Zoya menagih janji Cacing yang katanya mau bercerita kembali tentang masa lalu kekasihnya. Tentu saja pemuda berbadan kekar itu bersedia memenuhi apa yang pernah dikatakannya karena berharap dengan apa yang disampaikannya akan membuat Zoya sedikit terhibur.
Mereka bercerita di luar raung rawat Mikail karena khawatir mengganggu tidur pemuda yang berbebat perban di kepalanya.
“Setelah kepindahan Senja ke Balikpapan. Hidup Mikail seperti berjalan datar dan tak menarik. Wacana long distance relationship yang pernah digaungkan jelang kepergian kekasihnya hanya tetap berupa wacana saja. Selepas lulus SMA, dia iseng kerja menjadi tukang parkir di cafe Marginalia.”
Pikiran Cacing menerawang, pemuda berbadan kekar itu berusaha mengingat keping demi keping kata dan kalimat yang pernah diceritakan Mikail kepadanya.
***
Azan magrib terdengar lima belas menit lalu dari Mushola Al Bukhori yang ada di sebelah barat. Beberapa motor masuk ke halaman cafe dan diparkir sembarang oleh pemiliknya, mereka membiarkan begitu saja kendaraan roda duanya setelah berhenti dan distandarkan. Kebanyakan dari mereka pengunjung itu sudah menjadi pelanggan tetap, jadi sudah percaya dengan keamanan parkir dengan membiarkan motornya tanpa kunci stang.
Mikail terlihat baru saja pulang sholat magrib dari mushola, di kepalanya masih bertengger peci berwarna hitam.
“Lo udah sholat, Bro?” ujar Mikail setelah dia tiba di samping sahabatnya yang berbadan kekar itu. Cacing menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Gantian jaga ya, Men.”
Dengan sigap Cacing memberikan tas kecil tempat uang parkir dikumpulkan yang sempat melingkar di pinggangnya, Mikail menerimanya dan langsung diselempangkan dari bahu kanan ke bawah ketiak kiri. Pemuda berbadan kekar itu melangkah ke arah mushola yang mungkin saja sudah sepi sekarang. Mau tak mau salah satu dari mereka terpaksa harus terlambat menjalankan sholat Magrib itu untuk memastikan keamananan parkiran.
Mikail melihat jam yang ada di layar ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul18.30 Waktu Indonesia Bagian Barat, Biasanya saat malam Minggu seperti ini, banyak anak muda berpasangan dan keluarga-keluarga muda yang datang ke cafe. Entah mengapa malam ini agak sepi? Apakah mungkin karena gerimis yang turun menjelang magrib tadi?
Cafe Marginalia adalah sebuah cafe yang lumayan terkenal, walaupun lokasinya tidak terletak di pinggir jalan utama, tempatnya malah sedikit bersembunyi, di ujung gang buntu. Selain menawarkan space buat nongkrong, cafe itu juga menyediakan pojok baca. Di sana berisi ribuan buku novel hasil karya penulis ternama indonesia, sastra-sastra lama sampai buku-buku terbitan terbaru Tere Liye, juga buku-buku terbarunya Risa Saraswati. Buku non fiksi pun ada, walau tidak sebanyak fiksi.
Customer bisa menghabiskan waktu lebih lama di cafe, terutama mereka yang hobi baca buku sambil memsan makanan dan minuman. Hanya pelanggan tetap saja yang boleh meminjam buku untuk dibawa pulang. Selain itu ada juga fasilitas free wifi, pelanggan yang hobi bermain game dengan gadget-nya, atau browsing menggunakan laptop mereka yang sengaja dibawa dari rumah.
“Halo Mike, sendirian saja.”
Sebuah suara perempuan mengalihkan Mikail dari layar ponselnya. Dia menoleh dan sebuah senyuman lebar menyambutnya, ternyata suara itu milik Puput. Dia adalah tetangga kontrakannya, bisa dibilang seperti itu. Walaupun yang mengontrak itu adalah Mikail, sedangkan Puput tinggal di rumah besar di sebelah kontrakannya yang minimalis.
Puput adalah seorang single parent dengan seorang putri, suaminya yang berkebangsaan Amerika meninggal karena sakit yang tak pernah diketahui apa penyakitnya.
“Hallo, Om,” sapa seorang anak kecil berambut ikal pirang yang berdiri di samping Puput, dia berusia enam tahun. Gadis kecil itu menghampiri Mikail lalu memeluk kakinya erat.
“Halo, Apple.” Mikail berjongkok untuk menyejajari tubuh mungil berbadan mungil itu. Pemuda berambut kuncir kuda itu balas memeluk dan menggendongnya. Sebuah senyum mengembang di wajah Apple karena senang.
“Kapan sampai dari Bandung, Teh?” tanya Mikail mengalihkan perhatiannya dari gadis kecil berambut pirang ke perempuan muda yang berdiri di hadapannya.
“Baru sampai rumah menjelang Magrib tadi, Mike. Apple merengek minta langsung bertemu kamu.”
“Wah, kamu kangen sama Om ya?” Mikail mencubit lembut pipi Apple.
“Iya, Om.” Apple balas mencubit pipi Mikail.
“Sama dong, Om juga kangen Apple. Kamu sudah makan belum?”
“Belum, Om,” kata gadis kecil berambut ikal pirang itu.
“Makan dulu ya sama Mommy nanti di dalam,” ujar Mikail sambil menyentuh hidung bangir Apple dengan telunjuk kanannya dan menurunkannya dari gendongan. “Teteh sudah makan belum, Teh?”
Puput menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan pemuda berambut gondrong itu.
“Belum, Mike. Rencananya aku sekalian cari makan di sini, sambil mengantar Apple yang bawel ingin bertemu kamu.”
“Aku mau makannya sama Om, Mom.”
“Okey, Sayang. Kamu pesan duluan ya sama Mommy, Om masih menunggu teman dulu. Dia sedang sholat magrib dulu, gantian jaga parkirnya,” kata Mikail menjelaskan.
“Ayo, Sayang,” Ajak Puput sambil menggamit tangan anaknya.
“No, Aku mau makannya bersama Om aja, Mom.” Apple melepaskan tangannya dari genggaman Puput dan meraih tangan Mikail.
“Om-nya 'kan nunggu gantian jaga dulu, Sayang. Kita duluan ke dalam”
“Ya udah, Mommy duluan aja. Aku maunya makan sama Om.” Apple bersembunyi di balik kedua kaki Mikail.
“Teteh duluan aja, enggak apa-apa. Apple nanti nyusul sama aku, tolong sekalian pesankan aku makan ya, Teh.”
“Oke deh kalau begitu, Mike. Kamu mau makan apa?”
“Yang biasa aja, Teh.”
“Oke.” Puput mengangguk kecil, perempuan itu mengingat makanan yang biasa dipesan oleh Mikail, “Apple, Mommy ke dalam dulu ya. Kamu jangan nakal sama Om.
“Iya, Mom,” kata gadis kecil itu sambil mengangguk kecil.
“Jangan lama-lama ya, Mike,” kata Puput eraya beranjak menuju ke dalam cafe. Dia melambaikan tangannya ke arah Apple sebelum punggungnya menghilang.
Sepeninggal Mommy-nya, Apple duduk di pangkuan Mikail. Sudah menjadi kebiasanya selalu bercerita ketika bersama dengan pemuda yang selalu dipanggilnya Om itu. Tangan gadis berambut pirang itu memainkan telunjuknya di pipi Mikail. Pemuda berambut gondrong itu membiarkannya saja.
“Wah, siapa bidadari kecil ini?”
Suara Cacing yang tiba-tiba itu mengalihkan cerita Apple saat di Bandung di rumah Oma, dia memandang pemuda berbadan kekar itu dengan tatapan asing. Tetapi kemudian gadis mungil itu ikut tersenyum setelah melihat Mikail ternyata tersenyum ke arah sosok yang baru datang tersebut.
“Halo Om, aku Apple,” kata gadis kecil itu sambil mengulurkan tangannya.
“Halo Apple,” Pemuda berbadan kekar itu meraih tangan mungil milik Apple itu. “Kamu boleh panggil Om dengan panggilan Om Cacing.”
“Cacing? Cacing teh nama, Om?”
“Iya, itu nama panggilan Om, tapi enggak pake teh,” kata Cacing sambil tersenyum karena logat bicara Apple yang berbahasa Sunda.
“Om bisa aja, Oma aku di Bandung ngomongnya selalu pake teh. Aku ikutan aja. Nama Om lucu deh, masa nama orang Cacing, entar nama cacing apa dong?” Kalimat Apple yang polos disambut senyum Cacing dan Mikail.
Apple yang masih enam tahun ini kadang memang suka menggunakan dua gaya bahasa, tergantung dia habis tinggal dengan siapa. Jika dia habis menginap di rumah orang tua Mommy-nya akan menggunakan logat bahasa Sunda, jika sehabis menginap di rumah orang tua almarhum Daddy-nya akan lebih sering menggunakan bahasa Inggris.
“Apple ini anak Teh Puput, Bro,” kata Mikail menjelaskan kepada sahabat baiknya walau tanpa diminta.
“Puput? Puput yang mana, Men?” Cacing mengernyitkan dahinya berusaha mengingat hal yang diceritakan Mikail.
“Puput yang tinggal di rumah sebelah kontrakan gue itu, dulu yang pernah gue ceritain.” Cacing mengangguk angguk pelan, dia sepertinya mulai mengingat apa yang dimaksudkan oleh Mikail.
“Iya iya, gue ingat sekarang, Puput yang suaminya bule?”
“Iya, almarhum tepatnya,” jawab Mikail setengah berbisik supaya tidak terdengar Apple.
Cacing ingat, dulu Mikail pernah bercerita bahwa ada tetangganya yang seorang single parent muda, suaminya yang berkebangsaan Amerika meninggal, dia mempunyai anak kecil yang lucu bermata cokelat dan berambut pirang.
“Gantian jaga parkir ya, Bro. Gue mau ajak Apple makan, Teh Puput udah nunggu di dalam.”
“Okey.” Cacing melengkapi anggukannya dengan kalimat pendek, dia menerima tas uang yang diberikan oleh Mikail. “Bye Apple, selamat makan ya.”
“Om Cacing enggak ikutan makan?”
“Enggak, Om makannya di sini aja, sambil jaga parkir.”
“Gue ke dalem dulu, Bro.” Cacing mengacungkan jempolnya untuk menjawab kalimat Mikail tersebut.
Apple berlari ke dalam cafe tapi kemudian balik lagi dan menarik tangan Mikail supaya cepat mengikutinya ke tempat Mommy-nya menunggu. Ketika mereka tiba, nampak meja sudah terisi oleh pesanan, sebakul nasi plus gurame dan ayam bakar bersanding dengan tiga buah jus alpukat.
“Ayo sini, Sayang.” Puput menggeser duduknya supaya Apple duduk dekatnya.
“Aku mau duduk di tengah aja, Mom.” Apple memilih duduk di sisi lain meja, Puput duduk di sebelah kanannya, Mikail ada di sebelah kiri. Tangan Puput meraih piring dari atas meja dan mengisinya dengan nasi.
“Kamu mau makan apa, Sayang? Ayam atau gurame?” kata Puput menawarkan.
Gadis kecil pirang itu menatap kedua menu yang ditawarkan oleh Mommy-nya. Dua-duanya menarik untuknya, hanya saja daging ayam sudah sering sekali dia makan.
“Aku mau gurame, Mom,” ujar Apple akhirnya setelah berpikir.
“Sini lebih dekat dong, Sayang. Mommy susah suapinya kalau jauh.”
“Mommy, please. Aku sudah besar, masa masih disuapin aja,” kata Apple seraya menjauhkan mulutnya dari sendok yang disodorkan Puput.
“Okey, kalau begitu.” Puput tersenyum dengan kelakuan anaknya, dia menggeserkan piringnya ke dekat anak satu-satunya itu.
Biasanya Apple selalu minta disuapi jika makan, tetapi jika di depan Mikail dia mau makan sendiri. Hal ini karena pemuda itu sering mengatakan kepada gadis itu untuk menjadi mandiri tidak mengandalkan orang lain dalam melakukan sesuatu.
“Apple memang anak pintar,” kata Mikail memuji sambil membelai rambut pirang yang halus itu. “Gimana kemarin di rumah Oma? Kamu senang di sana?”
“Senang dong, Om. Aku punya adik baru di sana.”
“Adik?”
“Iya adik, adiknya Mayang. Anaknya Tante Indah. Masih bayi, imut deh, Om,” Apple menjelaskan siapa yang disebutnya dengan adik itu. “Berapa bulan Mom Si Imut?”
“Lima bulan, Sayang.” Puput menjawab sambil menyendok nasi untuk dirinya dan Mikail.
“Aku mau dong Om punya adik,” ujar Apple polos kepada Mikail yang disambut kernyitan dahi pemuda itu.
“Kamu mau punya adik? Bilangnya sama Mommy dong, Om 'kan enggak bisa melahirkan,” ujar Mikail sambil tersenyum, dia mengelus-elus perutnya yang tidak gendut.
“Emang adik harus dilahirkan ya, Mom? Lahirin adik buat aku dong,” ucapan polos Apple disambut senyum oleh Puput dan Mikail.
“Iih, kok malah di senyumin.” Apple memasang muka bete, Puput membelai rambut anaknya itu.
“Kamu akan mengerti nanti, Sayang,” ujar Puput, tiba-tiba mata perempuan muda itu berkaca-kaca.
“Mommy mengapa jadi sedih? Maafin aku ya, Mom.” Apple menggeserkan duduknya lalu memeluk Mommy-nya sambil bertanya-tanya dalam hati. “Aku enggak bermaksud membuat Mommy sedih.”
“It’s okey, Honey, Coba kamu ceritakan lagi ke Om waktu kita di rumah Oma, Sayang,” ujar Puput sambil membalas pelukan anaknya dengan erat. Perempuan muda itu mengalihkan pokok pembicaraan supaya anak gadisnya itu tidak memperpanjang kesedihan yang tiba-tiba menyapanya.
“Maafkan aku ya, Mom.” Ada nada menyesal terselip di kalimat yang diucapkan oleh gadis berambut ikal pirang itu.
“Enggak apa-apa, Sayang. It’s okey.” Sebuah kecupan mendarat di kening Apple.
“Nah, apalagi yang membuat kamu senang di rumah Oma, Sayang?” Mikail berusaha mencairkan suasana kembali.
“Banyak, Om. Tapi aku suka bete saat Oma tiba-tiba suruh sholat, mengapa sih aku mesti sholat, Om?”
“Perintah untuk sholat itu bukan cuma untuk Apple, dan bukan Oma yang memerintahkan untuk sholat,” kata Mikail sambil menggeserkan duduknya mendekat ke gadis kecil itu.
“Maksudnya gimana, Om? Aku enggak mengerti.” Gadis itu menatap Mikail pemnuh dengan rasa ingin tahu.
“Perintah sholat itu juga untuk Oma sendiri, untuk Om, Mommy, juga untuk semua manusia yang mengaku beriman. Yang memerintahkan sholat itu bukannya Oma, tetapi Allah subhanahu wataala, karena Allah yang memerintahkan maka sholat itu hukumnya wajib.”
“Wajib, Om?”
“Iya, wajib. Wajib itu artinya adalah jika dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan mendapat dosa.” Apple mengangguk polos mendengar penjelasan Mikail.
“Pahala? Apa itu. Om?”
“Pahala itu upah atau hadiah yang diberikan oleh sang Maha yang merupakan rajanya Manusia. Jika kita melaksanakan sholat maka akan mendapatkan hadiah. Nah, hadiah atau upah ini bisa digunakan untuk menyelamatkan diri kita di dunia dan di akhirat.”
Tidak terlihat sebuah anggukan di kepala Apple, dia masih berusaha memahami apa yang diucapkan oleh Mikail. Pemuda berambut gondrong itu memang merasa kalimat yang diucapkannya tadi tidak cocok untuk gadis seusia Apple.
“Tapi, aku 'kan masih kecil, Om, enggak sholat juga nggak apa-apa 'kan?”
“Justru karena masih kecil, belajar membiasakan sejak dini, dari kecil sudah dibiasakan sholat. Jadi saat besar sudah enggak kaku dan nggak malas lagi.”