Pimpinan tertinggi interpol menatap kedua orang yang saat ini tengah berada di hdapannya. Di memperhatikan mereka dengan seksama sembari menilai siapa diantara dua orang ini yang bekerja sesuai dengan hati nuraninya. Dia ingin menetapkan langkah sekarang, dia sudah benar-benar muak dengan semua yang terjadi belakangan ini.
Saat ini rasa cintanya akan negara ini dipertanyakan. Sudah terlalu banyak kekacauan yang terjadi di depan matanya. Dan dia pun Sudah memberikan kelonggaran untuk manusia-manusia tak bermoral itu bernapas selama ini. Sekarang saatnya dia membereskan semuanya, waktu untuk beristirahat telah usai.
“Apakah ada masalah serius sehingga Bapak memanggil kami ke sini?” Pimpinan tim dua pun membuka suaranya.
“Sepertinya Pak Prayogo sangat bersemangat saat ini.” Sindir pimpinan tertinggi interpol itu.
“Saya hanya sedikit penasaran, karena sangat jarang Bapak memanggil kami berdua secara bersamaan seperti ini.” Ungkap Prayogo. Dia masih menduga-duga apa yang akan dikatakan oleh pimpinannya ini.
“Apakah ada yang ingin Anda tanyakan, Pak Leonard? Yang saya lihat saat ini Anda terlalu santai dan terlihat tidak perduli.” Boenjamin Setiadi pun mulai tertarik dengan Leonard.
Selama ini dia sering mendengar jika Leonard tidak begitu banyak bicara. Dia akan membuktikan semuanya melalui apa yang dia kerjakan dan sikapnya. Prestasinya pun di kantor ini sangat bagus, tim yang dia kepalai pun selalu mengerjakan tugas dengan rapi dan belum ada yang tidak berhasil.
“Saya bukannya tidak perduli, Pak. Saya hanya menunggu perintah.” Leonard pun menjawab dengan lugas.
Boenjamin tersenyum simpul mendengar jawaban dari Leonard. Dia berdiri dari duduknya dan mengambil sesuatu yang ada di atas meja kerjanya, lalu melempar tumpukan kertas itu ke hadapan Leonard dan juga Prayogo. Kedua orang itu menatap tumpukan kertas itu dan juga Boenjamin secara bergantian.
“Apakah ada di antara kalian yang bisa menjelaskannya saat ini? Saya begitu penasaran dengan perkembangan kasus-kasus itu. Dan alasan kenapa kasus itu cepat sekali di tutup.” Boenjamin menatap mereka berdua berganti. Menunggu kira-kira siapa yang akan menjawab pertanyaannya.
“Semua kasus itu memang sudah ditutup, tapi Tim Alpha sedang melakuakn penyelidikan saat ini.” Jawab Leonard.
Mendengar itu Prayogo langsung mengalihkan pandangannya kepada Leonard. Ternyata apa yang dikatakan oleh Tuan Edward benar adanya. Tim Alpha saat ini sedang ada di Bogota. Mereka bukan sedang dibebas tugaskan rupanya.
“Ehm… kasus yang mana yang sedang mereka selidiki, Pak Leonard?” Boenjamin pun penasaran.
“Satu kasus yang dapat menghubungkan banyak kasus.”
“Menarik, bagaimana perkembangannya?”
“Sejauh ini mereka belum mendapatkan apa-apa.”
“Hahahahaha… kau menugaskan orang-orang itu dan menghabiskan uang negara tapi mereka belum mendapatkan apapun? Ck! Yang benar saja.” Ejek Prayogo.
Boenjamin menunggu pembelaan Leonard, tapi harapannya hampa. Leonard tidak membalas kata-kata Prayogo. Sekarang dia pun tahu, yang mana anjing yang bisa diandalkan dan yang hanya bisa menyalak dengan kuat.
“Baiklah, Pak Prayogo, kalau begitu saya menantikan kerja keras tim dua.”
“Siap, Pak! Saya akan langsung mengutus mereka ke Bogota dan menyelidiki kasus yang saat ini sedang dicoba selesaikan oleh Tim Alpha. Kita akan tahu, Tim mana yang bekerja lebih efektif.”
“Tidak perlu seperti itu. Berikan tim dua tugas yang lebih berarti. Aku yakin apa yang saat ini sedang di lakukan tim Alpha bukanlah hal yang penting.”
“Baik, Pak.”
Boenjamin pun mempersilahkan mereka untuk meninggalkan ruangan ini. Dan dia pun bisa mengambil keputusan sekarang. Pilihannya sudah dia tetapkan. Dan harapannya pun mulai dia gantungkan kepada pilihan yang baru saja dia ambil.
“Mari kita lihat, siapa yang akan menyelesaikan masalah ini dan siapa yang akan memperkeruh situasi.” Gumam Boenjamin lirih.
***
Queen duduk di hadapan Jessy saat ini. Tatapannya kosong, wajahnya pun terlihat tanpa ekspresi. Dia masih menunggu setiap kata-kata yang akan keluar dari mulut manis milik Jessy. Dari tatapan matanya, Queen tahu saat ini Jessy sedang kalut. Tapi, dia sedang bingung ingin memulainya dari mana.
“Jika kau masih mau berdiam diri seperti ini, sebaiknya aku kembali ke tempat ibumu. Aku yakin saat ini sedang banyak pelanggan di sana.” Queen pun berniat berdiri dari duduknya, tapi Jessy menahan tangannya.
“Kak, apakah kau tidak keberatan melakukan pekerjaan menjijikan itu? apakah tidak ada penyesalan sedikitpun dalam hatimu karena kau mendedikasikan dirimu untuk negara yang bahkan tidak memikirkanmu?” Tanya Jessy panjang lebar.
“Hahahahahaha… kau mempertanyakan semua itu sekarang? Bagaimana jika pertanyaannya aku balik seperti ini. Jessy, apakah kau tidak muak dengan sikap ibumu? Apakah kau tidak jijik dan tidak malu dengan apa yang dilakukan ibumu selama ini?” Balas Queen.
“Kau masih tidak percaya dengan dedikasiku rupanya. Aku sudah sangat muak dengan dunia yang selama ini berputar di sekitarku, Kak. Rasanya aku ingin menciptakan dunia baru di sekelilingku saat ini. Aku terlalu muak, bahkan untuk tetap hidup pun aku muak.”
“NIkmati saja semuanya. Waktunya akan tiba nanti. Kau akan bisa bernapas lega nanti. Ada hal yang mengganjal di hatiku sedari kemarin. Apakah aku boleh menanyakannya kepadamu?”
“Apa?”
“Kau senagja membantu Reihan dan timnya, bukan? Aku dengar kau memberikan kesaksian dan juga membeberkan semuanya.”
“Belum semuanya, aku hanya melakukan hal yang perlu.”
“Baguslah, jangan terlalu percaya kepada mereka. Ingatlah prinsip dasar dalam berperang. Usahakan semuanya dengan kemampuanmu sendiri. Jika terpaksa meminta bantuan, mintalah bantuan dari orang yang benar-benar kuat.”
“Baik, Kapten!”
Mereka berdua langsung menghabiskan minumannya dan berpisah saat keluar dari tempat ini. Terlalu banyak mata di kota ini, sehingga mereka tidak bisa leluasa jika ingin bertemu ataupun mengopi bersama di salah satu kedai kopi terbaik di Bogota.
***
Anton dan Andreas sedang sibuk berpikir saat ini. Andreas berhasil masuk ke dalam jaringan yang sangat rahasia. Dia sedang mengobrak abrik isi database itu bersama dengan Anton. Anton tidak menyangka jika sebuah server bisa menampung data sebanyak ini,
“Apakah Sudah ada yang kalian temukan?” Tanya Abigail penasaran.
“Sedikit lagi, kita akan mendapatkan kejuatan yang sangat menarik saat ini. Bukankah selam aini kita terasa membosankan?" Andreas pun mengedipkan satu matanya dan menggoda Abigail yang tampak serius saat ini.
"Bekerjalah yang benar!"
"Siap, Pak! Saya akan berusahan lagi."