Pemuda berhidung bangir itu melangkah memasuki ruang ber AC itu, dia lalu mendekat ke meja resepsionis, sebuah senyuman diterimanya sebagai sambutan selamat datang oleh gadis berhijab biru yang ada di belakang meja itu. “Selamat sore, Mas. Ada yang bisa kami bantu?” kata resepsionis itu masih dengan senyuman yang tadi. “Mau bertemu dengan Dokter Senja.” Jawab Mikail sambil berusaha memberikan keramahan yang sama. “Dokter Senja?” kata resepsionis itu sambil terlihat berpikir. “Tidak ada yang bernama Dokter Senja di sini, Mas.” “Dokter Pelangi Senja,” ujar pemuda itu melengkapi nama orang yang dicarinya. “Dokter Pelangi Senja?” ujar resepsionis itu kembali berpikir, kali ini dengan kerutan di dahinya. “Oh, Dokter Abdul Rahman ya, Mas?” “Mungkin, nama ayahnya Dokter Pelangi Senja itu m

