Seorang laki-laki bertubuh tegap dan berbadan atletis dengan raut wajah yang tegas mendekati Reihan. Dia meminta Reihan untuk ikut dengannya. Ada orang penting yang ingin bertemu dengan Reihan. Karena penasaran Reihan pun mengikuti laki-laki itu. Dia dibawa ke sebuah ruangan yang lebih nyaman dari tempat tadi.
Sepanjang koridor banyak sekali orang yang berjaga dan tidak ada satu pengunjung pun yang bisa datang ke sini. Reihan memperhatikan dan menghitung semua orang yang berjaga di sepanjang koridor ini. Dia mulai memperhitungkan semua tindakan yang akan dia ambil jika hal buruk terjadi padanya saat ini.
Anton dan Abigail memperhatikan Reihan dari jauh. Mereka pun mulai waspada terhadap sekitarnya. Tapi, saat Reihan mulai berbelok ke sebuah lorong yang lebih kecil mereka berdua tidak bisa lagi melihatnya. Karena tidak mau membuat orang-orang di sini curiga, akhirnya mereka pun kembali ke tempat orang-orang yang sedang berkumpul.
“Mau dibawa kemana dia kira-kira?” Tanya Anton sambil berbisik dan melihat ke sekelilingnya.
“Sepertinya dia mau menemui orang yang memberikan kartu akses itu.” Abigail pun mulai berjalan menuju meja bartender. Dia ingin memesan sesuatu yang bisa membasahi tenggorokannya.
“Lo mau mabok, Bi?”
“Gila aja! Ya kagak lah, gue haus anjir! Dan nggak mungkin banget gue mesen cola di sini ‘kan?” Jawab Abigail kesal.
“Hahahaha… iya deh iya… gue juga haus, mana lagi tuh sih Andreas. Apa sudah kepincut orang sini?” Anton pun mulai memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan Andreas yang tidak terlihat sedari tadi.
Dua cangkir tequile pun tersaji di hadapan Anton dan juga Abigail. Mereka menyesap minuman itu perlahan sambil memperhatikan orang-orang yang ada di meja bartender ini. Mata Abigail langsung fokus kepada seorang wanita Asia yang sedang duduk bersama laki-laki asing dari suku bangsa Alpina terlihat sedang berbicara dengan sangat canggung.
Abigail mulai mengingat-ingat daftar orang-orang yang harus mereka temukan selain VIP. Abigail pun menepuk pundak Anton dan memintanya untuk memperhatikan orang yang sedari tadi dia lihat. Anton pun ikut memusatkan pandangannya ke arah wanita itu. Dan benar saja, Anton langsung mengenalinya.
“Itu salah satu cewek yang diculik. Dia masuk dalam daftar orang hilang dan diperkirakan dijual sebagai b***k di sini. Daftarnya bukan termasuk di daftar terbaru. Tapi, gue inget dia karena kasusnya pernah hampir dilimpahkan kepada kita.” Jelas Anton.
“Pantes gue ngerasa nggak asing sama muka dia. Apakah kasusnya sudah selesai?”
“Belom, karena Tim yang menyelidiki entah karena apa dibubarkan dan kasusnya dibiarkan menggantung begitu saja.”
“Sepertinya gue bisa memecahkan teka-teki silang ini. Gimana kalau kita deketin dia. Sepertinya percakapan mereka tidak berjalan baik.” Ajak Abigail.
“Lo nggak lihat apa laki-laki yang ada di dekatnya. kalau di lihat dari ciri fisiknya dia bisa saja dari negara Perancis, Swiss, atau pun Belgia. Tahu sendiri manusia dari sana terkenal dengan keegoisan dan kecuekannya. Bisa-bisa lo diusir dan ujung-ujungnya ribut.” Tolak Anton malas.
“Percaya sama gue! gue alihin laki-laki itu, dan lo gali informasi dari ceweknya. Tapi ingat, lihat kondisi sekitar. Gue yakin dia sedang diawasi oleh orang-orang yang ada di sini.”
“Okelah, kalau lo yang mau tangani tu cowok. Gue mau!” Mereka berdua pun langsung meneguk habis minuman yang tadi mereka pesan dan mulai berjalan mendekati meja wanita yang sedari tadi mereka perhatikan.
Abigail langsung tersenyum manis ke arah laki-laki yang saat ini tampak terkejut dengan kedatangan mereka berdua. Reaksi itu tidak berlangsung lama, setelah melihat senyum Abigail yang begitu mempesona, dia pun ikut tersenyum ramah. Anton sempat terkejut melihat perubahan sikap itu. Dan di dalam hati dia mengumpat kasar. Dia tidak tahu kalau rekan satu timnya ini memiliki kemampuan seperti itu.
Di saat Abigail sibuk mengobrol dengan laki-laki dari suku Alpina itu Anton pun mulai mendekati sang wanita. Awalnya wanita itu merasa tidak nyaman, dari sikapnya Anton yakin dia belum lama bekerja di dunia ini. Anton pun membisikkan sesuatu kepada wanita itu lalu tersenyum. Tatapan mata Anton terlihat benar-benar menginginkan si wanita.
Tanpa penolkan Wanita itu pun mau diajak Anton untuk beranjak dari meja ini. Baru berjalan beberapa langkah, mereka sudah dihadang oleh dua orang yang mungkin sedari tadi mengawasi gerak-gerik wanita ini.
“Maaf tuan, Anda mau membawa Wanita ini ke mana?” tanya salah satu dari mereka.
“Tentu saja bersenang-senang dan menghabiskan sisa malam ini.” Jawab Anton santai.
“Tidak bisa! dia sudah menjadi wanita laki-laki itu.” Sela orang itu lagi sambil menunjuk ke arah laki-laki yang sedang asik mengobrol dengan Abigail.
“Aku sudah mendapatkan izin darinya. Bahkan dia memberikan ini kepadaku!” Jawab Anton sambil menunjukkan kartu magnetik berwarna gold ke arah dua orang itu.
Wanita itu pun bingung saat meliat kartu akses untuk membuka salah satu pintu kamar di klub ini. dan entah sejak kapan Anton mendapatkannya. Melihat itu kedua orang itu langsung berpandangan sejenak dan akhirnya mempersilahkan Anton serta wanita itu lewat dan pergi dari hadapan mereka.
Dari ekor matanya Abigail dapat melihat kalau saatini Anton sudah berhasil membawa wanita itu ke tempat yang sedikit lebih aman. Andreas tidak sengaja berpapasan dengan Anton. dia bertanya melalui sorot matanya. Anton pun berkata tanpa suara, dan meminta Andreas mengikutinya dalam jarak aman.
Wanita itu menunjukkan jalan keman amereka harus pergi. Saat sudah masuk ke dalam lift, Anton dan Andreas langsung waspada, mereka mengawasi lift ini dengan sangat hati-hati tanpa membuat siapapun yangedang mengawasi lift ini tidak curiga.
Lift berhenti di lantai sembilan, dan mereka bertiga pun langsung keluar dari lift. Anton berjalan duluan bersama wanita itu sedangkan Andreas berhenti sejenak di depan lift dan melihat ke arah kamera pengawas. Perlahan dia pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dan melemparkan benda itu tepat ke kamera pengawas di ujung koridor.
Daya magnet itu bisa merusak kamera itu sementara, Anton menunggu di depan pintu kamar, dan Andreas langsung berlari cepat sebelum kamera itu kembali normal. setelah Andreas berhasil masuk, Anton langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
“Huift… hampir saja. mana yang lain?” tanya Andreas sambil memperhatikan wanita yang ada di samping Anton.
“Mereka sedang mengerjakan urusan masing-masing.” jawab Anton.
Dia sedang sibuk mengirimkan pesan kepada Abigail. Anton mengabarkan jika dia berhasil masuk ke kamar hotel dan akan mengintrogasi wanita ini dalam waktu tiga puluh menit. Anton meminta Abigial untuk menyusulnya setelah itu.
***
Reihan memasuki ruangan yang sangat besar. Di ruangan ini terdapat meja panjang dan kursi yang cukup banyak. Mungkin ruangan ini biasa dipakai untuk meeting. Di sudut ruangan ini terdapat sebuah tirai yang sangat besar berwarna hitam pekat. Terdengar suara-suara yang cukup mengusik telinga Reihan.
Dia ingin mendekat, tapi takut apa yang dia lakukan dapat menyebabkan masalah. Jadi, Reihan pun menunggu sampai seseorang muncul di hadapannya. Reihan pun mengamati sekeliling ruangan ini. Tidak banyak barang di ruangan ini. Hanya ada stau buah meja panjang dilengkapi dengan kursi, tirai berwarna hitam pekat di ujung ruangan, serta satu set kabinet yang digunakan untuk menaruh mesin kopi dan juga teko untuk menyeduh teh. Di sampingnya ada berbagai merk teh dan juga biji kopi utuh yang belum digiling.
Saat sedang sibuk mengamati ruangan ini, seseorang membuka tirai itu dan membuat Reihan mengalihkan pandangannya. Tapi itu tidak berlangsung lama. Karena dia langsung membuang muka kembali ke arah yang lain asal bukan ke arah ujung ruangan ini.
“Ternyata kau cukup naif. Aku pikir kau orang yang memiliki pemikiran terbuka.” Ucap suara yang cukup Reihan kenal. Karena sudah seharian ini dia bersama orang itu.
“Kakek?” Tanya Reihan tidak percaya.
Saat ini orang yang dia panggil kakek hanya mengenakan underware saja tanpa mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya. Kulit keriputnya pun terpampang dengan sangat jelas. Tangan keriput itu pun menjepit cerutu yang baru saja dia hidupkan. Sedangkan di belakangnya ada beberapa orang yang terlihat seperti kru film. Karena ada tiga kamera yang sedang mereka rapikan.
Di depan orang-orang itu terdapat dua orang wanita muda yang tidak mengenakan apa-apa, tubuh mereka polos tanpa busana. Tempat tidur berseprai merah menyala itu terlihat berantakan. Sekarang Reihan mengerti apa yang sudah dilakukan laki-laki tua ini beberapa waktu lalu.
“Apa kakek…” Reihan tidak berani meneruskan pertanyaannya. Karena dia terlalu malu untuk itu. Dan ada perasaan kesal serta marah.
“Ya, benar. Aku tadi sedang menggarap film panas dengan wanita-wanita muda itu. Mereka orang yang kau cari ‘kan?” Tanya Kakek itu.
“Jadi kakek sengaja memberikan kartu akses ini kepadaku agar aku bisa menemukan mereka berdua?”
“Tidak berdua, mungkin bertiga atau berempat, itu pun jika teman-temanmu berhasil menemukan yang lainnya.”
“Jadi selama ini, kakek yang menculi bahkan menipu mereka dengan janji paslu lalu menjadikan mereka b***k nafsu seperti ini?” Tanya Reihan dengan suara beratnya. Saat ini dia sedang menahan emosi yang hampir meledak.
“Begitulah. Ini bisnis anak muda! Dan aku tidak salah sama sekali.” jawab kakek itu tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Ck! Tidak salah katamu? Yang benar saja! Kau menghancurkan masa depan anak-anak ini. Menghancurkan masa muda wanita-wanita itu! Kau masih bisa berkata jika kau tidak salah sama sekali? Dasar manusia rendah!” Maki Reihan. Dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya saat ini.
“Hahahahahaha… kau bis amengumpat seperti itu rupanya. Aku memberikanmu kemudahan. Aku Sudah bosan dengan keempat wanita ini. Jadi kau bisa membawa mereka pergi, itu pun jika kau bisa melewati para penjaga di sini tanpa membuat keributan.” Ejek Kakek itu.
“Dasara bangsaat! bajiingan!” Umpat Reihan lagi. “Kau benar-benar binatang! Bukan lagi manusia!”
“Hahahahaha… ucapkan apa saja yang ingin kau katakan, Reihan. Aku Sudah memberimu kesempatan, dan sekarang kau bisa menggunakan kesempatan itu. Bahkan jika kau beruntung kau bisa membuktikan jika aku bersalah, dan memenjarakanku.” Ejek kakek itu. Dia pun berjalan melewati Reihan menuju pintu lain yang ada di samping ruangan ini. Entah pintu itu menuju ke mana.