Kana mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Namun pintu itu tetap bergeming. "Kamu ngapain sih, bantu aku donk," hardik Kana memandang Ari dengan kesal. Pria itu meletakkan handphonenya dan kembali mencoba menarik pintu itu lagi. Namun sekuat apa pun Ari mencoba menarik, pintu itu tak mau terbuka.
"Memang si mie ayam sudah bilang pintu kamarnya suka macet, dia bilang engselnya berkarat," ujar Ari kesal sambil memukul pintunya.
"Aku ada meeting lagi jam dua, sekarang sudah jam satu, aku bisa terlambat." Ari menatap Kana yang segera mendelik.
"Kenapa? Jangan lihat aku, aku tidak bersalah, aku mana tahu kalau pintunya akan terkunci. Lagian kan kamu yang ajak aku ke atas sini," ucap Kana segera membela diri. Ari mendesah saat menatap k
Kana. "Aku tidak menuduhmu, siapa yang menuduhmu, Kana." Pria itu memandangnya sedemikian rupa sehingga Kana merasa jengah.
"Ha-habis tadi kamu menatapku seperti itu," timpal Kana tidak mau kalah.
"Menatapmu seperti apa?" Pria itu berdiri tegak dan mendekatinya. Jantung Kana tiba-tiba berdebar kencang. Dia baru menyadari kalau dia terkunci dengan seorang pria di kamar. "Hanya berdua. Aku hanya berdua dengan Ari, bagaimana ini!" pikir Kana takut.
"Hentikan itu," pekik Kana sambil berjalan mundur.
"Apanya?" tanya Ari dengan bingung.
"Itu, matamu, hentikan," ketus Kana sambil menunjuk mata Ari. Pria itu terkekeh menatap Kana yang salah tingkah.
"Aku hanya menatapmu, disini hanya ada kamu, aku harus lihat apa lagi," dengus Ari dengan geli.
"Wah kenapa begitu, lihat saja tuh AC atau…tempat tidur itu." Kana menunjuk asal ke segala benda yang ada di kamar kecil itu.
"Buat apa aku melihat AC, benda itu berfungsi dengan baik, terlalu baik malah, kamu kedinginan nggak?" tanya Ari sambil semakin mendekat ke arah Kana.
Kana semakin mundur karena pria itu terus mendekatinya. Sampai tubuhnya tak bisa mundur lagi karena sudah mentok dengan meja kerja.
"Ngapain kamu, jangan dekat-dekat." Kana mengangkat tangannya di dadanya siap mendorong pria itu kalau pria itu berani mendekat.
Tapi pria itu mengabaikan kata-kata Kana, dia tetap maju dan membiarkan tangan Kana ada di dadanya, tangan pria itu menjulur ke belakang seakan mau menjepit Kana sehingga wanita itu segera menutup matanya dan memalingkan wajahnya. “Panas, kenapa aku jadi gerah seperti ini?” tanya Kana dalam hati.
Dia bertahan dalam posisi itu dengan jantung yang berdebar kencang sehingga dadanya terasa mau meledak. Namun tiba-tiba, wanita itu mendengar suara remote AC. Dengan ragu, wanita itu segera membuka matanya dan merasa hatinya mencelos karena malu.
Pria itu tak melakukan apa-apa, dia ternyata hanya mengambil remote AC dan mengecilkan kipas AC sehingga tingga terlalu dingin. “Haish apa yang aku sudah pikiran tadi, dasar Kana bodoh sekali kamu!” hardiknya pada dirinya sendiri. Kana memandang pria tampan itu memperhatikan remote lalu meletakkannya pada sangkutan remote di dinding.
“Kita sepertinya akan lama, aku sudah menyuruh orangku datang membongkar pintu. Jadi sebaiknya kita jangan pasang AC terlalu dingin.” Pria itu lalu memandang Kana yang merasa kepanasan karena tadi merasakan tubuh Ari mendekat kepadanya. “Ah aku tidak terlalu kedinginan, segini biasa saja untukku,” timpal Kana ketus karena merasa malu. Wajahnya memerah dan tubuhnya merasakan kelegaan luar biasa saat Ari menjauh darinya. “Haish, kenapa aku jadi seperti ini sih!” desisnya memarahi dirinya sendiri dalam hati.
“Berapa lama lagi orangmu datang ke sini?” tanya Kana sambil melihat handphonenya. Dia terkejut melihat handphonenya mati. “Haish ini pasti karena aku bermain game semalaman kemarin!” keluhnya dalam hati. Dia memaki dalam hati dengan kesal. “Haish, sial sekali aku hari ini, sudah terkunci di kamar dengan pria menyebalkan itu dengan handphone mati, ergh aku kesal sekali!” makinya dalam hati sambil menatap pria berkemeja putih itu.
Pria itu tampak seperti model majalah yang sedang berpose untuk difoto. Dia melonggarkan dasi garis biru putihnya dan duduk sambil memangku kakinya yang panjang. Celananya coklat dengan sepatu kulit hitam yang mengkilap. Tangannya sedang sibuk mengetik sesuatu di handphone-nya. Alisnya yang tebal berkerut karena sedang berpikir keras.
Tampan, Ari memang pria yang tampan. Dagunya yang kokoh dipenuhi bulu halus yang sepertinya lupa dia cukur sehingga daerah dagunya berwarna biru keabu-abuan yang sangat menarik. “Menarik… ish apa yang aku pikirkan, sejak kapan Ari adalah pria menarik. Dia adalah pria penguntit yang mengikutiku kemana-mana!” seru Kana dalam hati memperingatkan dirinya lagi.
“Kamu sedang apa berdiri di sana?” tanya Ari bingung. Lamunan Kana buyar. Dia segera berdiri tegak dan menepis rambut pendeknya.
“Memangnya kenapa?” tanya Kana menantang. Wanita itu memandang Ari dengan curiga.
“Kamu nanti lelah, lebih baik kamu duduk di sampingku sini. Di situ juga langsung kena semburan angin AC loh.” ujar Ari dengan lembut. Kana menatap tempat tidur single yang Ari duduki. Wanita itu segera merinding. Dia tidak boleh dekat-dekat pria itu lagi sebelum dia bisa mengontrol debar jantungnya.
“Tidak, aku baik-baik saja duduk disini, tidak ada masalah, aku suka berdiri, aku menunggumu dari tadi dengan duduk. Bokongku pegal, jadi sebaiknya aku berdiri saja di sini.” Wanita itu mengangkat dagunya dengan sombong. Ari mendengus geli.
“Kamu malu duduk berduaan dengan aku disini?” tanya Ari menyelidik.
“Ih GE-ER, kenapa aku harus malu duduk di situ? Aku memang tidak mau duduk,” balas Kana cepat dengan ketus tanpa menyadari kalau wajahnya kembali memerah. Ari memandang wanita cantik berambut pendek di hadapannya itu.
Dia hanya mengenakan jeans dan kaos oblong lengan pendek. Tapi bagi Ari wanita itu cantik sekali. Wajahnya mungil menggemaskan, dan bola matanya yang besar berwarna coklat kehijauan selalu berhasil membius Ari.
“Baiklah kalau kamu tidak mau duduk. Sebentar lagi aku akan meeting, jadi aku mohon kamu bisa tenang ya. Karena keadaan mendadak seperti ini. Aku jadi meeting menggunakan Zoom, beruntung mereka memperbolehkan aku menggunakan Zoom.” Kana merengutkan wajahnya.
“Kenapa kamu menyuruhku tenang, dari tadi juga kamu yang ajak aku bicara. Aku diam-diam saja. Lagi pula buat apa kamu jelaskan pekerjaanmu kepadaku,” balas Kana ketus. Ari hanya tersenyum sambil kembali menatap handphonenya. Kana memajukan bibirnya dengan kesal. “Apa maksud dari senyuman menyebalkannya itu?” tanya Kana dalam hati.
Tak lama pria itu memang segera sibuk dengan meetingnya. Dia berbicara dengan bahasa Jepang yang fasih. Sangat aneh melihat wajahnya yang bergaya barat namun berbicara bahasa Jepang dengan sangat lancar. Kana seperti melihat film dengan dubbing. Kana memperhatikan Ari dan tanpa sadar muncul kekaguman dalam hatinya. Rasanya aneh melihat pria yang biasa mengikutinya di antara kelas dan menunggunya di kantin kampus tiba-tiba sibuk berbahasa Jepang dalam meeting online.
“Hmph, sejak kapan dia berlagak menjadi pria sukses seperti itu? Dia hanya berbeda denganku dua tahun, tapi gayanya seperti dia pemilik perusahaan saja,” erang Kana merasa iri. “Ah semua kembali ke asal-usul. Jika orang tuamu meninggalkan banyak harta, makan dalam umur 24 tahun pun kamu sudah bisa menjadi orang yang sukses,” pikir Kana lagi dalam hati.
Walau awalnya Kana merasa nyaman berdiri sambil bersandar pada meja kerja tadi. Lama kelamaan kakinya pegal juga, Dan dia mulai merasa mual karena terkena langsung paparan angin AC. Perutnya kosong karena tadi pagi dia juga tidak sarapan demi menghindari kakaknya. “Oh, kenapa aku jadi mual begini,” erang Kana sambil menyentuh perutnya. Lalu kembali mengganti posisi berdirinya. Dia menatap pintu yang tertutup sambil terus berharap orang suruhan Ari lebih cepat datang.
“Hatchiiey!” wanita itu bersin dengan kencang mengagetkan Ari yang sedang menunggu tanggapan dari Tokyo akan proposalnya. Dia lalu memperhatikan Kana yang sedang memeluk dirinya sendiri, berdirinya juga mulai aneh yang membuat pria itu yakin kalau Kana sudah kedinginan dan kakinya keram.
Pria itu tiba-tiba berdiri lalu meraih jaket semi formalnya yang dia letakkan di meja kerja samping Kana dan memakaikannya pada wanita itu. Kana menatapnya dengan kaget namun tak berkata apa-apa karena rapat online Ari masih berlangsung. Dia juga bersyukur akan jaket itu karena Kana memang sudah sangat kedinginnan.
Sambil tersenyum Ari menarik Kana dan mendudukkannya di tempat tidur, dan dia yang gantian berdiri di dekat meja kerja itu. Kana merasa tak enak, karena pada akhirnya semua ucapan pria itu terbukti. Tapi wanita bertubuh mungil itu merasa bersyukur karena akhirnya dia bisa duduk. Kakinya terasa sangat pegal dan dingin. Jaket Ari yang kebesaran mulai membuat tubuhnya yang tadinya terasa membeku mulai mencair. Ari masih berbicara beberapa lama lagi sampai akhirnya meeringnya selesai. Pria itu memandang Kana dengan tersenyum. Kana segera mendongakkan kepalanya dengan angkuh.
“A-aku pikir orangmu bisa datang lebih cepat,” ucap wanita itu membela diri sebelum Ari sempat berbicara apa-apa. “Iya mereka terlambat, coba aku hubungi lagi,” ujar Ari lalu kembali menghubungi pemborong rukonya itu. Tapi ternyata diluar sedang hujan badai, jadi peborong itu meneduh dulu.
“Hujan, kenapa aku sampai tak sadar?” pikir Kana sambil melirik ke jendela keluar. Hujan jatuh seperti air ember yang tercurah. Lebat sekali sampai tidak terlihat ada jarak pandang. “Karena kamu dari tadi sibuk memperhatikan dia,” bisik suatu suara dalam benak Kana.
“Tidak, siapa yang perhatikan dia,” bantah Kana pada dirinya sendiri.
“Kana, di luar hujan, kita tidak bisa buka jendela, atau mematikan AC, karena tidak ada sirkulasi udara nantinya.”
“Iya, lalu?” tanya Kana ketus sambil mengerutkan keningnya tak mengerti arah pembicaraan Ari.
“Aku tidak kuat dingin.”
“Iya, terus?” tanya Kana dengan bingung. Pria itu selalu seperti itu berbicara berbelit-belit membuat Kana tak mengerti maksudnya. “Kalau dia tak kuat dingin apa hubungannya dengan ku?” tanya Kana lagi dalam hati. Lalu setelah melihat AC, dia baru menyadarinya.
“Ah…kamu mau duduk di sini?” tanya Kana dengan tidak enak karena sudah memakai jaket Ari. Namun untuk mengembalikan jaket itu kembali pada Ari, Kana belum siap karena dia masih membutuhkannya.
“Kalau boleh,” ucap pria itu sopan lalu melangkah mendekati Kana.
“Ya boleh lah, memangnya tempat tidur ini milikku?” jawab Kana ketus. “Tapi jangan dekat-dekat ya, sana jauh-jauh,” ujar Kana sambil menunjuk ujung tempat tidur. Ari mendengus sambil tersenyum.
“Baik, Kana.” Pria itu lalu duduk dan bersandar pada tembok di ujung kaki tempat tidur. Kana mendengus saat mendengar jawaban Ari, yang semakin lama semakin mirip dengan kakaknya kepada Aruna.
Hujan masih terus turun dan udara semakin dingin. Kana merasa badannya semakin tidak enak. “Seharusnya tadi aku makan sedikit walau harus bersama kakak sebentar. Sekarang, perutku terasa mual sekali,” erangnya kesal sambil duduk mundur sehingga dia bisa bersandar pada tembok juga seperti Ari. Tanpa sadar, pada akhirnya Kana yang mendekati Ari dan bersandar kepada pria itu.
“Ah nyamannya,” pikirnya sambil menutup matanya.