Kabur

1285 Kata
Reihan dan ketiga rekannya kembali ke hotel setelah mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit yang dekat dengan hotel tempat mereka menginap. Untungnya luka yang di dapatkan Reihan dan Abigail dari ledakan itu tidak terlalu parah. Salah satu anggota tim dua melihat kedatangan mereka saat dia hendak keluar dari hotel. Orang itu pun bergegas menaiki tangga darurat dan mengetuk kamat di mana ketua tim mereka menginap. Sedangkan Reihan dan yang lain mengendap-endap seperti pendosa yang takut ketahuan. Pintu kamar ketua tim dua diketuk berkali-kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Orang itu pun melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan langsung menepuk dahinya pelan. Saat ini sudah menunjukkan pukul Dua dini hari, mungkin ketuanya sudah terlelap dalam tidurnya. Dari dalam kamar, ketua tim dua mengumpat berkali-kali. Dia bertanya-tanya siapa orang yang berani mengganggu kesenangannya malam ini. Padahal dia sengaja belum memberikan instruksi apapun kepada anggotanya karena dia ingin meraih kenikmatan panjang malam ini. "Sudahlah, sayang. Tidak usah kita hiraukan gangguan kecil itu. Mari kita lanjutkan permainan panas ini." Wanita yang saat ini ada di pangkuannya pun mulai membelai wajahnya perlahan. Dia tidak mau kehilangan momen romantis mereka yang sedari tadi susah payah dia ciptakan. Laki-laki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah laki-laki yang mudah dia rayu dan dia puaskan. Jadi, dia tidak mau membuang waktu dan juga tenaganya lagi saat ini Mendapatkan perlakuan seperti itu, ketua tim itu pun kembali fokus dengan apa yang sedari tadi dia lakukan bersama wanita yang dikirim Tuan Edward untuknya. Tangan nakalnya mulai bergerilia di sepanjang tubuh wanitanya. Tak sungkan dia memberikan cubitan-cubitan kecil di area sensitif wanitanya. Suara tawa dan juga napas penuh nafsu pun terdengar diantara mereka berdua. Sesekali kecupan mesrah diberikan kepada wanitanya. Jejak-jejak manja pun sudah ada di mana-mana. Sampai akhirnya mereka mempersatukan diri mereka dalam surga dunia yang sedari tadi mereka cari. *** Reihan membaringkan dirinya di atas ranjang burukuran Queen siza. Di kamar ini ada dua ranjang besar untuk mereka pakai beristirahat. Anton pun membaraingkan dirinya di samping Reihan sambil menatap fokus ke arah langit-langit kamar ini. "Bro, gue rasa lo sengaja dipancing tadi. Dan mereka berniat melenyapkan kita." gumam Anton. "Sepertinya begitu. Mereka memang ingin membunuh kita sedari kita ada di Tiongkok tempo hari." Jawab Reihan. Dia berusaha mendudukkan dirinya. Karena aneh rasanya jika dia harus berbincang dengan Anton dalam posisi berbaring seperti tadi. "Jadi, apa rencana kita selanjutnya?" "Gue dapet informasi kalau besok akan ada transaksi besar antara Tuan Edward dan salah satu ketua mafia di sini." "Transaksi besar? apa? Narkotika atau wanita?" "Gue belom memastikannya. Karena informasi itu baru gue dapet saat di rumah sakit tadi." "Bisa dikonfirmasi nggak? Nanti itu jebakan lagi." "Akan gue cari tahu besok pagi. Sekarang badan gue berasa remuk. Jadi, lo nggak usah berisik kalau masih mau tidur di ranjang ini dengan nyaman. Dan nggak usah iseng! Itupun kalau lo masih mau hidup!" Reihan pun kembali membaringkan tubuhnya. Tapi, kali ini dia tidak mau telentang, dia memiringkan tubuhnya dan membelakangi Anton. *** Di rumah besar nan megah ini Jessy merasa tersiksa. Setiap pergerakannya diawasi oleh anak buah ibunya. Jessy penasaran, apakah ibunya tahu apa yang dia kerjakan selama ini? Karena sejak dulu sekali, ibunya tidak pernah memperdulikan apapun yang dia kerjakan. Bahkan sang ibu tidak mengetahui apa yang dia suka dan apa yang dia benci. Jessy terbiasa diabaikan, sampai akhirnya dia muak dengan hubungannya dengan sang ibu dan memutuskan mencari tahu apa yang ibunya kerjakan selama ini. "Kau tidak perlu mengikuti kemana pun aku pergi! ini rumahku bukan penjara!" Bentak Jessy kepada seorang pengawal yang sedari tadi mengikuti kemana dia pergi. "Maaf, Nona. Tapi, Nyonya Stephani memerintahkanku untuk tetap mengawasi Nona. Tolong mengerti posisiku saat ini." "Ck! menyebalkan sekali!" Jessy pun berjalan menuju tempat yang tidak terlihat kamera pengawas. Orang itu masih tetap mengikuti ya. Jessy pun tersenyum senang. Lalu dengan cepat dia menarik tubuh pengawal itu dan mengunci lehernya dengan sangat kuat. Karena terkejut pengawal itu tidak sempat melawan. Dia berusaha melepaskan diri dari anak majikannya ini. Tapi, tenaga Jessy sangat kuat rupanya sehingga dia kesulitan bernapas. Tak berapa lama pengawal itu pun pingsan. Jessy menyeret tubuh besar itu dengan susah payah, dia dudukkan pengawal itu di sudut dinding ini yang tertutup pohon palem besar. Jessy melepas kaos polosnya dan mengikatkan kaos itu ke mulut pengawal ini agar dia tidak bisa berteriak atau memanggil rekannya yang lain. Jessy pun mematikan HT yang tersemat di pinggangnya, lalu menarik tali panjang yang kebetulan ada di dekat mereka dan mengikat pengawal itu kuat. Sebelum dia pergi Jessy memastikan ikatannya tidak akan mudah terlepas. Jessy berjalan mengendap-endap menuju jendela besar yang ada di bagian belakang rumah ini. Dia ingin kabur dari rumah yang sudah seperti penjara baginya. Saat ingin melompat ke bawah ponselnya bergetar, nama uang tertera di layar ponsel adalah nama Reihan. Dia mengurungkan niatnya dan mengambil earphone dari dalam saku jaketnya, lalu menyambungkannya ke ponsel. Barulah dia menjawab telepon Reihan. "Halo? Ada apa?" tanya Jessy cepat. Dia masih tetap mengawasi para pengawal ibunya di halaman belakang rumah ini. "Kamu mau kabur? Butuh bantuan?" Tanya Reihan sambil menyeringai. Saat ini Reihan dan ketiga rekannya tengah mengawasi rumah Nyonya Stephani untuk menunggu Tuan Edwar keluar dari sana. Tapi, Andreas justru melihat aksi Jessy yang sepertinya ingin keluar dari rumah ini. "Kebetulan sekali. Apakah pertanyaan ini merupakan tawaran yang pasti? atau hanya basa-basi untuk mengejekku?" "Tentu saja ini tawaran yang pasti. Jika kamu berhasil keluar dari rumah itu berlarilah ke arah selatan dari pintu belakang. Kami menunggumu di sini." "Kami? Kamu tidak sendirian?" "Kebetulan aku sedang berjalan-jalan dengan rekan kerjaku." "Cih, berjalan-jalan katamu? Terlalu terlihat jika kamu berbohong saat ini, Reihan." "Tidak usah memperpanjang percakapan ini. Lompatlah dari sana dan akan kami bantu saat kamu keluar dari pintu rumah itu. Tapi, jika kamu takut untuk melompat, maka kami tidak bisa membantumu." Reihan pun mematikan teleponnya dan melihat ke layar laptop Andreas yang saat ini sedang memperlihatkan aksi Jessy yang melompat dari jendela yang ada di lantai dua. Setelah berhasil melompat, Jessy pun langsung menyerang semua pengawal ibunya dan berusaha keluar dari pintu belakang. Jika kabur dari rumah ini semudah itu, maka tidak akan seru bukan? Jadi, Nyonya Stephani sudah mempersiapkan semuanya. Dari tempatnya duduk dia memerintahkan orangnya untuk menembakkan obat bius kepada Jessy. Dia tahu, anaknya akan melakukan ini. Watak Jessy sama kerasnya dengan dirinya. Jadi tidak mungkin jika dia menerima semua ini dengan suka rela, dan diam saja. Satu tembakan pun dilepaskan, dan nyaris mengenai pahanya. Jessy melihat jarum tipis itu tepat mengenai tanaman di sebelahnya. Dia pun langsung tersenyum mengejek kegagalan orang itu, dan dia langsung menendang pintu halaman belakang dengan sekuat tenaga, dan pintu itu pun terbuka. "Dia keluar tuh." Teriak Anton yang melihat Jessy di depan pintu. "Kita dekati, dan tarik mundur robot pengintaimu, Andreas." Perintah Reihan itu langsung dijalankan semua anggotanya. Abigail langsung melajukan mobil ini mendekati Jessy. Andreas pun langsung menarik tuas untuk menarik robot pengintai berbaling-baling miliknya. Mobil itu berhenti tepat dihadapan Jessy dan, Anton langsung menarik Jessy masuk. Melihat Jessy yang sudah aman di dalam mobil, Abigail langsung tancap gas meninggalkan rumah milik Nyonya Stephani. Dari lantai dua rumahnya, Nyonya Stephani melihat semua itu. Dia pun mengepalkan tangannya kesal. "Sejak kapan anakmu memiliki teman seliar itu, Steph?" Tuan Edward pun tertawa melihat apa yang terjadi. Dia belum tahu jika yang ada di dalam mobil itu adalah Reihan dan teman-temannya. "Tidak perlu mengejekku seperti itu. Hal semamcam ini sangat lumrah terjadi di saat kau sedang dimabuk cinta." "Jadi, maksudmu laki-laki yang membantu Jessy kabur itu adalah kekasihnya?" "Salah satu dari mereka." "Wah, kau sudah berubah rupanya, mulai memperhatikan anakmu satu-satunya." "Lebih tepatnya anak kita, Edward! Jangan pernah kau melupakan fakta itu!" "Hahahahaha... apakah dia akan percaya jika kakek tua ini adalah ayahnya?" "Dia harus percaya itu! Karena faktanya kau memang ayahnya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN