Menyelamatkan Diri

2010 Kata
Reihan dan Arga terua berlari menyusuri semak yang sangat tinggi. Pandangan mata mereka pun terbatas karena saat ini sangat gelap. Sorot lampu senter yang diarahkan ke jalanan pun tidak cukup baik untuk membantu mereka saat ini. "Ini di mana? Kita nggak sampe masuk ke hutan sss kan? Setahu gue ini negara juga bisa mengakses hutan Amazon." tanya Anton sambil melihat ke sekelilingnya. Reihan tidak menjawab pertanyaan itu. Dia tetao berlari menyusuri jalanan kecil di tempat ini. Dia mengarahkan lampu senternya ke kanan dan ke kiri untuk melihat ke sekelilingnya. Suara anjing yang saling bersahutan membuat mereka mempercepat larinya. Karena jika sampai mereka tertangkap tamat sudah riwayat mereka. Setidaknya dia tidak boleh mati sebelum menemukan Abigail dan juga Andreas. Reihan dan Anton tidak mengira jika ujung dari jalan yang mereka lalui saat ini adalah tebing tinggi dan di bawah sana merupakan sungai yang memiliki arus deras. Karena tidak sempat menghentikan langkah mereka berdua pun terjun bebas ke bawah sana. Mereka terjatuh sangat dalam. Dan hanya hitam pekat yang bisa mereka lihat. Anton pun berusaha naik ke permukaan dan tubuhnya langsung terseret arus. Sedangkan Reihan masih belum terlihat di permukaan. Anton mencari-cari keberadaan Reihan, dia menyelam sekali lagi, dia berharap dapat melihat sorot lampu senter yang tadi dipegang oleh Reihan. Tapi, nihil. Tidak ada sama sekali. Hanya cahaya bulan yang membantunya melihat dalam gelap. Anton pun berusaha berenang ke tepian sungai, dan betapa kagetnya dia saat sesuatu yang besar menabrak tubuhnya. Anton langsung reflek mendorong sesuatu yang menabraknya itu menjauh. "Anjir... bikin kaget aja. Itu bukan buaya 'kan? Buaya nggak mungkin ada di sungai berarus deras begitu juga dengan anaconda. Kagak lucu banget kalau nasib gue sama kayak di film-film thriller." Gerutu Anton. Saat ini detak jantungnya masih tidak beraturan. Baru saja terjatuh dari tebing, dan dikagetkan dengan hal yang tadi. Tubuhnya masih terbawa arus, dan dia masih berusaha untuk menepi. Anton tidak melihat ada batu besar di ujung sana, dan lengan kanannya terbentur dengan kuat. Di batu ini Anton dapat melihat tubuh Reihan yang tersangkut. Kepalanya mengeluarkan darah cukup banyak. Sepertinya saat jatuh dari tebing dia terbentur sesuatu hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Dengan susah payah Anton melepaskan jaket yang Reihan kenakan agar tubuh besar ini tidak terlalu berat untuk dia seret ke tepian. Napasnya pun tersengal saat mereka berhasil naik ke tepian sungai. Anton berusaha membangunkan Reihan, tapi usahanya tidak berhasil. Wajah Reihan terlihat damai saat matanya terpejam seperti ini. Hal itu sukses membuat Anton takut. "Rei... Rei... bangun dong. Lo tega bener ngebiarin gue sendirian di hutan gelap ini. Kalau ada serigala atau harimau gimana? Gue nggak kuat gendong lo sambil lari, Rei." Ucap Anton sambil menggoyangkan tubuh besar Reihan. Anton pun mendekatkan telinganya ke d**a Reihan. Dia berusaha mendengarkan detak jantung rekan satu timnya ini. Masih ada, terdengar pelan. Lalu dia menempelkan jarinya ke nadi yang ada di leher Reihan, dan masih berdenyut lambat. Anton pun langsung melepaskan semua atribut yang melekat pada tubuhnya dan mulai melakukan CPR. Setelah hitungan dua puluh dia berhenti, menarik napas terlebih dahulu dan menyeka air yang menetes dari ujung-ujung rambutnya. Lalu dia ulangi lagi sampai akhirnya Reihan memuntahkan semua air yang masih tersangkut di laringnya. "Nah, lo bisa bangun kagak?" tanya Anton saat dia melihat Reihan membuka matanya. Perlahan Reihan pun duduk dibantu Anton. Dan dia melihat ke sekelilingnya. "Kita sudah di tepian sungai. Gue kira lo mati, cuy. Tega bener lo sama gue. Kagak ada bagus-bagusnya mati begini. Seenggaknya ada satu dua lobang peluru kek di badan lo." Ocehan Anton itu membuat Reihan menyunggingkan senyumannya. Anton pun mengambil dua buah pistol dan dua magazine yang masih melekat di atributnya tadi, lalu membuang semuanya ke sungai. Dia juga melepas jaketnya dan dia lempar sembarang ke tepian yang lain. Setelah memilah apa saja yang bisa mereka bawa untuk bertahan hidup, Anton membantu Reihan berdiri. Mereka pun mulai menyusuri jalanan yang dapat mereka lalui. Baju yang basah perlahan mulai menjadi lembab. Dan hal itu sukses membuat keduanya merasakan hawa dingin yang dapat menusuk ke tulang. "Kira-kira mereka masih mengejar kita nggak ya?" tanya Anton sambil sesekali melihat ke belakang. "Sepertinya tidak. Tidak terdengar suara anjing-anjing mereka." "Kagak enak bener denger lo ngomong 'anjing-anjing' mereka. Berasa gue yang dapet umpatan." "Lo aja yang sensian!" "Hahahahaha... bisa jadi. Tapi, asli gue tadi ngeri banget kalau lo sampe mati." "Kalau gue mati ya tinggal pergi aja. Nanti kalau lo selamat, baru bawa jasad gue pulang." "Etan nih manusia satu. Santai bener kalau ngomong." "Ada kabar dari Abigail atau Andreas?" "Eh, kutu kupret. Kalau nanya kira-kira. Mana bisa gue dapet kabar dari mereka. Kita itu baru aja jatoh dari tebing tinggi, masuk ke sungai. Dan semua peralatan komunikasi entah hanyut kemane. Lah ini lo nanya modelan begitu. Kan g****k banget!" gerutu Anton sambil tetap berjalan. Reihan pun tersenyum mendengar celotehan Anton yang seperti itu. Hal itu menandakan kalau rekan satu timnya yang paling dekat dengannya ini masih sehat dan waras. Karena jika Anton tidak bisa mengomel seperti itu, ada yang tidak beres dengan otaknya. Mereka sudah berjalan cukup jauh. Dan tiba-tiba Reihan kembali ambruk ke tanah. Pendarahan di kepalanya membuat dia kehabisan darah cukup banyak. Dan saat ini dia sudah tidak sanggup lagi berjalan. Anton langsung terduduk lemas saat tubuh besar Reihan jatuh ke tanah. Perlahan dia memeriksa kondisi Reihan dan juga lukanya. Luka di kepalanya masih mengeluarkan darah. Anton memotong tangan kaos yang dia kenakan, dan membuatnya jadi kain panjang yang bisa membalut luka di kepala Reihan. Tangan kaos milik Reihan pun dia sobek dan dia ikatkan di kepala Reihan. Setidaknya ini dapat menghentikan pendarahan sementara. Anton mulai memungut dahan-dahan kering yang ada di sekitar mereka, dan mencari-cari lighter di kantong celananya. Nasibnya sangat beruntung malam ini. Benda kecil itu tidak terbawa arus atau tenggelam ke dasar sungai. Api pun mulai menyala dan tubuh mereka sedikit menghangat. Sepertinya sementara waktu mereka berhenti dulu di sini. Jika tenaganya sudah sedikit pulih dan tubuhnya sudah sedikit lebih hangat, barulah dia mengajak Reihan berjalan lagi. Di tempat lain, orang-orang yang mengejar mereka menemukan jaket dan beberapa atribut yang hanyut. Mereka pun melihat ada banyak darah di batu besar yang ada di pinggir sungai itu. Salah satu dari mereka langsung melaporkan jika Reihan dan Anton sudah mati terseret arus sungai yang deras. *** Beberapa orang sedang menyusuri seberang sungai. Menurut informasi terakhir yang mereka dengar dari orang-orang yang melaporkan kondisi Reihan dan Anton, mereka berdua sudah tewas. Tapi, dari barang-barang yang berhasil mereka pungut dan mereka tinggalkan begitu saja, para pencari ini yakin jika dua orang itu selamat. Semakin masuk ke dalam hutan, orang itu melihat sinar yang redup. Mereka pun langsung bergegas ke sana. Di hadapan mereka saat ini tergeletak dua orang yang sudah tidak sadarkan diri "Kami menemukan mereka." Lapor salah satu dari mereka. Dua orang lainnya langsung memeriksa tanda vital Reihan dan juga Anton. Suhu tubuh mereka sangat tinggi nyaris empat puluh derajat Celsius. Reihan pun mengalami cidera yang cukup fatal. "Mereka harus segera di bawa ke tempat yang lebih aman. Salah satu dari mereka kehabisan banyak darah." Lapor orang yang memeriksa Reihan dan Anton. "Oke, sebentar lagi helikopter akan datang. Ayo kita bawa mereka ke tempat yang lebih terbuka." perintah ketua tim ini. Dia mematikan api yang tadi dihidupkan oleh Anton dan langsung membantu rekannya mengangkat tubuh Reihan dan yang lain membantu Anton untuk berdiri. Mereka berjalan cukup jauh dan menemukan tempat yang cukup terbuka. Selang beberapa lama suara helikopter pun terdengar, salah satu dari mereka langsung menghidupkan lampu sorot yang sangat terang untuk memberikan tanda di mana mereka berada. Tandu pun diturunkan, satu persatu Anton dan juga Reihan diangkat ke atas lalu diikuti dengan tim pencari. Reihan dan Anton dibawa ke sebuah klinik rahasia yang dikelola oleh interpol. Dokter yang tadi diberi kabar ada dua pasien gawat darurat langsung menerima kedua orang itu. Anton di bawa ke ruang pertolongan pertama dan Reihan langsung di bawa ke ruang bedah. Luka di kepala Reihan harus segera dijahit, dan pendarahannya harus segera dihentikan. Reihan pun harus menerima transfusi darah sebanyak satu kantong. Malam ini kedua orang ini harus dipantau dan dicek kondisinya. Mereka berdua harus dipastikan selamat. Agar misi ini dapat berjalan sesuai rencana. Dokter yang merawat mereka pun diperintahkan untuk tetap terjaga sampai mereka berdua benar-benar bisa dipastikan selamat. Memang sedikit berlebihan, tapi yang namanya perintah tetap harus di jalankan, bukan? *** Anton membuka matanya lebar-lebar. Dia langsung melihat ke sekelilingnya dan mencoba mengingat apa yang terjadi terakhir kali. Seingatnya dia sedang berada di tengah hutan dan menyalakan api untuk menghangatkan badannya. Tapi, karena mengantuk dan juga merasa lelah dia pun berniat memejamkan matanya sejenak. Dia pun mendudukkan dirinya dan melihat kondisi Reihan yang saat ini sedang berbaring di sebelahnya. Kepala Reihan sudah diperban dengan kain kasa putih. Hal ini menandakan jika mereka ditolong oleh seseorang. Warna merah darah pun tidak terlihat di perban itu, yang artinya luka di kepala Reihan juga sudah ditangani dengan baik. Anton lalu turun dari atas ranjang reot yang menjadi alas tidur mereka dan memeriksa keadaan di luar ruangan ini. Tidak ada siapa-siapa. Dan sepertinya tempat ini sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Banyak sekali debu yang menumpuk di kayu-kayu yang menjadi tiang rumah ini. Satu-satunya meja di sini pun tak kalah berdebu dengan yang lain. Anton pun membuka pintu tempat ini dan melihat kondisi di luar. Tidak ada siapa-siapa, dan sepertinya tempat ini jauh dari mana-mana. Terdengar suara berisik dari dalam rumah, Anton pun masuk kembali dan melihat Reihan sudah bangun dari tidurnya. Anton menghampiri Reihan dan menanyakan kondisinya. Reihan yang bingung pun bertanya saat ini mereka ada di mana. Anton yang tidak tahu pun hanya menjawab asal. Saat mereka sedang berbicara satu sama lain terdengar suara pintu yang terbuka. Anton bergegas menuju pintu dan berusaha menghalau siapa pun yang akan masuk ke dalam ruangan ini. “Hei! What are you doing?” Tanya wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Anton pun melepaskan kunciannya dan Reihan menurunkan tangannya yang siap memukul wanita itu. Mereka menelisik orang yang berdiri di hadapan mereka. Dia seorang wanita diusia pertengahan tiga puluh tahun. Dan penampilannya sangat sederhana. Mungkin wanita ini merupakan penduduk di sekitar hutan yang mereka lalui semalam. “We are sorry, Mam.” Jawab Anton. “who are you?” “Me? I am an angel!” Jawab wanita itu asal. “Come on, you two need a breakfast.” Ajaknya kemudian. Wanita itu pun berjalan menuju meja yang ada di luar ruangan ini, lalu mengajak Reihan dan juga Anton untuk makan roti yang dia bawa. Meja yang Anton lihat tadi berdebu tebal kini sudah bersih. Ada pula dua cangkir teh hangat di sisi piring roti itu. Asapnya masih mengepul sesekali. Reihan terlihat masih waspada dengan wanita ini, karena dia tidak mudah percaya dengan orang lain. Tapi bukannya tersinggung Wanita itu justru tersenyum hangat dan mempersilahkan Reihan untuk duduk di kursi kayu yang terlihat sudah cukup tua. “Udah, sini! Lo duduk gih. Itu luka di kepala lo kudu cepet sembuh. Kalau kagak, kita kagak bisa pulang dari negara ini!” Perintah Anton yang mulai kesal melihat Reihan yang masih enggan bergabung dengannya. Akhirnya Reihan pun duduk di samping Anton. Dia melihat wanita itu memakan apa yang dia bawa dan juga meminum teh yang ada di cangkir kecil yang dia letakkan di hadapannya. "Bagaimana kondisi kalian berdua? Apakah sudah lebih baik? Apa kalian merasa sakit?" tanya wanita itu dengan aksen Amerika Latinnya. "Kami sudah jauh lebih baik. Apakah Anda ya g menolong kami, Bu?" jawab Anton sopan, dan bertanya kepada wanita itu "Perkenalkan, Saya dokter Mendoza. Saya yang merawat kalian semalaman ini. Maaf jika tempat ini jauh dari kata layak. Karena tidak ada tempat kain selain di sini. Terlalu berisiko jika banyak orang yang melihat kalian masih selamat." jelasnya. "Kami sangat berterima kasih atas bantuannya. Tapi, bagaimana cara Anda menemukan kami? bukankah kami ada di tengah hutan?" Reihan penasaran bagaimana wanita ini bisa menyelamatkan mereka. "Ada tim yang mencari kalian. Saat kami mendapatkan kabar jika kalian terpojok dan misi ini bocor, tim itu diperintahkan untuk menyelamatkan kalian." "Apakah ada dua orang lagi yang berhasil kalian selamatkan?" Reihan kembali bertanya. dia teringat akan Abigail dan juga Andreas yang saat ini masih hilang kontak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN