Terpojok

2061 Kata
Tempat ini terlalu damai untuk Anton dan yang lainnya. Biasanya jika memang ini adalah tempat mereka akan melakukan transaksi besar, setidaknya ada orang-orang terlatih seperti yang dikatakan Hansen tadi. Tapi, di sini tidak ada itu sama sekali. Diujung koridor ini ada sebuah pintu yang sepertinya bis amembawa mereka ke dalam ruangan yang mereka gunakan untuk menyekap wanita-wanita yang akan mereka perjual belikan. “Gue mulai curiga. Sepertinya kita masuk jebakan!” Anton mulai memperhatikan sekitarnya. Bahkan orang-orang yang bekerja di pabrik ini tidak ada yang terusik dengan kedatangan mereka. Setidaknya ada yang bertanya siapa mereka dan apa yang mereka inginkan di sini. Pintu itu dibuka oleh Abigail, dan tidak ada apa-apa di sini. Hanya ada tangga yang menuju ke atas. “Kita naik nih? Berarti kita balik lagi dong ke atas. Apa ajanga-jangan tangga ini menuju bagian belakang tempat Bagus dan yang lainnya?” Tanya Andreas bingung. “Bagaimana kalau kita berpencar. Lo berdua naik ke atas, gue sama Anton tetap berjalan ke depan sana.” Reihan pun membagi timnya menjadi dua kelompok. “Oke.” Jawab Andreas dan juga Abigail bersamaan. “Ingat, tetap waspada! Geu mulai curiga dengan semua ini.” “Siap, Kapten!” Mereka pun berpencar. Andreas dan Abigail menaiki tangga, sedangkan Reihan dan juga Anton masih berjalan lurus ke depan. Reihan berusaha menghubungi Bagus dan yang lainnya, tapi komunikasi mereka terputus. Hal itu menambah kecurigaan Reihan. Reihan tetap berjalan sampai akhirnya dia melihat lorong ini semakin kecil dan sempit. Asupan oksigen pun terbatas di sini. Reihan dan Anton menghemat oksigen mereka dengan cara tetap diam dan bergerak perlahan agar sistem pembakaran di tubuh mereka pun melakukan hal yang sama. Lorong ini pun sudah sampai ke titik akhirnya, di sini hanya ada pintu kayu yang sudah sangat usang. Reihan membuka pintu itu perlahan dan suara air pun terdengar. Karena ini sudah malam, dia tidak bisa melihat jalan di depan sana. Dia hanya bisa merasakan dinginnya udara malam dan sesekali terkena percikan air. “Di depan sana apa? Air terjun? sungai?” Tanya Anton penasaran, tapi dia tidak berani bergerak dari posisinya. Karena dia takut jika bergerak sedikit saja, mereka berdua akan jatuh dan hanyut di bawa arus air yang terdengar sangat deras di depan sana. Reihan pun mengambil senter yang ada di saku celananya dan melihat apa yang ada di depan mereka. Ternyata di depan sana adalah hutan, dan tidak jauh dari kaki mereka berpijak adalah aliran anak sungai yang memiliki arus yang cukup deras. Sedangkan di sebelah dinding tempat mereka saat ini ada air yang mengalir entah dari mana. Reihan pun berniat menutup kembali pintu ini dan kembali ke titik di mana dia berpisah dengan Andreas dan Abigail. Tapi, baru saja tangannya memegang kemabli gagang pintu kayu itu terdengar suara tembakan di belakang mereka. Anton langsung memutar badannya dan menatap fokus ke depan. dengan cepat Reihan pun menarik pintu itu hingga tertutup. mereka menempelkan tubuh dengan tembok lorong ini dan berharap orang yang baru saja melepaskan tembakan itu tidak melihat mereka berdua. Sinar putih terang pun memasuki lorong sempit ini. dan sepertinya mereka ada di ujung lorong tempat mereka berasal, tidak ada niatan untuk masuk ke dalam lorong ini. Lalu terdengar suara orang itu melaporkan kepada orang yang lain. Dari Bahasa yang mereka gunakan sepertinya orang itu adalah warga lokal tempat ini. Setelah di rasa aman, Anton dan Reihan pun bergegas menuju tempat awal mereka dan melihat siapa yang terkena tembakan di luar lorong ini.  “Bravo… masuk!” Ucap Reihan sambil menekan ear piece yang tersemat di telinganya.  Lima detik dia menunggu tapi belum ada jawaban dari Abigail, lalu dia berusaha menunggu lagi. Sepuluh detik berlalu masih belum ada jawaban. Reihan mengulangi panggilannya, dan masih belum ada respon. “Firasat gue nggak enak nih, Bro.” Ucap Anton sambil terus berjalan maju. Mereka tiba di titik awal mereka berasal, Anton memperhatikan kanan dan kirinya, tidak ada orang di sini. Perlahan Anton menaiki tangga diikuti oleh Reihan di belakangnya. Di ujung tangga Anton dan Reihan mendengar orang sedang berbincang. Dan semua itu suara laki-laki. Anton pun kembali menapaki satu anak tangga lagi dan mengintip sedikit ke atas. Di sana ada lima orang yang sedang berjaga. Mereka membawa senjata laras panjang, dan ada pula yang memainkan pisau di tangannya. Sepertinya sisi ini yang menjadi tempat persembunyian mereka. Anton menajamkan lagi penglihatannya dan dia melihat Hansen dari tim dua Sudah tergeletak di tanah bersimbah darah. “Kenapa?” Tanya Reihan saat dia melihat perubahan Bahasa tubuh Anton. “Hansen tewas!” Lirih Anton. Mendengar itu Reihan pun mengeratkan pegangannya pada handgun yang sedari tadi dia pegang. Orang-orang di atas sana pun berjalan menjauh, entah mereka menuju kemana. Anton langsung bergegas naik diikuti Reihan. Dia pun memeriksa tanda vital dari Hansel. “Nihil.” Lapor Anton saat dia tidak merasakan denyut nadi di leher serta pergelangan tangan Hansen. Reihan berusaha menghubungi kembali Abigail dan Andreas tapi masih tidak ada jawaban. Mereka berdua bergerak mengikuti kemana orang-orang itu tadi pergi. Jalan ini menuju ke luar pabrik ternyata. Dan sepertinya ini bagian belakang pabrik. Di depan sana sangat terang, banyak lampu yang dinyalakan.  Reihan dan Anton dapat melihat beberapa dua anggota tim dua lainnya sedang diikat dan di dudukkan bersisian. Sedangkan Bagus dan juga tim taktis kepolisian setempat tidak terlihat. Anton pun mulai berpikiran jelek. Dia mengira-ngira sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Besi dingin pun terasa di belakang kepala Reihan dan juga Anton. Mereka berdua langsung mematung. Entah siapa yang saat ini tengah menodongkan moncong senjata mereka. Mau tidak mau Reihan dan Anton mengikuti kemauan orang yang ada di belakang mereka. Mereka berdua dibawa mendekati Parlin dan Agus yang saat ini tengah terikat. lalu betis mereka ditendang dari belakang hingga mereka berdua tersungkur ke tanah. Orang-orang ini merebuat senjata yang ada di tangan mereka, dan melucuti apapun yang menempel pada tubuh mereka. Reihan mencari-cari keberadaan Abigail dan juga Andreas. Tapi, dua orang ini tidak ada di sini. Yang ada hanya orang-orang yang terlihat seperti gengster yang sedang menyombongkan kekuasaan mereka saat ini. “Hei, you! Dari kalian berdua siapa yang menjadi kaptennya?” Tanya salah satu orang yang membawa senjata laras panjang . Baik Anton ataupun Reihan masih tetap diam, sampai akhirnya seseorang yang entahd atang dari mana memukurkan ujung senjatanya ke wajah Reihan. Darah segar pun langsung mengalir dari pelipis serta hidungnya. Anton pun berusaha melepaskan diri tapi pegangan mereka sangat kuat. “Sepertiny kau yang menjadi kapten di sini.” Ucap orang tadi. “kalau begitu panggil semua anggotamu yang lain. Entah mereka itu pengecut atau mereka ingin menyelamatkan diri masing-masing. Benar-benar tidak setia kawan.” lanjutnya. “Alpha come in!” Terdengar suara Andreas di ujung ear piece ini. Entah di mana dia sekarang. “Jika aku memang kapten mereka, apa yang kau mau?” Tanya Reihan tegas. Andreas yang mendengar suara Reihan pun mengerti sekarang posisi kedua rekannya yang lain sedang tidak bagus. Andreas masih mencari-cari di mana Abigail. Mereka tida sengaja terpisah saat Abigail tidak sengaja menginjak tanah yang tidak kokoh dan jatuh terperosok ke bawah lembah yang tidak terlihat malam ini. “Gue kehilangan Abigail.” Lapor Andreas. “entah dia jatuh kemana. Yang pasti gue mendengar arus air yang sangat deras diujung tebing ini.” Andreas masih tetap melaporkan. Anton mendengarkan yang baru saja Andreas laporkan dan langsung mengumpat pelan. Sepertinya saat ini mereka benar-benar terpojok saat ini. Anton bertanya kepada Parlin di mana ketua tim mereka. Tapi, Parlin hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. “Jangan bilang kalau b******n itu berkhianat dan menyebabkan semua ini. Kalian tahu kalau Hansen tewas?” Tanya Anton kesal. Agus mengangukkan kepalanya, karena Hansen ditembak tepat di depan mereka. Dan saat itulah Bagus langsung melarikan diri sendirian. Dia tidak memperdulikan dua orang anggota timnya. Dan Tim taktis dari kepolisian setempat langsung di bawa orang-orang ini ke tempat yang berbeda. Tidak lama dari itu mereka mendengar empat kali tembakan. “b*****t tu orang! Dan kalian masih aja loyal sama dia? Percaya sama b******n tengik macam Bagus. g****k lo pada!” Maki Anton kesal. Mendengar teriakan Anton itu salah satu dari mereka melepaskan tembakannya dan mengenai kaki kiri Anton. Dia pun berteriak kesakitan. Melihat itu Reihan kesal, dia langsung berdiri dan mengambil satu pisau yang terselip di pinggang orang yang sedang menodongkan senjatanya ke wajahnya. Dengan gerakan cepat tangan serta paha orang itu berhasil terkena sayatan dalam Reihan. darah segar mengalir bersamaan teriakannya. Anton pun tidak tinggal diam. Dia langsung melawan dan melepaskan diri dari orang yang sedari tadi memeganginya. Melakukan hal yang sama seperti yang Reihan lakukan. Tapi, dia bukan merebut pisau yang tersemat di pinggang lawannya, melainkan merebut handgun miliknya yang dipegang oleh lawannya. Satu persatu orang-orang itu mereka lumpuhkan. Reihan langsung memotong tali yang mengikat Agus serta Parlin dan mengajak mereka pergi dari tempat ini. “Lo tahu kemana mereka pergi?” tanya Anton kepada Parlin. Parlin pun menunjukkan jalan yang dia lihat di pilih rekan orang-orang tadi. Mereka menyusuri jalanan itu sampai akhirnya mereka menemukan satu lagi bangunan yang lebih kecil. Di depan bangunan itu terlihat banyak orang yang lalu lalang. Dan salah satu dari mereka membawa seorang wanita Asia. “Sepertinya tempat transaksi yang dimaksud itu di sini.” Gumam Agus. “Iya. Dan kita ditipu oleh Bagus! Sialan orang satu itu. Lihat saja, gue sendiri yang bakal menghabisi nyawanya!” Umpat Anton geram. “Bravo, masuk!” Paggil Reihan. “Andreas! Lo masih hidup ‘kan? Jangan diem aja dong. Ngomong sesuatu kek. Nyanyi kek.” Panggil Anton. Tapi, tetap tidak ada jawaban. Saat ini Reihan kehilangan kontak dengan Abigail dan juga Andreas. Entah kemana dua orang itu. Apakah mereka masih selamat, ataukah Sudah tewas seperti Hansen. Reihan pun mengajak tiga orang lainnya untuk mendekati tempat itu secara perlahan. Satu persatu dari penjaga tempat itu mereka lumpuhkan dan mereka berhasil melihat situasi di dalam sana. Ada sepuluh wanita di dalam sana yang terlihat tertekan. Dua dianataranya sudah tidak mengenakan busana sama sekali, lima dari mereka diikat menggantung, dan sisanya sedang berlutut di tanah sambil melakukan sesuatu yang sangat menjijikan untuk dilihat. “Dasar b******n-b******n ini!” Maki Reihan. “Kita Harus bagaimana sekarang?” Tanya Parlin. “Ya tentu saja kita selamatkan mereka. Dari wajahnya semua wanita di sana orang dari negara kita atau Thailand.” Jawab Anton kesal, dia hampir saja memukul kepala Agus karena kesal. Reihan memasang alat peredam suara di ujung senjata api yang dia pegang. Anton dan yang lain mengikutinya. Mereka pun langsung bergerak menerobos masuk tanpa memeprdulikan bahaya yang lebih menantang dari tadi. Suara tembakan tertahan pun terdengar sayup-sayup dan wanita-wanita itu langsung berlari berhamburan menyelamatkan diri. Mereka pun berhasil melumpuhkan semua orang di tempat ini dan menyelamatkan wanita-wanita itu. Reihan melepaskan seragamnya diikuti oleh Anton. Dan mereka memberikan kepada dua wanita yang tidak mengenakan busana itu. Pakaian mereka terlihat seperti mini dress jika dipakai oleh dua wanita itu. Dengan waspada Reihan dan yang lain keluar dari tempat ini dan berniat untuk membawa wanita-wanita itu pergi jauh dari tempat ini. Baru berjalan beberapa meter, satu persatu wanita itu tewas. Reihan langsung melihat ke sekelilingnya dan mencari-cari dari mana tembakan itu berasal. Sinar laser merah pun terlihat dari atas bangunan pabirk yang ada di depan sana. Mereka berempat langsung berlari memisahkan diri. Terlalu berbahaya jika mereka masih berjalan bersama. Kemudian rentetan tembakan pun mulai berdatangan dan mereka harus menghindari tembakan-tembakan itu. Saat ini tempat mereka berasa cukup gelap. Sulit untuk melihat kondisi sekitar. Reihan yakin orang-orang itu menggunakan alat pemindai panas, sehingga dapat melihat posisi mereka dengan jelas. Benar-benar kondisi yang tidak imbang. Suara tembakan masih saja terdengar nyaring bak lantunan nada yang sedang dimainkan oleh para pemain orkestra. Teriakan Parlin membahan menambah keseruan suasana saat ini. Reihan pun tetap berlari menyusuri jalan yang entah di mana. Di tempat lain Anton pun melakukan hal yang sama, sampai akhirnya mereka tidak sengaja bertabrakan. Baik Reihan maupun Anton langsung menodongkan pistol mereka. “Mana Agus?” Tanya Reihan. Anton hanya bisa mengangkat kedua bahunya malas. Suara orang-orang yang menembaki mereka tadi mulai terdengar. Reihan dan Anton pun langsung berlari menjauhi orang-orang itu. Tidak ada waktu untuk mereka berdua tetap bercengkrama menanyakan anggota yang lain. Bisa jadi dua orang itu sudah meregang nyawa mereka seperti Hansen dan para wanita yang hendak di jual itu. “Bro, apa mungkin Pak Boenjamin menjebak kita saat ini?” Tanya Anton kesal. Dia tidak mau berpikir seperti ini, tapi entah kenapa hal ini tiba-tiba terlintas di benaknya. “Belum bisa gue pastikan.” Jawab Reihan singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN