Jessy masih duduk diam dan menatap Reihan dengan seksama. Saat ini dia ingin berterima kasih kepada laki-laki tampan yang ada di hadapannya ini. Entah kenapa untuk tidak jatuh hati kepadanya sungguh sangat sulit. Padahal dia selalu meneguhkan hatinya untuk tetap bersikap biasa saja. Tapi, setiap dalam keadaan yang sangat membutuhkan seseorang laki-laki di hadapannya ini selalu muncul tanpa perlu dia minta.
“Thanks. Thank you so much, anyway.” Ucap Jessy akhirnya. Dia pun langsung mengambil cangkir yang ada di hadapannya, lalu meneguh air yang ada di dalamnya.
“You are welcome. Jadi, apa yang membuatmu Kabur dari rumah itu?” Tanya Reihan seolah benar-benar tidak tahu alasan Jessy kabur dari rumah ibunya.
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu bolehkan aku bertanya sesuatu?”
“Sure. Silahkan.”
“Kenapa kamu bisa ada di sana dan bagaimana kamu bisa tahu aku akan kabur hari ini?”
“Bagaimana aku bisa tahu? Anggap saja itu suatu kebetulan yang menguntungkanmu. Dan untuk pertanyaan kenapa aku bisa ada di sana, itu karena aku sedang menunggu Tuan Edward keluar dari rumah itu.”
“Kamu menunggu kakek tua itu? Apa yang membuatmu melakukan hal itu?”
Reihan pun mengernyitkan dahinya. Dia menatap Jessy lekat. Memperhatikan raut wajah wanita yang ada di hadapannya ini. Dia ingin memastikan apakah Jessy benar-benar tidak tahu akan hal itu ataukan dia hanya berpura-pura tidak tahu.
“Kenapa?” Tanya Jessy sekali lagi. Dia bingung dengan sikap Reihan hari ini.
“Kamu tahu apa pekerjaanku, bukan?”
“Ehm… ya. Aku tahu apa pekerjaanmu dan kenapa kamu bisa datang ke negara ini.”
“Jadi aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku mengejar Tuan Edward. Dan untuk alasan kenapa aku menunggunya keluar dari rumahmu hari ini adalah…” Reihan pun menunjukkan pesan yang dia terima tadi malam.
Jessy membaca pesan itu dan melihat Reihan serta layar ponselnya bergantian. Jessy pun paham sekarang apa maksud dari tatapan Reihan itu. Dia langsung mendorong ponsel Reihan ke arahnya dan mulai mengatur tenggorokannya agar tidak terlalu kering dengan cara berdeham.
“Itu bukan aku pengirimnya.” Jawab Jessy akhirnya.
“Bukan kamu? apakah kamu sungguh-sungguh?” Reihan memastikan sekali lagi.
Anton dan kedua rekan Reihan lainnya pun saling bertatapan saat mendengar pengakuan Jessy itu. Sampai tadi pagi mereka berempat percaya jika Jessy-lah yang mengirimkan pesan itu kepada Reihan. Mereka pun bertanya-tanya apakah pesan itu benar apakah hanya pesan iseng yang ingin mempermainkan mereka saja. Atau itu sengaja dikirim Nyonya Stephani untuk menjebak mereka dan menghabisi mereka.
“Apakah ibumu tahu siapa aku?” Tanya Reihan sekali lagi.
“Dia tidak tahu pekerjaanmu apa, dan alasanmu ada di negara ini. Yang dia tahu hanya, aku menyukaimu.”
Abigail terbatuk, dan nyaris menyemburkan air minum yang baru saja ingin melewati kerongkongannya. Dia tidak menyangka jika akan mendengarkan pengakuan dari Jessy untuk rekan kerja sekaligus sahabatnya. Hal seperti ini memang sering terjadi, seorang wanita akan langsung terpikat kepada Reihan. Tapi, seorang wanita mengatakan jika dia menyukai Reihan di hadapannya baru kali ini.
“Lo kenapa?” Bisik Anton bingung.
“Kaget dia, Bang. Apa lo nggak dengar apa yang abru saja Jessy katakan?” Andreas membantu Abigail menjawab peranyaan Anton.
“Emang tuh cewek ngomong apa?”
“Dia suka sama Bang Reihan.” Jawab Andreas santai. Sambil tetap mengutak atik laptopnya.
“Hah? seriusan?” Tanya Anton histeris. Dia langsung memperhatikan kedua orang yang duduk tidak jauh dari meja mereka bergantian.
“Ck! Dasar lemot. Lo selalu aja loading, kayak komputer dos aja!” Gerutu Andreas Sambil mendecakkan lidahnya.
***
Jessy memasuki kamar hotel yang dipesankan oleh Reihan untuknya. Malam ini dia akan menginap di sini. Sedangkan Reihan dan yang lain kembali ke hotel tempatnya menginap. Saat memasuki lobi mereka berempat melihat semua anggota tim dua sedang bersiap di sana.
“Nah, ini dia mereka baru datang. Kemana aja kalian? Bisa-bisanya baru muncul sekarang.” tanya Bagus ketua dari tim dua.
“Kalian mau kemana?” tanya Reihan bingung.
"Kalian mau kemana? Lo ngigau? makanya jangan main kabur aja tadi pagi. malam ini kita harus bergerang untuk menggagalkan misi dari Tuan Edward.” jawab Bagus kesal.
Reihan dan yang lain langsung saling bertatapan. Mereka bingung darimana Bagus tahu tentang hal itu. berarti Jessy memang bukan pengirim pesan itu. Lalu siapa yang mengirimkan pesan itu dan kenapa pula Bagus dan timnya bisa tahu akan hal ini.
“Lo tahu informasi itu dari siapa?” tanya Reihan sekali lagi.
“Lah, lo nggak dapet pesannya apa? Jelas-jelas Pak Boenjamin sendiri yang mengirimkan pesan itu semalam.” Jawab Bagus malas.
“Ah… begitu rupanya.”
"Begitu rupanya? Heh buruan siap-siap! Sebentar lagi jemputan kita sampai. Dan lo harus bisa bekerja sama dengan kepolisian lokal!” ucap Bagus tegas.
Reihan pun mengangukkan kepalanya dan mengajak ketiga rekannya untuk menuju kamar mereka dan mengambil peralatan yang diperlukan. Serta mempersiapkan diri. Ada beberapa barang yang harus mereka bawa.
“Gue Bingung sama mereka, kenapa mereka terlalu mencolok seperti itu? Apakah mereka sengaja melakukan itu?” Tanya Abigail sambil menggaruk pelipisnya.
“Sama, gue juga bingung. Kok bisa mereka berlima begitu. Bersikap terang-terangan di lobi dengan pakaian lengkap seperti itu. ‘Kan bisa saja orang-orang di lobi sana ada anak buahnya Tuan Edward.” Anton pun ikut menimpali perkataan Abigail.
“Mereka sengaja melakukan itu. Dan sepertinya memang ingin menarik perhatian orang-orang.” Reihan pun menjawab kebingung kedua rekannya.
Pintu lift terbuka, mereka pun langsung keluar dan menuju kamar. Kamar mereka terlihat sangat rapi, lebih rapi dari sebelum mereka pergi. Andreas dan Abigail langsung berlari dan mengecek semua barang-barang penting mereka. Dan untungnya tidak ada yang hilang sama sekali.
“Apa ada romm service yang masuk ke sini? Tapi biasanya mereka masuk setelah mendapatkan persetujuan dari kita.” Tanya Andreas.
Reihan pun meminta dia untuk diam dengan cara menempelkan Jari telunjuk di bibirnya. Lalu mengeluarkan alat kecil yang selalu dia bawa di saku jaketnya dan mulai memindai semua barang yang ada di ruangan ini. Anton pun melakukan hal yang sama.
Saat Anton memindai lampu yang ada di atas kepala ranjang, suara dengingan pun terdengar. Begitu pula dengan Reihan, mendapatkan itu di dalam kamar mandi. Dua alat sadap dan juga kamera micro mereka temukan. Abigail dan Andreas pun langsung mengepalkan tangan mereka.
Mereka berempat tahu siapa orang yang melakukan ini kepada mereka. Pasti ini ada hubunganya dengan tim dua yang selalu ingin tahu apa yang mereka lakukan di sini. Kamera micro itu mereka biarkan di tempat itu, tapi alat sadapnya mereka hancurkan. Andreas pun melihat tipe kamera itu, dan mengatakan kepada Reihan jika kamera itu tidak bisa merekam suara mereka.
“Cih, murahan sekali cara mereka! Bisa-bisanya melakukan itu kepada kita.” Maki Anton kesal.
“Anyway, kalian Berdua dapat alat itu dari mana?” Tanya Abigail penasaran.
“Oh, ini. Kebetulan kita nemu saat menjalankan tugas luar beberapa tahun lalu.” Jawab Anton bangga.
“Bisa beli lagi nggak buat kita berdua?” Tanya Andreas antusias.
“Sudah, nanti saja membahas ini. Cepat bersiap. Nanti orang yang selalu cari perhatian itu melapor yang tidak-tidak.” Sela Reihan.
Mereka berempat pun langsung berganti baju, dan membawa semua barang yang mereka butuhkan. Saat turun ke lobi, mobil yang menjemput mereka pun sudah tiba. Bagus langsung menunjukkan wajah tidak suka karena terlalu lama menunggu Reihan dan timnya.
Mini van itu langsung berangkat saat Reihan dan timnya masuk. Di dalam ternyata tidak hanya ada mereka saja, sudah ada tiga orang dari pihak kepolisian setempat. Abigail memperhatikan mereka satu persatu. Rasa-rasanya dia pernah melihat orang-orang ini entah di mana.
“Gue kok rasa-rasa pernah lihat ya?” Bisik Abigail kepada Reihan.
“Sama, gue juga ngerasa begitu. Tapi gue lupa di mana.”
“Kenalkan mereka adalah tim taktis yang mengenal kawasan yang akan kita datangi malam ini. Mungkin kalian sering melihat tiga orang ini karena mereka adalah anggota kepolisian yang menyamar menjadi office boy di hotel tempat kalian menginap.” Jelas Bagus kepada Reihan dan timnya. Mendengar penjelasan itu, Reihan dan Abigail pun mengangguk paham.
“Gue jadi curiga.” Sela Anton sambil berbisik.
“Sudah, tidak usah banyak mikir. Kita lakukan misi ini secara bersama-sama. Tapi ingat, jangan lengah. Pastikan semua selamat!” Ucap Reihan tegas. Abigail, Anton dan Andreas pun menganguk paham.
Mobil van itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang terlihat seperti pabrik biasa. Banyak orang berlalu-lalang di depan sana. Anton dan Andreas saling bertatapan. Mereka bingung, apakah mereka harus berurusan dengan warga sipil di sini? Apakah mereka akan menjadi korban nanti?
“Mereka semua warga sipil?” Tanya Reihan tidak percaya.
“Bukan. Mereka adalah anak buah dari bos mafia terbesar di sini. mungkin mereka terlihat seperti warga sipil biasa.” Jawab salah satu tim taktis dari kepolisian setempat.
“Menurut informasi yang gue dapet, di dalem sini bukanlah tempat sembarangan. Ada ruang bawah tanah yang dijadikan markas mereka. Disana merupakan pabrik untuk memproduksi narkotika dan juga menjadi tempat untuk mengurung wanita-wanita yang siap dijual.” Hansen dari tim dua pun mulai menjelaskan semua data yang dia dapat.
“Oke. Jadi kira-kira berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menemukan target?” tanya Reihan.
“Kurang dari dua jam. Tapi kita tetap harus berhati-hati. Semua orang di dalam bersenjata dan sudah bisa dipastikan mereka orang-orang yang professional. Salah satu pengawal dari Madam Gee mantan salah satu tantara elit di negara ini.” Hansen menjabarkan semua analisa dan pengamatannya.
“Ternyata anggota tim dua ada juga yang bisa kerja.” Sindir Anton sambil tersenyum mengejek. Karena selama ini yang mereka tahu, orang-orang ini selalu berpangku tangan. Tapi sepertinya untuk kali ini tidak begitu. mungkin karena Pak Boenjamin sendiri yang memberikan perintah.
“Oke, kita samakan waktu kita. Dua jam dari sekarang, hidup atau mati!” Bagus pun memberikan perintah.
Semua orang mulai mengatur arloji mereka sebelum turun dari van ini. Mereka berpencar untuk masuk ke dalam pabrik. Reihan dan ketiga rekannya masuk dari pintu utama, mereka berusaha melumpuhkan lawan tanpa melukai. Mereka cukup terkejut dengan tidak adanya perlawanan dari orang-orang itu.
Jika mereka adalah anggota mafia, setidaknya mereka bisa lebih sigap dan waspada. Reihan pun berpikir ada yang aneh dari orang-orang di sini. mungkin kan orang-orang yang ada di bagian depan ini hanya warga sipil biasa.
Suasa di sini sangat ramai, dengan hati-hati Reihan mengamati setiap gerak gerik orang yang berada di dalam pabrik. Dan pandangannya langsung menatap fokus kepada salah satu orang yang terlihat sangat mencurigakan. Reihan pun memberikan aba-aba untuk masuk perlahan. Jangan sampai merkea menimbulkan keributan.
Mereka berhasil melumpuhkan orang-orang yang ada di bagian depan. Dari earpiece yang mereka sematkan di telinga, terdengar bahwa anggota tim dua juga bisa berhasil masuk dari pintu belakang. Mereka pun menuju tangga yang sepertinya akan membawa mereka ke ruang bawah tanah.
Reihan dan ketiga timnya masih berjalan semakin dalam ke arah depan, dan menemukan dua pintu yang berjauhan. Dengan ragu Reihan membuka pintu yang ada di sisi barat tempat ini. Saat pintu itu terbuka tercium aroma khas obat-obatan layaknya di rumah sakit. Sepertinya ini menuju ke pabrik narkotika yang disebutkan Hansen tadi.
Reihan dan yang lainnya menuruni satu persatu anak tangga di depannya dengan hati-hati. Dan dia melihat ada dinding kaca yang membatasi ruangan ini. Ada beberpa orang yang dia lihat sedang mengemas sesuatu menjadi kemasan-kemasan kecil.
“Gila, itu semua kokain?” Tanya Anton pelan. Dia tidak menyangka jika pabrik ini sangat besar dan produksi mereka pun sangat banyak.
Para pekerja di bawah sini kebanyakan wanita. Dan yang lebih gilanya lagi, mereka semua nyaris tanpa busana. Andreas dan Abigail hanya bisa tersenyum miris melihat semua itu. Ternyata ini bisnis yang bisa membuat Tuan Edward kaya raya seperti sekarang ini.
“Alpha masuk dari sisi barat dan ini sepertinya pabrik yang disebutkan Hansen tadi.” Reihan pun memberitahukan posisi mereka saat ini.
“Gue dari arah depan. Posisi?” tanya Bagus, menjawab Reihan.
“Tepat di depan pabrik. Semua aman, tapi ada yang mencurigakan. Sebaiknya kalian tetap waspada. Di sini terlalu tenang. Apakah kedatangan kita sudah diprediksi atau diketahui oleh mereka?” Tanya Reihan curiga. Karena dari tadi dia tidak menemukan seseorang yang berusaha menghalau.
“Lo gila! Mana mungkin misi ini bocor. Lo pikir gue mau menyerahkan nyawa gue gitu aja?” Balas Bagus kesal.