Queen

1650 Kata
“Hai… akhirnya kalian berhasil juga nemuin gue di sini.” Sapa Reihan lesu. Saat ini wajahnya sudah benar-benar tidak berbentuk lagi. Luka lebab dan juga memar ada di mana-mana dan Darah segar pun menutupi waah tampannya. Abigial langsung menghampiri Reihan dan membantunya duduk. Abigail pun melepaskan ikatan yang ada di tubuh Reihan. Anton dan Andreas langsung menghalau dua orang ang hendak memukuli Reihan dan juga Abigail. “Ternyata mereka memang temannya.” Gumam wanita Asia itu. Orang-orang mulai berdatangan, Anton dan Andreas pun mulai kewalahan menghadapi mereka, Abigail langsung pun menyeret Reihan untuk pergi dari tempat ini. Wanita Asia itu diam-diam memberikan senjata api kepada mereka bertiga. Entah dari mana dia bisa mendapatkan Colt 1911 ini. Terpaksa mereka pun melepaskan tembakan untuk bisa terbebas dari orang-orang di tempat ini. “Gimana kita bisa keluar dari sini hidup-hidup, Bang. Mereka banyak banget, belum lagi yang jaga di luar.” Gerutu Andreas sambil tetap fokus menembaki musuh mereka satu persatu. Mendengar ada suara tembakan di dalam hotel, orang-orang yang ada di luar pun bergegas masuk. Saat ini posisi mereka berempat terpojok. Tidak ada jalan keluar lain saat ini. “Mungkin, jatah hidup kita selesai sampai di sini.” Ucap Abigail sambil tersenyum miris. “Enak aja! gue kagak mau mati begini di sini. Jangan nyerah gitu dong.” Anton tidak terima perkataan Abigail barusan. Dia langsung mengeluarkan kotak rokok yang ada di Saku celana jeansnya dan mengeluarkan satu puntung rokok. Diberikannya kepada Andreas, lalu satu lagi di selipkan diantara kedua bibirnya. Andreas paham sekarang, dia pun mengeluarkan korek api gas yang selalu dia bawa kemana-mana. “Ada gunanya juga itu sekarang ya. walaupun selama ini gue selalu bingung buat apa lo bawa-bawa benda itu padahal lo tidak merokok.” Anton pun mengambilnya dari tangan Andreas, kemudian menghidupkannya dan menghirup dalam rokok itu. Setelah api menyala, Anton langsung melemparkan rokok itu ke arah orang-orang yang tadi memukuli Reihan. Andreas pun mengikuti apa yang Anton lakukan, dan melemparkan rokok itu ke arah pintu keluar. Mereka langsung membuka pintu kamar yang ada di belakang mereka, orang yang sedang menikmati waktu bersama pun terkejut dan juga marah. Tapi, keempat orang itu tidak perduli, mereka menghitung mundur dan boooom! Suara ledakan pun terdengar di luar, walaupun ini bukan ledakan yang besar, tapi percikan api dari ledakan itu bisa membuat luka bakar yang serius. Senjata rahasia yang diberikan oleh salah satu pengembang di laboratorium interpol pun sangat berguna kali ini. Mereka berempat keluar dari kamar dan melihat orang-orang yang saat ini tengah memegangi wajah, tangan, dan kaki mereka. Luka bakar membuat kulit mereka tampak mengerikan. Mereka berempat pun mempercepat Langkah mereka dan keluar dari hotel ini. Dengan susah payah akhirnya mereka pun berhasil menjauh dari hotel itu. Langkah kaki Reihan Sudah terseok-seok, dan dia sudah sangat lelah untuk berjalan saat ini. Reihan pun melepaskan tangannya dari bahu Abigail dan duduk di pinggir jalan. “Gue sudah capek banget. Kalian pergi aja duluan, kalau gue berhasil lolos dari mereka, gue akan temui kalian.” Ucap Reihan. “Gila ya nih orang, kita sudah mempertaruhkan nyawa untuk bawa dia keluar dari tempat sialan itu, lah orangnya malah minta kita pergi duluan. Belum cukup banyak ya luka di badan lo? Mau gue tambahin lagi?” Tanya Anton kesal. “Tidak, terima kasih banyak.” Jawab Reihan. Kali ini dia masih saja berusaha bercanda. Sebuah sedan hitam pun berhenti tepat di hadapan mereka, Andreas langsung mengarahkan moncong senjatanya ke arah pintu mobil itu. Tapi, saat kaca mobil di turunkan Andreas pun ikut menurunkan senjatanya. “Cepat naik, kalian harus segera pergi dari tempat ini.” Wanita Asia yang tadi memberikan senjata pai kepada mereka dan membawa mereka ke ruangan yang ada di sebelah ruangan Reihan di sekap pun muncul di saat yang tepat. Tanpa pikir panjang, Abigail langsung memapah Reihan dan memintanya masuk ke dalam mobil dengan paksa. Andreas pun berlari mengelilingi mobil dan masuk dari pintu sebelah kanan, sedangkan Anton masuk setelah Reihan. Abigail memilih duduk di kursi penumpang depan. Mobil pun langsung melaju dengan kecepatan penuh dan membawa mereka berempat menjauh dari tempat ini. Wanita Asian itu membawa mereka ke tempat yang sangat aman. Karena ini adalah kantor kedutaan besar Indonesia. Mereka berempat pun saling tatap, dan bertanya dengan sorot mata masing-masing. “Ayo kita turun. Temanmu harus kita obati dulu.” Ucap wanita Asia itu. Dia turun terlebih dahulu dan berjalan menuju pintu masuk. Di depan pintu masuk itu ada orang yang berjaga dan menanyakan keperluannya datang ke kantor ini. Wanita Asia itu menunjukkan tanda pengenalnya, dan penjaga itu pun langsung membukakan pintu. “Sepertinya dia orang penting.” Gumam Anton. Anton membatu Reihan turun dari mobil diikuti oleh Andreas dan juga Abigail. Saat di depan pintu masuk mereka pun menunjukkan kartu tanda pengenal mereka. Penjaga itu langsung memberikan hormat kepada mereka berempat dan mempersilahkan mereka masuk. Wanita Asia itu sepertinya sering ke kantor ini, karena dia tahu dengan pasti dimana letak klinik yang bisa mereka datangi untuk membersihkan luka Reihan dan juga mengobatinya. “Hai, Queen… ada apa kau datang ke sini?” Tanya dokter yang berjaga di klinik ini. Mereka berempat pun saling berpandangan. Anton langsung menyenggol bahu Reihan dan berbisik di telinganya menanyakan wajah Queen yang mereka lihat di dalam laporan yang mereka terima saat menjalankan misi di Tiongkok. “Rekanku terluka cukup parah, aku membutuhkan bantuanmu.” Jawab Wanita Asia yang dipanggil Queen tadi. “Ehm… akhir-akhir ini kau mulau memiliki banyak teman rupanya.” Sindir dokter jaga itu. Dokter itu langsung meminta Reihan duduk di satu-satunya brankar yang ada di ruangan ini. Dokter itu melihat kondisi wajah Reihan dan lidahnya pun berdecak iba. Dia mengambil satu botol besar larutan antiseptik dan juga kasa steril serta kapas gulung. Tanpa peringatan dia langsung mengoleskan cairan antiseptik itu ke wajah Reihan. Karena terkejut Reihan pun berteriak dan meringis menahan sakit. Abigail dan yang lain pun menahan tawa mereka. Baru kali ini mereka mendengar Reihan berteriak kesakitan seperti itu. “Ternyat anda cengeng juga.” Sindir dokter itu. “Aku tidak cengeng, aku hanya terkejut, Dok. Anda tidak memberi tahu jika ingin memulai memberishkan luka.” Balas Reihan kesal. “Whatever! Yang jelas tadi kau berteriak kesakitan. Seperti anak TK yang lukanya diobati.” Mendengar sindiran dokter itu, ketiga laki-laki yang berdiri tidak jauh dari brankar langsung melepaskan tawanya. Hanya dokter ini saja yang bisa mengejek Reihan seperti itu. Biasanya dokter yang ada di klinik kantor utama interpol pun tidak berani melakukan hal itu. *** Reihan dan yang lainnya Sudah duduk di salah satu ruangan yang dipinjam oleh wanita Asian yang membantu mereka melarikan diri dari orang-orang Nyonya Stephanis. Saat ini riasan wajah wanita Asia itu sudah dibersihkan dan wajah polos tanpa make upnya pun membuat keempat orang ini berdecak kagum. Pasalnya wajah wanita ini benar-benar berbeda dengan wajah yang tadi merkea lihat di hotel milik Nyonya Stephani tadi. Dan saat ini mereka mengenali wajah ini. Wanita yang ada di hadapan merkea adalah Queen, wanita yang mereka cari selama di Tiongkok. “Bagaimana Anda bisa berada di sini?” Tanya Abigail penasaran. “Sepertinya Leonard belum memberitahukannya kepada kalian.” Jawab Queen santai. Mereka berempat langsung bertatapan, wanita yang ada di hadapan mereka memanggil atasan mereka dengan namanya saja. apa mungkin usia mereka sebaya? Tapi, rasa-rasanya tidak mungkin. Karena wanita yang ada di hadapan mereka saat ini terlihat lebih muda dari Leonard. Mungkin jarak umur mereka sekitar tiga atau empat tahun. “Aku sengaja mengikuti permainan mereka dan sebenarnya secara ilegal aku bukannya ikut diculik oleh orang-orang Nyonya Stephani, tapi aku dengan sukarela mengikuti kemana Jessy pergi. Bukankah mentor memang selalu mendampingi muridnya?” Tanya Queen kepada mereka berempat. “Begitu rupanya. Jadi untuk apa kami datang jauh-jauh ke Tiongkok hanya untuk mencari agent yang sebenarnya tidak diculik melainkan menjalankan misi. “Untuk mengetahui siapa Tuan Edward. Aku dengan hanya kalian yang Sudah pernah bertemu dengan ular satu itu, bahkan aku pun tidak tahu rupanya.” Mendengar pengakuan Queen itu membuat mereka berempat tercengang. Mereka tidak pecaya jika Queen belum pernah melihat wajah Tuan Edward. Padahal mereka berdiri sangat dekat selama ini. “Anda bercanda? Anda tidak mungkin belum pernah melihat wajah Tuan Edward.” Anton pun mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. “Seperti yang aku katakan tadi. Aku memang belum pernah sekalipun melihat wajah tua bangka b******n itu.” Ucap Queen penuh penekanan. Mendengar itu mereka semua pun percaya saat ini. “Apakah Anda bekerja di hotel itu karena sedang menyamar atau memang posisinya Anda menjadi b***k yang sudah di jual?” Tanya Andreas hati-hati. “Dua-duanya. Aku bekerja sambil mengamati orang-orang yang datang dan pergi ke hotei itu, dan yang pasti aku bisa melakukan apapun yang akau mau selama bekerja di sana.” Jawab Queen santai. “Wah… kau benar-benar agent yang berpengalaman. Kau tahu betul bagaimana bisa bekerja dengan lingkungan dan situasi yang nyaman untukmu." Ucap Anton takjub. Dia iri sekali dengan wanita ini. Reihan pun bertanya banyak tentang Jessy dan juga skenario penculikan beberapa wanita yang dilakukan oleh Tuan Edward. Queen tdai menceritakan semua yang dia alami. Saat ini dia belum bisa mempercayai orang-orang yang baru saja dia temui tadi. Menurutnya merek abelum bisa dipercaya sebanyak itu. Reihan pun berterima kasih kepada Queen karena sudah dibantu lari dari hotel milik Nyonya Stepahi. Dan mengajak rekannya yang lain untuk kembali ke hotel di mana mereka menginap selama di negara ini. “Sepertinya dia tidak mempercayai kita.” Abigail pun membahas sikap Queen tadi. “Wajar saja jika dia bersikap seperti itu. Kalau gue di posisi dia juga bakal bersikap seperti tadi. Yang pasti kita sudah tahu jika dia selamat dan bisa mengatasi masalahnya dengan Tuan Edward.” Jawab Reihan. “Eh, gue jadi inget sama anak TK tadi, apa dia sudah baik-baik saja?” tanya Anton random. Dan hal itu berhasil membuat Andreas serta Abigail tertawa tertahan. Sedangkan Reihan, jangan ditanya. dia menatap Anton kesal. Jika mata Reihan saat ini bisa mengeluarkan api, Anton sudah hangus terbakar api yang keluar dari mata itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN