Tangan Mikail meraih cangkir kopi yang ada di atas meja, sejenak hidungnya menghirup aroma yang tak perlu izin menyelusup ke lubang indera penciumannya. Harum yang ditebar benar-benar mengorek kisah lalu saat sosok bercadar di depannya masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran. Pemuda berhidung bangir itu mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, dengan perlahan caffein itu berpindah ke tenggorokan Mikail dan mengembalikan semua ingatan saat melintasinya. Benak pemuda itu membawanya kembali ke sebuah ingatan saat pertama kali bertamu ke rumah Perempuan Bercadar yang ada di hadapannya, dia dibuatkan kopi hitam sachet oleh gadis pujaannya itu dan rasanya terlalu manis. “Sayang, kopi ini diaduk menggunakan jari kamu ya? Nggak menggunakan sendok?” katanya kala itu, Senja menyambut kalimat

