Reihan mencoba menghubungi Jessy, dia harus mencoba sampai tiga kali baru teleponnya dijawab. Reihan pun meminta untuk bertemu dengan Jessy sore ini di salah satu cafe yang tidak jauh dari hotel yang saat itu dia datangi bersama Jessy.
"Gimana? mau dia ketemu sama lo?" Anton tidak sabar mendengar jawaban dari Jessy.
"Mau, jam tiga nanti dia akan menemui gue di Cafe Bryan." Reihan pun berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan menyiapkan semuanya.
"Kita harus menyiapkan alat perekam yang bisa dibawa sama Reihan, dan berjaga di radius aman untuk memantau mereka berdua. Gue yakin saat ini Nyonya Stephani sedang mengawasi putrinya." Abigail pun mulai membongkar tas besar berwarna hitam yang berisikan semua alat yang biasa mereka gunakan saat pengintaian.
***
Jessy sudah duduk di dalam Cafe Bryan selama sepuluh menit. Dia sengaja datang lebih awal dan memilih kursi di dekat jendela agar bisa melihat orang yang datang ke cafe ini.
Di luar cafe yang berjarak dua bangunan, Reihan memperhatikan Jessy yang terlihat sangat antusias. Reihan sengaja mengulur waktu, dia ingin melihat seberapa sabar Jessy menunggunya.
"Lo nggak mau langsung samperin dia, Bro?" Abigail yang sudah tidak sabar pun akhirnya bertanya.
"Sabarlah, kita lihat seberapa sabar tu orang mau nungguin Reihan. Telat lima belas menit sampai dua puluh menit masih bolehlah." Jawab Anton.
"Ouw... mau main tarik ulur nih ceritanya, Bang." Andreas pun menimpali percakapan itu
"Betul sekali. Seratus untuk Dek Andreas."
Lima belas menit pun berlalu, Jessy terlihat sudah mulai gelisah. Reihan pun keluar dari mobil dan berjalan menuju cafe Bryan. Jessy pun terlihat senang saat melihat kedatangan Reihan.
"Tu cewek mulai tertarik sama Bos kita." Ucap Anton sambil tersenyum senang.
"Apakah interogasi ini akan berjalan mulus?" Andreas pun mulai penasaran.
"Tergantung gimana Reihan bertanya. Kalau dia bisa smooth semuanya akan lancar. Tapi, kalau dia terlalu terang-terangan sepertinya akan susah. Mengingat Jessy adalah anggota BIN yang cukup terlatih." Abigail pun mulai tertarik untuk memperhatikan Reihan dan juga Jessy yang saat ini mulai bercengkrama.
***
"Sorry kalau kamu harus menunggu lama. Aku lupa jalan menuju hotel ini." Ucap Reihan sambil menarik kursi yang ada di depan Jessy.
"It's okay, aku baru saja datang." jawab Jessy malu-malu.
"Kamu mau makan apa? sudah makan siang?"
"Ehmm... sebenarnya sudah, tapi jika kamu belum makan, akan aku temani."
"Baiklah... coba kita lihat ada menu apa di sini."
Reihan pun memanggil pelayan, dia menanyakan menu terbaik di cafe ini. Pelayan pun merekomendasikan dua hidangan yang populer di cafe ini. Reihan menerima rekomendasi itu dan memintanya membuatkan masing-masing dua porsi.
"Wah, sepertinya kamu benar-benar lapar." Jessy pun terlihat tidak percaya dengan apa yang Reihan pesan.
"Hahahahaha... begitulah. Harap maklum saja, saat bekerja seperti ini, biasanya kita terlalu sibuk dan lupa makan, betul?" jawab Reihan sambil mengedipkan matanya.
Di dalam mobil ketiga temannya sangat heboh saat melihat Reihan berlaku seperti itu kepada Jessy. Mereka tidak menyangka jika Reihan bisa melakukan hal seperti itu.
Makanan pun datang, Reihan mulai menyantapnya. Jessy yang melihat Reihan mulai makan pun dia ikut menyuapkan makanan itu. Benar kata pelayan tadi, makanan ini sangat enak. Bahkan di lidahnya pun terasa sangat lezat, sampai-sampai dia lupa jika perutnya sudah cukup penuh.
Melihat Jessy menyantap makanannya tanpa malu, Reihan pun tersenyum senang. Dia suka dengan wanita yang seperti ini. Tidak sibuk menjaga sikapnya untuk terlihat anggun.
Obrolan mereka pun dimulai ke arah yang lebih serius, Jessy yang sangat menikmati makanannya dan juga suasana menyenangkan sore ini pun perlahan menceritakan tujuannya datang ke negara ini tanpa dia sadari.
Satu persatu pertanyaan yang sudah Reihan siapkan pun dijawab oleh Jessy dengan mudahnya. Sepertinya informasi tentang agent terlatih itu hanyalah isapan jempol belaka.
"Kereeeeen.... mantap, Bro. Lo berhasil buat dia buka mulut dengan cara yang manis." teriak Anton, suaranya sangat berisik terdengar dari ear piece yang dikenakan oleh Reihan.
"Udah, jangan berisik! nanti kedengeran sama dia!" hardik Abigail kesal.
Reihan dan Jessy terlihat begitu menikmati sore ini. Hidangan yang dibawakan oleh pelayan tadi pun sudah habis tak bersisa. Saat ini Jessy sudah mulai tidak nyaman. Perutnya terlalu penuh.
"Apakah kamu mau berjalan-jalan? Sepertinya sore hari di kota ini sangat menyenangkan. Sekalian menurunkan semua makanan yang tadi kita makan." Ajak Reihan.
Jessy pun menyetujui ajakan Reihan. Setelah Reihan membayar makanan mereka, Jessy pun mengajak Reihan berjalan kaki menuju taman kota. Bogota sore ini terlihat sangat indah.
Di taman ini banyak sekali anak-anak yang bermain dan berlarian ke sana ke mari. Anton dan yang lainnya masih mengikuti kemana mereka pergi.
"Buset daaah... ini namanya kita nemenin orang ngedate. Gimana kalau kita pergi aja, biarkan sepasang merpati itu menikmati sisa hari ini?" ajak Anton sambil memohon kepada Abigail dan juga Andreas.
"Kalau gue ikut aja, Bang. Anak bawang ini.", jawab Andreas.
"Sebaiknya kita tetap mengikuti mereka. Lo nggak liat di ujung sana? dua orang itu dari tadi ngikutin Reihan dan Jessy." Abigail menunjuk dua orang yang berjalan tidak jauh dari Reihan.
"Heh? lo yakin mereka ngikutin Reihan?" Anton pun mulai memperhatikan dua orang itu.
"Iya, saat Reihan masuk ke cafe tadi, mereka berdua ikut masuk, mereka pun ikut keluar saat Reihan dan Jessy keluar dari cafe. Selama di jalan pun mereka sengaja memperlambat langkah untuk menjaga jarak dengan Reihan dan Jessy." Abigail pun menjelaskan.
"Lo emang selalu keren kalau lagi kondisi gini. Selalu bisa melihat hal yang tidak diperhatikan oleh orang lain." Puji Anton.
Reihan yang mendengarkan percakapan rekan-rekannya pun langsung melihat ke sekelilingnya. Dia mencari orang yang dimaksud oleh mereka. Saat matanya dan salah satu orang itu bertemu, mereka langsung membalikkan badan dan berjalan berlawanan arah.
"Ada apa? kamu sedang mencari seseorang?" tanya Jessy.
"Tidak, aku hanya mencari penjual es krim. Biasanya jika berjalan di taman seperti ini orang-orang akan membeli es krim, bukan?"
"Hahahahaha... kamu ini ada-ada saja. Sepertinya kamu salah satu korban drama romantis."
"Mungkin, karena aku lihat di film mereka akan melakukan itu."
"Aku sudah sangat kenyang saat ini, jadi lupakan saja niatanmu itu, Rei."
Reihan pun menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Jessy tadi. Karena tidak mau terjadi sesuatu yang buruk di taman ini, Reihan pun mengajak Jessy untuk kembali ke hotel. Di sini terlalu banyak anak-anak dan lansia.