Plan A

1014 Kata
Reihan di dorong untuk mendekati ketiga rekannya yang lain. Dia pun ditendang serta rahang kanannya dipukul dengan kuat. Reihan memuntahkan darah segar dan sepertinya giginya pun ikut tanggal. Abigail mengamati semua orang yang ada di sini. Dia pun mulai memperkirakan kecepatan serangan mereka. Orang-orang ini pasti sudah terlatih dengan baik. Jadi, mereka tidak bisa sembarang dalam bertindak. "Bi, lo kanan. Gue bakal urus yang kiri." Bisik Anton sambil mengambil ancang-ancang. "Lo yakin? mereka terlihat sangat terlatih gitu. Kita nggak bisa mengambil tindakan sembrono." Jawab Abigail. "Ehm... lo lagi mikir apa, Dre? Serius amat dari tadi." Anton pun beralih kepada Andreas yang sedari tadi diam. "Gue mikir, apa hari ini adalah hari terakhir dalam hidup gue. Kalau iya kira-kira gue sudah melakukan apa saja untuk orang tua gue." jelas Andreas. "Lah... ini anak bukannya mikir gimana caranya keluar dari sini hidup-hidup malah mikir gitu. Gampang banget lo nyerah. Mau gimana juga kita harus keluar dari sini. Walaupun dengan tubuh yang tidka lengkap, setidaknya kita masih hidup." "Horor banget kata-kata lo, Bang." "Bisa nggak sih, kalian berdua itu tidak bergurau di saat seperti ini?" tanya Reihan kesal. "Kapan lagi bisa becanda, Bos. Lagian ini tuh salah satu cara supaya gue nggak keder, elaaah. Udah, sekarang gimana?' "Kita maju sama-sama, dan usahakan rebut senjata mereka." jawab Reihan serius. Mereka bertiga langsung setuju. Keempat orang itu pun maju dan langsung menyasar titik terlemah pada tubuh laki-laki. Kemudian mereka langsung menghantam telinga orang-orang itu untuk menghilangkan keseimbangannya. Suara tembakan pun terdengar sekali, Abigail langsung mengalihkan perhatiannya. Ternyata Andreas berhasil merebut senjata salah satu bodyguard itu dan langsung menembakkannya untuk melumpuhkan musuhnya. Andreas langsung mengarahkan senjatanya ke pada semua orang yang masih baku hantam dengan rekan satu timnya. Satu persatu orang-orang itu tumbang. Anton pun langsung merebut semua senjata mereka dan melemparkannya kepada rekan-rekannya. Reihan membuka pintu kamar ini perlahan, dia ingin melihat situasi terlebih dahulu. Sialnya orang-orang yang mulai mendekati kamar ini melihatnya dan langsung melepaskan tembakan. Dengan cepat Reihan menutup pintu dan menguncinya. Anton serta Andreas langsung mendorong nakas kayu untuk menghalangi pintu sedangkan Abigail lari ke balkon untuk melihat kondisi di luar. "Guys, kita bisa lompat dari sini." ucap Abigail. Mereka langsung mendekati Abigail. Lalu menyelipkan senjata apinya ke belakang pinggang. Satu-persatu dari mereka pun menuruni balkon. Beruntung sekali jarak antara balkon yang satu dengan balkon yang lain cukup dekat. jadi mereka bisa turun dengan cepat. Saat Anton hendak melompat menuruni gedung ini suara tembakan pun terdengar dan dia terkena tembakan. Reihan langsung membalas tembakan itu dan satu orang langsung terjatuh dari atas. "Njiiir! Sial banget gue." Gerutu Anton. Abigail membantu Anton untuk berjalan. Mereka langsung menuju jalan utama dan memesan taksi menuju hotel tempat mereka menginap. *** Reihan dan sepuluh orang lainnya sedang berkumpul membahas apa yang akan mereka lakukan. Mengingat saat ini misi mereka sudah diketahui target. Dari kabar yang mereka terima tiga orang yang menjadi korban penculikan dan perdagangan manusi sudah tewas. "Bro, gimana kalau hari ini kita datangi lagi club malam itu. Siapa tahu ada lagi orang-orang yang kita cari di sana." Salah satu anggota interpol itu memberikan saran. "Mereka bukan orang bodoh, gue yakin mereka nggak bakal membawa orang-orang itu ke sana." jawab Abigail sambil memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya mereka berpikir seperti itu. Abigail merasa seperti sedang berhadapan dengan anak sekolah dasar saat ini. Anton dan Andreas hanya bisa tersenyum miris. "Bang, Pak Leonard yakin ngirim mereka ikut ke misi ini. Keliatan banget mereka tuh cuma mau jalan-jalan aja." gerutu Andreas kepada Anton. "Udah, lu kagak usah banyak ngemeng. Nanti kalo kedengeran mereka dan lo dilaporin, tamat idup lo. Lo lupa diapa yang ada di belakang mereka berlima?" jawab Anton sambil berbisik. Andreas pun langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak mau mengambil resiko yang bisa membuat karirnya berakhir saat ini juga. "Malam ini kita akan bergerak lagi menyelidiki di mana lokasi yang biasa digunakan oleh mereka untuk menyekap para sandera. Gue yakin Tuan Edward sudah memindahkan mereka." Reihan pun memulai pembahasan. "Kita bagi tugas aja gimana? Tim gue bakal cari di club malam, siapa tahu masih ada orang lain yang mereka pekerjakan di sana." sela salah satu anggota BIN bernama Adi. "Oke kalau kalian masih penasaran. Tapi saran gue kalian harus hati-hati. Bisa jadi Tuan Edward sudah memberikan informasi kita kepada pengelola club malam itu." Reihan pun menyetujui rencana orang-orang BIN yang masih penasaran dengan keberadaan rekan mereka. Semua orang di ruangan ini pun mendengarkan penjelasan Reihan dengan seksama. Satu-persatu dari mereka mulai memberikan saran dan juga pendapat sampai akhirnya kesepakatan pun muncul. Mereka akan membagi tim ini menjadi 3 tim yang akan berpencar mencari keberadaan orang-orang yang menjadi korban penculikan dan perdagangan manusia. Lima orang anggota interpol yang bukan termasuk tim Alpha menolak untuk bekerja sama dengan mereka. Padahal Reihan ingin memecah rekan satu timnya untuk bergabung dengan tim lain agar dia bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak. Tapi, mereka tidak menginginkannya. "Gue jadi makin curiga sama mereka." bisik Abigail. "Iyakan, apa yang gue bilang. Pasti ada hal yang mereka sembunyikan." Andreas pun ikut menimpali. "Udah, kalian berdua nggak usah banyak omong dulu. Kita bahas ini nanti, jangan di sini dan jangan sekarang. Terlalu beresiko, Bro." Saran Anton yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik anggota interpol lainnya. Abigail dan juga Andreas masih tidak bisa diam saat ini. Mereka berdua mulai berspekulasi terhadap sikap dari orang-orang itu. Anggota BIN pun ingin bergerak sendiri. Mereka tidak mau bekerja sama dengan Reihan dan yang lainnya. *** Reihan masuk ke dalam kamar hotel baru yang dia sewa. Akibat kejadian di club malam itu, mereka semua terpaksa pindah hotel dan semua rencana yang sudah disusun oleh Leonard pun berubah total. "Anjing!!! buat apa mereka ikut kita ke sini kalau mau bergerak sendiri-sendiri!" Reihan pun melempar sembarang map yang sedari tadi dia pegang. Dia sudah cukup lama menahan emosinya. Kalau tidak ingat mereka harus bekerja sama, sudah dia hajar semua orang itu satu persatu. Inilah alasannya selama ini tidak mau bekerja sama dengan tim lain selain timnya. "Sabar, Bos. Walaupun gue juga heran sama mereka, tapi kita nggak bisa langsung melaporkan hal ini. Bisa-bisa kita yang bakal kena imbasnya. Mereka terlalu kuat soalnya." Anton mencoba menenangkan Reihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN