Tamu Yang Bernama Kenangan

1617 Kata
Angin malam bertiup kencang, membuat tubuh-tubuh tak berjaket Mikail dan Cacing disapa dingin sejenak. Sepertinya malam ini akan turun hujan atau mungkin sebaliknya dengan datangnya dia hujan tak jadi bertandang karena diusir sang Bayu. Siang hari tadi suasana memang sudah tidak ramah, surya menyengat dengan ganas dan sorenya langit dipenuhi dengan awan hitam. Beruntung tadi Mikail berhasil merayu Apple untuk pulang lebih cepat karena akan hujan, awalnya gadis kecil berambut ikal pirang itu tidak mau dan memilih tetap bersama Om-nya sampai cafe tutup. Anak tunggal Puput itu memberikan syarat yang harus dipenuhi pemuda berambut gondrong itu jika mau dia pulang, besok siang dia ingin datang lagi ke cafe. Dengan berat hati Mikail dan Puput mengiyakan, walau dalam benak masing-masing menyusun siasat supaya Apple tak berkunjung lagi. Cacing memberikan tas kecil tempat menyimpan uang receh ke Mikail, dia meminta izin untuk menjalankan sholat Isya dulu. Sudah telat memang menjalankan ritual itu tapi waktunya belum habis, biasanya dia tidak pernah telat menjalankannya hanya saja kali ini dia tetap harus stay menjaga parkir karena Mikail ada tamu. Pemuda berambut gondrong itu duduk di bawah kursi kayu yang ada di bawah pohon mangga depan cafe. Dia sesekali meneguk kopi yang tadi dipesannya sepulang Puput dan putrinya dari sana. Matanya memerhatikan motor pengunjung yang hanya menyisakan lima motor dan tiga mobil saja. Padahal biasanya malam Minggu pengunjung ramai terus sampai tempat ini ditutup, mungkin karena suasana yang akan turun hujan banyak pasangan yang memilih pulang lebih cepat. Sebuah motor matic hitam dengan kombinasi warna cokelat masuk ke area parkir cafe, lalu berhenti agak jauh dari barisan motor lain. Mikail dengan sigap meniup peluit yang menggantung di lehernya. Kode peluit itu tidak membuat motor itu parkir lebih dekat, sepertinya si pengendara memang tidak menghiraukannya, ataukah mungkin dia tidak mendengar suara peluit yang ditiupnya barusan? Mikail melihat waktu di ponselnya yang sudah menunjukkan jam 10.35 Waktu Indonesia Bagian Barat. Terlalu malam untuk datang ke cafe karena kurang dari sejam setengah lagi tempat ini akan ditutup. Pemuda berambut gondrong itu mengayunkan langkahnya menuju ke pengunjung yang baru tiba itu. Pengendara motor itu terlihat berusaha melepas kancing helm full face-nya. Mikail menghampirinya dengan hati dongkol. Ingin rasanya dia memakinya langsung karena tidak menghiraukan aba-aba darinya. Pemuda berambut gondrong itu menahan diri saat diketahuinya ternyata pengendara motor itu seorang perempuan. Rambut panjangnya tergerai saat dia melepaskan helmnya, pengaman kepala itu diletakkannya di atas spion kanan motornya. Wajahnya masih tertutup oleh buff berwarna hitam. “Parkirnya di sana saja, Mbak. Lebih dekat dan lebih aman, kalau di sini khawatir ada orang jahat yang menunggu lengah.” Teguran Mikail barusan sepertinya tidak dihiraukan oleh perempuan itu, hanya dianggap angin lalu olehnya. Dia sibuk melepaskan sarung tangannya yang berbeda warna kiri dan kanan yang lalu dimasukan ke dalam jaket kulit berwarna cokelat yang dikenakannya. Mikail mendengkus, dia menggelengkan kepalanya dan  memandang kesal perempuan itu. Tidak disangka dia mendapat serangan balasan berupa tatapan balik. Tatapan mata perempuan itu terasa langsung menusuk ke dalam hatinya, seperti akrab sekali tatapan mata itu. Siapa dia? “Mbak, bisa diparkir di sana aja motornya?” kata Mikail mengulang kalimatnya. Pemuda itu berusaha meredam perasaan di hatinya yang mulai bergemuruh tidak jelas, bercampur antara rasa kesal karena diabaikan dan rasa penasaran akan siapa sosok berambut panjang di hadapannya ini. “Boleh enggak saya parkirnya di sini saja, Mas?” kata perempuan yang masih mengenakan buff itu. Hati Mikail bergetar kembali saat mendengar suara perempuan di hadapannya ini. Tiba-tiba dadanya dipenuhi dengan kerinduan yang sudah lama sekali tak dirasakannya. Ya Allah, ini suaranya seperti milik ... Tatapan matanya, suaranya .... Pemuda berhidung bangir itu berusaha menghapus pikiran yang mulai macam-macam di benaknya. “Tidak mungkin suara itu milik dia,” gumam Mikail dalam hatinya. “Dia sedang berada di Balikpapan sana, enggak mungkin ada di sini. Lagipula dia sudah melupakan gua, lupa akan janji yang pernah diucapkan.” Mikail berdebat dengan dirinya sendiri, dia merayu dirinya sendiri untuk tidak membawa kembali kenangan yang menorehkan luka yang sangat dalam itu. “Boleh ya, Mas?” kata perempuan itu sambil menarik turun buff-nya hingga ke leher. Pemuda di depan perempuan berambut panjang itu terpana, dia mengenali sosok yang ada dihadapannya. Rasanya dia tidak memercayai apa yang dilihatnya. Padahal dia baru saja mengingkari semua kenangan semasa sekolah yang melintas di benaknya. “Boleh ya, Mas?” kata perempuan mengulangi kalimat pertanyaannya. Dia tersenyum saat melihat Mikail yang bengong. “Ya Allah, benarkah apa yang aku lihat ini? Kamu Senja? Pelangi Senja binti Abdul Rahman yang sudah lama pergi kini ada di hadapan? Mungkin aku sedang bermimpi.” Sebuah cubitan mampir ke lengan pemuda itu, dia meringis kesakitan tapi tidak protes dengan apa yang dilakukan perempuan berambut panjang itu. “Kakak enggak mimpi kalau cubitannya terasa sakit,” katanya sambil tersenyum. “Ini memang aku, Kak. Pelangi Senja binti Abdul Rahman.” “Masya Allah, I can’t believe it. Sangat mengejutkan sekali.” Pemuda itu mengusap wajahnya dan mengucek matanya beberapa kali. “Apa kabar, Kak?” “Kabarku? Tadi sih baik-baik saja sebelum kamu datang.” “Setelah aku datang Kakak jadi kurang baik ya?” “No, bukan begitu, setelah kamu datang aku menjadi sangat baik-baik saja,” kata Mikail dengan sebuah senyum yang terukir di wajahnya. “Bagaimana kabar kamu?” “Aku kira kedaatanganku membuat Kakak menjadi kurang baik,” ujar Senja dengan sebuah tertawa kecil. “Kabarku sih lebih dari kata sangat baik-baik saja milik Kakak. Aku senang sekali akhirnya bisa kembali lagi ke Bogor, bertemu Kakak kembali.” Mikail merambati sosok yang berada di hadapannya dengan indera penglihatannya. Di mata pemuda itu masih ada tatapan tak percaya dengan siapa yang ada di depannya. Gadis yang selalu dia rindukan kehadirannya setiap hari, menatap senyum setiap bersua kini berada dalam jangkauan kembali. Ada yang berubah dari gadis bernama Pelangi Senja itu sejak terakhir berpamitan, dia kini memiliki rambut yang lebih panjang dan kawat giginya sudah tidak terlihat menempel. Selebihnya dia masih seperti gadis yang sama dengan yang ada di ingatan Mikail. “Hey, siapa ini?” Suara Cacing sejenak mengalihkan Mikail dari pandangan makhluk yang ada di depannya. Senja mengangguk ke arah pemuda berbadan kekar yang baru tiba itu, sebuah senyum ramah terlihat hadir di wajahnya sebagai sapaan. “Bro, kenalin ini namanya Senja, Pelangi Senja,” kata Mikail memperkenalkan sosok yang ada di hadapannya. “Wah, akhirnya ketemu juga dengan Pelangi Senja binti Abdul Rahman,” ujar Cacing sambil tersenyum ke arah gadis itu.   Senja mengernyitkan dahi dan tertawa saat Cacing memanggil namanya seperti Mikail menyebut namanya, Pelangi Senja binti Abdul Rahman. “Iya, Kak. Aku Pelangi Senja binti Abdul Rahman. Kakak tahu namaku sepanjang itu dari mana?” Pertanyaan Senja dijawab dengan sebuah senyuman oleh Cacing. “Ini teman Kakak, Cacing namanya.” Mikail memperkenalkan teman baiknya kepada  Senja. Gadis itu mengulurkan tangannya menjabat tangan sahabat Mikail yang berbadan kekar dan berambut cepak itu. “Aah, ini yang namanya Kak Cacing, Kak,” kata Senja sambil menoleh ke arah Mikail. “Do you know me?” Cacing mengernyitkan dahinya, sepanjang ingatannya dia belum pernah bertemu dengan gadis yang ada di hadapannya. “Yeah, I think I do, Kak Mikail pernah cerita dulu. Tadinya aku pikir yang namanya Cacing itu asli seperti hewan tanpa tulang belakang, menggeliat dan menjijikan.” Kalimat Senja digenapkan dengan sebuah tawa. “Aslinya ternyata aku menggemaskan, ya 'kan?” kata Cacing seraya memainkan alisnya turun naik sambil tersenyum lebar. “Iya, menggemaskan kayak tukang pukul, Kak,” kata Senja yang disambut dengan tertawa Cacing dan Mikail. “Akhirnya aku bertemu juga dengan kamu, Pelangi Senja binti Abdul Rahman,” ujar Cacing dengan kepala yang mengangguk dan senyum kecil di wajahnya. Mata pemuda berbadan kekar itu merambati wajah sang gadis yang telah membuat sahabat baiknya itu jatuh hati. Wajah cantik yang berkombinasi dengan rambut panjang hitam lebatnya kontras sekali dengan kulit putih yang putih terang. Pantas saja Mikail tidak bisa move on bertahun-tahun karenanya. “Enggak usah panjang-panjang memanggil namaku, Kak. Cukup Pelangi atau Senja saja boleh, asal jangan panggil Abdul Rahman.” “Tadinya aku mau memanggilmu dengan nama Abdul Rahman,” kata Cacing yang diikuti derai tawa. “Janganlah, Kak. Itu ‘kan nama Papaku. Masa aku mau saingan dengan Papa dalam nama.” “Oke kalau begitu. Aku panggil kamu Senja aja ya.” “Boleh, Kak. Teman-temanku banyak yang memanggil dengan nama belakangku, termasuk Kak Mikail,” kata Senja sambil menoleh ke arah pemuda berambut gondrong itu dengan sebuah senyum. “Iya, jadi aku sekarang teman kamu ya?” Kalimat Mikail disertai dengan sebuah dengkusan napas. Senja tertawa melihat perubahan di diri pemuda berambut gondrong itu karena kata ‘teman’ yang disebutkannya. “Iya, teman, Kak. Teman spesial,” ujar Senja sambil menyentuh hidung bangir pemuda gondrong itu dengan telunjuknya. Mikail melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh gadis berkulit putih terang itu.  “Ini Senja yang selalu lo ceritain dulu ya, Men?” kata Cacing seraya menoleh ke arah sahabatnya. Mikail menyambutnya dengan sebuah anggukan. “Sang Bidadari Tanpa Sayap itu, yang membuat lo enggak bisa move on bertahun-tahun?” Senja menatap Mikail dengan dalam setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Cacing. Ada sebuah perasaan gembira mendengarnya tetapi ada juga rasa bersalah dengan kisah yang pernah terjadi dan harus kandas di tengah jalan. “Benar sekali, Bro. Inilah dia Pelangi Senja, Bidadari Tanpa Sayap gue yang telah membuat gue enggak bisa move on bertahun-tahun.” Mikail menatap gadis berambut panjang di hadapannya dalam-dalam, rasanya dia ingin sekali menumpahkan semua kerinduan dalam dadanya yang kerap menyesakkan d**a. Tapi ... setelah sekian lama pergi dan membuat luka, apa yang ingin Senja lakukan dengan datang kembali ke hidupnya? Melanjutkan kebahagian yang sempat kandas atau malah menorehkan luka baru di atas luka lama yang belum pernah sembuh?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN