Jessy

1035 Kata
Anton terkejut bukan main saat dia keluar dari kamar dan melihat ada orang yang sedang duduk membelakanginya di kursi bar yang ada di dapur. Hampir saja dia melempar orang itu dengan cangkir kosong yang dia bawa dari dalam kamar. Malam ini dia terpaksa keluar kamar karena air di kamar habis dan dia sangat haus. “Gila ya lo! Gue kira setan, anjir!” Bentak Anton. Andreas yang sudah mengantuk pun hanya melihatnya sekilas dan kembali fokus dengan gelas kopinya yang tinggal setengah. Dia ingin sekali tidur saat ini tapi apalah daya, apa yang dia kerjakan saat ini benar-benar tanggung. Rasa penasarannya semakin besar setiap kali dia menemukan fakta baru tentang siapa Tuan Edward. “Ngapain lo sendirian di sini?” Tanya Anton sambil menuang air ke dalam gelas yang dia bawa. “Minum kopi. Biar gue masih bisa melek.” Jawab Andreas singkat. “Kalau ngantuk ya tidur. Ngapain lo maksain melek kalau ujung-ujungnya nggak konsen.” “Iya…” “Sudah, nggak Usah maksa, itu mata lo udah kayak orang sakau tahu nggak. Tidur sana!” “Iya…” jawab Andreas lagi. Anton yang kesal melihat tingkah Andreas pun langsung menarik paksa tubuh Andreas dan membawanya ke kamar. Dia selalu kesal jika melihat tingkah Andreas yang seperti ini. Karena ujung-ujungnya mereka yang akan susah. “Kenapa lagi dia?” Tanya Abigail yang melihat Anton menyeret paksa Andreas masuk ke dalam kamar. “Biasa, nih anak sudah ngantuk tapi masih aja maksa buat kerja. Besok yang susah kita-kita juga.” Jawab Anton kesal. “Kekep aja udah! Jangan biarin kabur.” “Rencananya gitu. Lo mau kemana? Malem-malem rapi bener.” “Ada urusan bentar.” “Sekarang? Di jam segini? Mau ketemu sama siapa lo? dedemit?”  “Sembarangan kalau ngomong. Hati-hati itu mulut! Beneran muncul di depan lo baru tahu rasa!” Abigail pun langsung berjalan keluar dari apartemen ini. Reihan yang belum tidur, mendengar semua kegaduhan itu dari dalam kamarnya. Dia sengaja tidak keluar dari kamarnya. Karena jika dia keluar, pasti banyak hal yang akan ditanyakan oleh Anton. Reihan pun melanjutkan lagi apa yang dia kerjakan. Layar laptop yang ada di depannya sedang memutar sebuah video. entah sudah berapa kali Reihan memutar ulang video ini. Menurut Reihan ada yang janggal dalam video itu. Dia mendapatkan rekaman itu dari Leonard, dan rekaman ini berasal dari salah satu kamera dashboard mobil pengunjung club malam itu. Leonard meminta Reihan untuk memperhatikan video itu. Setelah puluhan kali memutar ulang rekaman itu akhirnya Reihan pun menemukan sesuatu. “Gotta ya! Akhirnya gue bisa menemukan lo!” Ucap Reihan sambil berdiri. Dia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Anton. Tanpa menunggu jawaban dari Anton, Reihan langsung membuka pintu itu. Anton pun berpura-pura kaget saat melihat Reihan sudah ada di dalam kamarnya. “Sudah nggak usah lebai! ada yang mau gue bahasa sama lo!” Reihan pun mengajak Anton untuk masuk ke kamarnya. Reihan menunjukkan layar laptopnya yang menampilkan video yang sedang di jeda. Di layar itu terlihat seorang wanita yang berdandang cukup menor. Reihan meminta Anton untuk memperhatikan perempuan itu dengan seksama. “Jangan bilang kalau orang ini Jessy!” Ucap Anton hati-hati. “Lo sependapat sama gue! Gue juga awalnya mikir orang ini bukan dia, tapi semakin gue perhatikan ternyata ini mirip banget sama dia. Yang membuatnya beda hanya potongan rambutnya dan dandanannya saja.” “Jadi, dia yang selalu ada di sekitar si kakek tua b*****t itu?” Tanya Anton tidak percaya. “Menurut gue begitu.” “Dengan kata lain, dia adalah orang yang bekerja sama dengan Tuan Edward.” “Sepertinya begitu. Dia menjadi kaki tangan Tuan Edward.” “Gila ya, anggota BIN bisa segila ini. Tapi, dia lagi tidak senang menyamar ‘kan? Lo tahu sendiri lah mereka suka melakukan pendekatan secara nyata ke pihak musuh. Dan bisa jadi dia pun sedang berakting, lo tahu sendiri kan orang-orang BIN suka melakukan penyelidikan dengan cara seperti itu.” “Tapi, menurut gue, kali ini dia tidak seperti itu. Lo inget apa yang dikatakan oleh Pak Leonard? Ada orang BIN yang terlibat dalam hal ini. Dan di balik dia ada organisasi besar yang melakukan bisnis haram ini.” “Inget banget, Bro. Tapi, apa iya nih cewek polos bisa melakukan hal ini?” “Lo lupa sama mantan lo itu? Cewek polos yang hanya mengincar materi lo aja. saat dia ketemu inang lain yang lebih segar dan menjanjikan lo dibuang gitu aja.” “Ck! pake bawa-bawa itu. Oke anggaplah gue percaya dia adalah kaki tangan Tuan Edward di BIN, selanjutnya apa?” “Kita cari tahu di mana orang itu sekarang!” Jawab Reihan mantap. “Andreas sudah tidur. Kalau lo mau nyuruh dia yang kerja mending besok aja. sekarang kita tidur aja. besok lanjut lagi bahasnya. Pak Leonard ada kasih perintah yang lain?” “Tidak ada.” “Good then. Jadi, kuy kita tidur sekarang. Gue sudah ngantuk banget.” Anton pun hendak membalikkan badan tapi, gerakannya itu ditahan oleh Reihan. “Abigail tadi mau kemana?” Tanya Reihan. “Mana gue tahu. Gue tadi nanya sama dia, tapi nggak dia jawab. Sepertinya dia mau menemui seseorang dai kantor. Karena pakaianny arapi banget.” “Kalau dia mau menemui orang dari kantor kenapa tidak mengatakannya secara langsung?” “Tau ah! Lo telepon aja kalau memang penasaran. Gue udah ngantuk banget ini. Bye!” Anton langsung berjalan cepat dan masuk ke dalam kamarnya. Dia mengunci pintu itu rapat-rapat agar Reihan tidak kembali masuk ke dalam kamarnya dan memulai mengerjakan sesuatu yang paling bisa membuat semua orang tidak tidur semalaman. *** Abigail sedang memperhatikan kanan dan kirinya. Dia terlihat sangat waspada, saat ini dia tampak sedang menunggu kedatangan seseorang, entah orang itu siapa. Tapi, gerakan Abigail itu benar-benar yang mencurigakan. Sebuah mobil sedan hitam pun berhenti tepat di depan Abigail. Seseorang menurunkan kaca mobil dan meminta Abigail untuk masuk ke dalam mobil. Dia tidak mau ada yang melihat percakapan mereka. Karena reputasinya akan kacau di mata media dan juga publik. Abigail pun langsung memasuki mobil tanpa banyak bertanya. “Sudah lama menunggu?” tanya orang yang saat ini tengah menghisap cerutunya. “Tidak terlalu. Jika lima menit adalah waktu yang lama, maka saya sudah sangat lama menunggu Anda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN