Inferno

1075 Kata
Meeting pun dimulai tepat pukul sebelas siang. Dan hal ini benar-benar membuat semua orang kesal. Mereka pikir saat jam makan siang semuanya sudah selesai di bahas, tapi justru harus terjedah dan dilanjutkan lagi. Semua agenda orang-orang ini mundur selama satu jam. Budaya orang-orang di sini benar-benar buruk. Abigail dan Reihan keliar dari ruangan ini paling terakhir. Mereka tidak sengaja melihat layar laptop yang masih menyala di meja paling depan. Sepertinya operator meeting ini lupa mematikannya. Mereka pun menghentikan langkah, Reihan langsung duduk di kursi itu dan mengeluarkan flashdisk miliknya sedangkan Abigail mengawasi koridor dan juga pintu masuk. Dengan cepat Reihan menyalin semua data yang ditampilkan di laptop itu dan mencabutnya. Mereka berdua pun melihat kesekeliling ruangan ini apakah ada kamera pengawas atau tidak. Setelah memastikan aksi mereka tidak terekam kamera, kedua orang itu pun langsung keluar dari ruangan ini dan pergi menjauh dari gedung ini. “Ternyata ada yang mereka tutupi. Tidak ada orang yang bisa kita percaya di sini. Di saat uang berbicara, maka semuanya akan menjadi mudah.” Reihan menyeringai saat mengingat laporan yang dia baca tadi. Abigail pun sependapat dengan apa yang dikatakan Reihan tadi. Dia masih tidak mengerti alasan dibalik orang-orang itu menutupi sebagian informasi yang mereka miliki. Apakah ini ada kaitannya dengan kelompok Inferno yang saat ini menjadi target mereka? Bukannya langsung kembali ke hotel, Reihan justru mengarahkan mobilnya menuju salah satu restoran ternama di kota ini. Semalam dia mencari informasi tentang ketua kelompok Inferno. Orang itu sering menghabiskan waktu makan siangnya di restoran ini. Hari ini Reihan berniat untuk melihat langsung orang itu. “Ini kita mau kemana? Tidak kembali ke hotel?” Tanya Abigail bingung. Seingatnya jalanan yang mereka lalui saat ini berbeda dengan jalan yang mereka lalui tadi pagi. “Kita makan siang dulu di luar.” Jawab Reihan singkat. Abigail pun tidak bertanya lagi. Dia mengikuti saja apa yang saat ini ingin Reihan lakukan. Mereka berhenti di depan restoran mewah bergaya Portugis. Seperti yang kebanyakan orang tahu, negara ini adalah bekas jajahan Portugis. Bahkan Bahasa yang mereka gunakan pun Bahasa Portugis. Reihan memilih duduk di kursi yang ada di samping jendela besar restoran ini. Dari tempanya duduk, Reihan dapat melihat siapa saja yang keluar masuk restoran ini. Satu persatu tamu restoran dia perhatikan, tapi diantara mereka tidak ada orang seperti yang ada di foto tadi. “Apa saat ini dia menyamar menjadi orang lain?” Gunan Reihan sendiri, Abigail yang samar-samar mendengar gumaman Reihan pun mulai fokus dengan orang-orang yang datang ke restoran itu. Abigail yakin Reihan mengunjungi restoran ini karena memiliki maksud tertentu. Dia pun mulai memperhatikan tamu restoran ini satu persatu. Dia tidak sengaja melihat satu tamu yang tampak aneh, di hari sepanas ini dia menggunakan pakaian yang sangat tebal, bahkan berlapis. “Apa orang itu tidak merasa gerah, cuaca di luar sangat panas tapi dia mengenakan pakaian berlapis seperti itu.” Reihan langsung memperhatikan orang yang dimaksud oleh Abigail. Dia teringat informasi yang dia baca semalam. Ketua kelompok Inferno mengalami gangguan hipotalamus multiple sclerosis. Jaringan hipotalamus di tubuhnya terganggu sehingga dia selalu merasa dingin walaupun suhu di luar sedang panas-panasnya. Ketua kelompok Inferno itu pun mengalami gangguan tidur serta perubahan nafsu makannya. Makanya dia selalu memilih restoran ini untuk makan siang. Dia pun hanya makan satu kali salam sehari. Hal itu dia lakukan hanya untuk menjaga tubuhnya tetap ternutrisi. “Ada apa? Lo kenal sama orang itu?” Tanya Abigial bingung saat melihat Reihan yang tiba-tiba fokus dengan orang yang dia bicarakan. “Lo belum cari tahu tentang kelompok Inferno rupanya.”  “Memangnya ada apa? Apakah ada yang gue lewatkan?” “Banyak. Lo harus mencari tahu semua informasi yang bisa lo dapatkan. Karena kali ini kita berurusan dengan orang yang tidak mudah.” “Baiklah. Gue bakal cari tahu informasi apapun tentang mereka, bahkan sesuatuy ang mereka sembunyikan pun akan gue cari tahu.” Reihan memesan makanan yang direkomendasikan oleh pelayan di retoran ini begitu pula dengan Abigial. Mereka berdua tidak mau mengambil resiko mendapatkan makanan yang tidak enak di lidah. Lebih baik mendapatkan rekomendasi dari sang ahli. Ketua kelompok Inferno menyelesaikan makannya lebih cepat dari biasanya. Dia mendapatkan telepon dari seseorang yang memintanya untuk segera kembali ke kantor mereka. Ada hal mendesak yang harus mereka bahas. Melihat ketua kelompok itu ingin membayar tagihannya, Reihan langsung bergegas keluar restoran dan menempelkan alat pelacak di bawah mudguard mobil yang dia gunakan. Reihan mengajak Abigail untuk segera menyelesaikan makannya dan kembali ke hotel. Mereka harus menyusun rencana saat ini. Ada banyak hal yang harus mereka lakukan. Mereka harus mengawasi pergerakan kelompo Inferno dan mencari tahu pola pergerakan mereka. Dan yang paling penting mereka harus mencari tahu semua transaksi orang-orang itu. *** Anton menatap Reihan dan juga Abigail kesal. Pasalnya dia dan Andreas belum makan siang. Saat ini jam Sudah menunjukkan pukul tiga sore. Perutnya Sudah sangat perih, Anton tidak berani memesan makanan di hotel ini karena dia tahu pasti harganya sangat mahal. Sedangkan untuk pergi ke luar dia terlalu malas karena tidak ada kendaraan. Kekesalan meningkat saat dia tahu jika Reihand an Abigail sudah makan terlebih dahulu di luar. “Heh, lo sudah seperti Anak TK aja. Kalau laper kenapa nggak pesen makan ke room service. Toh bayarnya juga bisa nanti. Ditagihkan saat kita check out. Sudah kayak orang susah aja!” Seloroh Abigail yang ikut kesal melihat tingkah kekanakan Anton. Sedangkan Andreas dia sibuk mengutak atik laptopnya untuk melihat posisi ketua kelompok Inferno berada saat ini. dia pun mencari tahu alamat surel pribadinya yang sering dia gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang penting. Andreas harus memasang sebuah virus yang bisa mengontrol smart phone milik ketua kelompok Inferno itu. Reihan pun menelepon bagian room service minta dibawakan dua makanan utama dan beberapa kudapan. Di lihat dari cara kerjanya saat ini Andreas sedang fokus mengerjakan tugasnya. Dan hal ini bisa dipastikan dia akan lupa segalanya. Lupa makan, lupa minum, bahkan dia lupa untuk memebersihkan diri. Saat pintu kamar diketuk seseorang, Anton dengan semangat berlari menuju pintu itu dan mengintip dari lubang kecil yang ada di daun pintu itu sebelum membukanya. Seseorang berpakaian seragam hotel ini berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Setelah melihat itu barulah Anton membukakan pintu besar yang terbuat dari kayu jati. Dua jam Andreas tidak beranjak dari hadapan laptopnya dan akhirnya dia tersenyum senang sambil mengepalkan tangannya. Itu menandakan jika saat ini dia sudah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Andreas berhasil mendapatkan almat surel pribadi milik ketua kelompok Inferno itu dan berhasil pula menanamkan sebuah virus di smartphone milik ketua kelompok Inferno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN