Penebusan

1171 Kata

“Keluar?” Alex mengulangi perkataan Dewa. Dewa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. “Setiap sudut kantor mengingatkan saya tentang dia,” Dewa berkata seraya menatap kosong ke anak tangga yang menurun. Alex berfikir jika Dewa sedang mengenang mendiang Resty. “Doakan saja supaya Resty dilapangkan,” kata Alex memberi penghiburan. Dewa menggelengkan kepalanya, menolak persepsi kekasih Reina tersebut. “Sampai sekarang aku bertanya-tanya, kenapa bullying itu bisa luput dari pengawasanku?” sesal Dewa. Alex menyadari jika atasan kekasihnya itu sedang memikirkan Larisa. “Kadang memang ada yang tidak sengaja terlewat dari jangkauan pengamatan kita,” kata Alex mencoba bersikap bijaksana. Dewa menghembuskan nafasnya berkali-kali. Ada beban yang tidak bisa dia buang begitu s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN