Reihan keluar dari kamar hotel Jessy tanpa rasa curiga sama sekali. Dia pikir dua orang itu hanya mengikutinya sampai di taman kota saja. Tapi, saat dia ingin menekan tombol lift yang mengarah ke lobi dia langsung di tarik paksa oleh seseorang menuju tangga darurat. Orang yang menyeretnya berbadan kekar dan sangat tinggi. Reihan kesulitan untuk melepaskan diri dari kunciannya.
Satu pukulan berhasil mendarat di wajah tampan Reihan. Darah segar pun mengalir dari ujung bibirnya. Reihan memperhatikan orang yang baru saja memukulnya, orang ini berbeda dengan orang yang dia lihat di taman kota tadi.
“Sebaiknya kau menuruti kami. Karena jika tidak nyawamu akan melayang saat ini juga.” Ancam orang itu.
Baru saja Reihan ingin berusaha melepaskan diri dari cengkrama orang-orang ini, satu pukulan memukul tengkuknya dengan sangat kuat. Reihan pun pingsan tidak sadarkan diri. Orang-orang itu membawa Reihan ke parkiran yang ada di lantai dua.
Di luar gedung hotel ini Anton dan dua rekan lainnya masih menunggu kedatangan Reihan. Padahal Reihan sudah mengatakan jika dia tidak bisa berlama-lama di kamar Jessy karena ada hal yang harus dia kerjakan. Jika memperhatikan di lantai berapa Jessy menginap dan jarak antara hotel dengan tempat mereka memarkirkan mobil, seharusnya Reihan sudah menghampiri mereka.
“Sepertinya ada yang tidak beres. Ayo kita cek ke dalam.” Ajak Anton.
“Oke, kita saja yang turun, Andreas biarkan di sini berjaga-jaga kalau Reihan muncul.” Abigail pun langsung turun dari kursi penumpang depan.
Mereka berdua lalu berjaan menuju lobi hotel. Saat hendak menyebrang jalan, Abigail hampir di tabrak oleh mobil sedan berwarna hitam. Karena terkejut dia tidak melihat siapa yang mengendarai mobil itu.
“BANG!” Teriak Andreas dari dalam mobil.
Anton dan Abigail pun menoleh ke arahnya. Andreas melambaikan tangannya cepat meminta kedua orang itu untuk masuk ke dalam mobil. Awalnya Anton tidak mau, tetapi setelah memperhatikan wajah Andreas yang terlihat serius, mereka langsung berlari menuju mobil yang diparkir di seberang hotel.
“Ada apa?” Tanya Abigail.
“Cepet masuk! buruan. Sepertinya Bang Reihan di bawa pergi sama orang.” Jelas Andreas sambil menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan peta lokasi dan dua titik yang perlahan saling berjauhan.
“Sial!!!” Anton langsung masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Abigail.
Andreas pun langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan maksimal. Dia harus mengejar posisi Reihan saat ini. Jalanan yang mereka lalui sangat ramai sore ini. Sepertinya rute ini sengaja di pilih orang-orang itu agar mereka tidak bisa dikejar.
“Kalau begini kita bisa kehilangan dia di mana.” Ucap Anton kesal.
“Berapa jarak yang masih bisa dideteksi alat itu?” Tanya Abigail cemas.
“Tidak lebih dari sepuluh kilometer.” Jawab Andreas tegas.
Abigail pun meminta Andreas untuk menepikan mobil mereka dan terpaksa mengejar Reihan dengan cara berjalan kaki atau berlari. Karena mobil ini tidak mungkin bisa melewati kerumunan orang yang entah sedang melakukan apa saat ini.
***
Reihan membuka matanya perlahan, saat ini kepalanya masih terasa pening. Samar-sama dia bisa melihat orang-orang yang ada di depannya. Ada banyak sekali orang di ruangan ini. Tapi, hanya ada satu wanita paruh baya yang sedang memperhatikannya.
"Ternyata aku membutuhkan waktu yang lama untuk melihatmu membuka mata. Aku pikir kau sudah mati.” Sapa wanita itu yang tidak lain adalah Nyonya Stephani.
“Sayang sekali Anda harus kecewa, Nyonya. Karena nampaknya aku belum ditakdirkan untuk mati saat ini.” jawab Reihan sambil berusaha membetulkan posisi duduknya.
“Apa yang membuatmu mendekati Jessy?” Tanya Nyonya Stephani to the point.
“Ah, jadi aku dipukuli sampai di culik seperti ini karena mendekati Jessy. Aku pikir aku sudah melakukan hal yang melanggar aturan di sini.”
"Cepat jawab aku! Aku tidak ingin mendengar basa-basimu!” bentak Nyonya Stephani.
“Tidak ada, aku hanya tertarik dengan Jessy. Tapi, seperiny aku melakukan hal yang salah. apakah aku tidak boleh bertemen dengannya? sayang sekali, padahal permainannya di ranjang sangat mengagumkan.” ucap Reihan sambil tersenyum mengejek.
“Dasar kurang ajar!” Nyonya Stephani pun berdiri dari duduknya dan tanpa aba-aba dia langsung melayangkan tamparan ke wajah Reihan. Kukunya yang panjang membuat wajah Reihan tergores.
Sekarang wajah tampan itu tidak hanya mendapatkan bekas tamparan tapi juga bekas luka gores. Reihan pun hanya bisa tersenyum sinis. dia pikir orang seperti Nyonya Stephani tidak akan pernah mempermasalahkan pergaulan bebas putrinya. Tapi, dia tetap tidak rela jika tubuh putrinya dinikmati banyak pria.
Selama ini dia tidak pernah ragu merusak tubuh gadis-gadis polos dan juga masa depan mereka dengan memberikan mereka narkotika dan juga psikotropika. Benar-benar miris! Nyonya Stephani pun memerintahkan anak buahnya untuk memukuli Reihan sampai dia tidak bisa berdiri lagi.
***
Abigail dan yang lan masih sibuk mencari keberadaan Reihan. Mereka tidak bisa lagi melacak Reihan dengan alat pelacak yang mereka punya. Karena jarak mereka dengan Reihan saat ini cukup jauh. Anton sudah menyugar rambutnya beberapa kali karena frustasi dengan keadaan saat ini.
“Dia nggak mungkin mati dengan mudah, ‘kan?” Guma Anton.
“Sudah tenang saja. Diantara kita berempat dia yang paling bisa bertahan dalam kondisi apapun.” Ucap Abigail berusaha menenangkan Anton.
Andreas pun mengajak mereka berbelok ke kanan di ujung jalan ini. Dan Langkah kakinya harus berhenti saat melihat ada beberapa orang yang membawa senjata laras panjang sedang berjaga di depan salah satu gedung yang ada di sini.
“Sepertinya alat pelaca yang ada di Bang Reihan sudah mereka temukan. Gue yakin dia ada di gedung itu.” Andreas pun mulai berspekulasi.
“Sepertinya begitu. Kita harus cari cara bagaimana bisa masuk ke dalam gedung itu. Bukanny aitu hotel ya?” Tanya Anton memastikan.
“Iya, dan gue yakin ini salah satu hotel yang dijadikan tempat transaksi jual beli manusia dan juga menjadi tempat prostitusi di daerah sini. Jika bukan, tidak mungkin mereka berjaga sambil membawa senjata laras panjang.” Abigail mulai mengajak kedua temannya untuk mundur dan mencari cara agar bisa masuk ke dalam hotel itu.
Saat sedang berpikir, mereka dihampiri oleh tiga orang wanita pekerja seks komersial di daerah sini. Entah apa yang mereka katakan, tapi yang jelas mereka bertiga mengajak Anton dan yang lain untuk masuk ke dalam hotel ini. Penjaga yang berjaga di depan pun langsung memeriksa mereka bertiga.
Setelah dirasa aman, merkea bertiga pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam bersama tiga wanita itu. Wanita-wanita ini terus berbicara dalam Bahasa Spanyol. Ketiga orang ini tidak ada yang bisa berbicara Bahasa Spanyol, hanya Reihan yang bisa berbicara Bahasa nasional negara ini.
“Can you speak English?” Taya Abigail kepada wanita yang saat ini sedang berusaha menggodanya.
“No.” Jawab wanita itu singkat.
Abigail pun mengumpat dalam hati. Dia harus mencari cara agar dia bisa berkomunikasi dengan wanita ini. Anton dan Andreas pun mengalami hal yang sama dengan Abigail. Mereka berdua tidak mengerti apa yang dikatakan wanita yang menggoda mereka.
Tiba-tiba ada satu orang yang menghampiri mereka. Dari wajahnya wanita ini adalah orang Asia Timur. Dan wanita ini pun berusaha menjadi penengah mereka bertiga. Wanita ini menjelaskan maksud dari ketiga temannya yang mengajak Anton dan yang lain untuk bersenang-senang bersama mereka.
“Thanks God, akhirnya ada yang mengerti bahasa kami.” Ucap Abigail dalam bahas Inggris.
Wanita itu pun tersenyum sopan, dia bersedia menjadi penterjemah mereka asalkan dia diberikan bayaran yang pantas. Mau tidak mau Abigail langsung mengeluarkan beberapa lembar dollar dan diberikan kepada wanita itu. Abigail pun mengajukan syarat, jika dia mau mengambil uang itu, waita itu harus bersedia melepaskan mereka bertiga dari temannya.
Saat wanita Asia itu mengatakan sesuatu kepada ketiga temannya, dia langsung di tampar dan juga di tendang oleh mereka. Anton hendak menolong tapi, Abigail menahannya. Saat ini bukan waktunya untuk ikut campur urusan mereka. Abigail yakin di tempat ini ada aturannya sendiri. jadi mereka tidak perlu melanggar atau merusak peraturan yang sudah berlaku di tempat ini.
“Ayo, ikut aku.” Ucap wanita itu akhirnya.
Wajahnya Sudah dipenuhi luka memar dan ada pula Darah segar yang keluar dari sudut pelipisnya. Andreas sangat prihatin melihat itu. Dia pun menyodorkan sapu tisu yang dia lihat teronggok di atas meja yang ada di koridor tempat ini.
“Thanks. Ayo ikut aku.” Ajak wanita itu.
Mereka bertiga di ajak ke salah satu ruangan yang ada di ujung koridor ini. Ruangan ini sangat luas, ada satu buah ranjang besar di kamar ini dan juga satu set sofa yang terlihat mahal. Mereka di suguhkan wine terbaik yang ada di tempat ini. Tidak lama ada para pelayan yang mengantarkan berbagai macam buah dan juga makanan ringan untuk teman minum mereka.
“Kalian pasti bukan orang yang sering bermain-main di tempat seeprti ini.” Ucap wanita itu tiba-tiba. Andreas hanya bisa tersenyum garing saat mendengar perkataan itu, sedangkan Abigail dan Anton bersikap dingin.
“Tidak juga, kami memang tidak sering datang ke tempat seperti ini, tapi bukan berarti tidak pernah, bukan.” Ucap Abigail akhirnya.
Saat sedang biacara, dinding ruangan ini pun bergetar dan terdengar suara orang yang baru saja di lempar ke dinding. Anton langsung bertatapan dengan Abigail. Merkea beranggapan jika Reihan bisa jadi ada di ruangan sebelah.
“Apakah di sebelah ada orang?” Tanya Anton hati-hati.
“Sepertinya begitu, biasanya ruangan sebelah hanya digunakan untuk menyiksa seorang pengkhianat.” Jawab wait aitu.
Dan baru saja ingin bertanya lagi, dinding itu pun rusak, dan ada seseorang yang tergeletak lemas di lantai. Anton serta yang lain hanya bisa mematung melihat orang itu.