Mentari mulai memperlihatkan keperkasaannya di jalan yang tak berpayungkan mega dan rimbun daun, terlihat beberapa manusia menyembunyikan kepalanya di balik topi untuk menghalau sengatnya. Sementara di beranda tempat tinggal Mikail masih terdengar guyonan dua orang pemuda dengan ditemani tiga perempuan. Bersama mereka ada dua gelas kopi panas terlihat mengepul menemani 6 potong pisang goreng yang tergolek di atas piring. Semerbak aroma caffein menyapa hidung-hidung manusia yang duduk mengelilingi meja bundar itu. “Wanginya seperti mengenang masa lalu,” kata Mikail sambil mendekatkan gelas kopi itu ke hidungnya lalu meletakkannya kembali di atas meja. Tidak ada komentar yang mengikuti kalimat yang diucapkan oleh Mikail, pemuda berbadan kekar di hadapannya berusaha menghadirkan sebuah sen

