Reihan sadar saat ini dia sedang diikuti. Pasti mereka adalah orang-orang Nyonya Stephani jadi dengan terpaksa dia menaiki taksi dan meminta sang sopir mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Sangat bahaya jika orang-orang itu mengetahui siapa dirinya.
Di tempat yang tidak jauh dari sana, Anton dan tim yang lain juga memperhatikan setiap gerak gerik Reihan dan orang-orang yang mengikutinya. Saat Reihan menaiki sebuah taksi,, Anton langsung bergegas menghampiri motor yang dia parkir tak jauh dari tempatnya berdiri sedari tadi.
Di tengah jalanan yang cukup padat, Anton berusaha untuk tidak kehilangan jejak taksi tersebut. Tapi sayang dia tidak memperhatikan sekitarnya dan tiba-tiba saja ada satu van melaju sangat cepat dan menabraknya dari sisi kiri. Kecelakaan itu tidak bisa dielakan.
Dengan susah payah Anton berusaha berdiri dan menepi kepinggir jalan. Setelah berhasil menepi, dia melihat van yang menabraknya tadi langsung kabur. Beruntungnya dia bisa melihat plat nomor mobil itu, dan langsung mencatatnya di handphonenya. Tak berapa lama tim yang lain mendatanginya dan langsung menolong Anton dan membawanya ke rumah sakit yang tidak jauh dari sana.
Reihan yang sudah sampai di rumah sakit ini langsung turun dan masuk ke ruang gawat darurat. Dia menyelinap ke sana dan berusaha mencari ruangan yang bisa dia pakai untuk mengganti baju. Saat sudah menyusuri ruangan ini, Reihan menemukan satu ruangan yang berada paling belakang yang bertuliskan staff medis, dan langsung memasukinya.
Beruntung tidak ada satu orang pun di sana. Reihan juga melihat satu buah seragam yang sepertinya muat untuk dia kenakan. Dengan cepat dia mengganti seragamnya dan memakai maskernya. Dan langsung menyambar Snelli yang tergantung di sana, lalu keluar ruangan.
Ada satu perawat yang bingung saat melihat Reihan mengenakan masker tapi dia tidak ambil peduli, karena saat ini tugasnya adalah mengantarkan darah yang sudah dia ambil dari salah satu pasien.
Saat Reihan ingin melewati meja perawat, salah satu perawat itu menghentikan langkahnya. Reihan mulai was-was. Jangan-jangan perawat itu sadar kalau dia bukanlah dokter yang bekerja disini.
“Dokter, maaf. Ada pasien yang baru datang. Dia korban tabrak lari, dan sepertinya lukanya cukup parah. Apakah bisa dokter memeriksanya?” tanya sang perawat.
Hampir saja, Reihan pun bisa bernafas lega saat ini. Dan langsung berjalan di belakang perawat itu untuk mengecek kondisi pasien yang tadi dia sebutkan. Perawat itu menyibakkan tirai yang menutupi brankar, dan menjelaskan kondisi pasien setelah dilakukan pengecekan tekanan darah, suhu tubuh, nama, jenis kelamin, dan juga luka yang terdapat di beberapa bagian tubuhnya.
Orang-orang suruhan Nyonya Stephani pun mencari-cari Reihan. Mereka harus menemukannya dan membawa laki-laki yang sudah bersama anak dari tuan mereka itu. Jika tidak, Nyonya Stephani pasti akan murka. Dari tempatnya Reihan masih memperhatikan gerak gerik orang-orang itu. Dan hal itu membuat perawat yang ada bersamanya jadi curiga.
***
Anton dan kedua rekannya pun masuk ke dalam kamar hotel yang menjadi tempat tinggal mereka selama di negara ini. Kakinya masih terasa ngilu dan juga nyeri, dia pun mengumpat kasar. Andreas dan Abigail yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala karena sudah bosan mendengarkan umpatan Anton sedari tadi
“Sepertinya itu mobil sengaja deh nabrak gue! Karena sehabis itu dia langsung lari.” Gerutu Anton kesal.
“Jelaslah, Bang. Mereka itu pasti salah satu suruhannya emak-emak yang anaknya di bawa pulang sama Bang Reihan.” Andreas pun menjawab dengan malas.
Padahal selama perjalanan pulang ke hotel mereka sudah membahasnya berulang kali. Abigail dan juga Andreas pun mengiyakan spekulasi yang Anton katakan. Karena memang sangat jelas kecelakaan tadi disengaja.
“Anyway, tuh manusia muna belum pulang juga? Selama ini belagak nggak doyan pere, lah semalem diembat juga sama dia.” Ucap Anton lagi. Kali ini nada suaranya sangat kesal.
Dia tidak menyadari jika Reihan baru saja masuk ke dalam kamar. Andreas yang ingin memberitahukan kedatanan Reihan pun langsung dihalangi oleh Reihan. Dia ingin mendengarkan semua kekesalan teman baiknya ini.
“Enak bener ya tuh orang, abis indehoi sama pere, paginya kita di suruh dateng ke posisi dia, gue pikir bakal ada hal menarik yang kita dapatkan. Lah ini malah gue yang ketiban sial. Untung nih kaki katgak patah. Bangke lah!” Cerocos Anton panjang lebar.
“Sorry, kalau gue buat lo celaka.” Reihan pun buka suara.
Anton langsung terlonjat kaget saat melihat kedatangan Reihan. Dia langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum garing. Reihan pun mendekati Anton dan melihat kondisinya. Lukanya tampak tidka parah. Hanya ada perban Kecil di dahinya dan juga di kakinya. Mungkin ada luka gores yang cukup besar sehingga kakinya di bebat seperti itu.
“Jadi apa yang lo dapet dari keseruan semalam?” Tanya Anton sinis.
“Nomor telepon Jessy dan kami berjanji akan bertemu lagi nanti.” Jawab Reihan santai.
“Hanya itu? nggak ada informasi penting lain apa selain ini?” Anton pun langsung mengubah posisi duduknya dan menatap Reihan kesal.
“Gimana mau dapet informasi lain, orang sampai di hotel dia langsung tidak sadarkan diri karena mabuk. Terus lo mengharapkan apa? Gue tidur sama dia? Ena-ena gitu?” Tanya Reihan keki.
“Ya, siapa tahu ‘kan. Sambil menyelam minum air.”
“Heh, gue nggak semurahan itu ya! Kalau mau juga gue milih, b*****t!”
Abigail dan Andreas pun langsung pergi dari hadapan Anton dan juga Reihan. Mereka lebih memilih menghidupkan televisi dan melihat acara yang lebih menarik dari pada drama pertengkaran rumah tangga murahan yang dimainkan oleh Anton dan juga Reihan.
“Heran gue sama mereka berdua. Mereka itu udah kayak laki bini aja.” Gerutu Andreas Sambil mengigit roti lapis yang dibawakan oleh Reihan tadi.
“Udah biarin aja. Anggap saja hiburan keluAnton. Kapan lagi kita bisa lihat hal semembosankan itu kalau nggak sekarang ‘kan?” Balas Abigail.
Merkea berdua pun lebih memilih fokus dengan makanan yang disebut sarapan ini dari pada mendengarkan pertengkaran dua orang di belakang mereka.
***
Siang ini, Anton dan Reihan mendatangi sebuah tempat yang menjadi titik temu mereka dengan pimpinan interpol yang menangani misi ini. Orang itu mengajak mereka bertemu karena ingin membahas sesuatu yang baru saja dia temukan. Tapi entah kenapa Reihan merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pimpinan mereka. Seperti ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
Anton tahu, kalau partnernya ini merasakan sesuatu yang janggal. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Tapi, karena belum mengetahui itu apa jadi, dia masih diam dan memendamnya sendiri.
“Lo kenapa? Kok kayak lagi mikir sesuatu sih.” Anton mencoba peruntungannya. Siapa tahu apa yang dia pikirkan sama dengan apa yang Reihan pikirkan.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Anton, Reihan mengaktifkan sensor gelombang elektromagnetik yang dia punya. Dan di alat itu terdengar bunyi dengingan. Yang cukup kuat. Dan itu artinya ada alat sadap atau pun sejenisnya berada di sekitar mereka.
Anton paham dengan apa yang Reihan lakukan. Dia langsung mengecek keseluruhan tubuhnya. Dan juga sepatu yang dia kenakan. Mereka pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke tempat itu. Mereka berdua berjalan ke arah yang berlawanan untuk memecah orang-orang yang pasti mengawasi mereka.
Setelah di rasa aman, Anton langsung melepas semua yang dia pakai. Hanya menyisakan boxernya saja. Bersembunyi dibalik pohon besar, Anton juga mengaktifkan sensor gelombang elektromagnetik yang dia punya. Alat ini hanya dimiliki dia dan Reihan.
Mereka berdua tidak sengaja menemukan alat ini saat misi mereka di Swiss beberapa waktu lampau. Karena tertarik, akhirnya mereka rela mengeluarkan uang puluhan ribu dollar atau dengan kata lain milyaran demi mendapatkan alat ini. Dan ternyata alat ini berguna sekarang.
Anton mengecek satu persatu pakaiannya, tapi tidak menemukan apapun. Sedangkan di tempat yang lain Reihan melakukan hal yang sama. Dan dia menemukan ada alat sadap yang menempel pada jam tangannya. Entah kapan alat ini dipasang. Tapi yang jelas kecurigaannya benar. Ada yang tidak beres dalam misi ini.
Reihan pun menghampiri Anton dan mengatakan jika semuanya sudah aman. Mereka langsung masuk ke restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan pimpinan interpol itu. Restoran ini tampak sepi, tidak ada pengunjung lain selain mereka.
“Hola… como estas?” Sapa pimpinan Interpol itu saat melihat Reihan dan Anton mendekatinya.
Reihan dan Anton pun dipersilahkan duduk. Seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan apakah sudah siap memesan atau belum. Karena orang yang dia tunggu sudah datang, akhirnya pimpinan interpol negara ini pun mulai memesan menu-menu spesial di restoran ini.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, pimpinan interpol itu mulai membahas sesuatu yang dia temukan. Dia memberikan sebuah amplop coklat kepada Reihan. Reihan pun membukanya dan melihat isi dari amplop coklat itu. Di dalam amplop itu terdapat foto-foto yang baru saja mereka dapatkan beberapa waktu lalu.
Di foto itu terlihat ketua tim dua sedang bercengkrama santai dengan seorang laki-laki yang sepertinya tidak asing. Anton pun bertanya kepada Reihan apakah dia pernah melihat laki-laki itu, tapi Reihan masih ragu.
“Dia adalah salah satu kaki tangan Tuan Edward dan juag Nyonya Stephani.” Jelas ketua interpol itu. “dan yang paling penting dari itu adalah, orang itu adalah salah satu pejabat pemerintahan di negara kalian.” lanjutnya.
Mendengar penjelasan itu Reihan dan Anton pun langsung teringat dengan salah satu staff kepresidenan yang pernah mereka temui. Hal ini menjadikan semuanya terlihat menarik sekarang. Dan sedikit-demi sedikit teka-teki silang pun bisa terungkap dan membuat mereka paham, kenapa banyak kasus-kasus besar bisa ditutup begitu saja dengan mudah selama ini.