Reihan berdiri dari duduknya saat mendengar deru mesin helikopter yang tidak jauh dari tempat dia berada saat ini. Dia ingin melihat siapa yang datang saat ini. Karena sudah dua helikopter yang datang, tapi bukan Andreas dan Abigail yang turun. Melainkan dari pihak logistik dan juga dari orang-orang medis.
Dia menjadi sangsi saat ini. Apakah Abigail danjuga Andreas benar-benar selamat ataukah itu hanyalah harapan semu yang sengaja orang-orang ini berikan. Mau bagaimana pun dia masih belum bisa mempercayai mereka semua. Walaupun mereka memperlakukannya dan juga Anton dengan baik. Tapi, hal ini masih cukup membuatnya curiga.
Reihan masih belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk setiap perbuatan yang merek alakukan. Dan perintah dari Pak Boenjamin yang selalu mereka katakan. Jika memang orang nomor satu interpol itu ingin mereka selamat, kenapa tidak dari awal dia mengirimkan tim bantuan yang bisa memback-up mereka saat ada di pabrik itu.
Reihan pun menunggu di depan pintu dan melihat ke arah helikopter yang baru saja mematikan mesinnya. Pintu belakang capung besi itu terbuka, dan memperlihatkan orang yang dia kenal. Sam dan Jo turun dari sana. Reihan pun mengerutkan dahinya. Karena dia tidak mengetahui jika dua orang itu ada di sini.
Setelah kedua orang itu turun, masih ada dua orang lagi yang menyusul. Dan mereka adalah Abigail dan juga Andreas. Reihan pun tersenyum singkat melihat kedatangan mereka. Tetapi tidak dengan Anton. Entah dia muncul dari mana, dia langsung berlari menghampiri dua orang itu dan melompat ke dalam pelukan Abigail.
Abigail menepuk-nepuk pundah Anton dan langsung mendorongnya menjauh. karena terlalu menjijikan jika mereka melakukan itu lebih lama lagi. Andreas pun langsung memeluk Anton senang. Tiga orang itu berjalan mengahmpiri Reihan yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh.
“Apa kalian baik-baik saja?” Tanya Reihan dingin. Dia memperhatikan penampilan Abigail dan juga Andreas. Tidak ada yang aneh dari penampilan mereka.
“Seperti yang lo lihat, kami sehat-sehat aja. Itu kepala kenapa? Mau adu ilmu?” tanya Abigail sambil menunjuk kepala Reihan yang terbalut perban putih.
“Dia mau adu kuat, Bro. Kuatan kepala dia apa batu kali.” Seloroh Anton asal. Mendengar itu Abigail dan juga Andreas pun tertawa. Seperti biasa, Anton selalu bisa membuat suasana diantara mereka menjadi lebih ceria dan meriah.
Dokter Mendoza yang kebetulan lewat langsung meminta Abigail dan juga Andreas masuk ke dalam ruangannya. Karena dua orang ini harus diperiksa kondisi kesehatannya. Walaupun mereka tampak baik-baik saja. Tapi, prosedur tetap harus di jalankan.
Abigaik dan Andreas pun mengikuti kemana dokter Mendoza pergi. Dua orang itu masuk ke dalam ruanga nyang terbilang cukup besar dan juga bersih. Di sini tidak seperti ruang dokter praktek yang sering mereka lihat. Hanya ada satu brankar tua, satu lemari besar yang berisikan stok obat dan juga perban serta cairan antiseptik dan juga cairan infus.
Dokter Mendoza meminta keduanya melepas semua atribu yang melepas pada tubuh mereka. Lalu meminta mereka membuka pakaian yang mereka kenakan. Saat ini hanya tersisa bju dalam mereka saja. Dokter Mendoza melihat keseluruhan tubuh mereka. Dia pun mulai menekan-nekan bagian yang lebab. Andreas pun berteriak kesakitan saat tulang rusuknya di tekan kuat oleh dokter Mendoza.
“Apakah kau terluka? Kau jatuh dari tebing dan terbentur benda yang keras?” Tanya dokter Mendoza sambil meperhatikan luka yang ada di bagian perut dan juga d**a Andreas.
“Iya, saya terjatuh ke sungai dari ketinggian. Tapi, saya tidak ingat sudah terbentur sesuatu.” Jawab Andreas Sambil berpikir. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian yang dia alami dua puluh empat ja yang lalu.
“Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita lakukan rongen. Tunggu di sini, aku akan memnganbil alatnya.” Dokter Mendoza pun keluar dari ruangan dan menuju tempat bagian laboratorium yang menyimpan alat USG.
Dia haris memastikan seberapa serius luka yang Andreas miliki. Karena ini menjadi pertimbangan orang-orang atas untuk menurunkannya ke lapangan lagi atau hanya istirahat dan membatu bagian administratif sampai luka itu sembuh.
Reihan yang menunggu di depan ruang periksa pun bertanya kemana dokter Mendoza akan pergi. Sementara dua rekannya yang lain masih berada di dalam ruangan itu. Dokter Mendoza pun menjelaskan kondisi rekannya dan menjelaskan pula tindakan apa yang akan dia ambil setelah mengetahui hasilnya.
Dokter Mendoza kembali ke ruangan tadi dengan membawa alat USG yang memiliki teknologi terbaru. Dia meminta Andreas untuk berbaring di atas brankar dan mulai mengoleskan gel di transunder alat USG itu. Perlahan dia memindai perut dan juga bagian d**a samping milik Andreas, melihat seberapa parah luka itu.
“Sepertinya dua tulang rusukmu patah, Pak Andreas.” Ucap dokter Mendoza masih sambil menekan-nekankan transunder ke tubuh Andreas.
“Apakah harus ke rumah sakit besar? Atau Anda bisa merawat saya di sini, Dok?” Andreas pun bertanya dengan bingung.
Karena menurutnya luka itu tidak terlalu mengganggu dan juga berbahaya. Dia pun tidak begitu merasakan sakitnya. Apa karena hal semacam ini sudah sering dia rasakan, jadi menurutnya ini bukan apa-apa.
“Aku rasa tidak perlu. Kau pasti sering mengalami sakit yang seperti ini. Hanya saja aku harus membalut dengan perban dan memastikan kondisimu bisa membaik. Apakah kau butuh obat pereda nyeri? aku bisa memberimu Aspirin jika kau butuh.”
“Sepertinya tidak perlu, Dok.”
“Baiklah.”
Dokter Mendoza pun mulai membersihkan area yang memar dan mulai membebat d**a bagian bawah Andreas dengan perlahan. Dia harus memastikan lilitan kain perban ini tidak terlalu kencang. Agar paru-parunya masih dapat mengembang dengan baik dan menghindari terjadinya pneumonia.
Setelah selesai dengan Andreas, dokter Mendoza pun membersihkan luka yang ada di lengan Abigail. Sebenarnya hal ini bisa dia lakukan sendiri, tapi karena sudah terlanjur berada di sini, jadi dia membiarkan dokter ini melaksanakan tugasnya. Dokter Mendoza harus menjahit luka itu ternyata, karena luka itu cukup dalam. Sepertinya Abigail tertusuk benda tajam seperti ranting kayu atau ujung besi yang keluar dari tempatnya.
“Baiklah, semuanya sudah selesai. beri tahu aku jika kalian mengalami sesak atau nyeri. aku akan memberikan kalian obat. Aku ada di sini Sampai besok pagi. Jika kondisi kalian semua sudah jauh lebih baik, aku akan kembali ke kantor.” Dokter Mendoza pun merapikan semua peralatan yang dia gunakan tadi dan mempersilahkan dua orang itu untuk meninggalkan ruangannya.
“Dokter itu masih muda, apakah dia tidak jenuh bekerja di tempat seperti ini?” Tanya Andreas sambil sesekali melirik dokter Mendoza.
“Kalau lo penasaran, ya tanya gih. Sekalian tanyain nomor ponselnya. Siapa tahu saat ada waktu senggang kalian bisa mengobrol berdua.” Jawab Abigail asal.
“Dasar! Emang lo pikir gue Bang Anton?”
“Ya, kali aja kaan butuh…” ledek Abigail.
Andreas pun langsung menoyor kepala Abigail kesal. Lalu dia langsung berjalan cepat meninggalkan Abigail yang terlihat kesal. Cepat-cepat Andreas membuka pintu ruangan ini dan dia langsung memegang dadanya karena kaget melihat sosok Reihat yang tiba-tiab di hadapannya.