Queen mulai mengumpulkan semua wanita yang menjadi korban penipuan jual beli manusia yang dilakukan oleh Tuan Edward dan juga Nyonya Stephani. Mereka semua berkumpul di kamar yang biasa ditempati oleh Queen. Mereka semua mulai menaruh harapan kepada Queen.
Queen pun menjelaskan semua alur yang akan mereka lewati setelah hari ini. Beruntungnya mereka semua sudah memiliki passpor jadi untuk mengurus kepulangan mereka ke tanah air tidak memakan waktu yang lama. Queen pun mulai menanyakan keuangan mereka dan lain sebagainya. Karena untuk membeli tiket pesawat mereka membutuhkan dana.
Queen dan Jessy bukanlah orang yang memiliki banyak uang. walaupun Jessy merupakan anak dari ‘pengusaha’ kaya, dia tidak pernah memakai uang Nyonya Stephani sepeserpun. Jadi, mau tidak mau Queen Harus meminta uang tiket kepada para wanita itu.
“Kak, lo nggak bohong ‘kan bisa mulangin kita ke Indonesia?” Tanya salah satu wanita itu.
Sebenarnya mereka semua Sudah putus asa. Harapan mereka sudah mereka telan bulat-bulat. Mereka semua pun sudah pasrah, kalau pun harus menetap di negara yang tidak pernah mereka ketahui ini dan menjadi wanita penghibur di sini. Tapi, saat Queen mengatakan hal yang sudah lama sekali ingin mereka dengar, harapan mereka kembali muncul.
“Gue janji sama lo semua. Kita akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. Jessy sedang mengurus semuanya. Berdoa saja semua prosesnya berjalan lancar.”
“Apakah pemerintah akan membantu kita, Kak? Atau mereka tidak perduli dengan warganya?” Tanya wanita lainnya.
“Sebenarnya pemerintah sudah mengirimkan orang untuk membawa kita pulang, tapi ada masalah yang membuat mereka tidak bisa langsung membawa kita kembali ke tanah air.” Jelas Queen berusaha membersihkan nama baik instansinya.
“Berapa lama waktu yang kita butuhkan, Kak?”
“Jessy mengatakan dalam waktu tiga hari dia akan mengurus semuanya. Dan ingat, kita akan pergi berlibur bersama dia, bukan kembali ke Indonesia. Kita akan ke Hawai! jangan sampai kalian salah bicara. Dan untuk hal ini sebaiknya tidak kalian ceritakan kepada siapa pun. Karena di sini, bahkan semut pun bisa menjadi mata-mata.”
“Baik, Kak.” Jawab mereka semua.
Satu persatu dari mereka keluar dari kamar Queen dengan jedah waktu sekitar lima belas menit agar tidak ada yang curiga. Queen pun langsung menghubungi Jessy untuk mengabarkan kalau semua data diri orang-orang yang harus dipulangkan sudah dia kirimkan.
Setelah mendapat informasi dari Queen, Jessy langsung memesan tiket pesawat menuju Hawai. Dari Hawai barulah mereka akan kembali ke Indonesia. Walaupun rutenya akan berputar-putar, tapi itulah satu-satunya jalan agar mereka semua bisa kembali tanpa ada yang curiga.
***
Suasana malam di Sao Paulo benar-benar gemerlap. Kota ini menyajikan dunia malam yang sangat mewah. Anton dan Andreas sangat menikmati waktu mereka bersantai di pinggir kolam berenang sambil menikmati pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Malam ini hotel tempat mereka menginap mengadakan pesta di area rooftop. Dari atas sini semua lampu-lampu dari bangunan yang ada di kota ini tampak seperti bintang.
“Di Jakarta ada nggak model beginian, Bang? Secara lo ‘kan anak party.” Tanya Andreas antusias. dia menatap Anton dengan mata yang berbinar.
“Ada sih, tapi nggak seheboh ini pestanya. Dan biasanya yang mengadakan pesta model-model gini kaum LGBT.” Jawab Anton Sambil menyesap wine yang ada di tangannya.
Mendengar jawaban Anton, Andreas langsung menjauh beberapa langkah. Anton bingung dengan sikap Andreas. Seingatnya dia tidak mengatakan hal yang bisa membuat orang takut. Tapi, dia cepat tersadar dan mengingat kata terakhir yang dia ucapkan.
“Heh, gue bukan salah satu dari mereka ya! Gue bisa tahu karena waktu itu sedang dalam tugas.” Anton cepat-cepat menjelaskan kepada Andreas. Dia tidak mau jika rekannya ini salah paham akan apa yang dia katakan.
“Kagak percaya gue! lo ada potensi ke sana! Gue jadi ngeri deket-deket sama lo! Pantesan aja lo suka cium-cium pipinya Bang Reihan. Njiirrr… najis banget!” Andreas pun langsung berjalan cepat menjauh dari Anton. Dia mencari-cari keberadaan Reihan dan juga Abigail yang tadi menghilang karena di tarik oleh para wanita di tempat ini.
Anton pun mendecakkan lidahnya kesal. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Andreas berjalan cepat meninggalkannya hanya karena kata laknat yang dia ucapkan tadi. Padahal dia tidak seperti itu. Alsananya suka bertingkah menjijikan kepada Reihan hanya karena dia ingin menggoda temannya itu, tidak ada maksud dan tujuan yang lainnya. Dia masih sangat menyukai wanita, dan anti main belakang!
Dari kejauhan Abigail bingung melihat tingkah Anton dan juga Andreas. Baru kali ini dia melihat Andreas berjalan cepat menjauhi Anton seperti orang yang takut tertular penyakit berbahaya. Tapi, perhatiannya tidak bisa terlalu lama kepada Andreas, karena tiba-tiba seorang wanita mengalihkan perhatiannya.
Tanpa permisi wanita itu mengikis jarak diantara mereka. Dia menyesap lembut bibir tebal milik Abigail. Seakan sedang memakan coklat yang sangat dia sukai, wanita itu menikmatinya perlahan. Dia tidak mau momen ini cepat berlalu. Dia sangat emnikmati tiap detik yang terlewat bersama laki-laki yang ada di hadapannya ini.
Abigail sampai kewalahan mengontrol dirinya. Otaknya berkali-kali berusaha tetap sadar dan tidak terbuai dengan rayuan Dewi Aprodhite yang ada di hdapannya. Wajahnya wanita ini terlalu cantik sehingga membuatnya sulit berpaling. Aroma vanila yang keluar dari tubuhnya pun membuat Abigail tidak mau menjauh.
Sentuhan yang diberikan wanita ini benar-benar memabukkan. Abigail pun kehilangan akal sehatnya dan mengikuti kemana wanita ini membawanya. Mereka pun masuk ke salah satu kamar yang ada satu lantai di bawah rooftop ini. Sepertinya malam ini akan sangat panjang untuk Abigail. Sudah lama sekali dia tidak dijamah dan menjamah seseorang. Mungkin saat ini alam sedang memberikannya waktu untuk bersantai dan memanjakan dirinya.
Aroma vanila yang keluar dari tubuh wanita ini dan juga aroma sandalwood yang ada di kamar ini membuat Abigail menggila. Dia tidak mau melepaskan tangannya dari tubuh wanita yang ada di pangkuannya saat ini. Godaan dan juga sentuhan sensual yang dia dapatkan dari sang wainta membuatnya ingin melakukan hal yang lebih gila dari ini.
“Sepertinya kau menikmatinya.” Wanita itu pun berbisikmanja di telinga Abigail
“Dan kau? Bukankah kau jauh Lebih mengharapkan hal yang lebih?”
“Sure! aku sangat menantikan permainan indahmu.”
“Siapa namamu?”
“Pentingkah saat ini?”
“Sangat penting.” Deru napas Abigail pun sudah tidak menentu saat ini.
Sentuhan tangan wanita itu di bawah sana membuatnya benar-benar tidak bisa mengontrol diri. Sepertinya dia sengaja bermain-main dengan Abigail saat ini. Semakin lama suasan di kamar ini semakin menghangat. Dan hal itu membuat Abigail ingin melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya. Dia benar-benar frustasi saat ini, dia dipermainkan dengan sangat apik!
“Kythira.” Bisik wanita itu pelan.
“Kythira? Namamu Kythira? Nama yang cocok untukmu. Kau sungguh cantik dan menawan. Seperti Aphridite.”
“Kau tahu dia ternyata…”
Kythira bergerak pelan di atas pangkuan Abigail. Dia sangat mengyukai permainan ini. Bukti gairah Abigail pun sudah sangat siap, tapi Kythira tidak mau menyantap hidangan utama secepat itu. Dia masih ingin bermala-lama di sini. menikmati setiap sentuhan dan juga belaian Abigail di tubuhnya.
“Kau membuatku gila, Kythira.”
“Dan aku menikmatinya.”
“Siap untuk main course?” tanya Abigial sambil berusaha mengatur deru napasnya.
“Aku masih sangat menikmati appetizer, Love.” Jawab Kythira sensual.
“Baiklah… akan aku berikan hidangan pembuka yang tidak akan pernah kau lupakan.”
Abigail langsung melakukan aksinya, bibir dan lidahnya tidak tinggal diam, setiap inchi tubuh Kythira tidak dia lewatkan. Suara-suara sensual dan tarikan napas berat milik Kythira pun terdengar. Dan itu menambah hangat malam ini. Sampai akhirnya Kythira mengeluarkan teriakan tertahan.
Permainan lidah juga jemarik Abigail membuatnya mencapai puncak kenikmatan yang dia cari. Abigail tersenyum melihat wajah Kythira yang penuh damba. Abigail pun menggendong Kythira sambil tetap mencumbunya. Dalam satu kali gerakan jarak diantara mereka benar-benar tidak ada. Abigail menyatuhan tubuh mereka, dan mulai menikmati momen ini.
***
Reihan dan Andreas masih menikmati malam panjang yang disuguhkan oleh pihak hotel. Mereka berdua sedang tidak tertarik untuk bermain-main. Tujuan mereka datang ke sini untuk melihat Enyalios, ketua kelompok Inferno. Andreas mendapatkan informasi ini saat tidak sengaja mengecek semua pesan masuk yang ada di ponsel milik Enyalios.
“Bang, itu bukan orangnya?” Tanya Andreas saat melihat seorang laki-laki berpakaian mencolo.
Di tempat ini semua orang nyaris bertelanjang d**a, tapi hanya orang itu yang memakai pakaian tertutup dan juga jaket kulit berwarna maroon. Reihan pun tersenyum senang, dia bis amendekati orang itu malam ini. Karena misinya adalah dekat dengan orang itu dan terlibat dalam transaksi yang akan dilakukan oleh kelompok Inferno.
“Boa noite, Senhor.” Sapa Reihan saat dia sudah berhasil mendekati Enyalios.
Enyalios tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan Reihan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Menatap lekat manik mata milik Reihan yang terlihat tidak asing di matanya. Lalu dia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah Reihan mendekatinya seorang diri atau ada orang lain yang sedang menunggunya.
“Sim… Quem?” Enyalios pun bertanya dengan wajah datar.
“Eu Sou, Reinhard.”
“Enyalios.” Jawabnya datar. Lalu memalingkan wajahnya dan menatap ke arah kolam renang yang terdapat banyak Wanita yang hanya mengenakan bikini saja.
Reihan pun mengikuti arah pandang Enyalios dan langsung mengerti apa yang saat ini dipikirkan oleh orang yang ada di hadapannya ini. Ternyata semua isi otak laki-laki itu sama saat melihat wanita yang dengan suka rela memamerkan tubuh mereka. Reihan pun tersenyum mengejek. Rupanya Enyalios melihat sikap Reihan itu.
“Por que? Há algo errado?” Enyalios pun terlihat tidak suka dengan sikap Reihan itu.
“Não, nada. Eu quero a mesma coisa.” Reihan pun cepat-cepat menjawab. Dia tidak mau memancing kemarahan orang ini.
“Os homens são todos iguais!” Enyalios pun menyeringai sambil menatap Reihan mendamba.
“Certo, o que?” Reihan langsung menatap Enyalios heran. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Enyalios saat ini. Reihan mencoba menebak apa yang sebenarnya dia pikirkan.
Reihan pun mulai berpikir apakah orang yang ada di hadapannya ini adalah penyuka sesama jenis? Jika benar seperti itu, tamatlah riwayatnya saat ini. bisa dipastikan dia tidak akan bisa lepas dari orang yang ada di hadapannya malam ini.
Andreas yang memperhatikan gerak tubuh Reihan pun mengerti apa yang saat ini ada di pikiran Reihan. karena beberapa waktu yang lalu dia pun memikirkan hal yang sama. Rasanya dia ingin tertawa, tapi dia takut dosa. Dan yang pasti dia lebih takut diusir dari apartemen Reihan. Jika hal itu terjadi, dia akan menjadi rakyat jelata lagi yang menyewa kamar kos tiga kali lima meter persegi.
“Kenapa?” tanya Anton yang tiba-tiba muncul di samping Andreas.
Andreas pun refleks menjauh. Dia masih takut dengan nyataan yang baru saja dia ketahui beberapa waktu lalu. Melihat itu Anton langsung menonyor kepala Andreas kesal. Anton pun marah-marah kepada Andreas dan menjelaskan jika dia masih normal dan masih sangat menyukai wanita.
“Ya jangan salahin gue kalau gue berpikir gitu. Gue kira lo suka main belakang, Bang!” Andreas pun berkata lirih sambil memajukan bibirnya.
“Najis! Kampret lo! Kagak demen gue yang begituan! Kenapa lo nahan ketawa gitu? ada yang lucu?”
Andreas pun menunjuk ke arah Reihan dengan dagunya. Anton masih tidak mengerti apa yang dimaksud Andreas sampai dia melihat Enyalios memegang bahu Reihan dengan penuh semangat. Dan tawanya pun pecah. Andreas langsung membekap mulut Anton agar tawanya tidak terdengar ke telinga Reihan.
“Berisik lo, Bang. Temen lagi susah bukannya berempati malah lo ketawain.” Gerutu Andreas sambil memukul kepala Anton kesal.
“Dih! Berani ya lo sekarnag mukul kepala gue! Nggak takut kualat lo sama orang tua!”
“Sama orang tua bener iya kualat, lah kalau orang tua modelan lo nggak ada yang namanya dosa!”
“Sialan! Anyway, tuh orang kenapa? Kok bisa dia deketin manusia bertulang lunak begitu?”
“Dia Enyalios.” Bisik Andreas. Mendengar itu Anton langsung memperhatikan orang yang ada di hadapan Reihan dengan seksama.
“Sial bener nasib abang lo.”
"Iya, gue juga mikir gitu tadi. Tapi mau diketawain takut dosa dan takut diusir juga."
"Hahaha... Bener banget. Jangan ketawa kalau gitu!"
"Lo udah ketawa, anjiir!"
"Khilaf gue tadi. Anggap aja tadi nggak ketawa."
"Bisa gitu ya?"
"Bisalah. 'Kan ini cerita nopel, bukan real life."
Mereka berdua masih tetap memperhatikan bahasa tubuh Reihan yang mulai risih. Dia pun terlihat perlahan menjauh tapi Enyalios terus mendekat ke arahnya. Benar-benar nasib sial yang sempurna.