Gadis bermata biru itu berdiri mematung melihat pemandangan yang ada di hadapannya, itu adalah sebuah tontonan yang sangat menyayat hati. Dia berusaha mengendalikan air matanya yang sejak setengah jam lalu mulai mengerimisi pipinya, punggung tangan kanannya dijadikan sebagai pengganti tisu untuk menyeka air yang seperti tak ada habisnya. Lima meter di depannya nampak dua orang yang sangat dikenalnya duduk di pelaminan, mereka sesekali terlihat bercakap-cakap dan bertatapan mesra. Andai saja dia memiliki tenaga untuk meninggalkan ruangan itu, tubuhnya terasa sangat lemah dan tak berdaya dan akhirnya kalimat-kalimat istighfar yang menguatkan dirinya di sana. Matanya nanar menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang biasa menguatkannya di saat gundah, namun tidak nampak hadirnya di ruan

