Pria Yang Menyatakan Cinta

1382 Kata
Kana baru saja mau mengeluh karena kasur di tempat tidurnya terasa keras walaupun hangat, namun segera terkejut ketika menyadari kalau dia berada dalam pelukan Ari, wanita itu segera terkesiap. "Astaga…oooh astaga, mengapa aku bisa berada dalam pelukan Ari!" desisnya dalam hati. Jantungnya berdebar kencang. "Aku pasti sudah gila, bagaimana mungkin aku bisa ketiduran seperti ini," Kana dalam hati. Dia sedikit mendongak dan mencoba melihat wajah Ari. Pria itu memeluknya dengan erat. Ari juga tertidur, napasnya terdengar konstan. Wajahnya yang tampan terlihat damai. Kana ingin bergerak, tapi wanita itu takut kalau nanti Ari terbangun. Dia mencoba menarik tangan Ari yang berat agar dirinya terlepas dari pelukan pria itu. Tapi, pria itu malah memeluknya lebih erat dan menarik Kana. Saat Kana mau melepaskan diri, pria itu malah mengecup keningnya. Kana membeku saat merasakan kecupan itu dan segera mendorong pria itu menjauh. "Apa-apaan kamu!" pekiknya dengan marah. Ari terbangun dengan kaget. Matanya merah karena baru saja terbangun. Pria itu melihat sekelilingnya lalu menatap Kana yang sedang memandangnya dengan marah. "Hmm?" tanyanya dengan tatapan belum fokus. "Ta-tadi kamu…" "Apa?" tanya Ari dengan bingung dia lalu mengerang saat meregangkan ototnya. Suaranya membuat buku halus di tubuh Kana meremang. "Kenapa apa yang dia lakukan kini sangat berpengaruh padaku?" keluh Kana sambil menyentuh tengkuknya. Kana masih menatap Ari dengan marah, hanya saja dia baru berpikir, kalau pria itu tak sadar, sebaiknya dia tak perlu tahu. Dia menarik napasnya dan membersihkan tenggorokkannya. "Tidak, hanya saja kamu mengagetkanku saja," ujar Kana sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar seperti orang bodoh itu. Dia berdiri di dekat jendela dan menatap langit yang memerah karena malam akan tiba. "Ah di mana ini si pemborong itu?" Ari mengeluarkan handphonenya dari kantong celananya. Dia merapikan rambut dan kemejanya sehingga membuat Kana teringat kalau tadi dia merebahkan kepalanya di d**a pria itu. "Ish apa yang aku pikirkan, sudah untung pria itu tidak menyadari apa yang telah terjadi tadi," maki Kana dalam hati. "Oh tidak Kana, pemborongku lupa, karena hujan terlalu lama, begitu hujan mereda mereka malah pulang, bagaimana ini, hari sudah malam lagi," keluh Ari sambil berdiri mendekati Kana. Pria itu hanya bermaksud untuk melihat keluar jendela tapi Kana segera mundur karena gugup sampai hampir terjatuh karena tersandung bungkusan di lantai. "Akh!" jerit Kana saat kakinya tersandung Ari ingin menangkapnya tapi Kana mengelak tapi semesta sepertinya memang sedang memihak kepada Ari, karena dari bungkusan itu keluar kecoak yang segera berjalan menuju Kana. Wanita itu menjerit sekuat dadanya bisa berteriak dan segera memeluk Ari dengan takut. Kecoa itu segera berlari keluar dari kamar melalui bawah pintu. "Haish, seenaknya saja dia keluar lewah bawah pintu, sedangkan kita terperangkap di sini ya?" tanya Ari sambil memeluk Kana. Wanita itu mendengus dan segera melepaskan pelukannya dari Ari. "Sepertinya kamu juga harus memasang perangkap serangga. Banyak sekali hewan yang menganggap ruko ini rumahnya." Kana segera menjauhi Ari dengan angkuh merapikan kaosnya. Pria itu mendengus dengan geli. "Padahal tadi dia yang memelukku duluan karena takut, sekarang gayanya kembali seperti penyewa dan pemilik ruko," pikir Ari sambil memandang wanita yang kembali menatap jendela. Walau rambutnya pendek, dan hanya menggunakan kaos, dengan latar kemerahan dari matahari terbenam, Kana tampak seperti bidadari yang turun dari khayangan. Ari tertegun menatap kecantikan dari cinta pertamanya. "Hentikan itu," ujar Kana merasa jengah saat melihat tatapan Ari yang terpesona kepadanya. "Bagaimana bisa, kamu cantik sekali," desah Ari tanpa ada maksud merayu. Kana mendesah kesal. "Sudah aku bilang berkali-kali, aku tak ada perasaan apa-apa padamu," ujar Kana sambil melipat tangannya di dadanya untuk menutupi gemuruh debar jantungnya yang berderap kencang. "Aku tahu, apalah aku yang buruk rupa ini dibandingkan dirimu, karena itu aku hanya bisa menganggumimu dari jauh," balas Ari dengan suara yang penuh kesedihan. Kana mendesah kesal. "Jangan mengacaukan semuanya Ari, sudah bagus hubungan kita sebagai penyewa dan pemilik ruko, jangan dicampur aduk lagi. Lagipula bukankah kamu kemarin menyukai Noella?" Ari terdiam, wajahnya seakan membeku. Dia tak berkata apa-apa lagi. Dia kembali duduk di pinggir tempat tidur. "Aku akan mencoba menghubungi orangku yang lain, sebaiknya kita fokus untuk keluar dari sini dulu, karena seingatku,—" Belum selesai Ari berbicara listrik tiba-tiba mati. "Astaga apa yang terjadi!" jerit Kana kaget. Cahaya hanya remang-remang dari sinar matahari yang hampir hilang. Dia memandang Ari yang mendengus kesal. "Seingatku, sisa token listrik tadi tinggal sedikit, dan karena kita daritadi pakai AC, pasti listriknya sudah habis." Kana menatap Ari dengan tatapan horor. "Apa kamu bilang, kalau begitu kenapa dari tadi dipasang AC-nya?" hardik Kana tidak mempercayai apa yang telah terjadi pada dirinya. "Mana aku tahu, aku pikir tadi pemborongku akan datang segera, lagipula tadi kamu mendengkur keras, mana mungkin aku mematikan AC." Jawaban Ari segera membuat wajah Kana memerah. Dia terdiam sesaat. "Jangan bilang dia tersadar kalau aku tadi tidur dalam pelukannya," pikir Kana dalam hati. "Aku tidak mendengkur," desis Kana setah beberapa saat kehabisan kata-kata. Ari mendengus saat mendengar jawaban Kana. "Aku akan menghubungi orangku lagi sebelum bateraiku habis," ucap Ari tidak membalas lagi ucapan Kana, sehingga wanita itu menjadi ragu pada dirinya sendiri. "Masa sih aku mendengkur, pasti dia hanya mengarang cerita saja. Kalau dia benar-benar tahu aku tidur, pasti dia sudah mengatakan kalau aku dalam pelukannya. Dan…oh tidak kecupan tadi. Pasti dia mengarang, itu sudah pasti. Kalau tidak pasti Ari akan membicarakan ciumannya tadi," ucap Kana bermonolog sendiri dalam hatinya. Wanita itu memandang Ari yang sibuk menelpon. "Dia tidak sadar kan tadi? Dia juga tidur kan?" tanya Kana dalam hati lagi dengan ragu. "Ah mereka semua tak ada yang mengangkat teleponku," desis Ari kesal. "Coba aku pinjam teleponmu, aku akan menelepon Noell, dia bisa mencarikan orang untuk membongkat pintu," pinta Kana sambil berjalan mendekati Ari. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk meminta handphone Ari. Pria itu tampak ragu saat memberikan teleponnya. "Kenapa?" tanya Kana bingung. "Nggak, kamu sebutkan saja nomornya, biar aku yang menekan nomornya." Kana merasakan hatinya mencelos. "Ah, kamu mau menyimpan nomor handphone Noell yang baru ya?" tanya Kana yang merasa aneh di hatinya. "Engg…iya aku mau nomor teleponnya yang baru," balas Ari dengan mimik wajah yang aneh. Dengan terpaksa Kana menyebutkan nomor telepon Noella, dan pria itu segera menelpon wanita berambut panjang itu. Caleb menatap Aruna sampai wanita cantik dan kekasih barunya itu menghilang dari pandangan. Hatinya terasa sakit dan napasnya terasa sesak. Sembilan tahun dia habiskan bersama wanita itu, dan bisa-bisanya wanita itu membuangnya hanya karena bosan, alasan Aruna benar-benar menyakiti hati Caleb. "Siapa pria yang bersama Kak Aruna, Kak?" tanya Noella membuyarkan lamunan Caleb. "Ah itu temannya, Aruna sedang menemani temannya ke mall," ucap Caleb berbohong. Noella tak perlu tahu tentang kegagalan cintanya. Hal itu terlalu menyakitkan. "Teman, sepertinya kalau teman tak akan rangkulan seperti itu. Kalau aku sih ya kak, aku tak akan merangkul sembarangan orang," ujar Noella sambil mengangguk- anggukkan kepalanya. "Cih, tadi kamu juga merangkul tanganku," desis Caleb cepat. "Itu karena kakak bukan orang sembarangan bagiku," balas Noella tak kalah cepat. "Kakak adalah seorang yang sangat spesial bagiku, kakak,—" Noella menghentikan ucapannya karena handphonenya berdering. "Aneh, ini nomor asing," ujar Noella sambil memandang layar handphonenya. "Tak perlu diangkat kalau kamu tak kenal," perintah Caleb merasa Lega karena berkat telepon itu ucapan Noella terhenti di tengah-tengah. Tapi begitu Noella matikan, teleponnya kembali berdering berulang-ulang. Entah kenapa, hal itu membuat Caleb kesal. Dia tak suka adik kecilnya diganggu telepon iseng. Saat Noella mau mematikan lagi telepon itu Caleb merebutnya dan mengambil telepon itu dari tangan Noella. "Ya halo, ada butuh apa ya?" tanya Caleb dengan suara sangar yang membuat Noella sangat terkejut. Ari terkejut saat mendengar suara laki-laki yang mengangkat teleponnya. "Apakah Kana sengaja menberikan nomor yang salah kepadaku?" tanya Ari dalam hati sambil memandang Kana yang memandangnya sambil mengerutkan keningnya. "Apakah ini handphonenya Noella?" tanya Ari dengan sopan. Kerutan di wajah Kana semakin dalam. "Betul, ada butuh apa ya dengan Noella?" tanya Caleb dengan ketus. "Saya Arya Andika, saya mau meminta tolong pada Noella, ini hal yang sangat penting sekali, boleh saya bicara dengan Noella?" Caleb segera memandang Noella yang menunggu dengan bingung. "Siapa Arya Andika, dia mau minta tolong denganmu, katanya penting," ujar Caleb dengan curiga. Bola mata keemasan Noella membulat dan mengambil handphonenya dari tangan Caleb. "Dia pria yang pernah aku ceritakan, yang menyukai Kana, lalu juga menyatakan cintanya padaku," jawab Noella berbisik. Caleb ingin menahan handphone Noella di tangannya, tapi wanita itu sudah lebih cepat tangannya dari Caleb. "Halo Ari, apa kabar?" ucap Noella dengan riang membuat Caleb menggertakkan giginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN