Pagi ini Sam dan Jo mengajak Reihan dan tiga rekan lainnya untuk meeting membahas misi yang direncanakan oleh orang nomor satu di interpol. Sam dan Jo hanya sebagai penyambung lidah saja. Karena Pak Boenjamin ingin Reihan dan timnyalah yang bergerak. Dari semua penjelasan Sam dan Jo, Andreas pun mulai bertanya-tanya. Kenapa tidak tim mereka saja yang menjalankan misi ini.
Karena saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu, mereka lebih ahli dan lebih mampu menyelesaikan misi ini dibandingkan mereka berempat. Mengingat semua kekacauan yang mereka alami. Abigail pun bertanya kepada Sam apakah ini bukan jebakan atau pun misi untuk membunuh mereka secara tidak langsung.
Mendengar pertanyaan Abigail itu Sam langsung tertawa. Dia paham betul kecurigaan keempat orang yang ada di depannya saat ini. Dulu pun dia begitu, sulit untuk percaya kepada orang saat sudah mengalami hal yang nyaris merenggut nyawanya. Sam pun mulai mejelaskan siapa dia dan juga Jo. Fakta itu cukup membuat Reihan dan yang lain terkejut.
Dua orang ini ternyata orang kepercayaan Pak Boenjamin. Dan mereka merupakan kaki dan tangan Pak Boenjamin. Dengan kata lain, apa yang mereka katakan adalah perkataan Pak Boenjamin. Sekarang Reihan paham, kenapa dua orang ini bisa sehebat itu. Pasti mereka berdua sudah melalui banyak pelatihan khusus supaya bisa melindungi dan selalu ada di samping orang nomor satu interpol itu.
Jo pun langsung menghubungi Pak Boenjamin. Layar besar yang ada di depan mereka pun dihidupkan oleh Jo agar sambungan video ini bisa di lihat semua orang. Di layar itu menampilkan panggilan video sedang berlangsung dengan callr ID ‘One’ itulah nama Pak Boenjamin disimpan oleh Jo.
Video call itu pun tersambung, terlihat wajah tegas nan berkharisma milik Pak Boenjamin, orang nomor satu di interpol saat ini. Sepertinya dia sedang ada di ruang kerjanya. Pak Boenjamin menyapa Reihan dan yang lainnya. Mengucapkan terima kasih karena telah bertahan hidup sampai saat ini.
Pak Boenjamin pun mulai menjelaskan apa yang dia inginkan dari dua orang ini dan menjelaskan kenapa Sam serta Jo tidak bisa ikut dalam misi ini. Dua orang itu ada tugas lain yang tidak kalah pentingnya dengan mereka. Jadi, dia sangat berharap kepada Reihan dan juga yang lainnya.
Sambungan video call itu pun berakhir, Sam dan Jo bertanya sekali lagi kepada Reihan dan yang lainnya, apakah mereka sudah jelas dengan tugas yang baru saja diberikan langsung oleh Pak Boenjamin. Saat jawaban dari Reihan dan yang lainnya sesuai harapan Sam dan Jo, meeting ini pun berakhir dan mereka boleh kembali ke ruangan mereka untuk beristirahat.
“Gue kok curiga sama mereka ya. Kenapa Pak Boenjamin langsung yang menghubungi kita? Sedangkan atasan langsung kita itu Pak Leonard. Masa iya dia tidak mendengar kabar kita. Apakah dia menganggap kita semua sudah mati?” Tanya Anton sambil berjalan mondar-mandir di dalam ruangan ini.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang sedari tadi ada di kepala Reihan dan juga yang lainnya. Mereka bertanya-tanya dimana Leonard saat ini? Kenapa dia tidak menghubungi untuk bertanya kabar. Biasanya dalam setiap misi yang mereka jalankan, Leonard akan bertanya perkembangannya sudah sampai mana.
“Apa mungkin saat ini semuanya sudah diambil alih oleh Pak Boenjamin? nggak mungkin ‘kan? Masa iya pimpinan tertinggi interpol itu langsung turun tangan. bawahannya ‘kan banyak, orang-orang yang bertanggung jawab langsung dengan semua agent yang ada.” Abigail pun mulai angkat bicara.
“Bang, coba lo telepon Pak Leonard. Tanya kabar dia, atau sekedar melapor kondisi kita saat ini. Gue jadi penasaran.” Andreas pun menyerahkan ponsel yang ada padanya.
Dengan ragu Reihan menerima ponsel itu dan menekan nomor telepon milik Leonard. Pada dering keenam panggilannya baru tersambung. Tapi, yang mengangkat bukan Leonard langsung melainkan sekretarisnya. Hal ini menambah kecurigaan Reihan. Nomor telepon yang baru saja dia hubungi adalah nomor telepon yang hanya digunakan Leonard untuk menghubungi mereka. Tidak ada orang lain yang tahu jika Loenard memiliki nomor ini.
Reihan pun menutup teleponnya saat sang sekretaris mengatakan jika saat ini Leonard tidak bisa menerima panggilan teleponnya dan dia sedang meeting bersama Pak Boenjamin. Padahal beberapa waktu lalu mereka baru saja melakukan video call bersama Pak Boenjamin dan tidak ada siapa-siapa di dekatnya.
“Gimana?” Tanya Abigail yang penasaran.
“Pak Leonard tidak ada di tempat dan yang mengangkat teleponnya sekretarisnya.” Jawab Reihan bingung.
“Kok bisa? Lo nelepon ke kantor? Bukan ke nomor itu?” Anton tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Reihan.
“Coba lo cek posisi Pak Leonard sekarang, Dre. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran. gue.” Perintah tegas Reihan kepada Andreas.
Andreas pun langsung menghidupkan laptopnya, jarinya mulai menari-nari di atas laptop itu. untung saja bedan kesayangannya ini berhasil di selamatkan oleh Sam dan juga Jo dari hotel tempat mereka menginap. Jadi, semua yang mereka perlukan bisa dicari dan dikerjakan dengan cepat. Andreas pun menemukan posisi Leonard yang saat ini memang sedang berada di kantor.
“Pak Leonard memang ada di kantor, Bang.” Lapor Andreas.
“Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi di sana. Kita harus segera menyelesaikan ini semua. Kia harus menangkap Tuan Edward dan juga Nyonya Stephani.” Ucap Reihan lirih.
“Tapi, bagaimana nasib para wanita-wanita itu?” Tanya Abigail yang belum tahu jika target penyelamatan mereka sudah tewas.
“Die. Mereka semua Sudah pergi ke surga. Orang-orang gila itu menembak mereka malam itu. Termasuk tiga orang dari tim dua.” Jawab Anton sambil membuat gerakan menggorok lehernya dengan ibu jari.
“What? Hansen, Agus, dan juga Pralin tewas? Bagus gimana?” Tanya Abigail tidak percaya.
“Dia kabur entah kemana. rekan satu timnya ditinggalkan begitu saja dan dikhianati. b******n satu itu sudah digelapkan oleh uang.” Reihan pun mengepalkan tangannya saat mengingat nasib ketiga anggota tim dua itu.
Walaupun mereka tidak dekat dan sempat berselisih paham, tapi tetap saja Reihan tidak bisa terima mereka mati dengan sia-sia seperti itu. Padahal mereka sudah sangat percaya kepada Bagus sebagai ketua dari tim mereka, tapi justru orang yang mereka percaya itu yang membuat mereka terbunuh.
“Gue jadi pengen bermain-main dengan orang satu itu.” Abigail pun tersenyum smirk.
Anton dan Andreas bergidik ngeri jika Sudah melihat Abigail seperti itu. Mereka tahu maksud dari kata-kata Abigail. Bermain-main berarti melakukan hal-hal sadis yang bisa membuat musuhnya meminta ampun ribuan kali. Abigail akan membuat musuhnya menghadapi kematian dengan begitu ‘indah’.
“Kenapa ya setiap gue ngeliat Abigail sama Reihan begitu, gue berasa ada malaikat mau lagi ada di samping gue.” Bisik Anton kepada Andreas yang kebetulan ada di sampingnya.
“Sama, Bang. Gue apa lagi. Lo nggak pernah ‘kan lihat gimana Abigail saat dia kesal sama tikut yang waktu itu pernah masuk ke ruangan kita dan memutus kabel monitor dia?”
“Emang kenapa? Lo ngelihat hal yang menarik?”
“Menarik apanya, gue langsung muntah saat lihat itu. Abigail matahin leher tikus itu, dan perutnya disayat-sayat sama dia. Psyco tuh orang.”
“Lah, lo baru tahu kalau dua orang itu psyco. Itu sih belum parah.”
“Lo belum tahu gimana Reihan. Nanti deh gue kasih liat videonya saat mengintrogasi tersangka.”
“Semengerikan itu ya? Pantes saja orang-orang pada takut sama mereka berdua. Dan tidak pernah mau berurusan dengan mereka.”
“Ya, karena orang-orang itu nggak mau bernasib sama dengan tikus dan juga tersangka itu.”
Reihan yang mendengar percakapan Anton dan Andreas itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Bisa-bisanya Andreas termakan omong kosong Anton yang saat ini sedang mempermainkan emosinya.
***
Reihan dan ketiga rekannya bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Mereka akan dibawa oleh Sam dan juga Jo kembali ke pusat kota. Tapi, saat ini bukan Bogota tempat mereka akan menjalankan misinya. Mereka berempat akan di bawa ke Sao Paulo, ibu kota Brasil. Saat ini Tuan Edward dan juga Nyonya Stephani sedang berada di kota itu.
Target mereka selanjutnya adalah menyelundupkan barang haram dari negara itu ke Indonesia. Para sindikat internasional pun Sudah berkumpul di sana untuk menjalankan misi mereka. Ada beberapa orang dari negara lain. Sam dan Jo pun menjelaskan bahwa akan banyak orang yang bergerak saat ini. Karena negara-negara lain pun mengirimkan anggota interpol mereka untuk menangkap target mereka masing-masing.
Reihan paling tidak suka hal yang seperti ini. Karena baginya, bekerja sambil berebut mangsa seperti ini tidak akan berjalan baik. Mereka bisa saja kehilangan target buruan mereka karena aksi-aksi orang lain bisa di jadikan target mereka sebagai pengalih perhatian.
***
Sao Paulo, kota ini Diberikan nama Sao Paulo karena ingin memberikan penghormatan kepada Santo Paulus. Sao Paulu dalah kota terbesar di negara Barasil dan tentunya di belahan bumi selatan. kota ini pun merupakan kota metropolitan terbesar ke tujuh di dunia.
Sao Paulo berpengaruh kuat dalam perdagangan dan keuangan regional, dan juga kesenian dan hiburan. Sao Paulo dianggap sebagai kota global alfa. Pertumbuhan ekonomi di kota ini sangat pesat sehingga banyak orang yang tertarik berbisnis di kota ini. Dan di kota ini pun terdapat Cereal Market Stock Exchanges, bursa efek terbesar kedua di benua Amerika.
Kebisingan kota ini tidak kalah jauh dari Jakarta, gedung-gedung tinggi menghiasi pemandangan kota. Kota ini pun sama seperti Jakarta yang merupakan kota finansial negara Brasil. Di kota ini banyak sekali bank-bank terkemuka dan juga instansi keuangan yang menjadikan Sao Paulo sebagai markas besar mereka.
Dan di kota ini pula terdapat kelompok mafia yang menamai mereka Inferno. Seperti arti dari nama mereka, orang-orang yang menentang bahkan mengusik mereka akan merasakan hidup seperti di neraka. Jadi, sebelum ingin menjalin hubungan kerja sama dengan kelompok mafia ini, orang-orang itu harus berpikir ribuan kali. Karena, jika mereka mengecewakan kelompok Inferno bisa dipastikan tidak ada lagi cahaya dunia dalam hidup mereka.
“Kita ada di mana ini? Jakarta?” seloroh Anton saat mereka melewati gedung-gedung tinggi yang berjajar sepanjang jalan utama kota ini.
Andreas berdecak kagum saat dia melihat kecantikan wanita-wanita dari kota ini. Wanita-wanita dari Amerika Latin memang selalu memiliki daya tarik tersendiri. Entah kenapa sejak dulu Andreas selalu tertarik dengan wanita-wanita yang berasal daria dataran benua ini.
“Air liur lo tumpah tuh.” Ejek Anton smabil menyeka dagu Andreas dramatis.
“Sialan lo, Bang. biasa aja napa. kan gue lagi menikmati ciptaan Tuhan yang begitu indah.” Andreas pun langsung menepis tangan Anton kasar.
Sopir yang mengantar mereka menuju hotel pun tersenyum geli melihat dua orang di kursi penumpang belakang. Baru kali ini dia melihat kekonyolan turis asing yang dia antar. Bisaya orang-orang yang memakai jasanya selalu bersikap serius dan juga menunjukkan keangkuhan. Tapi, orang-orang ini terlihat sangat ramah dan juga lucu.
Mobil yang membawa Reihan dan ketuga rekannya berhenti di depan lobi hotel bintang lima terbesar dan termewah di kota ini. Petugas hotel pun langsung membukakan pintu untuk mereka. Hal itu membuat Abigail yang duduk tepat di samping pintu itu canggung.
Reihan yang duduk di kursi penumpang depan di samping sopir pun langsung turun dan berjalan menuju bagasi mobil. dia mengeluarkan koper kabin miliknya diikuti oleh ketiga rekan lainnya. Saat petugas hotel menawarkan untuk membawakan koper miliknya, Reihan menolak dengan sopan.
Anton memberikan uang yang cukup banyak kepada sopir taksi yang mengantar mereka saat ini. baginya memberikan uang tips seperti ini merupakan kesenangan tersendiri. Sang sopir pun tersenyum senang saat mendapatkan uang yang begitu banyak dari Anton.