Rasa Yang Dipendam Bertahun

2252 Kata
Mikail mengajak Senja untuk masuk ke dalam cafe, tidak elok rasanya jika dia mengajak berbincang gadis itu hanya di area parkir. Ini adalah kedua kalinya pemuda berambut gondrong itu masuk ke dalam cafe, pertama menemani Puput dan putrinya makan malam dan yang kedua menemani Bidadari Tanpa sayapnya yang tiba-tiba datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Sesekali pemuda itu mencuri pandang sosok yang duduk lesehan di depannya, sebuah pemandangan yang sangat tak diduganya akan hadir kembali setelah sekian lama membuat luka. “Jangan melihatku terus nanti jatuh hati, Kak,” ujar Senja dengan sebuah senyum kecil di wajahnya. Mikail sama sekali tak menyangka kalau ternyata gadis berambut panjang di hadapannya mengetahui apa yang dilakukannya. Pemuda berambut gondrong itu menghela napas dalam dan melihat ke arah gadis di depannya dengan sebuah senyum. Rasa bahagia merambati tubuhnya perlahan dan bermuara di otak, tidak ada diksi yang tepat untuk melukiskan perasaan yang bergemuruh di dalam d**a Mikail. Getar ponsel Senja yang ada di atas meja mengalihkan perhatian kedua makhluk yang duudk berhadapan terhalang meja itu, gadis berambut panjang itu melihat siapa yang meneleponnya di jam yang diluar kewajaran itu. Terlihat sebuah nama di sana dan nampaknya Senja tidak ada niat sama sekali untuk mengangkatnya. Sebuah helaan napas dalam mengiringinya saat dia membalikkan gadget-nya menghadap permukaan meja. Ponsel itu masih bergetar beberapa kali, menandakan kalau si penelepon belum menyerah dengan panggilan teleponnya. “Kamu enggak mau mengangkat teleponnya, Mbak?” ujar Mikail sambil memandang ponsel yang kini sudah ditutupi oleh kertas menu oleh Senja. Gadis yang disebut namanya itu malah tertawa kecil. “Biarin saja, Kak. Aku sedang enggak mau diganggu oleh telepon itu.” “Sepertinya itu telepon penting, Mbak. Angkat aja dulu untuk memastikan, sudah beberapa kali dia menelepon. Pasti ada hal penting yang ingin disampaikan.” “Biarin saja, Kak. Kalau diangkat nanti malah bikin bete, lagipula biasanya dia kalau menelepon cuma wasting time saja enggak ada hal penting yang disampaikan. ” “Memangnya dia siapa? Pacar kamu?” tanya Mikail serius, kalimatnya ditanggapi dengan sebuah tertawa kecil oleh Senja. “Hmm, apa ya istilahnya yang tepat,” gadis berkulit putih itu nampak berpikir. “Penggemar mungkin istilah yang cocok, fans aku, Kak.” Senja tertawa lepas setelah menggenapkan kalimatnya. Mikail memandang takjub gadis yang ada di hadapannya dengan takjub. “Ya Allah, Mbak.” Senja berhenti tertawa lalu memandang Mikail penuh tanya. Dia merasa tertawanya barusan telah membuat sebuah kesalahan yang tak disengajanya. “Something wrong, Kak? Ada yang salah ya denganku?” “Nope, aku senang akhirnya bisa melihat tertawa kamu lagi.” “Oh, aku kira ada yang salah denganku, ternyata tertawaku ini. Jujur, aku sih bosan melihat tertawaku sendiri.” Senja menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal dengan sebuah senyum kecil menyertainya. “Sebenarnya pernah enggak ya aku  melihat dirinya tertawa?” guman gadis itu dalam hati. Mang Jasa datang membawakan pesanan mereka, dua gelas jus alpukat dan roti bakar. Laki-laki berkumis itu meletakkannya di depan kedua sejoli itu, sebuah kalimat sopan mempersilahkan jadi penutup saat dia beranjak pergi. “By the way, kamu lagi kebetulan ke sini atau sengaja mencari aku?” “Dua-duanya, Kak.” “Maksud kamu?” “Maksudnya, aku sengaja mencari kakak dan kebetulan Kakaknya ada di sini,” ujar Senja sambil menggenapkan kalimatnya dengan sebuah senyum kecil. “Sebenarnya Kak Dimas yang memberitahukan aku kalau Kakak ada di sini.” “Kak Dimas?” Mikail mengernyitkan dahinya mendengar nama yang sepertinya tidak asing di telinganya. “Iya, Kak Dimas, Kakakku, Kak. Masa lupa?” “Oh, I see. Iya aku ingat.” “Kemarin Kak Dimas sempat ikut event di sini, katanya dia menang challenge.” “Ah, Dimas yang itu. Aku baru eungeuh ternyata Dimas yang menang challenge itu adalah Dimas yang kakak kamu, fotonya ada di tembok kenangan.” Mikail agak samar mengingat wajah Dimas, seingatnya dia belum secara formal berkenalan dengan calon kakak iparnya itu, bahkan wajahnya yang manapun dia belum tahu pasti. Tapi, Dimas sempat mengenalinya kemarin, sedangkan Mikail tahu juga tidak Dimas ada di cafe malam itu. “Ada di tembok kenangan, Kak?” Pikiran Mikail yang sedang menerawang tiba-tiba terpotong oleh pertanyaan Senja. “Iya, tembok kenangan itu tembok tempat memasang juara lomba challenge setiap bulan, biasanya foto mereka disimpan dalam bingkai berwarna emas. Tembok itu juga digunakan untuk mereka yang pedekate dan jadian di sini, mereka boleh memasang foto mereka di sana.” “Keren ya, Kak.” “Yup, pemenangnya keren-keren, kamu harus melihat jika ada event lagi di sini,” kata Mikail dengan anggukkan dan senyum kecil. “Betewe kapan kamu sampai di sini, Mbak?” “Tadi habis Magrib, Kak.” “Habis Magrib? Dari Balikpapan kamu langsung ke sini tadi?” Mikail mengerutkan dahinya karena menurutnya jawaban gadis berambut panjang itu tidak masuk akal. “Enggaklah, Kak.” Sebuah tawa kecil terlihat di wajah gadis berkulit putih itu. “Lah, tadi kamu bilang begitu.” Mikail mengerutkan dahinya. “Kakak ‘kan bertanya kapan aku sampai sini, aku jawab habis Magrib. Tadi ‘kan aku sampai cafe ini habis magrib.” “Maksud kamu, sampai sini itu sampai di cafe bukan sampai dari Balikpapan.” “Bukan, Kak.” Senja menggeleng sambil tertawa, diikuti gelengan kepala Mikail yang merasa terjebak dengan kalimat yang dikatakan oleh Senja. “Lalu kapan kamu sampai di sini? Maksud aku sampai di Bogor, Mbak?” “Sudah sebulan lalu sebenarnya aku di Bogor, Kak. Akhirnya setelah perjalanan panjang merayu Papa, aku diizinkan untuk kembali ke Bogor. Syarat yang diberikan oleh Papa adalah asal bersama dengan Kak Dimas, aku sudah dibolehkan untuk kuliah di sini.” “Seriusan kamu mau kuliah di sini?” Mikail merasa tak percaya dengan apa yang didengar olehnya. “Iya, Kak. Alhamdulillah.” “Alhamdulillah, aku senang mendengarnya.” Senja meraih jus alpukat miliknya di atas meja lalu meneguknya perlahan, Mikail melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh gadis berambut panjang itu. “Kamu ke mana saja, Mbak? Sudah satu bulan di sini, tapi kita baru bertemu sekarang, Mbak?” Pertanyaan Mikail itu membuat Senja menghela napas panjang, dia menyapu wajah laki-laki di hadapannya itu dengan indera penglihatannya. Dia memperhatikan rambut panjangnya yang dikuncir ke belakang dengan jenggot yang dibiarkan panjang meliar. “Aku sudah ke mana-mana, Kak, ke Taman Kota, Warung Emak, toko buku langganan. Banyak tempat yang sudah kudatangi.” “Lah ngapain kamu ke sana, Mbak?” Mikail mengernyitkan dahinya berusaha menebak-nebak. “Kok ngapain, Kak? Kakak ingat hujan gerimis di Taman Kota tapi kita sengaja enggak berteduh?” Mikail menatap Senja dalam, matanya menjawab pertanyaan itu dengan binar. “Kakak ingat Warung Emak? Tempat di mana kita selalu berdua menghabiskan waktu istirahat yang terasa singkat sekali, padahal sudah 30 menit berlalu. Kadang kita malah terlewat berjam-jam dan akhirnya kita jadi bolos. Kakak ingat toko buku langganan yang sering kita kunjungi supaya bisa baca novel gratis? Kakak ingat tempat-tempat itu?” Mikail menelan ludah mendengar kalimat yang diucapkan oleh gadis yang di hadapannya. Ternyata Senja lebih kuat dari dirinya yang sanggup mendatangi tempat-tempat historis untuk kisah cinta yang pernah terjadi. “Tentu saja aku ingat, Mbak. Itu adalah tempat-tempat yang enggak mungkin sama sekali termakan amnesia, tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah yang tak mungkin lekang dimakan zaman.” “Di sanalah aku mencari Kakak, berkali-kali mencari Kakak,” ujar Senja sambil merambati wajah pemuda di hadapannya dengan mata. Mikail terdiam, dia menelan ludah. “Kata mereka Kakak sudah lama enggak pernah datang ke sana lagi.” Pemuda berambut gondrong itu menghela napas, dia menatap mata sang gadis. Senja menundukkan wajahnya saat kedua mata mereka terpaut. “Sudah lama sekali memang aku enggak ke sana, Mbak. Sejak kamu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan semua cerita yang baru saja dimulai, memberikan jarak saat perasaan mulai berkecambah dan pergi tak pernah kembali.” “Hey, ini aku kembali, Kak.” Senja tertawa sambil menunjuk dirinya sendiri dengan tangannya. “Mudah-mudahan kamu kembali untuk mengobati luka di hatiku yang tak kunjung sembuh.” “Luka di hati Kakak? Memangnya Kakak terluka?” Mikail menghela napas panjang memandang dalam gadis di hadapannya. Seharusnya kamu tahu bahwa aku lebih dari kata terluka, lirih pemuda gondrong itu. “Kakak terluka?” ujar Senja mengulang kembali pertanyaannya. “Menurut kamu bagaimana, Mbak?” “Kakak terlihat sehat sekali, malah terlihat lebih gemuk, walaupun memang sedikit berantakan dengan rambut dan jenggot liar itu,” ujar Senja sambil tersenyum. Apa yang dilakukannya itu disambut dengan tatapan tajam Mikail. “Kamu salah, Mbak, salah sekali. Yang kamu lihat ini adalah mayat hidup, tidak ada kehidupan di dalam sini.” Mikail meletakkan tangannya di atas d**a kirinya. “Seriusan, Kak?” Senja ikut meletakan tangannya di atas d**a itu, lalu dia meletakkan telunjuk kanannya di bawah hidung Mikail. Tangan gadis itu lalu memegang pergelangan tangan Mikail untuk memeriksa denyut nadinya. “Apaan sih, Mbak?” Mikail merasa risih dengan apa yang dilakukan gadis berambut panjang itu. “Aku hanya memastikan apakah masih ada kehidupan di dalam tubuh Kakak.” Senja tersenyum menggenapkan kalimatnya. “Dan apa hasilnya?” “Jantung Kakak masih berdetak, napas masih ada dan nadi di tangan Kakak masih berdenyut teratur.” Senja tersenyum lagi, Mikail menggelengkan kepala dengan kelakuan sang gadis yang tak disangkanya. Sosok di hadapannya ini memang tidak bisa sedetikpun membuat marah, bagaimana pun tingkah yang dilakukannya. “Kamu itu aneh, Mbak.” “Maafkan aku ya, Kak. Aku hanya enggak mau setelah tiga tahun kita enggak bertemu dan ketika sekian lama memendam rindu yang ada hanya ketidak nyamanan saat bertemu,” ujar Senja sambil meletakkan tangan kanannya di pipi kiri Mikail. “Maafkan aku, Kak. Aku sudah meninggalkanmu sekian lama.” “Kamu ingat kata terakhir saat dulu pamit pergi di telepon, Mbak?” “Kata terakhir? Kayak orang mau meninggal saja, Kak.” “Iya, memang kata terakhir. Kamu yang mengucapkan kata terakhir itu, tapi aku yang meninggal. Hatiku yang meninggal, mati merana karena kepergian kamu.” “Ya Allah, Kak. Bisa sampai segitunya.” “Memang begitu, Mbak. Kamu ingat?” “Agak samar, Kak. Aku banyak mengucapkan kata pada hari itu sepertinya.” “Hmmm, pantas aja kamu lupa tentang cerita kita, rupanya kamu telah lupa kata terakhir itu.” Mikail menghela napas panjang yang disambut oleh senyum Senja. Senyum itu malah terlihat seperti sebuah ledekan untuk Mikail, walaupun tidak mungkin Senja melakukan itu. Tapi hati Mikail perih, dia membuang pandangannya jauh melewati satu dua pengunjung yang melintas dekat meja mereka. “Kak ... ” Senja meraih tangan Mikail yang ada di atas meja. Mikail melepaskan genggaman itu, Senja meraihnya kembali. “Kak, aku enggak lupa kata terakhir di telepon itu.” Mikail memandang dalam sosok di depannya. “Aku tadi 'kan enggak bilang lupa, Kak. Aku bilang agak samar.” Gadis berambut panjang itu menempelkan tangan kanannya kembali di pipi kiri Mikail. Pemuda itu menatapnya dalam “Serius, Mbak?” “Cinta kita hanya terhalang jarak dan jarak tidak akan pernah sanggup memisahkan kita, itu adalah kata terakhir yang aku ucapkan di telepon, Kak.” “Tetapi sayang sekali itu hanyalah sebuah kumpulan kata yang menjadi  kalimat dan menjelma menjadi omong kosong, Mbak.” “Maksud Kakak,  gimana?” Senja mengernyitkan dahinya, dia menelan ludah karena sepertinya dia telah menorehkan luka yang sangat dalam untuk Mikail. “Kalimat yang kamu ucapkan tadi hanya omong kosong, Mbak. Kamu enggak pernah berusaha untuk mempertahankan kalimat itu 'kan?” Senja membiarkan saja Mikail menumpahkan semua yang ada dalam dadanya, mungkin sudah bertahun-tahun kalimat ini ingin diucapkannya menunggu malam ini tiba. “Aku enggak mengerti arti kalimat yang diucapkan Kakak barusan.” “Kamu bukan enggak mengerti, Mbak, tapi pura-pura enggak mengerti.” Senja menghela napas panjang, ditatapnya Mikail lekat. “Sejak kamu ke Balikpapan, tak pernah sekalipun kamu menelponku, di telepon-pun enggak pernah ada, kamu sibuk dengan orang baru.” “Orang baru, Kak?” “Iya, orang baru yang hadir di hidup kamu, sebagai teman dekat, pacar, kekasih atau apapun istilahnya.” “Oh my god, Kakak kok bicara seperti itu?” “Pernah aku telepon, dan si Bibi bilang kamu sedang keluar dengan Stephen, besoknya aku telepon lagi. Kamu sedang dengan Stephen dan dua hari setelah itu aku telepon lagi, kamu sedang ke toko buku masih dengan Stephen. Sejak itu aku memutuskan tidak akan pernah menelepon kamu lagi. Aku membiarkan kamu meneruskan hidup dengan si Stephen itu.” “Ciyeeee, cemburu ya?” Sebuah tertawa melengkapi kalimat Senja itu. “Senang ya ternyata kamu, enggak diganggu dengan cerita konyol kita.” Mikail diam setelah menggenapkan kalimatnya dengan nada bergetar. Sesekali dia membuang pandangannya jauh. Senja memainkan sendok di atas piringnya, terselip senyum kecil di bibirnya. Suasana hening beberapa saat, hanya terdengar samar percakapan dari sepasang kekasih di meja pojok cafe. “Kakak sekarang berubah ya.” Kalimat itu direspons dengan tatapan tanda tanya Mikail. Bisa-bisanya ini makhluk mengalihkan pembicaraan, gumam hati Mikail “Berubah?” “Iya.” “Berubah bagaimana menurutmu?” “Kakak jadi gondrong begitu, jenggotan. Sejak kapan sih Kakak enggak potong rambut?” “Sejak kamu pergi meninggalkan aku.” “Ya Allah, Seriusan? Berarti Kakak waktu masih sekolah sudah mulai gondrong dong? Aku 'kan perginya waktu masih di SMA.” “Iya, SMA aku mulai gondrong. Aku berhasil menghindar dari beberapa kali razia rambut sampai akhirnya lulus dengan rambut gondrong.” “Lalu kapan akan dipotong rambutnya, Kak? Kakak kelihatan kusut dengan penampilan seperti ini.” “Tadinya sih aku berniat untuk memotong rambut saat kamu sudah kembali ke sini, meneruskan cerita kita yang sempat terhenti karena terpisahkan jarak, tapi ....”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN