Meeting

1016 Kata
Pagi ini Reihan sudah rapi dengan setelan jas berwarna biru navy. Aura ketampanannya langsung melejit. Tidak memakai setelan jas seperti ini saja dia sudah sangat tampan, terlebih dengan pakaian serapi ini. Dia benar-benar terlihat menawan, tubuh tinggi tegapnya membuat siapa pun iri, kulitnya memang tidak seputih porselen, tapi warna kuning langsat khas kulit orang Indonesia itu membuatnya semakin memikat. Abigail langsung menciut saat melihat penampilan ketua timnya. Padahal mereka sama-sama mengenakan setelan jas, sama-sama tampan, walaupun levelnya berbeda, tinggi badan mereka tidak berbeda jauh, Reihan yang memiliki tinggi nyaris dua meter dan Abigail seratus delapan puluh lima. Tapi, saat ini dia nampak seperti kurcaci jika berdiri di samping Reihan. “Wah… gila ya. Kita berasa upik abu kalau bersanding sama Tuan Muda satu ini. Gue baru sadar kalau lo bener-bener cakep, Bro.” ucap Anton sambil menepuk bahu Reihan bangga. Diperlakukan seperti itu Reihan justru risih dan langsung mundur dua langkah. Dia takut Anton akan langsung memeluknya bahkan mengecup pipinya dengan konyol. Karena hal semacam itu sering dia lakukan jika melihat Reihan berpenampilan berbeda dari biasanya. “Beda emangnya, Anak sultan sama anak rakyat jelata.” Timpak Andreas yang ikut terpanah dengan ketampanan Reihan. Hari ini Reihan akan ikut meeting bersama dengan anggota interpol lainnya. Mengingat mereka tidak akan bergerak sendiri. Dan Abigail yang akan menemani Reihan hari ini. Anton dan Andreas lebih memilih rebahan di kamar hotel mewah ini dari pada ikut berbasa-basi dan mendengarkan paparan membosankan yang sudah mereka ketahui. Mobil sedan mewah keluaran perusaha terkemukan Amerika pun Sudah menunggu mereka berdua di area parkir valet hotel ini. Saat petugas parkir membawakan mobil itu ke depan lobi hotel, Abigail menatap Reihan tidak percaya. Dia pikir mereka akan memakai mobil biasa atau dijemput oleh seseorang yang bertugas di negara ini. “Gue apa lo yang bawa?” Tanya Reihan sambil memperhatikan Abigail yang masih terpaku di tempatnya. “Hah? Lo aja deh. Gue nggak mau ganti kalau tuh mobil lecet. Gaji gue aja nggak kebeli mobil model begini, lah ini mau ganti. Ogah!” Jawab Abigail sambil menatap Reihan ngeri. “Ck! Lo kayak yang baru bisa nyetir aja!” Reihan langsung mengambil kunci yang diserahkan petugas valet dan memberikan uang tips untuknya. Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan area hotel. Sepanjang perjalanan Abigail menjelaskan apa-apa saja yang akan dibahas selama meeting. Dia sudah seperti seorang sekretaris bagi Reihan. Yang tidak membuatnya seratus persen berperan sebagai sekretaris hanya posisi mereka yang saat ini berada di belakang kemudi. Mobil yang dikendarai Reihan terjebak macet jalanan kota ini. Dia lupa untuk mencari informasi mengenai titik-titik macet di kota ini. Jarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dan mulai menghitung dalam hati. jam yang ada di dasboard mobil ini menunjukkan sudah pukul delapan pagi. Reihan pikir di jam seperti ini kendaraan sudah sepi. Dia lupa ini bukan Jakarta. Di Jakarta orang berangkat kerja dari sebelum subuh. Dan di jam ini kebanyakan semua orang sudah berada di kantor mereka masing-masing. Tapi, ternyata di sini tidak begitu. Jalanan kota ini benar-benar padat. Sepertinya semua orang di sini menggunakan kendaraan pribadi mereka. Setelah mengarungi lautan mobil selama satu jam, akhirnya mereka sampai juga di kator interpol yang mereka tuju. Reihan memarkirkan mobilnya di area parkir tamu. Dan langsung turun dari mobil bersama Abigail. Mereka berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya di mana ruang rapat yang akan mereka gunakan. Petugas itu pun terperangah melihat ketampanan Reihan yang tidak biasa. Mereka tidak menyangka wajah orang Asia bisa setampan ini dan tubuh mereka bisa setinggi ini. Sampai-sampai pulpen yang dia pegang pun terjatuh dari ujung jarinya. Abigail menahan tawa saat melihat kejadian itu. Rasanya dia ingin merekam momen langkah seperti ini. Petugas wanita itu pun menjelaskan sambil terbatah. Sesekali dia melirik Reihan dengan tatapan menggoda. Bukannya senang, Reihan malah jengah melihat hal itu. Reihan pun mengucapkan terima kasih dan langsung berjalan menuju lift saat petugas wanita itu selesia berbicara. “Duh… duh… duh… sosok Dewa Hermes ini memang selalu memikat kaum hawa ya.” Abigial pun mulai mengolok-olok Reihan. Mungkin banyak yang belum tahu tentang sosok Dewa Hermes. Dewa yang berasal dari mitologi Romawi ini biasa disebut Dewa Merkurius. Seperti Ares, Hermes adalah andak dari eus dewa tertinggi dalam mitologi Romawi. Tapi mereka berasal dari ibu yang berbeda. Jika Ares berasal dari perkawinan Zeus dan Hera, Hermes lahir dari perkawinan Zeus dan Maia. Hermes dijuluki sebagai Psykopompos yang berarti dewa pengantar arwah menuju dunia bawah, ia dapat melintasi tiga dunia yaitu dunia para dewa, dunia manusia dan dunia kematian atau dunia bawah. dan menurut ketiga temannya begitulah sosok Reihan yang tidak pernah segan mengirimkan arwan musuh-musuhnya ke alam baka. Walaupun sosoknya pun mirip dengan Dewa Ares sang Dewa perang. Tapi, dia belum sekejam Ares yang tidak memiliki belas kasihan. “Diem deh… nggak usah mancing emosi gue pagi-pagi.” balas Reihan kesal. Saat ingin mendebat Reihan, pintu lift terbuka, dan Abigail mengurungkan niatnya. dua orang pegawai perempuan masuk dan tatapan mereka pun memperlihatkan ketertarikannya kepada Reihan. Abigail pun tersenyum geli melihatnya. “Lo itu emang sudah kayak magnet yang memiliki medan magnet berdaya tarik tinggi. Semua logam yang ada di sekitar lo pasti nempel, bahkan yang berjarak puluhan meter.” Bisik Abigail. “Berisik!” Lift pun terbuka di lantai lima gedung ini, tempat di mana meeing akan diadakan. di depan ruangan ini terlihat sudah banyak orang menunggu. Tapi pintu ruangan itu belum juga dibuka. Reihan dan Abigail melirik arloji yang melingkar di tangan mereka secara bersamaan. mereka ingin memastikan apakah mereka tidak salah jam saat ini. “Ini kita yang dateng kecepetan apa mereka yang lama ya?” Tanya Abigail bingung. Seingatnya meeting akan diadakan tepat pukul sepuluh pagi ini. Tapi saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, tapi ruangannya pun belum siap. bagi sebagian orangyang sudah mengenal budaya orang Brasil hal semacam ini tidak mengjutkan. Karena orang brasil terkenal dengan jam karetnya. Reihan melihat seseorang berlarih tergopoh dari ujung lorong sambil membawa kunci ruangan. Pakainnya basah, sepetrinya orang itu berlari dari lantai bawah melalui tangga darurat. dia bergegas membuka pintu, menyalakan semua lampu, dan mempersilahkan orang-orang yang menunggu di luar untuk masuk ke dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN