemudian dimanfaatkan olehnya semaksimal mungkin. Dewa hanya memanfaatkan keadaan. Tetapi siapa yang berwenang menempatkan orang dalam bekerja, dia tidak mempunyai hak sebesar itu. “Sekarang saja

