Leonard tersenyum saat melihat Reihan dan Anton menatapnya dengan serius. dua orang itu sudah menjelaskan panjang lebar maksud dan tujuan mereka datang ke kantornya hari ini. Tapi, lihatlah reaksi itu, benar-benar tidak mengenakkan sama sekali untuk di lihat. Reihan pun menghembuskan napasnya kesal.
“Pak, kami sudah berbicara panjang lebar, tapi reaksi Anda hanya tersenyum. Apakah ada hal yang lucu di sini?” Anton pun bertanya dengan nada kesal.
“Reaksi kalian benar-benar lucu dan menggemaskan. Saya merasa sedang berbicara dengan anak sekolah dasar saat ini.”
“Hah? Yang benar saja, Pak. Jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang?”
“Cari tahu posisi mereka ada di mana. Barulah kita akan tahu apa rencana selanjutnya. Bagaimana?”
“Baiklah kalau memang itu yang Bapak mau.”
“Ngomong-ngomong di mana Andreas dan juga Abigail? Kenapa hanya kalian berdua yang menghadap saya saat ini?”
“Mereka semua sedang melakukan tugas penting.” Jawab Reihan tak acuh.
“Apa? tidur? Mereka bergadang lagi semalaman sampai lupa untuk bangun pagi?”
“Begitulah.” Jawab Reihan lagi. Dia terlihat sangat tidak memperdulikan pertanyaan dari atasannya ini.
Akhirnya mereka berdua pun pamit undur diri dari ruangan Leonard. Saat keluar dari ruangan, mereka berpapasan dengan anggota tim dua. Anton pun bingung sejak kapan mereka kembali ke sini. Bukankah mereka masih ada di Tiongkok? Apakah kasus ini ditutup juga sama seperti kasus-kasus sebelumnya? Itulah yang ada di dalam pikiran Anton saat ini.
“Tidak perlu kau pikirkan serisu begitu. Kita sudah sama-sama tahu jawabannya ‘kan? Jadi, jalan saja tidak perlu memaksakan matamu seperti itu.” Reihan pun menyeret Anton untuk berjalan lebih cepat lagi dan masuk ke dalam ruangan mereka.
“Gila ya, sepertiya pengaruh Tuan Edward itu sangat besar. Bisa-bisanya dia pun lolos saat ini, gue jadi semakin penasaran sama manusia satu itu.” Anton langsung duduk di kursinya, lalu menyalakan komputer. Dia ingin segera mendapatkan informasi tentang Tuan Edward sebanyak-banyaknya. Baru saja jari-jarinya ingin menari di atas keyboard, Reihan langsung menepisnya.
“Jangan pakai komputer dan juga jaringan di sini untuk menyelesaikan kasus ini.”
“Ah… lo bener juga. Jadi sekarang kita ngapain dong?” Anton pun berdiri dari lagi.
“Kita ngopi dulu.” Reihan pun mengajak Anton untuk keluar menuju lobi kantor ini.
Dari coffee shop di lobi dia bisa melihat orang yang lalu-lalang. Dan dari sana pun bisa terlihat siapa saja orang-orang yang keluar masuk dari kantor ini. Ada hal yang ingin Reihan ketahui saat ini. Karena menurut kabar yang dia terima anggota tim dua sering mengobrol dengan seseorang di coffee shop yang ada di lobi.
***
Tepat pukul sembilan malam, Reihan mendapatkan telepon dari Leonard. Mereka di tugaskan untuk pergi ke Kolombia, salah satu negara yang ada di Amerika Latin. Dan misi ini adalah misi rahasia, tidak ada orang yang tahu. Yang mengetahuinya hanyalah Leonard dan anggota Tim Alpha.
Besok Reihan dan ketiga anggota Tim Alpha lainnya sudah harus berangkat ke bandara dan menaiki pesawat menuju negara itu. Sudah ada anggota interpol lain yang menunggu di sana. Mereka harus bekerja sama dengan agent dari negara itu, karena kasus ini pun sudah menjadi masalah bersama dua negara.
***
Saat ini Reihan, Anton, Abigail, dan Andreas sudah tiba di Bogota, ibu kota Kolombia. Mereka sudah berjalan menuju tempat pertemuan mereka dengan agen interpol lainnya.
Reihan langsung mengernyit bingung saat mereka sampai ditempat tujuan. Karena tempat yang mereka datangi saat ini adalah salah satu club malam di negara ini. Malam ini club malam ini sangat ramai. Dan hal ini membuat Reihan makin tidak nyaman.
“Nggak salah kita masuk ke sini?” tanya Reihan malas kepada Anton.
“Nggak. Emang sesuai interuksi kita di suruh ke sini.”
“Mau ngapain sih? Gue paling males deh dateng ketempat kek begini.”
“Ck! Lama aja lo tinggal di luar negeri tapi masih aja cupu.”
“Kalo lo lupa gue ingetin lagi. Gue tinggal di luar negeri karena gue sekolah, bukannya agi liburan buat cari Wanita penghibur.”
“Ya…ya…ya… gue percaya deh. Please, nggak usah ceramat di sini. Gue masih inget dengan sangat kalo temen gue yang sekarang ada di samping gue ini tidak pernah sua datang ke club malam kecuali untuk menyelesaikan tugas negara.”
Sebelum Reihan menyelesaikan kata-katanya Anton sudah lebih dulu menyela. Karena dia tahu apa saja yang akan dikatakan Reihan. Partnernya ini memang paling malas jika datang ke tempat-tempat seperti ini selain untuk menyelesaikan misi.
Mereka langsung masuk ke dalam club malam ini, kemudian langsung berjalan menuju salah satu ruangan VIP yang ada di lantai dua. Saat pintu itu terbuka sudah ada beberapa orang di sana yang ditemani oleh wanita-wanita penghibur.
Dengan malas Reihan memandangi orang – orang itu satu per satu. Dugaannya tidak salah, pastilah hal seperti ini akan terjadi jika dia datang ke tempat seperti ini. Karena semua anggotanya sudah datang, maka para wanita penghibur itu disuruh keluar.
Dua orang yang tadi sedang bersenang-senang langsung mengeluarkan alat pendeteksi alat sadap dan benda lainnya. Setelah semuanya aman barulah mereka mengeluarkan beberapa dokumen yang mereka bawa.
Reihan dan yang lainnya langsung mengambil dokumen itu dan membacanya dengan seksama. Ternyata itu adalah laporan penyelundupan narkoba dari luar ke Indonesia. Dan salah satu bandar besarnya saat ini sedang berada di club malam ini.
“Kita sudah bekerja sama dengan badan narkotika setempat dan sepertinya di instasi itu tidak bersih. Karena selama pemantauan, mereka sangat berhati-hati dan sepertinya pergerakan kita selalu diawasi.” Jelas orang yang menjadi pemimpin dalam misi ini.
“Karena wajah kalian belum dikenali oleh mereka. Jadi tugas ini saya alihkan kepada kalian. Tapi tetap harus melaporkan semuanya kepada kami.” Lanjutnya lagi.
“Berapa lama waktu yang kami miliki?” tanya Anton santai sambil menyesap minuman yang ada di depan matanya.
“Dua minggu. Dan kita sudah harus membawa mereka kembali ke kandang.”
Reihan langsung mengajak ketiga rekannya untuk keluar dari tempat ini. Dia tidak mau berlama-lama di dalam sini. Anton pun menyayangkan hal itu. Padahal minuman di dalam sini sangat enak menurut lidah kampungnya.
"Bang, maksud mereka tadi itu anggota tim dua ya?" tanya Andreas kepada Abigail.
"Bisa jadi iya, bisa jadi juga bukan. Jadi kita harus waspada saja." jawab Abigai.
Andreas pun mengangguk paham, Reihan langsung mengajak ketiga anggota timnya untuk berpencar mencari target yang baru saja mereka lihat di layar handphone masing-masing. Reihan langsung ternganga, ternyata target mereka yang merupakan bandar besar ini adalah seorang perempuan. Dan dia terlihat seperti seumuran dengan ibunya.
“Nggak salah nih, dia yang jadi target kita?” tanya Abigail.
“Jangan meremehkan emak-emak satu ini. Selain bandar besar dia juga merupakan mucikari. Bawahannya banyak, dan dia ahli dalam menggunakan senjata api. Serta dia juga bisa melawan kalian dengan tangan kosong.” Jelas pimpinan interpol yang tadi mereka temui, entah sejak kapan dia sudah berdiri di belakang Abigail.
Semua orang yang ada di sana langsung takjub mendengar penjelasan singkat itu. Ternyata target mereka saat ini tidak bisa diremehkan. Terlihat seperti wanita paruh baya pada umumnya. Tapi, di alebih berbahaya dari pada seekor semut api besar.
“Kabar terbaru yang kami terima, saat ini dia sedang bersama putri kesayangannya. Dan merupakan pengedar juga. Jadi, kalau kalian bisa menangkap mereka berdua, negara akan sangat berterima kasih. Karena mereka berdua sudah masuk ke dalam DPO tingkat satu. Dan yang paling penting jika kalian berhasil menangkap mereka, kalian pun akan bisa menyelesaikan misi untuk menangkap Tuan Edward.”
Reihan menatap pimpinan itu dengan tatapan tidak percaya. karena sejauh yang dia tahu, menangkap Tuan Edward tidaklah semudah itu. Orang itu bak belut, dia sangat licin dan pergerakannya pun sangat cepat. Dia sudah bisa memprediksi apapun yang akan mereka lakukan.
Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya mereka mengangguk paham dan langsung melakukan tugas yang diberikan. Reihan yang paling malas berhadapan dengan wanita-wanita tidak jelas, langsung menghampiri meja bartender dan memesan sunrise tequilla.
Reihan masih memperhatikan sekitar dan tiba-tiba ada satu tangan lentik menyentuh pahanya. Dengan rasa kesal Reihan langsung melihat siapa siempunya tangan itu. Bagaikan dapat jackpot, Reihan langsung tersenyum ramah kepada wanita itu. Ya, wanita itu adalah Jessy, target kedua mereka selain madam Gee sang target utama.
Padahal baru dua hari yang lalu dia sedang mencari keberadaan wanita satu ini. Tapi, lihat sekarang. Justru dia yang menghampiri Reihan dengan suka rela. Reihan pun memesan satu minuman yang sama dengannya kemudian memberikan minuman itu kepada Jessy.
“Long time no see…” sapa Jessy.
“Cih! Selama apa kita tidak bertemu, Nona? Padahal seingatku ini adalah kali pertama kita bertemu.” Jawab Reihan sambil tersenyum sinis.
“Ya, mungkin jika bertatap muka seperti ini merupakan kali pertama bagi kita. Tapi, aku yakin kalau kamu sudah menggali informasi tentangku sangaaaat dalam.” Nada suara Jessy barusan membuat Reihan ingin memuntahkan semua isi perutnya. Wanita ini salah jika menganggap dia akan tergoda dengan nada bicara yang menjijikan seperti itu.
“Well bisa dikatakan seperti itu. Jadi, apa yang membuatmu mendekatiku?” Reihan pun langsung berbicara to the point. Dia tidak mau berbasa-basi dengan wanita seperti Jessy. Dia tahu Jessy mendekatinya karena ada tujuan yang ingin dia capai.
“Aku ingin bersenang-senang denganmu, Tuan Reihan yang tampan.”
“Sayangnya aku tidak tertarik.”
“Oya? apakah kau benar-benar tidak tertarik dengan kehangatan yang akan aku berikan kepadamu malam ini?”
“Tidak sama sekali! karena aku yakin kau selalu menawarkan itu kepada semua laki-laki yang baru kau temui.”
Jessy pun menampar Reihan dan menyiramkan minumannya ke muka Reihan. Sejenak semua orang yang ada di sekitar mereka memperhatikan keduanya, tapi tak lama berselang mereka kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di club malam seperti ini kejadian barusan sudah sangat sering terjadi.
Reihan pun mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membersihkan sisa-sisa minuman di wajahnya. Satu tangannya mengepal kuat, dia paling tidak suka diperlakukan seperti ini. Ingin berbuat kasar pun tidak bisa, karena pantang baginya melakukan tindakan kekerasan kepada seorang wanita. Mau apapun profesinya dan siapapun orangnya.
“Gila, tu cewek bener-bener cari mati. Bisa-bisanya dia begitu sama si Reihan.” gumam Anton dari kejauhan. Abigail yang ada di sampingnya pun hanya bisa tersenyum miris.
“Bang, kira-kira ujungnya gimana tuh?” Tanya Andreas yang mendekati kedua orang itu.
“Kagak tahu gue. yang pasti dia bakal pergi dari sana. Nggak bakal mau dia dipermalukan lebih dari itu.” Jawab Anton sambil menyesap minuman yang ada di tangannya.
Dengan perasaan kesal Reihan langsung membawa Jessy pergi dari tempat ini. Dan hal itu membuat Anton dan juga Nyonya Stephani yang sedari tadi memperhatikan putri kesayangannya mengernyitkan dahi. Nyonya Stephani pun meminta seseorang untuk mengikuti mereka berdua.
Tak berapa lama mereka tiba di kamar hotel Jessy. Reihan harus melakukanini karena dia ingin menggali informasi yang sangat banyak dari wanita satu ini. Dengan tidak sabaran, Jessy pun langsung menyatukan bibirnya dan bibir Reihan. Karena hal ini harus dilakukan, maka Reihan pun mengikuti permainan ini.
Betapa beruntungnya Reihan karena tidak harus mencicipi hidangan utama. Jessy tiba-tiba jatuh pingsan di pangkuan Reihan. Dengan sabar Reihan menggendong Jessy ke atas ranjang, dan melucuti pakaiannya satu persatu lalu melemparnya kesembarang arah. Tanpa rasa canggung Reihan pun menutupi tubuh polos wanita itu dengan selimut tebal yang ada di kamar hotel ini.
Sedangkan dia lebih memilih tidur di sofa. Dia malas berdekatan dengan wanita bau alkohol seperti itu. Reihan memang bukanlah lelaki bersih, tapi dia tidak suka dengan wanita yang bau alkohol jika ingin memuaskan hasratnya. Dia sangat pemilih.
Walaupun selama ini dia dikenal tidak pernah dekat dengan wanita, tapi mereka tidak pernah tahu, kalau dia juga butuh hal itu. Tapi, seorang Reihan Aksara tidak melakukannya secara terang-terangan, dia selalu bermain cantik.
***
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk ke dalam kamar ini melalui sela-sela tirai yang tidak tertutup dengan rapat. Hal itu langsung membuat Reihan terbangun dari tidurnya. Dia melihat kondisi Jessy yang masih terlelap di atas ranjang yang sengaja dibuat sedikit berantakan oleh Reihan. Lalu dia masuk ke kamar dan membersihkan dirinya.
Mendengar ada bunyi suara air dari dalam kamar mandi, membuat Jessy membuka matanya perlahan. Dan dia langsung mendapati dirinya yang sudah polos. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam. Yang dia ingat dia sudah sangat mabuk, lalu mengajak laki-laki asing untuk ikut ke hotel dan langsung mencium laki-laki itu. Kemudian dia tidak ingat lagi.
Tak lama suara air itu pun berhenti dan menampilkan Reihan keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a. Rambutnya yang masih meneteskan air itu membuat Jessy menelan salivanya dengan susah payah.
“Hai. Selamat pagi. Sudah sadar, hmm?”
“Hai. Apakah semalam kita….” Kalimat itu masih menggantung di tenggorokannya. Dia masih tidak ingat dengan apa yang terjadi malam tadi.
“Apa kamu lupa? Padahal aku sangat menikmati permainanmu loh. Aku sangat ingin mengulangnya. Tapi, sayang aku harus pergi pagi ini. Ada hal yang harus aku kerjakan dan itu tidak bisa ditinggalkan.” Jawab Reihan dengan wajah penuh penyesalan dan pengharapan.
“Oh, begitu. Baiklah. Tidak apa.”
“Ehm… jangan kecewa seperti itu Jessy. Apa aku boleh meminta nomermu? Mungkin lusa kita bisa bertemu lagi.”
Mendengar itu Jessy langsung tersenyum sumringah, dia sangat senang. Karena dia sudah tertarik dengan laki-laki di depannya ini. Dengan malu-malu Jessy mengambil handphone yang disodorkan Reihan dan mengetikkan nomer telponnya di sana.
“Apakah kita benar-benar akan bertemu lagi setelah ini?” tanya Jessy ragu.
“Sure. We will. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Nanti aku hubungi.” Reihan langsung memakai kaos hitam polos dan jaket kulitnya. Menyisir rambutnya asal dan langsung keluar dari kamar hotel ini.
Gue memang akan mendatangi lo lagi, dan menghubungi lo, jalang! Lo pikir apa motif gue mau ikut ke sini? Gerutu Reihan dalam hati.
Dia langsung mempercepat langkahnya dan menghilang di balik pintu lift. seseorang yang sedari malam mengikuti mereka berdua langsung melaporkan hal itu kepada Nyonya Stephani. Di seberang telepon itu Nyonya Stephani pun mengepalkan tangannya kuat.