Jatuh

1000 Kata
Jessy dan Queen heran dengan suasana bandara saat ini. Menurut mereka bandara hari ini terlalu tenang. Tidak ada satu pun orang-orang Nyonya Stephani yang curiga akan kepergian rombongan mereka. Ada hal yang membuat Queen bertanya-tanya. “Jess, kau mengatakan sesuatu kepada Reihan dan teman-temannya?” Queen melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kecurigaannya. “Tidak, aku saja tidak bisa mengontak mereka. Bagaimana bisa aku mengatakan sesuatu kepada mereka.” “Ada yang aneh dengan semua ini. Sepertinya rencana kita tidak akan berhasil semudah ini. Apakah orang kepercayaan ibumu tidak bertanya tujuan kita?” “Dia bertanya, dan aku katakan kita akan ke Hawai.” “Mereka tidak curiga?” “Awalnya sih curiga, tapi aku berusaha meyakinkan mereka.” “Begitu, tapi kita harus tetap waspada.” “Iya, Kak. Tenang saja. Aku sudah mengurus semuanya. Kita akan berjalan-jalan terlebih dahulu di Hawai selama dua hari, setelah itu kita akan langsung pulang.” Queen pun menghentikan kekhawatirannya yang tidak beralasan. Mungkin saat ini dia hanya terlalu paranoid saja. Mereka semua langsung mengantri di counter check-in. Tidak ada bagasi yang harus mereka urus. Karena semua wanita-wanita ini hanya membawa satu koper kecil yang akan mereka bawa ke kabin pesawat. Setelah semua proses boardingnya selesai, mereka langsung menuju ruang tunggu. Orang-orang itu tampak sangat bahagia. Mereka menantikan kepulangan mereka ke Indonesia. Bagi mereka menetap selama enam bulan di negara ini sama seperti berabad-abad. Belum lagi mereka harus melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai sama sekali. Setiap hari mereka harus bertemu dengan berbagai macam lelaki hidung belang. Tak jarang mereka pun diperlakukan tidak pantas dan dianggap boneka bahkan hewan peliharaan oleh orang-orang itu. Setiap kali mereka mencoba melawan dan bertahan, saat itu pula kesakitan yang mereka dapatkan. Hidup di negara ini bagaikan hidup di neraka. Setiap hari mereka selalu berdoa kepada Tuhan yang konon bisa mengabulkan setiap permohonan manusia. Tapi, sepertinya saat mereka berdoa Tuhan belum mendengar. Tidak ada hal baik yang mendatangi mereka sampai kemarin. Pengumuman dari petugas bandara pun terdengar dan semua orang berbaris untuk masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke Hawai. Queen masih melihat ke kanan dan ke kirinya. Lalu memastikan kondisi wanita-wanita yang akan pergi bersamanya baik-baik saja. Pesawat pun mulai mundur dan bersiap untuk lepas landas. Tapi, entah kenapa hati Queen masih belum tenang. Menurutnya ini terlalu sempurna. Tidak mungkin hal semacam ini berjalan begitu saja dengan tenang. “Ada apa, Kak?” Tanya Jessy yang masih bingung melihat tingkah Queen saat ini. “Entahlah, aku masih merasa ada yang tidak beres saat ini.” “Ayolah, Kak. Nikmati saja perjalanan ini. Anggap saja saat ini kakak sedang cuti kerja dan pergi berlibur.” “Kau benar, baiklah… mari kita berlibur!” Jessy pun tersenyum senang saat melihat Queen mulai rileks. Pesawat pun sudah mengudara dan tanda kenakan sabuk pengaman sudah di matikan. Jessy menghidupkan layar yang ada di hadapannya dan mulai memilih hiburan Jenis apa yang ingin dia lihat. Pilihan Jessy jatuh pada satu film lama, drama romantis yang menceritakan kisah dua orang yang berbeda status sosial. Sang laki-laki harus duduk di kursi roda selama hidupnya akibat kecelakaan. Dan sang wanita diceritakan akan bekerja sebagai perawatnya. Saat Jari lentik Jessy menekan tombol mulai, saat itu lah terdengar suara ledakan dari samping pesawat. Queen langsung melihat ke jendela dan dia melihat asap hitam mulai keluar dari mesin pesawat yang ada di bagian sayar. Tak lama berselang suara ledakan satu lagi pun terdengar, dan Queen sudah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. *** Nyonya Stephani melepaskan cangkir yang saat ini dia pegang begitu saja saat melihat berita yang sednag di tayangkan di televisi yang menyala di ruangan kamarnya. Di berita itu tertulis nama-nama penumpang pesawat sesuai dengan daftar penumpang pesawat dalam penerbangan itu. Dia langsung berlari mencari keberadaan Tuan Edward. “Edwaaaaard!!!” Teriak Nyonya Stephani mencari sambil berlari mencari Tuan Edward. Dia membuka semua pintu yang ada di rumah ini untuk melihat apakah orang yangdia cari ada di dalam sana. Sampai pintu terakhir pun keberadaan Tuan Edward tidak dia temukan. Air matanya mulai mengalir tanpa dia sadari. “Ada apa, Nyonya?” Tanya salah satu pengurus rumah. “Kau melihat di mana Tuan Edward?” Tanya Nyonya Stephani dengan suara parau. “Tuan Edward baru saja meninggalkan rumah. Sepertinya dia sedang bergegas, tapi saya tidak tahu dia akan menuju kemana.” Jawab pengurus rumah itu. “Antarkan aku bandara sekarang! Aku harus segera kembali ke Bogota.” Nyonya Stephani langsung berlari menuju kamarnya dan mengambil tas tangan yang selalu dia pakai ke mana-mana. Pengurus rumah itu pun langsung memanggilkan sopir yang biasa melayani Nyonya Stephani. *** Di bandar udara internasional El Darado saat ini dipenuhi oleh banyak orang. Sepertinya mereka adalah anggota keluarga para penumpang yang menjadi korban jatuhnya pesawat yang membawa keluarga mereka menuju Hawai. Nyonya Stephani sedang berada di ruangan petugas yang bertanggung jawab atas masalah kecelakaan pesawat ini. Dia bertanya membabi buta kepada mereka dan tidak mau menerima penjelasan yang menurutnya tidak masuk akal. Dia mau meminta kepastian bagaimana nasib anaknya. Dia tidak peduli dengan nasib penumpang lain atau siapapun itu yang saat ini dia pikirkan adalah nasib Jessy. Karena kabar yang dia dengar ada beberapa penumpang pesawat yang berhasil selamat. Dia berharap salah satu dari mereka adalah anaknya, Jessy. “Aku tidak mau mendengar alasanmu! Aku ingin kepastian nasib anakku! Apakah tim kalian belum mencari para penumpang yangberhasil selamat?” Teriak Nyonya Stephanis berang. “Iya, Nyonya. Kami sedang berusaha menemukan mereka. Sudah ada tim yang turun ke lapangan untuk mencari keberadaan penumpang yang selamat.” “Aku ingin ke sana! Di mana lokasinya? Aku ingin mencarinya sendiri!” “Tenanglah Nyonya. Kami sedang berusaha menemukan mereka. Sebaiknya Nyonya menunggu saja kabar dari kami. Terlalu berbahaya jika Nyonya datang ke sana.” “Persetan dengan kalian! Aku akan mencarinya sendiri! Dasar orang-orang tidak berguna!” Nyonya Stephani langsung keluar dari ruangan itu dan membanting pintu ruangan dengan sangat keras. Dia tidak perduli orang-orang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Yang dia perdulikan saat ini nasib Jessy. Hanya Jessy tidak yang lain!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN