Introgasi

1140 Kata
Reihan mempercepat jalannya, dia tidak mau kehilangan jejak orang yang saat ini sedang dia intai. Abigail dan Anton pun sudah bersiap diujung jalan ini. Mereka berdua menunggu orang itu melewati gang. Jalanan ini masih sangat ramai rupanya. Padahal ini sudah larut malam. “Gimana, Bro?” Tanya Abigial melalui ear piecenya. “Dia berjalan menuju kalian, mungkin satu menit lagi dia berada tepat dihadapan kalian.” Reihan pun menjelaskan keadaan saat ini kepada rekannya. Andreas yang tengah bersiap di atas gedung yang tidak jauh dari jalan itu sedang mengatur napasnya. Dia pun melihat arah angin dan menghitung kecepatannya. Jika target mereka melawan, mau tidak mau dia harus melepaskan tempabakan. “Kenapa banyak sekali WNI yang datang ke sini jika terlibat masalah. Bukankah negara yang terkenal banyak mafia itu di Italia?” Gerutu Andreas sambil terus memperhatikan target mereka. “Di sini surga untuk para pecandu. Dan wanita-wanita dari Amerika Latin itu tidak bisa ditolak dan diabaikan begitu saja!” Balas Anton Sambil tersenyum senang. “Wah… lo sudah pernah mencoba keduanya?” Tanya Abigial Sambil menatap Anton lekat. “Lo gila apa? Ya masa gue nyobaik kokain di sini! sarap!” Jawan Anton kesal. “Fokus! Dia sudah sangat dekat!” Sela Reihan tegas. Anton yang hendak memaki kepada Abigail pun mengurungkan niatnya. Dan langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Benar saja, matanya langsung dapat melihat target mereka. Anton pun menghitung dalam hali dari sepuluh, dan pada hitungan ke satu dia langsung menghadang langkah orang itu. Baru saja Abigail ingin mengucapkan sesuatu, orang itu langsung melawan. dia berusaha menepis tangan Anton dan juga Abigail, dan berusaha untuk lari. Reihan berlari menghampiri dan langsung menendang punggung orang itu sampai dia terjerembab ke depan. Mereka pikir orang itu akan menyerah, tapi dia langsung berdiri dan berusaha berlari lagi. Anton tidak membiarkannya, dan baku hantam pun terjadi. Awalnya tidak banyak orang yang memperhatikan, tapi lama kelamaan ada beberap orang yang mulai tertarik, dan merekam aksi mereka. “Hais, merepotkan sekali sih!” Abigail langsung mendekati orang yang merekam, dan meminta ponselnya. Dengan cepat Abigail menghapus video itu dan meminta orang-orang itu untuk pergi dari sini. Suara sirine polisi pun terdengar, Anton dan Reihan saling berpandangan, dengan satu kali pukulan telah di telinga kanannya, orang itu pun langsung limbung dan tidak sadarkan diri. Abigail bergegas membantu Rehan dan juga Anton, membawa target mereka ke dalam mobil dan pergi dari tempat ini. Andreas langsung berdiri dan membereskan semua peralatannya. Dengan cepat dia menuruni anak tangga dan menunggu dijemput oleh ke tiga rekannya. Mobil yang dikendarai Reihan hampis sampai ke tempat Andreas berada. Tapi, tiba-tiba mereka di hujani tembakan. Andreas pun belari mendekati mobil yang Reihan kendarai, dengan cepat membuka pintu penumpang depan dan melompat masuk. “Sepertinya ada yang mulai kehilangan anak buahnya.” Abigail pun mengeluarkan Colt 1911 miliknya dan langsung membalas tempakan orang-orang itu. Dari kursi penumpang depan Andreas mengeluarkan Ruger Super RedHawk .454 Casull miliknya. salah satu pistol dari jenis revolver ini memiliki daya rusak yang sangat besar dan memiliki akurasi yang sangat mematikan. Ruger Super RedHawk juga dilengkapi dengan lensa bidik yang membuatnya mampu meletuskan peluru dengan sangat akurat. Kecepatan peluru dari jenis revolver ini bisa mencapai 1.900 kaki per detik, disempurnakan dengan deretan peluru sebesar 240 gram. Walaupun jenis revolver yang satu ini cukup besar, tapi Andreas selalu suka membawanya kemana-mana. Andreas mengincar ban mobil mereka, atu tembakan pun dilepaskan olehnya dan tepat sasaran. Mobil itu pun langsung menabrak trotoar dan mulai melayang ke udara lalu akhirnya terhempas di jalanan. Reihan menghentikan mobil yang dia kendarai, suara sirine polisi semakin nyaring, dengan cepat Anton keluar dari mobil dan membersihkan jejak mereka. Selongsong peluru milik mereka pun dengan cepat dia pungut agar tidak meninggalkan jejak apapun. Terlalu beresiko jika mereka berurusan dengan kepolisian setempat. *** Abigail menyiramkan air es kepada orang yang tengah terduduk lemas di hadapan mereka. Orang itu pun tersentak dan langsung membuka matanya. Saat dia Sadara sedang ada di mana, dia pun meronta dan berusaha melepaskan diri. Tali yang mengikatnya di kursi besi ini sangat kencang, sehingga dia pun kesulitan bergerak. “Sudah, tidak perlu menghabiskan tenaga seperti itu. tenangkan dirimu!” Perintah Reihan. Reihan pun mulai menyulut rokok, dan menghisapnya dua kali sampai tembakau itu benar-benar menyala. Dia bangkit dari duduknya dan mendekati Sandera mereka. “Jadi, Sudah berapa lama kau berada di negara ini?” Tanya Reihan tegas. “Bukan urusanmu!” Jawab orang itu. Reihan pun tersenyum, tanpa belas kasihan dia langsung menekankan rokok itu ke paha dalam orang yang ada di hdapannya. Suara teriakan pun terdengar nyaring membuat Reihan menutup sebelah matanya. “Aku ulangi sekali lagi pertanyaannya. Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Reihan pelan. “Liburan, ya aku di sini sedang liburan! aku akan melaporkan kalian ke kedutaan dan menuntut kalian! Lihat saja!” Ancam orang itu. “Ehm… baiklah. Namamu Rio ‘kan? Berasal dari Kebumen, anak sematang wayang dari psangan Parmin dan juga Nursia. Anak yang dibesarkan dengan Penuh kasih sayang, tapi justru mengecewakan orang tuanya. Memilih profesi menjadi perantara dalam menyelundupkan obat-obat terlarang ke negara tercintanya. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada orang tuamu nanti? Apakah kau yakin orang-orang itu tidak mengincar mereka?” Tanya Reihan telak. Orang yang bernama Rio itu pun mulai mengalihkan perhatiannya dan fokus menatap Reihan. Sepertinya pancingan Reihan berhasil, karena Rio langsung bertanya apa yang mereka inginkan. Reihan pun mengatakan semuanya, dia bertanya apa pun yang ingin mereka ketahui. Setelah semua informasi yang ingin mereka ketahui didapat semuanya, Abigail langsung menelepon seseorang. “Baiklah, Rio. Besok kau akan kami pulangkan ke Indonesia. Tapi, tentu saja sebagai tersangka utama kasus penyelundupan narkotika. Siapkan semuanya, jika kau memiliki pengacara, kau boleh menghubunginya dan memintanya membelamu di pengadilan.” Jelas Reihan. “Tolong, tolong aku! Pastikan kedua orang tuaku dalam keadaan aman.” Rio pun memohon kepada Reihan dan yang lain. “Ckckckckck… sekarang kau baru sadar betapa berbahayanya orang-orang itu!” Ejek Anton kesal. “Aku mohon, aku mohon kepada kalian. Patikan orang tuaku selamat.” Liri Rio. Andreas yang melihat itu langsung mendecakkan lidahnya dan berdiri menghampiri Rio. Dia berlutut untuk mensejajarkan mata mereka. Ditatapnya wajah laki-laki di hadapannya ini. Wajahnya Tampak polos dan terlihat seperti orang baik hati. Tapi, otaknya tidak pernah dia pakai dengan benar, dengan mudahnya dia menghancurkan nasib orang-orang yang ada di negaranya. Andreas menarik kuat rambut bagian depan Rio sampai dia menengadahkan kepalanya. Dengan kesal, Andreas pun menghajar wajah polos itu beberapa kali. Sampai darah segar mengalir dari ujung bibirnya dan juga pelipisnya. “Kau memohon kepada kami sekarang, hah?! Kau tidak tahu bagaimana hancurnya hati orang tua, adik, kakak, istri, ataupun suami orang-orang yang kau hancurkan dengan barang laknat itu?” Bentak Andreas kesal. Dia memang tidak pernah bisa menerima apapun jika terkait para pengedar dan juga pelaku jual beli manusia. Karena mereka adalah orang-orang kejam yang tidak pernah memikirkan nasib orang lain yang mereka buat hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN