Andreas berdiri dari duduknya dan menghampiri Reihan dia menunjukkan hasil kerjanya sambil tersenyum bangga. Reihan melihat apa yang ada di layar laptop milik Andreas. Dia. Tidak menyangka ternyata ketua kelompok Inferno ini bisa juga terkena sial semcam ini.
“Sepertinya orang itu terlalu bodoh untuk mengetahui yang mana email spam dan yang mana email penting.” Komentar Andreas geli.
“Baguslah… yang penting apa yang kita mau bisa kita dapatkan. Lo yakin ini tertanam di ponselnya?” Reihan memastikan sekali lagi.
“Yakinlah, tadi sudah gue coba kontrol, dan berhasil. Kita bisa mengaktifkan kameranya jika ingin tahu sesuatu.”
“Bisa sekarang?”
“Ehm… kita tes untuk menelpon ponsel lu dulu aja, Bang.” Saran Andreas.
Reihan pun mengangggukkan kepalanya dan Andreas mulai mengutak-atik laptopnya kembali. Tidak lama berselang ponsel Reihan bergetar, dan nomor lokal masuk ke dalam ponselnya. Reihan pun menganggukkan kepala dan Andreas langsung mematikan panggilan telepon itu lalu menghapus daftar panggilan keluar dari ponsel ketua anggota Inferno.
“Waaah… kerja adik kecil kita ini memang selalu mengagumkan.” Anton pun mengusap kepala Andreas gemas.
“Karena misi pertama sudah selesai. Gue mau makan dulu. Perut gue sudah dangdutan dari tadi. Perih banget, Njiiir.”
Andreas menutup laptopnya dan mengambil piring yang masih berisi makanan. Entah apa yang ada di piringnya, Andreas tidak perduli. Yang dia perdulikan saat ini adalah mengisi perutnya yang sudah sangat lapar.
***
Bagus melihat ke sekelilingnya. Masih gelap dan masih tidak ada siapa-siapa. Dia tidak tahu saat ini dia ada di mana. Yang pasti dia bukan sedang berada di kantor ataupun Pabrik milik Tuan Edward. Setelah kabur dan mengorbankan semua timnya dia langsung dibawa seseorang ke tempat yang tidak pernah dia ketahui.
Karena saat itu tangannya diikat sangat kuat dan juga kepalanya ditutup kain hitam tak tembus cahaya. Dan sekarang dia sudah seperti tawanan perang saja. Tidak diberi makan ataupun minum. Mau sekencang apapun dia berteriak tidak ada yang datang menghampirinya. Yang bisa dia dengar hanyalah suara angin dan juga gemericik air. Sesekali dia mendengar suara lolongan anjing yang menyalak saling bersahutan.
Jika boleh jujur dia menyesal melakukan itu semua. kalau saja dia tahu akan diperlakukan seperti ini, pasti dia memilih untuk setia kepada lembaganya. Tapi, apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah dia buat dan dia pun sudah menikmati apa pun yang diberikan Tuan Edward kepadanya. Mungkin ini adalah hukuman atas pengkhianatannya.
“Ada orang di sana?” Teriak Bagus lantang. Suaranya semakin serak karena tenggorokannya sudah sangat kering saat ini. Bagus mendekatkan tubuhnya ke jeruji besi yang menjadi penghalangnya untuk keluar dari tempat ini. Lama dia menunggu jawaban, tapi masih tidak terdengar seseorang mendekat.
Akhirnya Bagus kembali duduk di atas ranjang besi yang sudah tua. Ranjang itu selalu berderit saat dia duduk atau pun tidur di atasnya. Saat ini Bagus hanya menunggu kapan kematian menghampirinya. Tubuhnya sudah sangat lemas saat ini, mungkin cadangan cairan serta nutrisi Sudah terkuras habis. Mengingat dia sudah lama berada di sini tanpa makan dan juga minum.
***
Jessy menemui Queen yang masih berada di motel milik ibunya. Dia betanya apakah saat ini Queen mengetahui ke mana ibunya pergi bersama Tuan Edward. Karena semenjak kabur dari tawanan sang ibu, Jessy tidak pernah lagi melihat ibunya di rumah itu.
“Apa kau tahu di mana ibuku saat ini?” Tanya Jessy.
Queen hanya menatap Jessy dalam diam. Dia pun tidak tahu ke mana Nyonya Stephani pergi. Dia juga tidak diberitahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Sepertinya orang-orang yang duduk di kekuasaan tertinggi sudah tidak memperdulikan nasibnya dan juga Jessy. Mungkin mereka berdua sudah dianggap berkhianat dan menikmati dunia ini.
“Kak… kau dengar aku?” Tanya Jessy sekali lagi.
“Well… sejujurnya aku pun tidak tahu ke mana ibumu pergi. Tapi yang jelas ibumu pergi bersama Tuan Edward.”
“Apakah mereka merencanakan sesuatu yang besar? Karena Reihan dan semua anggota interpol pun belum ada yang kembali sejak malam itu. Apakah mereka semua selamat? Atau mereka justru sudah kembali ke Indonesia?”
“Kalau menurutku mereka belum kembali ke Indonesia. Karena semua orang-orang yang di culik dan di bawa ke sini seharusnya mereka bawa bersama dan tidak mungkin mereka tinggalkan. Karena tugas itulah yang mereka emban saat datang ke negara ini.”
“Iya sih, berarti ada sesuatu yang terjadi. Apa kita saja yang membawa semua orang di sini kembali ke tanah air?”
“Kau punya rencana?”
“Sebagian besar orang di sini tahu jika aku adalah anak nyonya besar mereka. Dan sepertinya mereka tidak menaruh curiga kepadaku. Bagaimana kalau kau membujuk orang-orang ini dan memberitahu mereka bahwa kita akan membawa mereka kembali ke tanah air. Dan aku akan mengurus sisanya.”
“Kau yakin itu akan berhasil?” Queen ragu akan hal itu. “Kau tahu, bukan. Bahkan untuk Reihan dan yang lain pun tidak bisa melakukannya.”
“Kau tahu, Kak? Mereka bukan tidak bisa melakukannya. Mereka hanya belum mendapatkan perintah untuk membawa mereka pergi dari sini. Jika mereka sudah mendapat perintah, pasti sudah lama orang-orang itu kembali ke tanah air. Karena untuk melakukan itu sangatlah mudah bagi mereka.”
“Ck! Kau terlalu mempercayai mereka. Apakah kau begitu menyukai Reihan?”
“Jika aku boleh jujur, aku sudah sangat menyukainya. Dia pria baik dan juga sangat tampan. Kau tahu, tubuhnya sangat memikat.”
“Lagi-lagi kau membicarakan tubuh laki-laki. Apakah kau sudah pernah merasakannya?”
“Entahlah aku tidak ingat pernah atau tidak. Yang jelas aku sangat menikmatinya saat melihat dia setengah telanjang di hadapanku. Dia benar-benar menawan.”
“Apakah kau tahu siapa Reihan? Siapa ayah dan juga ibunya?”
“Memangnya kenapa?”
“Kau menyukai seseorang tapi kau tidak mencari tahu siapa dia dan latar belakang keluarganya. Aku ragu ayah dan ibunya bisa menerima kondisimu. Maaf jika aku kasar.”
“Ehm… aku sebenarnya tahu akan hal itu. Tapi, aku berusaha menyangkalnya selama ini. apakah aku boleh bersedih dan menangis? Aku tidak pernah bisa menerima ini, bukan salahku terlahir dari rahim wanita seperti ibuku. Aku tidak bisa memilih saat terlahir ke dunia ini. Jika boleh, tentu aku ingin lahir dari rahim wanita terhormat dan di keluarga terpandang.” Jessy pun mulai menitikkan air matanya. Hatinya kali ini benar-benar sakit, dari dulu sampai sekarang dia selalu marah akan takdir yang dibuat Tuhan untuknya.
“Cih… aku baru tahu kau bisa menangis dan merasakan emosi seperti ini. Padahal kau selalu Tampah bahagia dengan hidupnya dan tidak pernah perduli akan perkataan orang di belakangmu.”
“Hahahaha… aku pun bingung.” Jessy menyeka air mata yang ingin jatuh dari ujung matanya. Dua orang itu pun kembali fokus dengan bahasan mereka tadi tentang menyelamatkan orang-orang yang menjadi korban perdagangan wanita.