Jessy masuk ke ruangan Nyonya Stephani dengan paksa. Dia tidak perduli jika saat ini ibunya sedang bersama seorang laki-laki atau siapapun itu. Saat dia hendak marah-marah kepada ibunya dia langsung terdiam. Di samping ibunya saat ini sedang duduk Tuan Edward. Seeprtinya mereka baru akan memulai permainan panas mereka.
Ini bukan kali pertama bagi Jessy melihat pemandangan yang sangat menjijikan seperti ini. Dia selalu tidak bisa menerima kenyataan jika ibunya memiliki hubungan dengan laki-laki di usia Senja yang sudah bau tanah. Entah kapan Tuan Edward meregang nyawa.
“Kau tidak sopan sekali, Jessy! Ada perlu apa?” Tanya Nyonya Stephani kesal menahan amarahnya.
“Cih! Ibu masih membicarakan kesopanan kepadaku? Yang benar saja!”
“Cepat katakan! Aku masih banyak urusan di sini!”
“Apa alasan ibu membuat Reihan nyaris mati kemarin?” Tanya Jessy to the point.
Mendengar nama Reihan di sebut dahi Tuan Edward berkerut. Dia tidak tahu jika Reihan ada di kota ini. Yang dia tahu orang-orang interpol yang sedang menyelidiki kasus penculikan dan juga perdagangan manusi sudah di pulangkan dan kasusnya pun sedang di tunda sampai waktu yang belum bisa dipastikan karena kurangnya bukti.
“Aku tidak melakukan apa-apa! Aku hanya mengajaknya berbicara santai.”
“Bullshit! Ibu bukan mengajaknya bicara santai! Tapi, ibu ingin membunuhnya!” Bentak Jessy.
Dia benar-benar tidak bisa terima dengan sikap ibunya kali ini. Jika kemarin-kemarin dia berlaku seperti ini kepada laki-laki b******k yang hanya mengincar tubuh dan juga kesenangan yang bisa di berikan Jessy tidak ambil pusing. Tapi, kali ini berbeda. Ini adalah Reihan, laki-laki yang memperlakukannya dengan sopan. Dan tidak mengharapkan apa pun darinya.
“Kita bicarakan lagi nanti! Keluar kau dari sini, aku masih banyak yang harus dikerjakan.”
“Apa yang ingin ibu kerjakan? Ibu ingin bercinta dengan laki-laki tua ini? Laki-laki yang lebih pantas menjadi ayah Ibu?” Tanya Jessy sambil menatap Penuh amarah serta penghinaan kepada ibunya.
“Jessy! Jaga bicaramu!” Nyonya Stephani pun berdiri dan langsung menampar Jessy.
Bukannya menangis Jessy justru tertawa miris. Dia tidak menyangka jika ibunya akan menamparnya saat ini. Dan lihat sekarang, bahkan ibunya tidak mengenakan apapun kecuali selimut tipis yang saat ini dia pegang erat dengan tangan kirinya.
“Aku benar-benar muak dengan ini semua! Aku benci ibu!” teriak Jessy.
Dia pun berlari dan membanting pintu ruangan ini. Pengawal yang selalu berada di samping Nyonya Stephani hanya bisa menatap iba kepergian Jessy. Dia paham betul, kenapa Jessy bersikap seperti ini kepada tuannya. Mungkin jika dia yang mejadi anak dari seorang Nyonya Stephani, dia akan berbuat lebih dari yang Jessy lakukan saat ini.
“Maafkan Jessy, Sayang. Sepertinya dia sedang banyak masalah.” Bujuk Nyonya Stephani. Dia membelai lembut pipi Tuan Edward.
“Tidak masalah. Anak muda sepertinya wajar melakukan itu, karena jiwanya masih sangat rentan dan semangatnya pun sedang tinggi.” Jawab Tuan Edward bijak.
“Terima kasih, kamu memang yang terbaik. Dia tidak tahu jika dia berbicara kasar seperti itu kepada ayahnya.”
“Sudahlah, tidak Usah kamu pikirkan masalah tadi. Ngomong-ngomong siapa Reihan?” Tanya Tuan Edward penasaran.
“Ah, dia laki-laki yang baru Jessy temui. Entah dia bertemu dengan orang itu di mana awalnya.”
Nyonya Stephani pun mulai menceritakan siapa Reihan yang dimaksud oleh Jessy. Tuan Edward pun tidak curiga sama sekali. Dia berpikir mungkin nama pemud aitu hanya mirip. Mengingat saat ini Reihan yang dia kenal sudah dibebas tugaskan oleh atasan tertinggi interpol.
***
Jessy duduk di bangku taman yang tidak jauh dari rumah ibunya. Air matany masih megalir melewati pipi mulusnya dan menyisakan jejak di sana. Orang-orang yang lewat di sekitarnya pun bingung melihat sikap Jessy saat ini.
Jessy pun menengadahkan kepalanya ke atas, dia ingin menghentikan air matanya agar tidak jatuh dan kering tertiup angin. Saat sedang memejamkan matanya, ada benda dingin yang menempel pada pipinya. Sontak hal itu membuat Jessy membuka matanya cepat.
“Reihan?” Tanya Jessy tak percaya. Dia ingin berpikir jika ini mimpi, tapi rasa dingin yang mengejutkannya tadi membuktikan jika saat ini yang berdiri di hadapannya memang benar Reihan.
“Hei. Kenapa kamu menangsi sendirian di sini?” Tanya Reihan bingung.
“Ah, tidak ada apa-apa. Apa kamu baik-baik saja? wajahmu…” jesi membuat gerakan melingkar di depan wajahnya sambil memperlihatkan wajah bersalah kepada Reihan.
“Ini Sudah tidak apa-apa. Hanya tersisa perban kecil di ujung pelipis ini.” Jawab Reihan sambil menunjuk pelipisnya yang masih di perban.
“Tapi, memarnya belum hilang.”
“Ini akan segera hilang. Sudah ini ambil esnya. Nanti dia cair, sayang. Ayo cepat dimakan. Katanya makan es krim saat kita sedih akan membuat hati kita menjadi lebih baik.” Buju Reihan sambil menyodorkan es krim yang dia pegang lebih dekat.
“Terima kasih.” Jessy menerima es krim cone yang Diberikan oleh Reihan.
Mereka pun sibuk makan es krim masing-masing sambil memperhatikan jalanan yang terlihat sepi hari ini. Sepertinya keputusan Reihan untuk datang ke tempat Jessy dan mengikutinya adalah keputusan yang tepat. Setidaknya dia bisa mengambil hati wanita ini lagi sekarang.
Sampai es krim itu habis mereka masih duduk dalam diam. Reihan memberikan ruang kepada Jessy untuk menenangkan dirinya. Tidak ada kata satu pun yang keluar dari mulutnya. Di kejauhan tampak beberapa orang mengamati mereka.
Selain Anton dan yang lain ada Queen yang juga ikut mengamati dari tempat berbeda. Dia memang ingin berbicara lagi dengan Jessy dan menanyakan apa maksud dibalik semua tindakannya. Jika boleh jujur sebenarnya Queen tidak terlalu kecewa, dia yakin Jessy memiliki alasan. Tapi, jika alasan itu menghancurkan nasib orang lain tentu saja Queen tidak akan tinggal diam begitu saja.
“Mereka berdua cuma mau duduk bareng sambil makan es krim. ya? Nggak ada niatan untuk ngobrol gitu. Atau pindah tempat, cari tempat yang lebih enak untuk ngobrol. Nggak asik banget sih tu orang, menghibur tuh nggak hanya cukup dengan es krim kali.” Komentar Anton panjang lebar. Dan hal itu berhasil membuat Abigail serta Andreas kesal dan Memukul kepalanya cukup kuat.
“Berisik banget sih lo! Biarin aja dululah. Mua dia ngajak tuh cewek pergi, mau cuma diem aja di sana biarin aja. Kita ‘kan sudah sepakat untuk membiarkan Reihan berimprofisasi.” Balas Abigail.
“Iya deh… iya… kalian berdua curang banget sih. Bersekutu di saat gue nggak ada orang yang bisa diajak bersekutu. Sakit banget lagi mukulnya. Kepala gue ini berharga!” Gerutu Anton sambil mengerucutkan bibirnya.
“Halah, gue bayarin!” Andreas pun ikut mengomel.
“Eh, sialan nih anak kecil. Belagak mau bayarin kepala gue yang berharga ini. Emang lo ada duit, hah?”
“Berisik lo, Bang!”
***
Leonard menerima laporan terbaru dari timnya yang saat ini ada di Bogota. Dia tersenyum puas saat membaca surel yang dikirimkan oleh Abigail. Tidak pernah sekali pun dia kecewa dengan kinerja tim ini. semua informasi dan juga data yang didapatkan Tim Alpha langsung dia cari tahu sendiri.
Leonard belum bisa mempercayai orang-orang yang ada di tempat ini. Mereka semua terlihat terlalu berbahaya. Entah siapa yang memihak siapa, yang jelas ada seorang penjilat di tempat ini yang siap sedia melaporkan kepada majikannya.
Dering telepon yang ada di meja kerjanya membuat Leonard mengalihkan perhatiannya. Dia menjawab telepon itu yang ternyata dari pimpinan tertinggi di kantor ini. Leonard diminta untuk menghadap ke ruangannya.
“Mau apa lagi orang itu?” Tanya Leonard dengan kehampaan di ruang kerjanya.
Leonard pun membetulkan dasinya dan mengenakan jas yang sedari tadi tergantung di kursi kebesarannya. Dia keluar dari ruangan ini dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas gedung ini. Pintu lift pun terbuka, dan menampakkan siapa yang ada di dalamnya.
Penanggung jawab Tim dua pun dipanggil ke ruangan komandan tertinggi interpol rupanya. Leonard pun bisa menebak kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh atasannya nanti.
“Hai, Mr. Leonard. Sepertinya sekarang komandan kita ingin mengajak kita minum di tengah hari seperti ini.” Sapa penanggung jawab tim dua.
“Mungkin, atau dia akan memaki kepadaku saat ini.”
“Memakimu? Apakah kau membuat satu kesalahan besar?”
“Entalah, ini hanya spekulasiku saja. Perkiraan sementara, bisa jadi seperti itu, bisa jadi bukan itu.”
Pintu lift pun terbuka, dan mereka berdua keluar dari kotak besi itu lalu berjalan bersama menuju ruangan yang terdapat di ujung koridor ini. Sekretaris pimpinan interpol pun tersenyum ramah kepada dua orang penting di kantor ini. Sebelum mempersilahkan mereka masuk, sekretaris itu menanyakan minuman apa yang ingin mereka minum. Leonard meminta teh hangat sedangkan penanggung jawab Tim dua meminta kopi hangat.
Saat pintu ruangan terbuka, pimpinan interpol ini berdiri dari kursi kebesarannya dan langsung duduk di sofa yang ada di depan meja kerjanya. Dia mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk, dan memperhatikan mereka lama sampai sang sekretaris membawakan minuman untuk kedua tamunya ini.