Reihan dan Abigail masih berusaha mengejar mobil van yang ada di depan mereka. Mereka tidak boleh kehilangan Jessy saat ini. Jika sampai Jessy berhasil sampai di pelabuhan, sudah bisa dipastikan dia akan dibawah menjauh dari kota ini. Dan usaha mereka sampai sejauh ini pun akan percuma.
“Bi, lebih cepet lagi. Jangan sampai kita kehilanagn mereka!” Perintah Reihan. Suaranya terlihat sangat risau.
***
Anton dan Andreas pun menyusul kedua temannya. Karena tidak mau menarik perhatian dari tim dua yang saat pasti memperhatikan kemana mereka pergi dan apa saja yang akan mereka lakukan, jadi dua orang itu hanya mengenakan sandal jepit dan juga celana pendek serta baju kaos oblong untuk keluar kamar.
Tapi, di luar jendela kamar mereka Andreas Sudah menurunkan dua buah ransel yang berisikan baju ganti dan juga beberapa senjata api beserta magazinennya masing-masing. Jika mereka tidak salah mengira, saat ini Abigail dan juga Reihan sedang kejar-kejaran dengan orang-orangnya Nyonya Stephani.
“Kalian mau ke mana?” Tanya ketua tim dua Bagus.
“Mau cari makan. Nungguin Reihans ama Abigail lama. Perut sudah mulai dangdutan sampe keroncongan dia. Sebentar lagi bisa-bisa seriosa. ‘Kan gawat.” Jawab Anton santai.
Bagus yang memang tidak pernah mau meladeni tingkah konyol dan jawaban aneh Anton pun hanya melambaikan tangannya dan mengatakan untuk berhati-hati. Karena jalanan kota ini tidak bersahabat jika sudah lewat tengah malam.
***
Reihan dan Abigail melihat mobil van yang mereka kejar tadi berhenti di sebuah gedung tua yang sepertinya dulu dijadikan gudang logistik di pelabuhan ini. Perlahan mereka berdua turun dari mobil. Reihan dan juga Abigail terlihat sangat waspada saat ini. Mereka mengaunkan kaki untuk mendekati gedung tua itu.
“Gedung ini seperti sudah lama terbengkalai. Apa mereka ingin mengambil sesuatu di dalam sana? Bukankan arah untuk ke dermaga bukan belok ke sini?” Tanya Abigail.
“Sepertinya ini perangkap. Lo Sudah hubungi Andreas atau Anton ‘kan?”
“Sudah, gue sudah share lokasi kita, mereka sedang dalam perjalanan menyusul ke sini.”
Abigail masuk terlebih dahulu untuk melihat kondisi di dalam, ternyata tidak ada seorang pun di gedung tua ini. Reihan dan Abigail pun langsung mengecek ke seluruh sudut bagian dalam gedung ini tapi, tidak menemukan siapun. Sialnya pintu langsung tertutup dari luar, selang berapa lama ledakan terjadi dalam gedung ini.
Tubuh Abigail langsung terlempar keluar jendela begitu pun dengan Reihan. dengan susah payah dua orang itu mendudukkan diri mereka. Suara berdenging mengganggu pendengaran mereka, dan penglihatan mereka pun sedikit kabur.
Beruntungya luka yang mereka alami tidak begitu parah. Hanya ada sedikit darah di pelipis mereka berdua. Mungkin jika ingin di cek lebih seksama mereka pasti mendapatkan memar di sana-sini karena terlempar jauh sampai ke luar gedung.
“Sial! Kita dijebak.” Maki Reihan kesal.
“Sepertinya mereka tahu jika kita akan berusaha menyelamatkan Jessy jika terjadi apa-apa dengan dia.”
“Tapi gue nggak habis pikir, tega ya ibunya mengorbankan anak gadisnya begitu.”
Reihan pun berdiri dan berusaha menjauh dari gedung ini. Abigail pun berjalan mengikuti keman kaki Reihan melangkah. Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, mobil yang dikendarai Anton pun tiba. Andreas keluar, mereka langsung berlari saat melihat kondisi kedua rekannya tidak baik.
“Gimana? Masih bisa berdiri? Apa perlu gue dukung untuk keluar dari zona ini?” tanya Anton kepada dua rekannya. Dia tidak tega jika harus memaksakan diri. Dua rekan mereka mengalami luka, jadi lebih baik dia diobati terlebih dahulu.” memiliki luka yang cukup menghambat pergerakan mereka.
“Sebaiknya kita mundur dulu. Tidak lucu bukan kita mati konyol di sini.” Saran Andreas.
“Oke, kita mundur. Lebih baik seperti itu. Habis ini kita susun rencana lagi.”
“Ya udah. Posisi Jessy dimana sekarang” tanya Anton lagi.
“Seharusnya dia ada di sekitar sini. Karena mobil van yang membawa mereka terparki di sana.” Jawab Abigail sambil menunjuk ke arah mobil yang masih berada pada posisinya.
“Gue curiga mereka masih ada di sini, mengawasi kita.” Sela Andreas.
“Kita Harus waspada. Apakah kalian datang ke sini tanpa sepengetahuan tim dua?” Tanya Reihan keapda Anton dan juga Andreas.
“Seharusnya mereka tidak curiga. Karena kami keluar kamar tadi tidak dengan pakaian ini.” Jawab Anton sambil membantu Reihan berjalan menuju mobil.
“Kalian naik apa ke sini?” Tanya Abigail bingung saat tidak melihat kendaraan lain di sekitaran sini.
“Taksi.” Jawab Andreas singkat.
Dia memasukkan tas ranselnya ke kursi belakang dan membantu Abigail serta Reihan untuk duduk di kursi belakang. Anton pun mengambil alih kemudia dan mulai menyalakan mesin mobil. Saat Andreas Sudah masuk ke dalam mobil barulah dia melajukan mobil itu.
Mobil mereka berpapasan dengan mobil Nyonya Stephani. Abigail melihat jelas Nyonya Stephani terlihat sedang memarahi Jessy di dalam mobil itu. Karena dia sempat melayangkan tangannya ke wajah Jessy.
“Kita ikuti mobil itu mau ke mana.” Perintah Abigail.
Anton pun memutar mobilnya menuju pintu keluar pelabuhan ini. Dengan jarak yang cukup aman, dia tetap fokus melihat ke arah mana mobil sedan mewah itu melaju. Reihan dan Abigail waspada melihat ke belakang, dia takut nanti ada orang lain yang akan menyerang mereka.
***
Sedan mewah itu berhenti di depan sebuah rumah mewah yang ada di salah satu pemukiman padat penduduk. Sepertinya itu adalah rumah milik Nyonya Stephani. Terlihat Jessy turun terlebih dahulu dari mobil dan langsungbergegas masuk ke dalam rumah.
Di depan rumah itu ada seorang laki-laki tua yang tidak terlalu jelas wajahnya. Mereka berempat berpikir laki-laki tua itu adalah kakek Jessy.
“Itu seperti rumah Nyonya Stephani. Gue penasar sama laki-laki yang berdiri di dekat pintu masu.” Gumam Anton.
Andreas pun mengutak atik ransel yang tadi dia minta dari Abigail. Dia pun mencari teropong serba guna yang bisa dia gunakan untuk melihat orang itu dengan jelas. Andreas mengarahkan teropong itu ke rumah milik Nyonya Stephani.
“Wah… tua bangka itu benar-benar ya! Dia ada di mana-mana.” Maki Andreas kesal saat mengetahui laki-laki.
“Kenap lo marah-marah? Siapa orang itu?” Anton pun merebut teropong yang ada di tangan Andreas dan mengarahkannya ke teras rumah Nyonya Stephani.
“Anjir… itu Tuan Edward, dong. Ngapain dia sama Nyonya Stephani? Jangan bilang kalau Nyonya Stephanis adalah salah satu b***k pemuas nafsu Tuan Edwar?” Anton pun terkejut melihat siapa orang itu.
“Apa lagi yang mereka harapkan jika bukan karena uang.” Ejek Reihan. “ Kita pergi dari sini dulu. Besok baru kita pikirkan matang-matang rencana kita. Reihan menepuk pundak Anton dan mengajaknya untuk pergi dari sini.