Abigail mengetuk pintu kamar tempat di mana Anton dan Andreas menunggu bersama wanita yang ingin mereka selamatkan. Anton dan Andreas pun sudah mengintrogasi wanita itu dan merekam semua percakapan mereka. Ada beberapa nama yang disebutkan oleh wanita itu. Dan nama yang sering dia sebutkan adalah Tuan Edward.
Andreas mengecek dahulu siapa yang datang, dan saat tahu itu Abigail dia langsung membukakan pintu. Tapi, gerakannya langsung berhenti saat melihat ada orang lain yang berdiri di samping Abigail. Orang itu terlihat sangat dekat sekali dengan rekan satu timnya ini. Dan kedekatan itu membuat Andreas mengusap matanya beberapa kali.
Abigail pun terpaksa menggeser tubuh Andreas untuk menyingkir dari depan pintu. Karena dia menghalangi jalan. Abigail harus cepat masuk sebelum banyak orang melihat kegilaan yang dia lakukan hari ini demi mendapatkan informasi penting dan menyelamatkan korban penjualan manusia.
Andreas mendekati Anton dan mulai berbisik. Dia menanyakan siapa laki-laki yang saat ini terlihat sangat menempel dengan Abigail itu. Dan Andreas pun menanyakan soal orientasi seksual Abigail. Karena dia benar-banar terkejut akan hal ini. Anton hanya bisa menjawab tidak tahu untuk semua pertanyaan yang Andreas sebutkan.
“Well… terima kasih untuk kerja samanya, Tuan Steven. Anda cukup membantu saya malam ini.” Ucap Abigail akhirnya.
Mendengar nama orang itu disebutkan oleh Abigail, Anton dan juga Andreas langsung mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa orang sepenting ini ternyata gay. Sepertinya dia tidak tertarik sama sekali dengan wanita. Sekarang Anton mengerti kenapa dia terlihat canggung saat mengobrol bersama wanita yang ada di sampingnya tadi.
Dan Anton pun paham, kenapa Abigail ingin menangani laki-laki itu dan menyurhnya membawa pergi wanita ini. Sungguh luar biasa! Anton pun langsung angkat topi atas semua yang Abigail lakukan saat ini. Dia tidak tahu jika Abigail bisa mengambil hati seseorang yang ‘spesial’ seperti Tuan Steven.
“Kalian sudah selesai?” Tanya Tuan Steven kepada Anton dan juga Andreas.
“Selesai? Selesai apa?” Tanya Andreas balik. Dia bingung dengan pertanyaan itu.
“Ah, tidak melakukan apa-apa rupanya. Apakah kalian sama sepertiku? Tidak tertarik dengan wanita ini? Karena dia terlalu membosankan.” Jawab Tuan Steven.
“Aku? membosankan? Bukankah Anda yang tidak tertarik dengan wanita, Tuna?” Tanya wanita itu sambil mengejek.
“Dasar jalang! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu!” Maki Tuan Steven. Dia langsung berdiri dan mendekati wanita itu lalu menjambak rambutnya dan membenturkan kepala wanita itu ke dinding sehingga pelipisnya pun sobek dan mengeluarkan darah segar.
Andreas yang melihat itu langsung menarik tangan Tuan Steven dari rambut wanita itu dan menghempaskannya dengan kasar. Anton dan Abigail langsung melerai mereka, karena tidak mau menimbulkan keributan di sini. Bisa gawat jika Tuan Steven memanggil orang-orangnya dan membuat masalah ini jadi panjang.
“Lo apa-apaan sih. Mau mati sekarang juga?” Bisik Anton geram sambil menahan tangan Andreas.
“Gue emosi liat tingkah b******n kaya dia, Bang! Bisa-bisanya dia bersikap kasar gitu sama cewek.” Jawab Andreas tak kalah kesal. Dia berusaha menahan nada bicaranya agar tidak terdengar lantang saat ini.
“Udah, tenang dulu. Santai aja! Jangan sampai karena tingkah lo yang nggak profesional gini buat kita susah di sini.” Ucap Anton lagi.
Saat sedang berusaha menenangkan Tuan Steven dan juga Andreas, pintu kamar ini di gedor dari luar. Suaranya sangat kencang seperti seorang debt collector yang tengah menagih hutang. Anton dan Abigail pun langsung berpandangan, mereka tidak mau apa yang menjadi kekhawatiran mereka pun menjadi kenyataan.
Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, orang-orang di luar itu pun langsung melepaskan tembakan dan merusak handel pintu kamar agar mereka dapat masuk ke dalam . Ketiga orang itu langsung mundur, dan waspada. Saat ini ada sepuluh orang sedang menodongkan pistol ke arah mereka.
Dor!
Satu tembakan pun dilepaskan dan itu mengenai wanita yang ada di samping Anton. Wanita itu langsung limbung dan jatuh ke lantai. Tubuhnya bersimbah darah. Seseorang mendekatinya dan melepaskan beberapa tembakan lagi, dia harus memastikan jika wanita itu tewas saat ini juga.
Anton, Abigail dan Andreas pun menarik napas panjang, dan bersiap untuk keluar dari ruangan ini. Karena semakin lama mereka ada di sini, bisa dipastikan nyawa mereka pun akan cepat melayang. Ponsel Abigail tiba-tiba berdering dengan nyaring. Hal itu membuat perhatian semua orang pun tertuju kepada Abigail.
“Angkat saja! Dan katakan kepada temanmu itu untuk datang ke sini. Jadi urusanku selesai dengan cepat.” Ucap Tuan Steven sambil menyeringai.
Abigail pun langsung tersadar jika ini adalah jebakan. Tuan Steven sengaja mengikuti permainannya untuk membuat mereka terpojok dan mengumpulkan mereka dalam satu ruangan. Semua ini sudah direncanakan sejak awal rupanya. Ponsel Abigail pun berdering lagi, kali ini Tuan Steven merebutnya dari genggaman tangan Abigail.
“Hola? Siapa yang kau cari? Pria tampan yang menggunakan kaca mata? Atau yang mengenakan jaket kulit berwarna cokalt, atau pria yang terlihat sangat muda?” Tanya Tuan Steven santai.
“Kalian! Di mana kalian saat ini?” Tanya Reihan. Dia pun membentak orang yang ada di ujung telepon ini.
“Tidak perlu marah, Tuan. Kau bisa datang ke lantai sembilan dan datangi kamar 9001. Semua temanmu ada di sini. dan sebaiknya kau bergegas. Karena aku bukanlah orang yang sabaran.” Tuan Steven pun memtusu sambungan telepon itu tanpa menunggu respon dari Reihan.
Reihan langsung bergegas berlari menuju lift. Saat kotak besi di hdapannya terbuka, Reihan langsung masuk dan menekan angka sembilan. Letak kamar itu ada lima laintai ke bawah. Pintu lift pun terbuka di lantai sembilan, Reihan langsung keluar dan mencari di mana kamar 9001..
Saat melihat pintu kamar 9001 ini dirusak, Reihan langsung siaga. dia mengintip sejenak ke dalam untuk memastikan keadaan, tapi baru juga dia mendekatkan kepalanya ke pintu, dia sudah diberondong oleh tembakan. Sontak saja Reihan langsung berlindung di balik tembok yang jauh lebih tebal dari pada sekedar pintu kayu.
“STOP! Jangan tembak lagi. Biarkan dia masuk!” Sergah Tuan Steven.
Mereka pun menghentikan tembakan, dan Reihan masuk ke dalam kamar secara perlahan. Dia dapat melihat Abigail dan dua rekannya Tengah duduk di lantai sambil mengangkat tangan ke atas. Tidak jauh dari posisi mereka terlihat seorang wanita yang tergeletak di lantai dan sudah bersimbah darah.
Reihan paham sekarang maksud kakek tua itu. Dia sengaja diberi tahu lalu setelah itu dia pun akan dilenyapkan dari muka bumi ini.