Hari ini adalah hari transaksi itu dilakukan. Reihan sudah bersiap di ruangannya. Setaip peserta yang bergabung dalam batch ini memiliki ruangan masing-masing. Dan di ruangan ini ada layar besar yang akan menampilkan beberapa wanita yang bisa mereka pilih.
Andreas, Abigail, dan juga Anton sudah siap di posisi mereka. Andreas berhasil mensabotase sistem yang dipakai oleh kelompok Inferno. Dan dari keterangan yang di dapatkan dari Kythira semua itu tersambung menjadi satu.
Mereka memakai metode Narcoanalysis saat menanyai Kythira. Mereka pun menyuntikkan serum yang berisikan barbiturates sodium amytal dan natrium pentothal. Walaupun pendapat para ahli belum mengkonfirmasi keakuratan metode ini tapi mereka tetap menggunakannya.
“Cek posisi, cek!” Abigail mulai mengetes ear piece yang mereka gunakan. Kali ini mereka tidak boleh gagal. Hari ini adalah hari terakhir misi ini. Pulang dengan selamat dan membawa semua target operasi, atau gugur di sini dengan terhormat. Hanya dua itulah pilihan mereka.
“Alpha, cek.” Reihan pun menjawab.
“Bi, cek.”
“Delta, arrived.” Balas Anton.
Semua orang sudah ada di posisi mereka masing-masing. Saat Reihan sudah selesai dengan urusannya, tiga orang itu akan langsung meringkus orang-orang yang terlibat dari transaksi ini. Semua bukti yang bisa memberatkan Tuan Edwar dan juga Nyonya Stephani sudah mereka dapatkan.
Tapi, semua data itu belum mereka serahkan kepada pusat. Reihan ingin memastikan terlebih dahulu keberadaan Leonard dan juga situasi di kantor mereka. Proses transaksi pun dimulai. Di layar yang berada di depan Reihan terlihat beberapa orang mulai memberikan harga yang pantas untuk terget mereka.
Reihan cukup terkejut saat melihat angka-angka yang tertera di layar. seperti sedang mengamati pergerakan harga saham, dia benar-benar takjub. Ternyata orang-orang ini memang tidak pernah memikirkan uang mereka akan habis. Atau bahkan uang mereka tidak akan pernah habis.
Abigail masuk ke dalam markas rahasia kelompok Inferno. Tidak mudah masuk ke dalam sini. Dia sudah melumpuhkan beberapa orang, dan tangannya pun sudah terluka. Darah yang mengalir dari lengan kanannya cukup banyak sehingga Abigail harus mencari tempat yang cukup tenang untuk membebat lukanya.
Begitu pula dengan Anton, dari sisi yang berbeda, dia sudah berhasil masuk dan melumpuhkan orang-orang yang berjaga. Menurut informasi dari Kythira, tempatnya saat ini adalah tempat di mana para WNI di sekap. Mereka adalah orang-orang yang dibawa oleh Tuan Edward dan juga Nyonya Stephani.
Saat Anton berhasil merusak pintu yang terkunci itu, dia melihat tidak hanya ada WNI di sini. Semua orang yang berasal dari Asia Tenggara dan juga Asia Timur ada di ruangan ini. Jumlah mereka cukup banyak. Ada lebihd ari tiga puluh orang. Anton pun melaporkan situasinya kepada Andreas, dan dia meminta back-up.
“Andreas tetap di posisinya. Biar gue yang ke sana. Gue juga sudah di dalam.” Jawab Abigail cepat. Dia tidak mau mengganggu konsentrasi Andreas saat ini.
Abigail bergerak cepat menuju titik di mana Anton berada. Ternyata tidak semua itu, gerakannya diketahui musuh, dan suara tembakan pun mulai terdengar. Abigail mulai terpojok, dan dia sedang berpikir bagaimana caranya dia bisa pergi menghampiri Anton. Abigail mengarahkan moncong senjata Laras panjangnya untuk memancing musuh.
Dan benar saja mereka langsung melepaskan tembakan mereka membabi buta. Saat Abigail ingin bergerak, seseorang mengarahkan bidikan mereka kepada orang-orang yang sedari tadi menembaki Abigail. Dia pun mencari dari mana datangnya tembakan itu. Matanya langsung terbelalak tidak percaya saat melihat siapa yang datang membantunya.
“PAK!” Ucapnya menggantung tidak percaya.
“Kita bahas ini nanti! Segera susul Anton dan bantu dia membawa mereka keluar dari sini. Urusan di sini biar aku yang tangani!”
Abigail pun menganggukkan kepalanya dan langsung berlari menuju posisi Anton berada. Anton yang sedang berusaha melepaskan ikatan di tangan dan juga kaki para wanita ini langsung siaga saat mendengar seseorang berjalan mendekati ruangan ini. Anton bersembunyi di balik tembok yang ada di samping pintu dan mulai memegang pisaunya erat.
Satu langkah lagi orang itu berhasil masuk ke dalam ruang, tapi tiba-tiba dia ambuk ke lantai. darah segar pun keluar dari pelipisnya. Anton mengintip ke luar dengan hati-hati dan bernapas lega saat melihat Abigail yang mendekat.
Wanita yang sudah berhasil dilepaskan ikatannya pun di bawa pergi oleh Abigail. Mereka berjalan dengan hati-hati. Salah satu dari wanita itu mencemaskan kamera pengawas yang terdapat di setiap sudut tempat ini. Abigail pun menjelaskan kalau semua itu sudah diurus dengan seseorang yang ahli dan mereka tidak perlu mencemaskan hal itu.
Mereka berhasil keluar dari tempat ini dan Abigail meminta mereka berlari secepatnya menuju mobil van hitam yang terparkir di balik semak yang ada di ujung jalan ini. Ada Andreas yang berjaga di sana. Saat semua wanita itu sudah masuk semua ke dalam van itu, Abigail meminta Andreas untuk langsung membawa mereka pergi.
“Kalian bagaimana nanti?” tanya Andreas khawatir.
“Lo nggak perlu mikirin gue dan yang lain. Kami akan langsung menyusul setelah urusan di sini selesai.”
“Tuan Edward ada di salah satu room di dalam. tapi dia hanya sendirian, sepertinya Nyonya Stephani sedang sibuk mengurus masalah kecelakaan pesawat itu.” ucap Andreas cepat.
“Oke, lo pergi cepet sebelum terlambat, urusan di sini biar menjadi urusan gue dan yang lain. Pesawat jet yang akan membawa kalian sudah siap di bandara, jadi lo harus segera menuju bandara. Orang kepercayaan Reihan pun sudah bersiap, dan pesawat sudah siap terbang.”
“Gue tunggu kalian di tanah air. dan pastikan kalian semua selamat!”
“Sudah, cepet sana jalan! Banyak drama lo!” Usir Abigail.
Mobil van pun mulai bergerak. Abigail dan Anton menghalau orang-orang yang keluar dari tempat itu. Sepertinya mereka sudah sadar jika markas mereka di sabotase. Abigail pun teringan orang yang tadi membantunya.
“Lo liat Pak Leonard di dalem?” Tanya Abigail.
“Hah? Emang ada Pak Leonard?” Anton kaget dengan apa yang barusan dia dengar.
“Alpha… masuk! Tiger ada di dalam. Semua target sudah dievakuasi.”
Mendengar itu Reihan langsung melepaskan earphone yang ada di telinga kanannya dan langsung keluar dari ruangan ini.
“Kau pikir bisa keluar dari sini dengan selamat, Love?” Ucap Enyalios yang ternyata sudah berdiri di depan pintu ruangan Reihan. Enyalios mengacungkan senjatanya tepat di hadapan dahi Reihan. Reihan pun menyeringai menatap Enyalios yang tampak kesal dihadapannya.
“Bang! você perdeu!”
“De jeito nenhum!” Jawab Enyalios berang. “Bawa dia, mari kita bersenang-senang!” Perinta Enyalios kepada anak buahnya.