Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan ke rumah Farid. Setelah tadi mereka sibuk dengan membeli kue, buah dan s**u untuk para balita yang akan ikut bersama para orang tuanya. “Memang ada berapa anak-anak yang akan datang?” tanya Larisa, matanya melirik ke arah banyak kresek putih yang disimpan di sana. “Lima arak, empat dari Pak Arya dan Hening, satu dari Gino dan Liana,' jawab Dewa, sepertinya menghitung jumlah calon tamu ciliknya. Larisa terbelalak. Selama bekerja di kantor lama, dia tidak tahu keluarga Arya. Bosnya itu jarang membawa keluarganya secara lengkap untuk acara resmi. Sekali dua kali Arya membawa istrinya. “Saya tahu Bu Nina, kalau anaknya tidak pernah kenal,” kata Larisa mengingat-ingat. Dewa tertawa, mengacak rambut Larisa pelan. “Kalau kita nikah nanti, kubawa

