Fakta Baru

1420 Kata
Reihan melempar ponselnya sembarangnya. Setelah menerima telepon dari Leonard dia benar-benar di buat kesal. Pasalnya dia dan timnya diperintahkan untuk kembali ke kantor. Misi pencarian anggota BIN dan juga korban penculikan dan perdagangan manusia akan dilimpahkan sepenuhnya kepada tim dua. “Kenapa, Bro?” Tanya Abigail yang sudah bisa menebak apa yang membuat Reihan sekesal ini. “Kita disuruh pulang." jawab Reihan singkat. “Hah? Kok bisa? Memangnya sudah selesai? Atau kasus ini akhirnya di tutup lagi seperti biasa?” Tanya Anton, dia pun ikut kesal dengan berita ini. “Entah. Cepat kemasi barang kalian, kita pulang sekarang juga dengan penerbangan paling awal.” Perintah Reihan tegas. Dia langsung berjalan menuju kopernya dan memasukkan semua barang yang berserakan di ke dalam koper dan juga tas ranselnya. Mau tidak mau ketiga rekannya yang lain ikut membereskan barang-barang mereka. Andreas memperhatikan raut wajah Reihan yang tampak sangat kesal. Dia tidak berani bertanya, karena dia tidak mau menjadi sasaran emosi Reihan saat ini. Lima belas menit waktu yang mereka habiskan untuk mengemas semua barang milik mereka dan langsung check out dari hotel ini. Di kejauhan tim dua tersenyum melihat Reihan dan ketiga rekannya pulang hari ini. Sedangkan anggota BIN yang lain heran dengan hal itu. Padahal mereka menganggap Reihan dan ketiga rekannya sangat apik dalam bekerja. “Sepertinya ada hal yang ganjil di sini. Gue ngerasa kita bakal kena masalah.” Ucap Adi resah. “Sudahlah, biarkan saja itu menjadi masalah internal mereka. Kita hanya butuh fokus untuk mencari keberadaan Queen dan Jessy.” Boy pun anggak bicara. *** Jakarta, 12 : 00 WIB Leonard masih diam di kursinya. Dia sedang membaca isi map yang diserahkan oleh Reihan. Map itu berisikan laporan semua hal yang mereka kerjakan selama di Tiongkok. Leonard pun tersenyum penuh arti sambil menutup map tersebut. “Kerja kalian memang tidak pernah mengecewakan.” Ucap Leonard sambil berdiri dari kursi kebesarannya. Dia berjalan mendekati keempat bawahannya yang saat ini sedang menunggu instruksi selanjutnya. Satu persatu anggota tim Alpha itu dia perhatikan. Dari raut wajahnya pun Leonard tahu jika saat ini mereka berempat tampak kesal. Dan ingin meluapkan kekesalan mereka. “Ada yang ingin kalian sampaika?” Tanya Leonard akhirnya. “Kenapa kami diperintahkan untuk kembali? Bukankah target belum berhasil ditemukan?” Tanya Andreas. “Karena saya begitu sayang kepada kalian. Saya tidak mau anggota terbaik di instansi ini mendapatkan masalah dan harus bertanggung jawab dengan apa yang tidak kalian lakukan.” Jawab Leonard santai. Mendengar itu Reihan dan yang lainnya pun mengernyitkan dahi karena tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Leonard. Leonard pun mulai menjelaskan kepada mereka berempat. Mereka memiliki tugas lain saat ini. Kasus itu memang masih ditangani oleh mereka, tapi tidak secara langsung. Andreas ditugaskan untuk melacak keberadaan seseorang. Semua data pun sudah ada di tangan Leonard. mendengar penjelasan itu, mereka terlihat bingung. Karena apa yang baru saja Leonard bicarakan adalah wewenang dari BIN. Bukanlah wewenang Interpol. “Jadi, kerjakan semua yang saat ini saya perintahkan kepada kalian. Saya yakin kalian dapat menemukan dua orang itu dalam waktu singkat. Semua laporan kalian akan saya berikan kepada petinggi BIN. Dan tidak lama lagi mereka pun akan menarik anggota mereka untuk kembali pulang.” “Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?” tanya Reihan penasaran. “Semua pertanyaan yang ada di kepala kalian akan terjawab jika kalian menemukan mereka berdua.” Jawab Leonard. “Sekarang kalian boleh pergi. Laporkan apapun yang kalian temukan secepatnya.” Lanjutnya lagi. “SIAP, Pak!” Jawab mereka berempat. Setelah memberikan hormat, mereka langsung keluar dari ruangan Leonard dan kembali ke ruang kerja mereka. Ruang kerja ini diperuntukkan hanya untuk mereka berempat saja. Jadi, mereka bisa melakukan semuanya dengan leluasa. Andreas mulai menghidupkan komputernya, saat ini adalah waktunya bekerja. Selama di Tiongkok kemarin dia tidak bisa mengakses semua data yang berseliweran di jagat maya. Tapi, di sini dia bisa melakukan sema itu. Bahkan jika dia mau dia bisa mengintip isi saldo yang ada di rekening seorang Leonard serta semua transaksi yang dia lakukan. Tangan Andreas pun menari-nari di atas keyboard berwarna merah menyala itu. Sedangkan yang lainnya sibuk menganalisa kejadian yang mereka alami selama di Tiongkok. Reihan merunut semua kegiatan yang mereka lakukan dan mencari celah kosong dari semua itu. Dia masih penasaran dengan sosok kakek tua yang dikenal sebagain Tuan Edward itu. Padahal mereka Sudah mencari tahu semuanya. Tapi, tidak ada satu pun yang dapat mereka temukan. Data tentang Tuan Edwar serasa sengaja ditutupi. Dan akses ke data itu diblok dengan sistem keamanan yang cukup tinggi. “Guys… gue dapet informasi dikit nih tentang Tuan Edward.” Teriak Andreas semangat. Reihan dan ketiganya pun langsung mendekat. mereka benar-benar penasaran dengan siapa Tuan Edward sebenarnya. Reihan membaca cepat informasi yang terpampang di layar monitor yang ada di hadapannya. Dia pun terkesima dengan semua informasi itu. Ternyata Tuan Edward bukanlah orang baru di duni hitam ini. Dia merupakan seseorang yangs angat penting. Dan untuk membuktikan jika dialah dalang dari semua penculikan itu tidak mudah. Mereka berempat harus benar-benar mencari tahu, dan mengurai benang kusust yang saat ini ada di depan mata mereka. “Keren banget sih tuh kakek tua. Gue nggak nyangka dia bisa sekeren itu.” Abigail pun berkomentar sinis. “Jadi rencana kita selanjutnya apa?” Anton pun menatap Reihan serius. Dia menunggu keputusan Reihan. “Kita tunggu saja beberapa hari lagi. Gue yakin dia bakal membawa Queen ataupun Jessy ke tempat lain. Karena gue yakin harga mereka pasti tinggi. Tidak mungkin hanya dijadikan wanita penghibur di club saja.” Jawab Reihan. “Benar kata Bang Reihan. Karena setelah gue selidikin, Queen adalah anak dari salah satu jendral bintang satu di negara ini. Kebayang dong gimana hebohnya di sana?” Sela Andreas sambil nyengir kuda. “Hah? Serius lo? Dapet informasi dari mana?” Tanya Anton bersemangat. Andreaspun menekan alt-tab di keyboardnya dan terbuka halaman yang lain. Di layar monitor yang menampilkan halaman baru itu tertera semua informasi mengenai siapa Queen. Sekarang mereka mulai paham, kenapa sampai Queen dan Jessy pun ikut dibawa oleh Tuan Edward. Hal ini bukan hanya sekedar masalah warga sipil. “Gue yakin, orang-orang di intelegen sana sebentar lagi bakalan bergerak. Makanya kita ditarik mundur.” Abigail pun buka suara. Dia mengutarakan pikirannya. “Bukan, bukan karena itu. Kita di tarik mundur karena ada kepentingan mereka yang tidak boleh kita ketahui.” Sela Reihan Sambil tersenyum miring. Saat ini dia sudah mulai paham apa yang terjadi saat ini. “Kasus ini jadi lebih menarik sekarang. Gue penasaran, kira-kira tim dua bakal ngapain aja di sana? Apakah mereka bakal jadi keset kaki Tuan Edward? Atau mereka bakal jadi anjing dia?” “Entahlah, yang pasti, mereka terlibat dalam hal ini. Lo pikir aja, Bro, gimana ceritanya dua kasus sebelumnya ditutup begitu saja kalau tidak ada campur tangan orang-orang atas. Kan kita menerima perintah dari atasan.” Sela Anton. “Bener banget. Dan mau tahu nggak hal yang lebih menarik lagi?” Andreas pun menaik turunkan alisnya dramatis. Dia sengaja melakukan itu untuk memancing rasa penasarana ketiga rekannya. “Apa?” Tanya Abigail langsung lebih mendekat ke arah Andreas. “Nih lihat, Kakek Edward itu bininya banyak, coy! Ada lima wee… masih muda semua pula. Bener-bener holang kaya dia.” Ucap Andreas sambil cekikikan. Seketika Anton langsung kesal dan memukul kepala Andreas dengan buku yang ada di dekat meja temannya itu. Sedangkan Reihan dan Abigail langsung menjauh. Mereka tidak mau menghajar Andreas saat ini. Andreas pun langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah kesal ketiga temannya. “Kampret lo! Gue kira serius, nggak tahunya kita dibecandaain dong. Dosa lo dosa sama orang tue gitu.” Cecar Anton kesal. “Halah, gini aja lo inget dosan, Bang. Biasanya juga lo yang suka buat dosa. Mau gue sebutin apa aja, hah?” Tantang Andreas. “Apa coba? Gue penasaran dosa gue apa?” “Pertama, lo yang pake underware barunya Abigail karena saat itu semua underware lo kotor. Terus baju baru yang Bang Reihan beli untuk sepupunya lo embat juga dan lo kasiin ke adek ketemu gede lo. Terus….” Kata-kata Andreas pun terhenti karena saat ini Anton sedang menutup mulut lemes Andreas. Sedangkan Abigail dan juga Reihan langsung menatap tajam ke arah Anton. Dari sorot mata keduanya, bisa dipastikan Anton tidak akan bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat hari ini. Entah apa yang akan dia gadaikan. Mungkin nyawanya pun akan tergadai hari ini. “Lemes banget sih mulut lo! Lo nggak tahu apa kita lagi ada di mana sekarang, hah?” Geram Anton. Dia pun mulai melihat ke kanan dan ke kiri, dia mencari tempat yang aman untuknya menghindar saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN