Dokter Mendoza pun tersenyum singkat mendengar pertanyaan Reihan yang terdengar sangat mencemaskan dua orang lain yang saat ini masih dalam pencarian tim yang lain.
"Berdoa saja mereka berdua masih selamat dan dapat ditemukan." jawab Dokter Mendoza akhirnya.
"Begitu rupanya." gumam Reihan.
Dia pun menyesap teh yang sudah mulai hu dingin dan menghabiskan sarapan yang tadi dibuatkan untuk mereka. Sehabis sarapan Dokter Mendoza pun menjelaskan kondisi tubuh mereka dan memberikan obat yang bisa Reihan konsumsi untuk pereda nyerinya.
***
Abigail dan Andreas masih tetap berjalan menyusuri jalan setapak yang bisa mereka lalui. Mereka sempat terpisah karena Abigail jatuh terperosok. Tapi, Andreas berhasil menemukannya.
Sialnya komunikasi mereka terputus karena ear piece yang mereka pakai entah jatuh di mana. Saat ini mereka benar-benar harus bertahan hidup dengan mengandalkan alam.
"Bang, kira-kira kita ada di mana sekarang?" Andreas pun mulai lelah menyusuri hutan ini.
"Ini hutan sss. Lo nggak lihat apa sekeliling lo pohon besar semua? Dan hewan yang kita temui pun bukan hewan yang biasa bisa kita lihat di kota."
"Serius lo, Bang. Beruntung banget kita nggak ketemu piranha. Bisa jadi tulang aja kita kalau ketemu ikan satu itu." Andreas pun langsung bergidik ngeri membayangkan hal itu
"Itu tandanya Tuhan masih baik sama lo."
"Thanks Goooood!!! tujuan kita ke mana ini, Bang. Gue sudah capek banget ini. Dan juga lapar. Nggak bisa apa kita makan sesuatu dulu. Kita berburu dulu deh " Bujuk Andreas yang sudah malas untuk berjalan.
"Lo manja banget sih. Lo nggak tahu apa kalau saat ini waktu kita terbatas. Kita harus segera keluar dari tempat ini."
Akhirnya Andreas pun mengikuti langkah kaki Abigail lagi. Abigail pun menghentikan langkahnya tiba-tiba saat melihat ada anak babi hutan yang sedang mencari makan. Perlahan dia mengeluarkan belati kecil dari tempatnya dan bersiap untuk melemparkannya ke rusa itu.
Tapi, dia kalah cepat dengan orang lain. Anak babi hutan itu sudah ambruk ke tanah. Abigail melihat ke belakang. Memperhatikan Andreas yang masih terpanah melihat hewan itu dapat di robohkan dengan mudah.
"Lo yang lempar pisau?" tanya Abigail tidak percaya. Karena Andreas bukan orang yang mahir dalam menggunakan pisau.
"Nggak! Bukannya lo, Bang?" Andreas bertanya balik dengan heran.
Saat menyadari ada orang lain di sekitar mereka, Abigail dan Andreas pun langsung bersiap. Mereka langsung siaga, berjaga-jaga kalau-kalau orang itu adalah musuh.
"Kalian masih hidup rupanya." Suara itu terdengar familiar di telinga mereka. Tapi, mereka masih belum yakin siapa orang itu.
Perlahan semak di dekat mereka berdua pun bergerak, Abigail langsung mengarahkan pistolnya ke depan. Andreas langsung mengambil posisi membelakangi Abigail untuk berjaga jika ada yang datang dari belakang mereka.
"Sam?" tanya Abigail tidak percaya.
Abigail masih tetap mengarahkan moncong pistolnya kepada Sam. Saat ini, mana lawan dan mana kawan sangat samar Dari arah belakang pun Jo muncul.
"Mereka mau ngapain di sini, Bang? Bukan untuk memastikan kita mati 'kan?" Andreas mulai kesal dengan situasi ini.
"Gue juga ragu, yang pasti tetap waspada."
Sam dan Jo semakin mendekat ke arah mereka. Lalu muncul lagi dua orang lain yang belum pernah mereka lihat. Kemungkinan besar dua orang itu adalah anggota tim mereka.
"Kalian tidak perlu cemas. Kami di sini untuk mencari kalian dan membawa kalian ke tempat yang lebih aman dari hutan ini." Sam pun mengeluarkan ponsel khusus yang dirancang untuk melalui berbagai medan.
Jadi, mau mereka di hutan ataupun di atas gunung, ponsel ini masih bisa digunakan untuk menelpon jika diperlukan. Setelah menunggu lama, akhirnya telepon pun tersambung.
Sam berbicara dengan Bahasa Spanyol lalu melemparkan ponsel itu ke Abigail. Abigail masih diam, menunggu suara di seberang sana. Saat suara Reihan terdengar, barulah dia menurunkan senjatanya.
"Lo di mana?" tanya Reihan. Nada suaranya terdengar khawatir.
"Aman, Bos. Jadi, gue sama Andreas ikut mereka nih?"
"Iya, mereka yang ditugaskan oleh Pak Boenjamin untuk mencari kita."
"Baiklah kalau begitu."
Sambungan telepon diputus dan Abigail melemparkan kembali ponsel itu kepada Sam. Andreas pun mulai menurunkan pistolnya dan memperhatikan empat orang di hadapannya ini.
"Karena hewan buruan kita sudah ada, sebaiknya kita nikmati dulu." Jo pun mendekati anak babi hutan itu, dan langsung menggorok lehernya untuk memastikan kalau hewan itu benar-benar sudah mati.
Dua orang yang lain langsung mengumpulkan ranting pohon, dan mengambil beberapa lembar daun lebar yang ada di sekitar mereka. Sam membantu menguliti anak babi hutan itu, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian.
Saat api sudah siap, mereka langsung menaruh babi itu di atasnya. Sepertinya pesta barbeque ini akan memakan waktu cukup lama. Karena sayang jika makanan mewah di tengah hutan seperti ini disisakan.
Keenam orang itu pun menikmati waktu ini dengan bertukar informasi. Sam dan Jo menanyakan bagaimana cara mereka bisa tersesat sampai sejauh ini. Karena posisi terakhir dari sambungan komunikasinya dengan Reihan sangat jauh dari tempat ini.
Andreas menceritakan bagaimana mana dia terbawa arus sungai yang sangat deras dan nyaris jatuh ke air terjun yang ada di ujung aliran sungai itu. Sedangkan Abigail, dia terus berlari karena ada dua orang yang mengejarnya.
Dia tidak mau membuang pelurunya dengan sia-sia. Jadi, dia lebih memilih menghindar, sampai akhirnya dia terdesak, dan dua orang itu berhasil dia lumpuhkan.
Pesta pun usai, dan mereka berenam berjalan menuju tempat penjemputan.Ternyata sudah ada helikopter yang terparkir di sana. Sepertinya empat orang ini sudah mencari mereka berdua sedari tadi. Abigail menyentuh badan helikopter itu, dan capung besi itu sudah tidak panas.
"Kami sudah mencari kalian dari semalam. Setelah mendapatkan informasi jika Bagus bertingkah, Pak Boenjamin langsung memberikan instruksi." Jelas Jo yang paham dengan bahasa tubuh Abigail.
Satu persatu mereka menaiki helikopter ini. Sam berada di balik kemudi dan muai menyalakannya. Perlahan mereka naik, dan pergi meninggalkan hutan ini. Dari atas sini mereka dapat melihat sungai yang memiliki arus deras itu sangat panjang. Dan di ujungnya ada air terjun yang sangat tinggi.
"Untung gue bisa melipir ke tepi sungai, kalau nggak bisa terjun bebas gue dari ketinggian itu. Nggak kebayang betapa sakitnya badan gue terhempas dari atas sana." Gumam Andreas saat dia melihat air terjun yang sangat tinggi.
Semua orang yang mendengar gumaman itu pun tersenyum. Mereka pun bersyukur dapat menemukan dua orang anggota elite lainnya. Jadi, mereka bisa menyelesaikan misi ini nanti. Karena masalah ini sudah berlarut-larut. Dan tumpukan kasus di meja Pak Boenjamin sudah menunggu untuk diselesaikan.