“Sudahlah Kak, sudah berlalu. Salahku juga ganggu pacar orang,” lirih Larisa menjawab. Sudah lima tahun yang lalu, memangnya mau berharap apa? Toh pelakunya juga sudah meninggal. Larisa menghela nafasnya. Marah dan benci kepada Liana pun tidak ada gunanya. Reina dan Alex tersenyum. Sedangkan Liana menghembuskan nafas lega. “Terima kasih, Sa. Hatimu memang selalu baik,” puji perempuan manis yang kini sudah menjadi ibu itu. Larisa meringis ketika mendengar pujian itu. Dihabiskannya makanan yang tadi dipesannya. “Bukan berhati baik sih Kak, cuma nggak mau berlarut-larut aja,” jawabnya santai. Liana menganggukkan kepalanya. Dia ingat di masa lalu, Larisa memberikan banyak kebaikan dengan memberikan maaf kepada para pembencinya. Bahkan dirinya merasa gadis itu menolongnya, meski

