Abigail terbangun dari tidurnya saat dia mendengar suara seseorang sedang berbicara. Dia pun membuka matanya perlahan, terlihat Kythira sedang memegang ponselnya sambil duduk di pinggir tempat tidur. Entah sedang berbicara dengan siapa dia di seberang telepon sana. Tapi, yang jelas dia sedang membicarakannya.
“Ya, Tuan… semua sesuai dengan rencana kita. Dia pun tidak bisa berpaling.” Kata-kata yang diucapkan Kythira itu membuat Abigail langsung mengernyitkan dahinya.
Kythira menganggukkan kepalanya beberapa kali dan sambungan telepon itu pun diputus. Kythira berdiri dari duduknya dan dia melihat ke arah Abigail yang masih Tampak tertidur pulas. Dia mendekati Abigail. Ditatapnya wajah tampan Abigail yang saat ini sedang tertidur seperti bayi.
“Kau sangat tampan. Walaupun jika dibandingkan dengan ketua timmu kau masih kurang tampan, tapi aku menyukaimu. Sayang jalan kita berbeda dan aku harus membunuhmu.” Kata-kata yang Kythira ucapkan sambil membelai wajah damai Abigail pun membuat Abigail waspada.
‘Sial! Ternyata ini sudah direncanakan. Semua ini jebakan biar gue terlena dan meregang nyawa begitu saja! Kampret!’ Abigail pun mengumpat dalam hati. dia bersiap untuk kemungkinan terburuk yang saat ini akan terjadi kedapanya.
Kythira mulai memegangi leher Abigail lembut. Dia masih ragu untuk mencekiknya dengan kuat saat ini. Dia mulai menyukai Abigail. Malam panjang yang mereka lalui membuatnya sedikit tertarik dengan laki-laki ini. sedangkan Abigal dia masih menunggu sampai Kythira benar-benar mencekiknya.
“Ck! Kenapa aku ragu membunuhmu, Sweet.” Gerutu Kythira.
Sebenarnya Kythira enggan membunuh Abigail. Namun, jika dia mengingat kembali tugasnya dan juga posisinya saat ini, dia harus melakukan ini. Jika, Abigail berhasil dia singkirkan, tinggal tiga orang lagi yang harus dia urus. Kythira mulai menekan leher Abigail. Saat dia sudah semakin sulit untuk brnapas Abigail pun membuka matanya.
Dengan satu kali gerakan dia memalik posisi mereka. Saat ini Abigail menekan kuat tangan Kythira di atas kepalana. dia perhatikan wanita ini dengan seksama. Abigail pun sadar, dan teringat laporan yang disembunyikan oleh orang-orang intrpol negara ini. Ya, saat ini dia ingat siapa Kythira.
“Wah… kau berhasl membuatku terpikat, Nona. Tapi, aku tidak menyesali ap ayang sudah kita lewati malam ini. karena aku pun menikmatinya. Akusangat ingin membunuhmu, tapi sepertinya nyawamu terlalu berharga. Bagaimana kalau kau menjadi tawananku saja.”
Mendengar perkataan Abigail itu membuat Kythira menyeringai kesal. tidak hanya satu atau dua orang saja yang selalu memandangnya sebelah mata. Semua laki-laki itu sama, selalu berpikir jika dia adalah wanita lemah yang bisa di kalahkan begitu saja.
Kythira mengangkat kaki belakangnya dan menendang kepala Abigail kuat. Tubuh Abigail langsung tersungkur ke depan. kesempatan itu Kythira gunakan untuk melepaskan diri dari cengkraman Abigail.
Mereka berdua pun mulai bergulat. melepaskan pukulan terbaik mereka masing-masing. saat ini Abigail tidak lai meahan diri begitu pula denga Kythira. Karena hanya ada satu orang yang bisa keluar dari kamar ini. Dan itu harus Abigail. Harga dirinya terlalu tinggi jika harus kalah dari seorang wanita seperti Kythira.
Kythira pun terdesak, tubuhnya ditekan kuat oleh Abigail di lantai. wajahnya pun sudah merah padam karena dia kesulitan bernapas. Kaki besar milik Abigail menekan lehernya kuat. Semua cara sudah dilakukan Kythira tapi sosok tangguh yang ada di atas tubuhnya ini tidak bisa dirobokan.
Melihat Kythira yang nyaris mati karena kehabisan napas Abigail semakin menekankan kakinya. dia berusaha menutup matanya dan mengenyahkan kenyataan jika yang saat ini dia lawa adalah seorang wanita. walaupun dia paling tidak suka menyiksa bahkan menyakiti wanita, tapi kali ini kasusnya berbeda.
***
Reihan sedang duduk di depan meja bar sambil menunggu Enyalios selesai dengan teleponnya. Meeka berdua masih bersama walaupun pesta ini sudah usai. orang-orang mungkin sudah sibuk dengan urusan after party mereka. Sebenarnya Reihan sudah ingin pergi, menurutnya malam ini sudah cukup dia menarik perhatian Enyalios.
Tapi semua rencanya buyar saat Enyalios justru tertarik kepadanya. Enyalios tidak membiarkannya pergi begitu saja. bahkan yang lebih gila lagi dia mengajak Reihan untuk membuka kamar di hotel ini. Hampir saja Reihan memuntahkan semua air yang ada di dalam mulutnya saat dia mendengar Enyalios mengatakan hal itu.
“Maaf aku membuatmu menungu lama.” Enyalios duduk di samping Reihan. Tangannya dia letakkan diatas paha Reihan yang terbuka. Dan itu membuat Reian tidak nyaman.
“Ah… tidak masalah. sepertina saat ini sudah sangat larut. Besok aku ada urusan di pagi hari, bagaimana kalau kita kembali ke tempat kita masing-masing.” Reihan berusaha kabur saat ini.
“Begitu ya. aku sedikit kecewa. Apakah aku bisa mendatangimu nanti?” tanya Enyalios penuh harap.
Tatapan mata itu membuat Reihan benar-benar jijik. rasanya dia ingin memukul wajah menyebalkan milik Enyalios saat ini. Dia pikir Anton adalah laki-laki yang paling menyebalkan yang pernah dia temui. ternyata saat dia bertemu dengan spesis jenis ini dia langsung bisa menarik presepsinya tentang Anton.
Walalupun tingkah konyol anton kerap dia perlihatkan, tapi Anton tidak pernah berlaku seintim ini kepadanya. Anton masih bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Sedangkan Enyalios? Laki-laki ini tidak segan-segan melakukan hal-hal seperti ini.
“Tentu saja bisa. Karena aku tertarik dengan bisnis yang kau sebutkan tadi. Mungkin aku akan menghubungimu saat aku membutuhkan mereka.” Jawab Reihan sambil tersenyum penuh kemunafikan.
Wajahnya tersenyum ramah dan terlihat sangat senang, tapi di dalam hatinya dia benar-benar kesal dan berusaha menahan agar dia tidak Memukul wajah Enyalios dengan kuat. Enyalios pun membalas senyuman Reihan dengan kedipan manja. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah Reihan, dan tanpa di duga Enyalios mengecup singkat bibir Reihan.
Reihan terpaku di tempatnya. Dia benar-benar mematung, tidak bisa bergerak dan juga berkata-katanya. Matanya pun tidak dapat berkedip sama sekali. Otaknya masih memproses kejadian beberapa detik yang lalu. Melihat Reihan masih diam, Enyalios pun tersenyum senang.
“Sepertinya hal ini adalah hal pertama untukmu.” Bisik Enyalios sensual.
Saat itulah Reihan langsung tersentak dan tersadar dari kebekuan otaknya. Tubuhnya langsung refleks berdiri dan mundur beberapa langkah. Enyalios tidak tersinggung sama sekali. Karena dia sering mendapati sikap seperti ini. Ini barulah permulaan, biasanya orang-orang yang pernah bertemu dengannya, akan langsung menghubunginya. Bukan malah menjauh.
“Sampai jumpa, Reinhard…” Ucap Enyalios sambil melambaikan tangannya.
Saat Enyalios sudah berjalan cukup jauh, Reihan langsung menghembuskan napasnya kasar. Sepertinya dia tadi tidak bernapas sama sekali. Reihan pun menatap kepergian Enyalios dengan tatapan penuh amarah.
Melihat Enyalios yang sudah benar-benar menghilang dan tidak terlihat, Anton dan Andreas langsung menghampiri Reihan yang masih terlihat sangat syok. Anton ingin sekali menggoda Reihan, tapi sepertinya saat ini tidak tepat. Bisa-bisa dia akan menjadi mayat jika melakukan hal itu.
Andreas memegang pundak Reihan dan menuntunnya untuk pergi dari tempat ini dan kembali ke kamar mereka. Selama di dalam lift mereka bertiga diam seribu bahasa. Tidak ada yang ingin membahas masalah tadi. Pintu lift pun terbuka dan mereka langsung berjalan menuju kamar.
Anton membuka kamar dengan keycard yang dia pegang dan Andreas mendorong Reihan untuk segera masuk ke dalam. Mereka bertiga dikejutkan dengan sosok wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sedangkan Abigail duduk di sofa kamar ini sambil membersihkan darah yang Sudah mengering di pelipisnya.
“Dia siapa?” Tanya Anton bingung.
“Kythira, kaki tangan ketua kelompok Inferno.” Jawab Abigail santai.
Mendengar jawaban Abigail, Reihan langsung mendekati Kythira dan memperhatikan wajahnya dengan seksama. Dia menatap Abigail dengan tatapan menuntut penjelasan. Abigail pun menjelaskan apa yang Sudah dia lewati bersama Kythira malam ini.
Andreas yang mendengarnya pun ternganga tidak percaya. Dia pikir Abigail tidak akan tergida dengan hal-hal seperti itu, karena yang dia tahu baik Reihan ataupun Abigail sama-sama laki-laki berhati dingin. Ternyata jika sudah berhadapan dengan wanita secantik Dewi Aphrodite ini siapa pun tidak akan bisa tahan.
“Super sekali kalian berdua… yang satu berurusan dengan bos mafia, yang satu lagi berurusan dengan tangan kanan bos mafia. Tapi, sepertinya lo yang lebih beruntung, Bi. Seenggaknya lo mendapatkan kenikmatan, lah dia malah sial.” Perkataan Anton itu membuat Abigail mengerutkan dahinya.
“Sial? Sial kenapa? Apakah kalian ketahuan seperti gue?”
“Lbeih parah dari itu. Masalah ketahuan atau tidak, sepertinya mereka memang sudah tahu siapa kita. Buktinya lo nyaris dibunuh sama dia ‘kan?” Anton pun langsung duduk di sofa kosong di sebelah Abigail.
Dia memperhatikan wanita ini dan membuat kepalanya langsung pusing. wajar saja jika Abigail tidak bisa menolaknya. Wanita ini seperti memiliki daya tarik magis. Saat menatap wajahnya, entah kenapa otak Anton langsung berpikir hal-hal yang semua laki-laki inginkan. Itu baru melihat wajah, belum melihat tubuhnya yang nyaris polos Tanpa busana.
Andreas langsung berjalan menuju ranjang dan mengambil selimut tebal yang ada di atas ranjang itu dengan sembarangan. Lalu dia melemparkan selimut itu ke atas tubuh Kythira. Karena dia tidak nyaman melihat itu. Dan dia merasa malu saat melihat tatapan Anton. Mata itu seperti mata binatang buas yang Sudah berhari-hari tidak mendapatkan makanan.
“Pinter juga lo.” Komentar pedas Anton itu membuat Andreas melemparkan bantal sofa yang ada di sebelahnya.
“Gue nggak tahan liat mata lo. Udah kayak nggak pernah liat cewek polos aja. Bukankah di rooftop tadi banyak yang modelan ini.” Jawab Andreas kesal.
“Beda! Entah kenapa dia seperti memiliki daya tarik yang berbeda. Buktinya ni batang kayu bisa terpikat begitu.” Seloroh Anton sambil menatap Abigail tidak percaya.
“Gue masih normal, Bro! Siapa yang tahan kalau disodorin modelan gini. Lo aja Udah mikir yang iya-iya barusan. Kalau mau, garap aja sekarang! Mumpung orangnya masih pingsan. kalau dia sudah sadar, bisa mati lo ditangannya.”
“Sekate-kate ente! Gue masih beradab ya. Nggak bakal gue melakukan hal sekeji itu. Kalau iya gue gitu ap abedanya gue sama bajinga-b******n yang kita buru sekarang!” Anton tidak terima dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Abigail.
“Ya kali…”
“Ya kali… ya kali… kalau ngomong dipikir pake otak!”
Andreas, Reihan dan juga Abigial saling tatap. Mereka bertiga bingung melihat sikap Anton yang menurut mereka terlalu berlebihan saat ini. Biasanya Anton tidak pernah tersinggung saat mereka berbicara asal. Tapi, kenapa saat ini dia terlihat sangat marah.
“Lo kenapa?” Tanya Reihan akhirnya.
“Kagak kenapa-napa! Kesel aja denger tuh orang ngomong nggak pake mikir.”
“Tumben.”
“Gue emang kadang-kadang gila. Tapi gue masih punya moral Bos. Tadi si Andreas yang bilang kalau gue belok, lah sekarang Abigail ngomong kayak gue ini b******n banget! gue nggak segila dan separah itu ya! Gue masih mikir mana yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Seenggaknya gue masih doyan cewek, tapi kalaupun mau gue minta baik-baik. Gue nggak pernah tuh dikecup maja sama cowok kayak lo tadi!”
Dan perkataan terakhir Anton itu sukses membuat Abigail melongo tidak percaya. Dia langsung menatap Reihan dan melihat perubahan ekspresi di wajah Reihan. Suasana yang tiba-tiba hening beberapa detik pun langsung berubah menjadi gelak tawa. reihan paham sekarang, Anton sengaja bersikap sok tersinggung hanya untuk mengatakan hal menjijikan itu.
“Kampret lo!”
“Lo seharusnya liat tadi, Bi. Mukanya dia sampe pucet pasih. Kayak mayat yang udah di dalem ruang penyimpanan berhari-hari.” sambung Anton.
Dan Suasana kamar ini pun langsung berisik, Anton mulai mengolok-olok Reihan dengan semua kata-kata konyolnya tapi sangat menyakitkan di telinga Reihan. Sepertinya dia sudah menahan semua kata itu sedari tadi.