Mengejar Jessy

1077 Kata
Reihan dan Abigail mengantar Rio menuju bandara. sudah ada beberapa anggota interpol lain yang akan membawanya kembali ke negara tercinta Indonesia. Sepanjang perjalanan Rio tidak berhenti memohon kepada dua orang itu. Dia meminta mereka mengirimkan pengawal kepada kedua orang tuanya. “Selamat Malam, Iptu Reihan dan Iptu Abigail.” Sapa orang yang sedari tadi menunggu mereka. “Selamat Malam, Pak.” “Kami selalu salut dengan cara kerja tim Alpha. Kami akan membawa orang ini kembali ke peraduan.” “Baik, terima kasih untuk kerja samanya.” Reihan pun mengulurkan tangannya dan orang yang ada di hadapannya pun menyambut baik uluran tangan itu. “Kami yang seharusnya berterima kasih. Berkat kerja sama Tim Alpha satu ODP berhasil di tangkap. Kami akan mengadilinya sesuai hukum yang berlaku.” Reihan dan Abigail pun memberikan hormat kepada AKP itu dan mundur beberapa langkah. Rio akan dibawa pulang ke Indonesia menggunakan pesawat jet khusus. Anggota interpol lainnya tidak mau mengambil resiko. Mereka takut jika menggunakan pesawat komersil, Rio akan melarikan diri. Rio sangat dibutuhkan dalam kasus ini. Karena jika tidak semua kejahatan yang sudah mendarah daging ini tidak akan pernah selesai. Beberapa orang yang akan membawa Rio kembali ke Indonesia pun sudah memasuki pesawat itu. Reihan dan Abigial pun langsung balik kanan dan keluar dari tempat in. “Satu misi kita sudah berhasil di selesaikan. Bagaimana dengan yang lain? apakah akan kita langsung melakukan pengejaran lagi?” Abigial menutup pintu mobil dan mulai menyalakan mesin mobil ini. “Kita harus mengumpulkan bukti yang lebih akurat lagi. Karena yang menjadi target selanjutnya bukan orang biasa. Kita harus memiliki persiapanyang sangat matang. Jika tidak, kita yanga kan hancur.” jawab Reihan. dia mulai mengenakan sabuk pengaman. “Ehm.. apa lo bakal nemuin Jessy lagi?” “Siapa lagi yang bisa menjadi sumber paling akurat selain dia.” “Apa lo mulai tertarik dengan Jessy?” “Entahlah, saat ini gue belum bisa bilang tidak ataupun iya. Gue masih berusaha memahami hati gue.” “Hooooo… seorang Reihan mau memahami isi hatinya? Lo benar-benar sudah berubah, Bro. Semoga kita tetap akan seperti ini sampai kapan pun.” “Ck! Bisa-bisanya lo bersikap melankolis begini.” “Sejujuranya kalau gue boleh jujur, gue Sudah nyaman dengan kondisi kita saat ini. walaupun kami semua menumpang di apartemen mewah lo, tapi kami selalu berusaha mengisi kulkas makanan lo.” “Ya… ya... ya… gue berterima kasih sekali.” Abigail hendak membalas perkataan Reihan. Tapi, dering ponselnya cukup kencang. Ada nama Anton tertera di layar ponsel yang saat ini tengah bersinar terang. abigail menyambungkan ponselnya dengan perangkan earphone bluethooth agar dia tidak terganggu saat menyetir. “Hoi! nape?” Tanya Abigail malam. Dia berpikir saat ini Anton pasti sedang berpikir untuk merepotkan mereka berdua di tengah malam seperti ini. “Ini gawat!” Kata-kata Anton berhasil membuat Abigail menepikan mobil yang dia bawa. “Ada apa?” Abigail mulai penasaran dengan hal tu. “Jessy menghilang. Sepertinya Nyonya Stephani sengaja membawanya pergi untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.” “s**t!!! Lo dapet lokasinya saat ini?” tanya Reihan. Panggilan itu sudah diubah menjadi mode pengeras suara. “Belom, Andreas lagi mencoba mencarinya. Tapi, sepertinya akan susah.” “Lo di mana?” “Gue di hotel. Dan satu lagi berita nggak enaknya.” ucap Anton ragu. “Apa?” Reihan pun malas berspekulasi. “Tim dua datang ke sini.” “Hah? yang bener lo? nggak lagi becanda ‘kan?” tanya Abigail sambil berteriak kepada Anton. “Serius, anjeng! Lo pikir gue becanda. Dan sialnya mereka menginap di hotel ini juga. entah dapat informasi dari mana jika kita menginap di sini.” Gerutu Anton. Mendengar kata-kata Anton itu Reihan dan Abigail pun menganggukkan kepalanya untuk menyatukan persepsi mereka masing-masing. "Sepertinya akan ada kejutan besar nanti. kami akan segera kembali ke hotel.” Ucap Reihan malas. “Eh… sebelum balik ke sini, beliin makanan dulu dong. Apa aja yang penting bisa buat kenyang.” Sela Anton sebelum menutup teleponnya. Abigail dan juga Reihan pun hanya bisa menghela napas jengah. Mobil pun kembali melaju di jalanan kota ini. Abigail melihat logo toko makanan siap saji berada seratus meter di depan sana. Dia pun langsung mengambil jalur menepi dan mampir terlebih dahulu ke toko ini. Layanan drive thru mereka pilih untuk menghemat waktu. Dua paket ayam dan empat paket burger pun dia pesan. Setelah memesan mereka pun menunggu pesanan mereka, saat mobil itu berjalan pelan menuju spot tunggu Reihan melihat seseorang yang mirip sekali dengan Jessy sedang berada di mobil van yang ada di depan sana. Seingatnya Anton tadi mengatakan jika dia menghilang dan kemungkinan besar ibunya yang membawanya pergi. Reihan pun menghubungi ponsel Anton. Teleponnya langsung dijawab tanpa perlu menunggu lama. “Lo tadi bilang Jessy menghilang ‘kan? Apa kalian sudah menemukan lokasinya?” Tanya Reihan to the point. “Iya, dan sampe sekarang kami belom ketemu posisinya.” “Oke, sepertinya makan malam akan datang sedikit terlambat.” “It’s okay. Asalahkan kalian balik ke sini bawa makanan aja.” Telepon pun diputus Reihan. Dia menunjuk van yang terparkir tidak jauh dari mereka dengan dagunya. Abigail mengikuti sorot mata Reihan dan dia langsung tersenyum senang. Pleyan menyerahkan pesanan mereka. Abigail pun mengucapkan terima kasih dan memarkirkan mobilnya mendekati van itu. Jessy tidak sengaja bertatapan dengan Reihan. Matanya pun terbelalak kaget, dia memberikan isyarat kepada Reihan untuk pergi dari sini. Tapi, Reihan hanya tersenyum menanggapinya. Jessy lalu meminta orang-orang yang membawanya untuk pergi dari sini. Abigail pun mengikuti van itu pergi. jalan mereka sangat cepat sepertinya ada hal yang mereka kejar. “Mau kemana mereka?” Gumam Abigail. “Sepertinya menuju pelabuhan. Mereka akan meninggalkan kota ini.” Jawab Reihan. Dan benar saja dugaan Reihan. Mobil van itu berbelok untuk memasuki jalan tol yang menuju pelabuhan kota ini. Abigail mempercepat laku mobilnya agar tidak tertinggal jauh dari mobil van itu. saat sedang berkonsentrasi mengejar mobil di depan, tiba-tiba ada peluru menembus kaca mobil bagian belakang. “Sial! Ada satu lagi ternyata mobil di belakang. Sepertinya mereka memang sengaja menjaga jarak u ntuk menganTisipasi hal yang kita lakukan.” Ucap Abigial kesal. Reihan dan Abigail pun berusaha menghindari tempabakan itu. Karena tidak mungkin menghindar terus, Reihan langsung pindah ke kursi penumpang belakang, mengambil senjata api yang terselip di pinggangnya. Reihan membuka jendela mobil dan dia mulai membalas tempakan orang itu. Satu tempakan dia arahkan kepada pengemudi van, dan tepat sasaran. Mobil itu langsung oleng dan membanting stir ke kiri setelahnya terbalik di jalanan. Nyaris saja kecelakaan beruntun terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN